Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Jabat (Film Negeri 5 Menara)

Dalam hidup yang hanya sekali ini kita harus memilih. Pilihan yang mungkin tidak kita gandrungi awalnya. Namun seiring perjalanan waktu dan meniti pilihan itu, kita mengerti bahwa itulah yang terbaik. Sebuah pilihan yang tak dapat dilepaskan dari kuasa besar Sang Maha Pencipta. Mimpi dan pilihan hidup merupakan frasa yang menuansai film Negeri 5 Menara yang beranjak dari novel dengan judul yang sama. Dalam edisi novelnya dijelaskan bahwa Negeri 5 Menara merupakan karya yang terinpirasi oleh pengalaman penulis menikmati pendidikan yang mencerahkan di Pondok Modern Gontor. Semua tokoh utama terinspirasi sosok asli, beberapa lagi adalah gabungan dari beberapa karakter yang sebenarnya (A.Fuadi, Negeri 5 Menara: hlm.V).

Film Negeri 5 Menara dibuka dengan cerahnya alam Minangkabau. Alif dan Randai yang baru saja tamat SMP sedang bergembira ria dan mereka-reka rencana untuk mengenyam kuliah di ITB. Di lain pihak, amak (ibu) Alif menginginkan agar Alif melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Ia getir dengan keadaan pendidikan pesantren yang pada beberapa hal menjadi tempat pembuangan bagi anak-anak nakal. Ibaratnya benih, benih yang masuk dalam proses merupakan benih yang lemah dan bermasalah. Bagaimana kiranya masa depan umat jika para agamawannya bukanlah sosok yang cerdas dan memliki budi pekerti luhur. Amak (Lulu Tobing) berketetapan hati untuk memasukkan Alif (Gazza Zubizareta) ke pesantren. Bujangnya itu dipandang cerdas dan diharapkan dapat menjadi seperti Buya Hamka.

Penolakan pun muncul dari Alif yang ingin menjadi seperti B.J. Habibie. Ia ingin duduk di SMA, lalu melanjutkan di ITB. Resistensi dari Alif melunak ketika ayahnya mengajak Alif pergi di pagi hari untuk menjual sapi satu-satunya kepunyaan keluarga. Hasil dari penjualan sapi itu akan digunakan untuk biaya sekolah Alif di pondok pesantren yang berada di bilangan Jawa Timur tersebut. Ayah Alif yang diperankan dengan apik oleh David Chalik berfilosofi bahwa hidup itu harus dijabat. Ia menganalogikannya dengan penjualan sapi keluarganya yang melakukan transaksi di dalam sarung. Jika tidak dijabat, maka tidak akan mengetahui berapa harganya. Begitu pula dalam hidup, jabat, jalani kehidupan, dan tidak melihat dari luarnya saja.

Alif pun akhirnya menuruti keinginan orang tuanya berangkat ke tanah Jawa. Begitu sampai di Pondok Pesantren Gontor, banyak kiranya orang tua dan calon murid yang bersiap untuk mendaftar. Setelah bermalam, keesokan harinya Alif dengan berbekalkan pena warisan keluarga menghadapi ujian masuk. Sempat terbersit untuk menggagalkan ujian dengan menjawab salah, namun ketulusan dan harapan sang ayah yang berada di luar ruang ujian kembali meluruskan konsep pikir Alif. Alif pun lulus dan akan menjalani 4 tahun masa pendidikan di Pondok Pesantren yang telah banyak menghasilkan tokoh nasional tersebut.

Rupa-rupa dinamika kehidupan pesantren pun mulai dijalani oleh Alif Fikri. Seperti misalnya dalam pelajaran yang didapatinya dari kelas yang diajar oleh ustad Salman (Donny Alamsyah). Setelah mengucapkan salam dan menuliskan namanya, ustad Salman memperlihatkan pelajaran dengan melalui tindakan. Ia membawa samurai tumpul dan batang pohon. Dihantamkannya samurai tumpul itu berkali-kali ke batang pohon. Tentu saja dikarenakan samurai yang dipakai tumpul, bukan hal mudah untuk membelah batang pohon itu. Namun konsistensi dan usaha keras dengan menggunakan samurai tumpul tersebut akhirnya dapat membelah batang pohon tersebut. Filosofi dari laku eksebisionis tersebut untuk menarasikan mantera ajaib yakni man jadda wajada: “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil!”

Rupanya filosofi ayah Alif berupa jabat, benar berlaku adanya. Ketika menjalani kehidupan di pesantren Gontor banyak hal-hal tak terduga dan menarik yang dialaminya. Mulai dari hukuman jewer berantai, aktif di majalah Syams, makan bersama-sama, disiplin, ragam pelajaran yang mengisi kognitif dan menguatkan mental, hingga cinta sederhana anak muda. Jika dikomparasikan dengan novelnya, memang kisah Negeri 5 Menara ini merupakan fragmen-fragmen dari kehidupan Alif (A.Fuadi) di pesantren. Fragmen-fragmen ini masing-masing memiliki makna pembelajaran dan konsep keberartian.

Namun sayangnya dalam versi film, kehidupan pelajaran internal tidak ter-cover dalam cerita. Padahal menarik kiranya untuk membidik pelajaran langsung di dalam kelas. Dalam novel Negeri 5 menara, hal tersebut terbidik diantaranya melalui hal berikut:

Inilah repotnya, jadwal dan kewajibanku padat sekali. Ada hapalan mahfudzhat, lalu tugas membuat kalimat lengkap, tugas pramuka, belum lagi baju bersihku telah habis dan harus segera dicuci. Kapan aku punya waktu untuk menulis naskah pidato yang harus melalui riset pustaka? Dalam bahasa Inggris lagi (A.Fuadi, Negeri 5 Menara: hlm.150)

Atau dari pernyataan Atang yang melakukan komparasi dengan bangku SMA:

“Lif, cobalah kau dengar baik-baik. Memang SMA itu masa yang indah. Dunia setiap hari adalah dunia yang indah, senang dan gembira. Kita cuma agak stres kalau mau ujian saja. Selebihnya adalah bermain. Kalau di PM, setiap hari kita seperti ujian,” kata Atang menerawang sambil tersenyum (A.Fuadi, Negeri 5 Menara: hlm.157).

Antara Negeri 5 Menara dan Laksar Pelangi

Sukar untuk tidak membandingkan Negeri 5 Menara dengan Laskar Pelangi. Ada kesamaan antara keduanya, mulai dari beranjak dari kehidupan personal, nilai-nilai persahabatan, meneropong dunia pendidikan, menyajikan Indonesia yang berbeda dengan kacamata keseharian yang biasa kita dapati di layar televisi. Maka ketika saya pertama kali membaca novel Negeri 5 Menara, di benak pemikiran saya ada studi pembanding yakni Laskar Pelangi. Dan manakiranya yang menurut saya lebih unggul antara kedua karya ini? Dengan bulat hati saya katakan yakni Laskar Pelangi, baik secara novel dan film.

Secara novel, menurut hemat saya Laskar Pelangi memiliki kedalaman cerita, keliaran dan keliatan dalam kata, serta mampu menghidupkan imajinasi dengan begitu aktif. Dalam analisa saya, komparasi novel Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara tak dapat dilepaskan dengan latar belakang pengarangnya. Andrea Hirata tidak melewati basis pelajaran penulisan yang ketat semasa hidupnya. Ia lebih belajar otodidak. Namun itulah kelebihan dan eksplosivitasnya. Ia tidak terkungkung pada kotak-kotak aturan penulisan ataupun jurnalisme. Ia bebas bereksplorasi dan meletupkan imajinasinya dalam kata. Berbeda kiranya dengan A.Fuadi, ia semenjak muda merupakan sosok yang telah berkecimpung di dunia tulis menulis. Ketika di Pondok Pesantren Gontor, ia bergabung di majalah Syams, lalu ketika melanjutkan di Hubungan Internasional Unpad dia juga bergabung dengan majalah kampus Polar dan menulis beberapa artikel di koran. A.Fuadi juga belajar di Hubungan Internasional yang tentunya mengharuskan dia berakrab-akrab dengan menulis. Ketika berkecimpung di dunia kerja, ia juga berkiprah di dunia menulis dengan menjadi wartawan Tempo dan VOA. Rekam jejak menulis inilah yang menurut hemat saya membuat novel Negeri 5 Menara terlalu rapi untuk ukuran novel. A.Fuadi seperti menarasikan berita dalam novel Negeri 5 Menara. Kejutan dan drama menjadi sesuatu yang kurang dalam adonan novel yang tercatat sebagai best seller dan menerima penghargaan sebagai Buku dan Penulis Fiksi Terfavorit 2010 dari Anugerah Pembaca Indonesia.

Sedangkan dalam versi film layar lebarnya, harus saya akui bahwa peak dari film yang disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman ini hanya terdapat hingga ayahnya Alif berpisah dengan Alif dan kembali ke kampung. Setelah itu relatif datar-datar saja film ini secara keseluruhan. Pada bagian ending, memang terlihat upaya untuk menaikkan tensi dengan membangun konflik dan menyajikan drama. Namun sayangnya dalam eksekusi hal tersebut tidak berjalan dengan optimal. Meski begitu film Negeri 5 Menara ini mampu menyajikan Indonesia yang berbeda dari keseharian lalu lintas televisi kita. Indonesia yang tidak sekedar sosok tampan dan cantik dengan kekayaan yang meluap-luap. Indonesia yang lebih dekat dengan keseharian dan realitas. Inilah kiranya Indonesia yang menurut hemat saya layak ditampilkan. Sebuah Indonesia yang kita jabat, bukan segala pupur dan gincu komersialisme yang melilitkan selendangya di nama Indonesia.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Jabat (Film Negeri 5 Menara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s