Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Simbol

As a symbol i can be incorruptible. Begitulah kiranya quotes yang terdapat dalam film The Dark Knight. Batman bukan sekedar pria berjubah yang menyusuri malam di kota Gotham dengan busana kelamnya. Ia adalah simbol bagi kebajikan. Simbol bagi harapan. Para pahlawan dalam kisah fantasi tidak sekedar berbicara tentang kekuatan, pertarungan, dan kemenangan. Para pahlawan merupakan mereka yang berada di kutub putih. Menegakkan segala hal-hal yang mulia dan menjadi ekspektasi ideal. Dan pada beberapa hal simbol menjadi sebangun dengan mitos. Ada hal-hal yang tidak terjangkau, adiluhung, sebuah pencapaian tertinggi. Simbol seperti melambungkan dari segala kegaduhan keseharian. Sebuah ranah imajinasi dari kesumpekan perjalanan waktu 24 jam.

Itulah kiranya yang membuat kisah anak-anak dikemas sebagai hitam dan putih. Jelas demarkasinya siapa yang villain, siapa yang hero. Kita tak perlu berpening-pening untuk menerka berada di area mana tokoh dalam cerita. Lalu fungsi turunannya juga terlihat jelas villain mendapatkan ganjaran atas segala medan kejahatannya dan hero mendapatkan penghargaan atas segala tindak kepahlawanannya.

Simbol merupakan kata yang dapat menjelaskan latar sosial politik. Politisi bukan sekedar merek. Bukan sekedar nama, melainkan mengikat makna. Membaurkan antara emosi, harapan, cita-cita, dalam simbol yang ada. Soekarno misalnya menjadi mewakili banyak simbol. Nasionalisme, kebanggaan berbangsa, anti infiltrasi asing, penyambung lidah rakyat, revolusi, solidarity maker, dan sebagainya. Maka ketika muncul suara lainnya yang berbentuk kritik, maka tafsirannya dapat menjadi penodaan terhadap simbol. Reaksi yang diperlihatkan pun menjadi sarat dengan emosi dan tidak sekedar berbasis rasionalitas dan bertukar pendapat.

Dalam film Spider-Man tersurat jelas bagaimana Spider-Man merupakan simbol harapan. Kehadirannya menginspirasi warga kota. Ia menjadi warga kehormatan, dinanti kehadirannya ketika bergelayutan diantara gedung-gedung, orang-orang rela melihatnya walau keadaan hujan, dan sebagainya. Spider-Man menjadi tenaga bagi harapan yang melemah. Namun Spider-Man yang merupakan simbol sesungguhnya merupakan manusia dengan segala celah kelemahan sifatnya. Bagaimana pada film Spider-Man 2 (2004), Peter Parker melepaskan simbolnya untuk mengejar target-target personalnya. Kehidupan akademik, cinta, merupakan harga yang terbengkalai dari simbol kebajikan yang terus disuarkan. Dan Peter Parker ingin berada pada pemenuhan radius personalnya.

Namun with great power comes great responsibility. Peter Parker kembali ke medan kepahlawanannya. Ia mafhum bahwa dirinya telah mampu menyalakan api inspirasi dari masyarakat kebanyakan. Ia kembali ke medan laga, menjadi simbol kebajikan melawan kejahatan.

Sedangkan dalam kisah fantasi lainnya, Batman merupakan pahlawan yang sendu. Ia dan kesendirian seolah bernasib. Maka dalam film The Dark Knight (2008), ia memperjuangkan Harvey Dent sebagai simbol ksatria putih di kota Gotham. Batman mengerti jika sampai terungkap mengenai aksi minor Harvey Dent yang berlatarkan dendam dengan membunuh sejumlah polisi yang berkomplot dan muaranya ialah kematian Rachel, maka harapan akan nilai-nilai moral akan mengalami degradasi. Batman diburu, lampu panggilnya dipecahkan, sebuah pengorbanan untuk substansi dibalik simbol.

Sebelumnya Batman merupakan simbol dari kebenaran yang membuat para penjahat mengkerut dan tidak berani menampilkan laku kriminalnya. Batman adalah vigilante. Ia menerabas segala tata aturan baku, meringkus, beraksi di jalanan kota Gotham. Para penjahat kota pun resah, hingga datanglah Joker yang tidak sekedar melawan dengan senjata. Joker adalah musuh ideologis. Joker menggoyangkan equilibrium dari simbol Batman. Ia menghabisi para penegak hukum dan diperlihatkan secara eksebisionis ke hadapan massa. Ia melakukan teror mental. Ia menebarkan peluru wacana. Joker meredefinisi siapa sebenarnya Batman. Dan aksi tersebut berhasil. Tuntutan bagi Batman untuk membuka identitas aslinya menjadi sebuah cul de sac bagi Bruce Wayne.

Bruce Wayne nyaris membuka identitas aslinya sebagai Batman, namun keduluan oleh Harvey Dent yang mengklaim dirinya sebagai Batman. Joker yang dalam film The Dark Knight diperankan oleh Heath Ledger, memainkan kartu berikutnya. Ia merusak simbol keadilan lainnya. Ia mengkorupsi simbol yang nyata terlihat gigih memperjuangkan keadilan. Joker mengkontaminasi, memprovokasi Harvey Dent dan menjadikannya Two Face. Beralihnya Harvey Dent ke perahu antagonisme sesungguhnya merupakan hal rasional dan manusiawi. Bukankah dalam hidup sesungguhnya terjadi kurusetra personal. Nilai-nilai kebaikan dan kejahatan senantiasa berupaya memperoleh panggung di diri.

Sampel dari Harvey Dent tersebut sesungguhnya dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan kekitaan. Oleh karena itu dalam latar politik ada check and balances, untuk mengeliminir apa yang diistilahkan oleh Lord Acton sebagai Power tends corrupt, but absolute power corrupts absolutely (Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, hlm. 107). Itulah kiranya yang menyebabkan demokrasi memiliki keunggulan dari sistem tiran. Demokrasi memberi ruang lapang bagi kritik. Demokrasi melakukan humanisasi, desakralisasi kekuasaan, dan mereduksi pemimpin menjadi simbol yang tak tersentuh.

Mari kita lihat ketika kepemimpinan berada terpusat di satu tangan, sang pemimpin dapat menjadi simbol yang begitu powerful menghegemoni. Contohnya nyatanya pemimpin Uni Soviet yakni Stalin. Tentang Stalin, seorang penyair menulis, dengan hiperbol menarasikan (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir Tempo Edisi 21 Juni 2010):

Wahai, Stalin yang agung
Tuan-lah yang menyuburkan tanah
Tuan-lah yang memulihkan abad
Tuan-lah yang mengembangkan bunga di Musim Semi

Contoh lainnya ialah Mao Zedong di China. Tentang Mao, seorang prajurit yang diangkat jadi manusia tauladan oleh Partai, Li Feng, menulis catatan hariannya yang terdiri atas 200.000 kata. Hampir semuanya penuh pujaan:

”Bagiku, karya Ketua Mao ibarat makanan, senjata, dan kemudi. Kita harus makan dan dalam berperang kita harus bersenjata. Tanpa kemudi, kita tak dapat mengendarai mobil, dan tanpa mempelajari karya Mao Zedong orang tak dapat menempuh karier revolusioner.”

Dan tahukah Anda tentang bagaimana cara merawat dan menanamkan simbol? Contoh otentiknya ialah apa yang terjadi di Korea Utara di masa pemerintahan Kim Jong-il. Sejak masa kanak, rakyat Korea dibentuk untuk memuja Kim. Sebuah studi yang dikutip The Christian Science Monitor menunjukkan besarnya dana untuk itu. Sementara pada 1990 biaya untuk pemujaan sang pemimpin meliputi 19 persen anggaran nasional, pada 2004 naik jadi 38,5 persen. Pada masa krisis, ketika alokasi buat pertahanan dan kesejahteraan rakyat diperkecil, dana untuk sekolah ideologi justru naik. Biaya itu meliputi perawatan 30.000 monumen Kim, festival olahraga, film, buku, billboard, mural, dan seterusnya.

Belum lagi buat pendidikan sekolah. Di sini, indoktrinasi untuk memuja sang Ketua sangat intensif: antara 304 dan 567 jam pelajaran. Para murid SD harus mempelajari sejarah masa kecil Kim Il-sung 152 jam dan Kim Jong-il juga demikian. Di Universitas Kim Il-sung di Pyongyang ada enam fakultas yang khusus mengajarkan riwayat dan pemikiran kedua Kim Bapak dan Kim Putra.

Lalu simbol yang berlebihan dapat menjadi kultus individu. Kekuasaan seolah hanya mampu diisi oleh orang-orang istimewa. Kekuasaan menjadi berjarak jauh dari rakyat dan logika keseharian. Simbol menjadi kata-kata yang didengung-dengungkan, disuapkan kepada rakyat. Simbol menjadi sesuatu yang beku, tak tersentuh. Menarik kiranya apa yang dituturkan oleh Asvi Warman Adam bahwa tujuan utama penulisan biografi adalah mencoba menangkap dan menguraikan jalan hidupnya dengan lingkungan sosial-historis yang mengitarinya. Tujuan kedua biografi adalah memberi baju “baru” kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari sang tokoh dalam sejarah. Apakah ia yang menentukan jalannya sejarah, atau ia tak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam kedudukan strategis (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah, hlm. XI-XII).

Dunia keilmuan dengan demikian dapat menjadi garis penjelas mengenai siapa sebenarnya tokoh. Layakkah dia menyandang aneka varian simbol tersebut. Membedah secara jernih para tokoh misalnya, mampu menelaah dan menjaga persepsi dari delusi persepsi. Bahwasanya tokoh tersebut harus kita maklumi sebagai manusia biasa. Sama halnya dengan Beethoven yang konon merobek kertas simfoninya sendiri yang akan dipersembahkannya buat Napoleon yang ia kagumi, setelah pahlawan pengawal Revolusi Prancis itu menobatkan diri jadi maharaja. “Rupanya, ia juga makhluk biasa saja!” teriak sang komponis yang kecewa – yang rupanya pernah menduga bahwa ada manusia yang bukan “makhluk biasa saja” (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm. 62).

Benar kiranya simbol dapat menginspirasi. Menjadi ekspektasi ideal. Inspirasi dari segala kegaduhan hari. Namun simbol yang terikat dengan sosok manusia harus bersiap dengan karakter dasar manusia: bisa salah dan lupa. Manusia manapun dapat salah dan lupa, tak terkecuali sang simbol.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Bak..Bik..Buk..(Film The Raid)

Film The Raid hadir di bioskop Indonesia dengan semerbak prestasi dari sejumlah festival. Tercatat sebagai pemenang di Dublin International Film Festival (Audience Award dan Dublin Film Critics Award), Toronto International Film Festival (People’s Choice Award), melambungkan nama The Raid di pentas internasional. Sejumlah pencapaian internasional tersebut membuat segenap penonton Indonesia merasa lebih ‘keren’ dan rasanya ketinggalan kereta jika belum menonton film besutan Gareth Evans ini. The Raid untuk kemudian hadir tidak hanya pada lini sinema, melainkan hadir pula dalam bentuk komik. Hal ini merupakan sebuah sinyalemen baru bagi dunia kreatif Indonesia. Umumnya relasi film terkait dengan novel. Pengembangan dari film menjadi ranah komik tentunya merupakan diferensiasi yang sekaligus berusaha untuk merangkul segmen komik untuk tertarik pada brand The Raid. Disamping itu dengan hadirnya komik The Raid dapat menjadi wahana intensifikasi dari ceruk penonton film yang dibintangi oleh sejumlah nama terkenal seperti Ray Sahetapy, Doni Alamsyah, Iko Uwais.

Film The Raid sendiri dibuka oleh Rama (Iko Uwais) yang melaksanakan shalat, sembari dibarengi dengan fragmen aksi memukul sansak. Entah kenapa memori saya langsung terkoneksi dengan Si Boy yang playboy juga religius (film Catatan Si Boy) dan Rangga yang pemberontak serta melaksanakan ibadah shalat (film Ada Apa Dengan Cinta). Mungkin pembukaan ini menjadi sebuah sintesa baru petarung yang religius. Tentu saja jika membaca literatur sejarah, seperti gubahan Alwi Shahab, maka para petarung Betawi merupakan mereka yang ahli pukul dan religius. Ada nilai-nilai kesantrian yang menyatu pada si jagoan ahli pukul, begitulah kiranya analisanya.

Rama sendiri merupakan anggota dari polisi elite yang akan berupaya menangkap Tama (Ray Sahetapy). Tama merupakan dedengkot penjahat yang menyediakan fasilitas perlindungan bagi para penjahat. Sebuah apartemen 30 lantai menjadi koloni para penjahat yang untouchable oleh para penegak hukum. Beberapa kali operasi dilakukan oleh para penegak hukum, namun selalu menemui kegagalan. Kali ini operasi dipimpin oleh Sersan Jaka (Joe Taslim) yang berkoordinasi dengan Letnan Wahyu (Pierre Gruno). Misi penyerbuan 20 polisi elite ini ternyata tidak memiliki back up dari pusat. Akibatnya mereka harus merampungkan misi ini untuk dapat selamat dari ‘neraka kejahatan’.

Siapa saja yang berada di perahu antagonis? Domain tersebut dengan apik dinarasikan di elemen pembukaan dan pengenalan tokoh. Ada Tama yang memakai singlet sembari menyantap mie dengan diapit oleh Andi (Doni Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhian). Hook dari sadisme di mozaik awal ini cukup menghentak. Eksekusi yang dilakukan oleh Tama dengan menembakkan pistol di bagian belakang kepala benar-benar memercikkan kengerian stadium tinggi. Ketika tinggal tersisa satu orang yang akan dihabisi, efek dramatik diberikan dengan habisnya peluru isi enam tersebut. Tama lalu beranjak ke laci, dan ternyata masih ada deretan peluru, namun ia memilih untuk menuntaskan dengan palu kecil. Pilihan penghabisan yang memberikan efek dramatik.

Penyerbuan yang dilakukan oleh polisi elite tersebut merupakan operasi senyap. Apartemen yang ditempati oleh para penjahat tersebut merupakan tempat oldies yang saya pikir merupakan tempat yang juga digunakan sebagai tempat shooting dari video klip Tak Ada Yang Abadi oleh grup band Peterpan.

Penyerbuan senyap tersebut menemui keganjilan ketika bertemu dengan seorang bapak yang menempati kamar 726 di apartemen tersebut. Dari segi tampilan bapak tersebut jauh dari kesan antagonis. Dan hingga akhir film tak terjelaskan mengapa bapak tersebut dengan istrinya berada di tempat perlindungan para penjahat. Terlebih lagi pria tersebut membantu Rama ketika dalam keadaan terjepit, dan lagi-lagi terlihat simbol religi yakni tempat untuk meletakkan Al Qur’an di kamar nomor 726. Ketidakjelasan alasan bapak tersebut bermukim merupakan salah satu titik celah dari film yang konon akan tampil dalam versi Amerika ini. Bapak tersebut yang pasti bukanlah perawan di sarang penyamun.

Titik celah lainnya ialah unsur cerita dan drama yang terasa hambar dalam film ini. Seolah-olah film The Raid hanya sekedar sinema bak..bik..buk..yang menekankan pada aksi laga. Nuansa drama benar-benar abai dalam film ini. Harapan dari Rama untuk kembali ke rumah dikarenakan istrinya yang sedang mengandung, pertalian darah antara Rama dan Andi, perilaku korupsi para penegak hukum, merupakan arena drama yang secara ‘menyedihkan’ tertampilkan. Eksplorasi dan penghayatan karakter drama yang kurang menjadikan nilai keseluruhan dari film ini mengalami degradasi. Jika dikomparasikan dengan film bertipe sejenis di Indonesia, maka harus saya katakan film Serigala Terakhir jauh lebih baik secara penceritaan dan sisi drama. Dalam film Serigala Terakhir bangunan konflik benar-benar terasa dan mengintai dalam setiap scene-nya. Nuansa pengkhianatan, posisi dilema, eratnya nilai persahabatan benar-benar menemukan muara dalam film Serigala Terakhir yang disutradarai oleh Upi Avianto.

Secara laga film The Raid menemukan titik kulminasinya. Berbagai adegan fighting yang tersaji benar-benar memukau dan menarik secara visual. Mulai dari tarung satu lawan satu ataupun bertarung satu lawan keroyokan mampu disajikan dalam seni beladiri yang memikat. Dalam adegan pertarungan, saya akan memilih pertarungan antara Mad Dog dengan Sersan Jaka dan Mad Dog versus Rama dan Andi sebagai dua fragmen pertarungan terbaik. Dalam pertarungan antara Mad Dog dengan Jaka dapat terlihat bagaimana begitu prima dan sadisnya orang kepercayaan dari Tama ini dalam mengalahkan lawannya. Mad Dog yang sebenarnya telah menang dengan menodongkan pistol, lebih memilih untuk bertarung satu lawan satu dengan pemimpin operasi penyergapan dari polisi elite ini. Alasannya karena lebih ada geregetnya. Kegilaan akan pertarungan ini menjadi nilai lebih dari karakter Mad Dog. Bukan sekedar ahli tarung, namun juga memiliki kelaparan psikologis untuk berduel dengan rivalnya. Dalam duel satu lawan satu, terlihat jelas bagaimana Mad Dog mampu melumpuhkan titik-titik sentral dari lawannya, sebelum menghabisinya dengan memuntir kepala Jaka.

Adapun pertarungan antara Mad Dog versus Rama dan Andi benar-benar memperlihatkan bagaimana liatnya Mad Dog dan kerjasama antara Rama dengan saudaranya tersebut. Mad Dog benar-benar musuh yang sukar untuk ditaklukkan bahkan sekalipun telah dikepung oleh dua ahli tarung. Meski harus digaris bawahi bahwa Rama telah terkuras tenaganya menghadapi rangkaian penjahat di lantai demi lantai apartemen, sedangkan Andi telah bonyok sebagai sansak dari Mad Dog. Plus lagi tangan Andi terluka akibat tikaman pisau Mad Dog ketika mengetahui bahwa orang kepercayaan Tama ini telah menyelamatkan Rama. Setelah melalui pertarungan ketat, akhirnya Mad Dog dapat terkalahkan dengan pecahan lampu neon yang ditusukkan ke leher untuk kemudian ditegaskan dengan gerakan horizontal di leher. Dan mungkin karena liatnya Mad Dog sampai ada penonton di bioskop yang menyeletuk Mad Dog bakalan bangun lagi setelah ditusuk melintang di area sentral tersebut. Tentu saja itu tidak terjadi Mad Dog telah terkalahkan (dalam hati saya berceloteh, “hei ini bukan film Jason, Freddy Krueger, ataupun thriller tipikal”).

Film The Raid yang soundtrack-nya digubah oleh Mike Shinoda juga sesekali menyisipkan humor-humor singkat yang berhasil menurunkan tensi ketegangan dan memberikan perspektif tidak sekedar aksi laga. Dialog-dialog singkat seperti sekilas info dengan siapa kita berhadapan, pertukaran kata antara Andi dengan Mad Dog ketika membawa korban, aksen daerah dari pria bertampang sangar bergolok, mampu menjadi bumbu yang memancing tawa di tengah kepungan adegan.

Peradaban manusia disusun dari elemen darah dan tengkorak. Itulah kiranya yang menyebabkan adegan aksi terus stabil mengisi panggung kehidupan. Gladiator, tinju, film laga, merupakan rangkaian potret yang menjaga denyut pertarungan tetap berlalu lalang di pentas kemanusiaan. Raison d’etre, sisi humanis dan dramatik dapat membuat genangan darah menjadi lebih eksplosif sebagai produk hiburan. Sebut saja novel Hunger Games, film seri Band of Brothers sebagai sampel yang memberikan ‘nyawa drama’ pada genangan darah. Verdict saya terhadap Film The Raid memang mampu memikat secara laga, namun minor dalam penceritaan dan segi drama.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Sayonara Penulis

Salah satu fragmen memorable dari film Inception yang saya ingat yakni ketika Cobb mendatangi kumpulan orang-orang ‘sakau’ yang kehidupannya terdistorsi antara mimpi dan realitas. Bagaimana kumpulan orang-orang ‘sakau’ tersebut hidup dalam lapisan mimpi semu yang tidak tersentuh dalam kenyataan. Dalam beberapa pertalian persahabatan saya dengan sejumlah sobat, hal paralel saya temui. Hal tersebut yakni mimpi yang terlampau utopis. Rupa-rupa mimpi utopis yang mereka miliki. Dan sebagai pendengar yang baik, saya biasanya mendengarkan celotehan mimpi-mimpi mereka. Dalam beberapa celah kesempatan saya mencoba untuk ‘membangunkan’ mereka dari imajinasi semu tersebut. Namun terkadang mimpi utopis lebih nyenyak untuk dipelihara, ditimang-timang, dan diangankan.

Bukan berarti saya tidak percaya pada mimpi, harapan, keajaiban, mobilitas vertikal, dan sebagainya. Saya hanya menimbang dan mencermati antara das sein dan das sollen yang mereka ingin raih. Das sollen-nya mengembara tinggi, namun usahanya uring-uringan tak tentu arah, tentu sangat lumrah untuk menemui kegagalan. Das sollen-nya sekian, namun kompetensinya jauh..jauh pangggang dari arang, maka menjadi lazim untuk menemui kegagalan.

Mimpi untuk menjadi sesuatu yang saya bahas dalam essai kali ini ialah mimpi untuk berkiprah di jalur fiksi fantasi. Apa cita-cita Anda ketika kecil? Mengutip dari novel Supernova, saya sepakat bahwa cita-cita klasik yang jadi pedoman anak-anak SD Indonesia ialah menjadi dokter, insinyur, menjadi seperti Pak Habibie (Dewi Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, hlm. 28). Cita-cita klasik tersebut terlebih bagi manusia Indonesia kelahiran era Orde Baru yang memiliki rancang pola pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan skema terukur. Manusia-manusia Indonesia diharapkan akan mengisi kemerdekaan dengan berada di pos-pos cita-cita klasik tersebut. Betapa dari latar sistem sosial politik yang mencengkram, urusan cita-cita dan mimpi pun mengalami keberagaman, pengarahan, dan tidak merdeka seutuhnya.

Secara sosial politik, tanggal 21 Mei 1998 ditandai sebagai momentum berakhirnya era Orde Baru. Indonesia memasuki lembaran bernama reformasi. Reformasi hadir dengan menggeser sejumlah nilai-nilai baru dan melungsurkan nilai-nilai lama yang telah mapan. Reformasi memberikan ruang yang lebih lapang dan luas. Kelapangan tersebut memiliki korelasi dengan kreativitas yang tentunya bertalian dengan fiksi fantasi. Kreativitas kini menjadi hal yang didengung-dengungkan. Bahkan Kabinet Indonesia Bersatu II sampai membuat tambahan penamaan dalam salah satu pos kementeriannya menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Kreatifitas kini mendapatkan panggung lebih massif dan tidak terperiferikan.

Varian pekerjaan dari orang yang berada di usia produktif juga saya percaya di era reformasi lebih banyak dan kompleks. Sebut saja contohnya Yoris Sebastian yang menjual ide-ide kreatif untuk kliennya. Melalui perusahannya (OMG), ia menggarap proyek dari beragam bidang, seperti mal, hotel, rumah sakit, asuransi, minuman, media, serta membidani banyak signature event. Banyak pula kesempatan untuk mengisi domain-domain kreativitas terkait dengan fiksi fantasi, misalnya menjadi penulis, pembuat komik, berkecimpung di film, dan sebagainya. Lonjakan kesempatan ini bertemu dengan manusia Indonesia usia produktif yang tertarik untuk terjun dan eksis di ranah fiksi fantasi.

Diantara lini fiksi fantasi tersebut yang mendapatkan magnet cukup besar yakni dengan menjadi penulis fiksi fantasi. JK Rowling dengan sukses besarnya merupakan inspirasi yang menyalakan segenap kalangan usia muda untuk menjadi penulis di genre fiksi fantasi. Salah satu parameter validnya ialah meningkatnya secara berarti peserta dari Fantasy Fiesta. Fantasy Fiesta merupakan lomba cerpen fiksi fantasi, dimana pemenangnya akan dimuat karyanya dalam kumpulan cerpen berbentuk buku. Terjadi peningkatan karya yang masuk pada tahun 2011 dari tahun 2010. Pada tahun 2011 lebih dari 500 cerpen telah masuk ke meja panitia, 332 cerpen lolos menjadi peserta lomba, dan 20 cerita terbaiknya kini dibukukan dalam antologi cerpen Fantasy Fiesta 2011 (Fantasy Fiesta 2011, hlm. IX).

Dari pengalaman personal saya membaca berbagai ragam karya fiksi fantasi. Baiklah saya katakan bahwa beberapa orang memiliki talenta yang jika terus digosok, diasah akan semakin bersinar dan bertaji buah penanya. Sedangkan pada beberapa orang, dapatlah saya ungkapkan bahwa karyanya jauh dari keindahan dan dalam hemat saya tidak cocok untuk menjadi penulis fiksi fantasi.

Baiklah kiranya saya kutipkan buah pikiran dari Mohammad Natsir (Mohammad Natsir, Capita Selecta 1, hlm. 70-71) berikut:

Membaikkan pula bagi pujangga kita sendiri, oleh karena satu resensi yang ikhlas dan terus terang serta beralasan, lebih banyak faedahnya bagi seorang penulis muda dari pada pujian-pujian, yang tidak pada tempatnya. Tak usah kita kuatir, bahwa seorang penulis akan patah hatinya bila tidak mendapat pujian. Sebab, kalau betul ada mengalir darah pujangga dalam tubuhnya, ia tidak akan patah hati. Tetapi ia akan meng gertamkan gigi dan berjalan terus sampai buah penanya mendapat penghargaan yang sempurna. Kalau “Sjaalman” dalam Max Havelaar pematah hati, sudah tentu tidak akan ada pujangga Multatuli bukan?

Tetapi andai kata penulis muda kita itu betul datang patah hatinya, itupun baik sekali bagi dirinya.

Sebab yang demikian menunjukkan, bahwa dia bukan seorang pujangga. Itu bukan satu celaan baginya, tidak ! Akan tetapi satu pemberian ingat, bahwa ia itu semestinya duduk dilapangan lain. Boleh jadi ia lebih pantas menjadi seorang tukang yang cakap atau arsitek yang pintar, atau seorang saudagar yang ulung, seorang fabrikan barang tenun atau lain-lain. Dunia Allah besar ! Banyak pintu rezeki disediakan-Nya untuk makhluk-Nya yang bermacam-macam itu. Tidak semua orang mesti menjadi pujangga saja.

Jika mengambil intisari pembelajaran dari film 300, ketika Ephialtes yang bungkuk ingin bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Leonidas, namun ditolak oleh sang raja. Alasannya ialah karena keterbatasan dari Ephialtes tersebut membuatnya tidak dapat melindungi rekan di sebelahnya, padahal kunci kekuatan dari pasukan Sparta yakni pada kokoh dan solidnya pertahanan dari gempuran pihak luar. Ephialtes tidak memenuhi skema pertahanan tersebut. Namun sang raja (Leonidas) menyatakan bahwa Ephialtes masih dapat berperan di garis belakang pertempuran. Hal tersebut menunjukkan bahwa medan pengabdian tidak sekedar satu jalur, satu jalan, masih ada medan pengabdian lainnya yang determinan bagi keberhasilan perjuangan. Begitu juga dengan karier penulisan, dari sekian banyak mereka di usia produktif yang ingin berkarier di jalur menulis pastilah ada yang tidak memenuhi kualifikasi. Meski begitu itu bukanlah akhir dunia.

Mengetahui bahwa kompetensi personal bukanlah pada bidang penulisan fiksi fantasi merupakan sebuah anugerah. Mengapa disebut anugerah? Karena akan mengetahui ukuran siapa dirinya dan cocok tidaknya antara ekspektasi dengan kemampuan. Mengenal diri sendiri bukanlah hal yang mudah, terkadang dibutuhkan suara lainnya dari luar. Terkadang dibutuhkan rangkaian siklus kegagalan untuk meresonansikan hakikat diri. Mengenal diri sendiri seperti mampu memilah gelembung-gelembung delusi yang mampu menipu.

Mengenal diri sendiri seperti dinarasikan dalam film Awake, yakni seperti terbangun dari lilitan kepalsuan dan kebohongan. Kepahitan, keterjatuhan, realitas, lebih indah kiranya dibanding segala gapaian-gapaian utopis. Gapaian utopis persis seperti deretan orang ‘sakau’ dalam film Inception yang tak mampu lagi berpijak dan hidup pada kenyataan. Dengan demikian jika pada satu titik harus mengucapkan ‘sayonara penulis’ ada sebuah ketenangan, kerelaan. Bahwa ada ranah-ranah lainnya yang dapat diberikan permaknaan dan keberartian.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Sosial Budaya

Etalase

Media sosial mungkin telah mengubah secara signifikan karakter dari masyarakat bangsa ini. Mengutip dari pendapat Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir 2: Bahwa kata pamer, yang setahu saya berasal dari bahasa Jawa, sekarang dipakai dengan tenang, berarti suatu perkembangan yang menarik telah terjadi di kepala kita. Pamer, dalam bahasa asalnya, punya konotasi buruk. Di dalamnya ada unsur menyombongkan diri. Padahal, beratus-tahun lamanya kita merasa risi untuk bersikap demikian. Perhatikan saja nama warung atau hotel-hotel kita yang melanjutkan gaya masa lampau: warung Sudi Mapir atau hotel Sederhana; restoran Saung Kuring (yang berarti “gubuk saya”) atau penginapan Tawakal (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 35). Lalu marilah kita konfrontasi dengan lalu lintas dunia maya yang ada saat ini. 40 juta akun facebook, 7 juta akun twitter, 6 juta blog (Majalah Marketing, Merek-Merek Juara di Social Media, hlm. 40) merupakan angka yang signifikan menunjukkan betapa gemuknya pasar populasi dunia maya dari Indonesia. Dari jumlah akumulatif jutaan tersebut, kita akan mendapati dalam time line bahwa betapa banyak yang saling berlomba-lomba untuk pamer. Fastabiqul pamer.

Lini dunia maya untuk kemudian menjadi dijejali oleh berbagai ragam pamer. Mulai dari pergi ke tempat makan yang kira-kira bonafid (saya pikir check in di warteg belum pernah saya temui), bertemu dengan orang terkenal (dalam foto aneka gaya), romantisme lewat kanal sosial (baik melalui update status yang tersurat jelas maupun dalam foto dua yang seolah menyatu), dan sebagainya. Yang semula adem ayem, anteng-anteng, untuk kemudian mengalami efek getok tular dengan nimbrung dalam perlombaan pamer. Dan pamer menjadi sesuatu yang lazim, wajar, normal. Pamer menjadi paralel dengan kata eksis. Adalah naif untuk menyatakan bahwa pamer yang menggurita ini berakar dari sosial media en sich. Tentunya jika dibedah dan ditelaah, ada hulu-hulu, pintu-pintu penyebab lainnya. Meski begitu sukar untuk tidak mendaratkan konklusi bahwa sosial media berperan dalam memelihara dan menumbuhkan kata pamer.

Sosial media memang dapat menjadikan sesuatu yang sifatnya personal menjadi milik publik. Media sosial dapat menjadi sebuah kaca pembesar. Media sosial dapat menjadi bumbu rempah-rempah yang menambah tensi permaknaan. Semula segala sesuatu yang radiusnya hanya personal dan terbatas menjadi meluas dan tanpa batas. Lalu salahkah dengan etalase pamer yang terjadi di sosial media? Jika berada di era Orde Baru saya pikir jawabannya telah tegas. Anda bisa melacaknya dalam hand book PPKN ataupun penataran P4. Ada keharusan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain, tenggang rasa, tidak menyombongkan diri, dan tidak gemar hidup berfoya-foya. Namun Orde Baru telah berakhir dan berganti era dengan yang diistilahkan secara politik dan sosial sebagai reformasi. Ada pergeseran, penumbangan nilai lama, bermunculan nilai baru.

Nilai baru yang mencuat ke permukaan salah satunya ialah lomba pamer. Bukan berarti pada era Orde Baru, lomba pamer tidak terjadi, namun skalanya tidak sevulgar sekarang. Ada prinsip kehati-hatian ketika pamer waktu dulu. Lomba pamer kini menemukan panggungnya baik dalam skala individu dan entitas. Show of force dari koleksi menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan membanggakan. Celakanya setiap aksi selalu menghasilkan reaksi. Lomba pamer ini dapat memerosokkan pada budaya konsumerisme. Beli..beli..dan beli. Tunjukkan..tunjukkan..dan tunjukkan. “Tapi tuan bukankah itu akan baik bagi perekonomian? Pasar akan ramai. Produksi akan hidup. Penawaran dan permintaan akan menggeliat.” Skema pendapat tersebut ada benarnya, namun jangan lupakan bahaya korosi yang akan terjadi dalam konsumerisme yang menggejala.

Konsumerisme dapat menjadi manusia bergelimang dengan kemewahan. Ibnu Khaldun dalam tesisnya menyatakan bahwa ada tiga penyebab yang dapat meruntuhkan bangunan kekuasaan dan bahkan peradaban, yakni: 1. Dosa keangkuhan, 2. Dosa kemewahan, 3. Dosa kerakusan. Tesis dari Ibnu Khaldun tersebut tentu saja beranjak dari fakta otentik dan kontemplasi yang dilakukannya. Nyatanya peradaban yang terlalu tambun akan cenderung tidak gesit dalam merespons dan menghadapi tantangan. Padahal seperti dituturkan oleh Arnold Toynbee bahwa kenyalnya suatu peradaban ditentukan oleh kemampuannya untuk merespons dan menghadapi tantangan (respons and challengge). Ketidakmampuan untuk merespons dengan benar dapat menjelaskan terjadinya dekadensi, kemerosotan, dan kekalahan.

Ironisnya jika yang diinfiltrasi oleh dosa kemewahan, gejala tersebut bukan hanya menyergap peradaban yang berada di atas dan berjaya. Mungkin seperti negeri Indonesia yang tidak berada dalam jajaran elite dunia, namun telah terkontaminasi dengan virus dosa kemewahan di berbagai sumsum bangsa. Bukannya bersaing mengejar ketertinggalan, malahan mengelus-elus perut dan saling menggerincingkan kekayaan.

Di etalase, berbagai hilir mudik memaparkan wangi. Sedap dipandang mata. Nyaman di imajinasi. Namun ilusi itu dapat menggoda dan menyesatkan baik dalam skala individu dan komunitas. Dan kita punya sampel otentik bernama Qarun yang gemar pamer kekayaan di hadapan masyarakat. Berduyun-duyun kekayaannya diperlihatkan beserta dengan kunci untuk menjaga hartanya yang berat. Silang pendapat masyarakat terhadap eksebisionisme Qarun pun terjadi. Ada yang memandangnya beruntung, ada yang memandangnya telah berlebihan. Dan Allah Swt menjadikan Qarun yang tamak, sombong, serta gemar pamer kekayaan sebagai simbol dari kekeliruan dengan membenamkannya ke bumi beserta seluruh harta kekayaannya.

Dan saya percaya kita tahu konklusi dari jalan Qarun. Ya kita tahu kisah Qarun, namun terkadang lupa substansinya dan menerapkannya dalam hidup kekinian dan kekitaan.

Posted in puisi, sastra

Lingkaran

Perputaran itu mencekamku
Sekuat apapun dayaku, titik itu kembali
Titik itu menanti
Seperti pendulum dalam keseimbangan

Di waktu yang usang
Pada jiwa yang gersang
Waktu yang tertumpas
Waktu yang terhempas
Terampas, teretas

Terjatuh dalam sosok kelabu yang itu-itu lagi
Terjerembab di pelosok peristiwa yang sebangun
Ini jalan tiada ujung
Jalan berputar yang membawaku pada titik nol yang identik

Lelah, sudah terlampau letih
Letih, sudah terlampau lelah
Kulihat cermin yang mengusam
Profil yang kian tergurat waktu,
Namun tak kunjung menemukan jawab atas satu lingkaran pertanyaan

Posted in Essai, Sosial Budaya

Klakson

Cobalah berdiam sejenak di lampu hijau yang menyala pada lalu lintas Jakarta. Tanpa komando, tanpa diktator, raungan klakson akan menghantam Anda. Plus lagi dengan rangkaian kata entah itu dari rangkaian hewan ataupun kata-kata bernada minor. Apa gerangan kiranya yang dapat menjelaskan fenomena semacam ini. Apakah ini pertanda bahwa segenap mobil dan motor yang berdesak-desakan itu sedang bergegas dikejar waktu. Bukti dari intensitas dan efisiensi waktu? Rasanya bukan itu jawabannya. Para peraung dengan klakson itu mungkin memaparkan potret dari kekuasaan yang ada dalam genggaman. Mumpung ada kuasa untuk menghardik, mendesak, menggugat, maka klakson bergaung silih berganti.

Pada kehidupan keseharian, bisa jadi si peraung merupakan mereka yang tertekan. Mereka yang kalah. Mereka yang terintimidasi. Mereka yang hanya dapat meratap lewat kegalauan di facebook ataupun twitter. Namun di jalanan, dengan perangkat bersuara tinggi itu, mereka seperti menggunakan jubah yang berbeda. Mereka adalah penguasa. Mereka arogan. Mereka ada di atas dan seolah benar tentang apa yang harus terjadi.

Klakson mungkin juga dapat menjawab tentang kegelisahan. Kegelisahan akan seolah kesibukan. Seakan-akan waktu 24 jam tidak pernah cukup untuk melakukan ini dan itu. Padahal realitanya 24 jam keseharian tidak kentara melakukan ini dan itu. Klakson adalah potret dari manusia yang konon modern. Pigura dari pertumbuhan ekonomi yang meledakkan penduduk sepeda motor dan mobil. Lalu jalanan menjadi arena pertempuran. Tumpukan kemacetan di berbagai titik. Maka momentum lampu hijau adalah kesempatan untuk bergerak, segera beranjak dari belitan (untuk menuju belitan kemacetan baru).

Sandra Reimers pernah menulis sebuah lagu berjudul I Had A Dream of Indonesia (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 30). Indonesia digambarkan sebagai tempat di mana, “orang-orang seakan mendengarkan kearifan samudra”.

They never hurry
They never worry
They take the tide away the way it meant to be….

Rasanya gubahan Sandra Reimers seperti utopis di frasa Jakarta. Raungan klakson menjadi sinyalemen dari mereka terburu-buru, mereka khawatir.

Klakson merupakan sinyalemen dari belum beresnya. Belum beresnya tata kelola kota dan belum beresnya pemikiran mereka yang gemar menghantamkan bunyi melalui klakson. Bagaimana bisa sebuah kota harus menghadapi kegilaan semacam ini. Waktu, energi fosil, energi manusia, tertumpah setiap harinya di jalanan ibukota. Klason bisa jadi adalah muara dari kegulanaan simpul perasaan yang bergelayut itu. Klakson adalah bunyi gugatan terhadap tata kelola Jakarta tanpa menemui gaung yang untuk kemudian akan menepi. Klakson sekedar ad hoc. Setelah itu bertemu lagi dengan masalah. Klakson tidak benar-benar dapat menjadi solusi. Lagian sejak kapan suara meraung dapat menjadi jalan temu penyelesaian masalah.

Mereka yang marah lebih memungkinkan untuk menjadi destruktif. Sia-sia. Sekedar bara. Sekedar amarah. Bahkan dalam sebuah iklan rokok diperlihatkan bagaimana seorang yang sekedar berbicara dan berbicara namun geraknya statis. Berbeda kiranya dengan seorang yang do it something dan mampu mengatasi permasalahan keruwetan dan kemumetan. Klakson hanya sekedar berbicara dan berbicara itu. Yang sayangnya itu menjadi perilaku kolektif. Tanpa perlu dikomando, tanpa perlu penataran semacam P4. Atau jangan-jangan perkara klakson ini lebih gawat dan serius. Bahwa banyak yang sekedar mengeluh dan menggertak tanpa menghadirkan jalan keluar?

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Parade Kematian Para Dewa (Film Wrath of the Titans)

Apa jadinya jika para dewa musnah? Begitu kiranya tesis yang ditawarkan oleh kisah Wrath of the Titans (2012). Film Wrath of the Titans merupakan sekuel dari film Clash of the Titans (2010). Siapa saja pendukung di film sekuel ini? Peran utama masih dimainkan oleh Sam Worthington sebagai Perseus anak dari dewa Zeus. Dewa Zeus sendiri diperankan oleh Liam Neeson yang memiliki rekam jejak yang menyakinkan yakni sebagai Ra’s Al Ghul (Batman Begins), Hannibal (The A-Team). Dan harus diakui bahwa acting paling impresif di film Wrath of the Titans berhasil ditampilkan oleh Liam Neeson yang mampu menampilkan sosok Zeus yang terluka. Adapun peran ‘bunga’ yakni Andromeda diperankan oleh Rosamund Pike. Hmm..jika pada edisi sebelumnya peran pemanis dimainkan oleh Gemma Arterton yang berperan sebagai IO dengan cantik dan menarik. Maka pada edisi ini bersiap-siaplah untuk kecewa dengan Andromeda yang diperankan secara hambar oleh Rosamund Pike.

Cerita tentang dunia para dewa sendiri memliki berbagai banyak medan penafsiran di berbagai lini. Imajinasi dan fantasi tentang para dewa menghasilkan berbagai proses kreatif yang berbeda. Sebut saja dengan game God of War yang menghadirkan Kratos sebagai penggugat utama para dewa. Dengan kekuatan dan upayanya para dewa menghadapi kehancuran oleh Kratos. Para dewa digambarkan jahat dalam game God of War. Sementara dalam tampilan yang lebih teenage, kita mendapati serial Percy Jackson. Mulai dari diksi, narasi, maka rumitnya dunia mitologi dibaurkan dengan skema kontemporer dan dibuat tidak berjarak dengan kekitaan. Para dewa digugat, namun dalam kisah Percy Jackson ini, para dewa pun kebagian sejumlah peran madu dan protagonis. Ada pula film Troy (2004), yang lebih menekankan pada sisi humanis, daya juang dari manusia. Para dewa pada beberapa frasa dimarginalisasikan seperti Achilles yang tetap memakai baju perang ketika bertempur (dialog dengan anak kecil yang menganggap Achilles keturunan dewa dan tidak memerlukan baju perang), visi ramalan tentang perang dari lingkar terdekat Priam yang ditentang oleh Hector dengan daya analitis dan rasionalitas.

Kisah Wrath of the Titans diawali dengan melemahnya para dewa yang berhulu dari semakin berkurangnya manusia yang berdoa kepada para dewa. Hulu masalah ini sebenarnya dapat menjadi eksplosif dan menarik manakala mampu dikemas dan dinarasikan dengan baik, namun di film Wrath of the Titans ini, praktis ide menarik ini sekedar selintasan dan tidak dikutak-katik. Sementara kekuatan para dewa melemah, menyebabkan dinding Tartarus mengalami guncangan. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terlepasnya Kronos sang Titan yang juga bapak dari Zeus, Poseidon, dan Hades. Jika Kronos terlepas dari penjaranya di Tartarus, maka dapat dipastikan akan terjadi banjir darah dan kehancuran di bumi. Terlebih Kronos memiliki dendam kepada anak-anaknya (para dewa) yang menyebabkannya terpuruk, terpenjara di Tartarus.

Zeus, Poseidon, Ares, berangkat ke titik gerbang Tartarus untuk memperbaiki dindingnya yang semakin mengkhawatirkan. Namun Ares ternyata berkhianat. Beserta dengan Hades, si dewa perang menyerang dan menghantam Poseidon serta menahan Zeus. Dari tenaga Zeus, maka akan terbebaslah Kronos, begitulah kiranya alasan dari penangkapan dari ayah Perseus ini. Kejatuhan para dewa utama tersebut, membuat beban penyelamatan dunia terletak terutama di pundak Perseus. Manusia blasteran. Manusia setengah dewa, yang memiliki keistimewaan kekuatan dewa dan nilai adiluhung dari manusia. Perseus pun mengajak Andromeda dan Agenor (anak Poseidon) dalam koalisi penyelamatan dunia.

Siapa saja yang dihadapi oleh Perseus cs dalam misi heroiknya? Tentu bagi penggemar mitologi, sudah tidak asing lagi dengan Chimera, Cyclop, Minotaur, Makhai. Kalau ada yang dapat menjadi nilai positif dari film Wrath of The Titans yakni special effect-nya. Dan ini terkonfirmasi dalam pertarungan dengan para makhluk mitologi tersebut. Dalam pertarungan dengan Chimera misalnya, bagaimana Chimera merupakan makhluk yang memiliki ragam senjata mematikan dan ulet ditaklukkan. Chimera memiliki dua kepala, ludah yang beracun, ekor yang mengancam dan dapat menjadi senjata. Sayangnya segala spesial effect ini dirusak oleh gesture dari Perseus (Sam Worthington) yang tidak terlihat berkeringat, habis-habisan, dan sekedar membunuh seperti biasa saja tanpa bumbu drama dan heroik. Berbeda kiranya dengan film seri Hercules: The Legendary Journeys yang diperankan oleh Kevin Sorbo. Hercules (Kevin Sorbo) mampu menarasikan bagaimana sukarnya menaklukkan para monster, dan terkadang dengan sensasi humor yang menggelitik.

Melihat film Wrath of the Titans memantik memori saya pada serial novel Percy Jackson. Serial novel Percy Jackson sendiri menurut hemat saya layak untuk direkomendasikan dan menarik secara konsep serta penceritaan. Novel Percy Jackson secara menyakinkan mampu menampilkan kisah dewa dewi dan mitologi dalam tampilan kontemporer. Mitologi yang ditampilkan dalam bentuk pop, kekinian, berhasil membuat novel Percy Jackson laku secara penjualan dan mendapatkan sejumlah penghargaan. Film Wrath of the Titans dalam beberapa bagian seperti sinopsis dari novel Percy Jackson. Yang paling connected tentu saja melalui dewa Hephaestus yang merancang labirin. Labirin merupakan jalan rumit yang hanya memiliki satu jalan menuju pusat Tartarus.

Alur dari film Wrath of the Titans sendiri praktis tidak rumit dan tidak membutuhkan kejelian mengikuti fragmen demi fragmen secara teliti. Film yang disutradarai oleh Jonathan Liebesman ini sayangnya tidak memiliki perbendaharaan kata-kata puitis yang memikat. Padahal dengan latar dan nuansa jadul era Yunani kuno tersebut, seharusnya paralel dengan bermunculannya kata-kata yang bernas. Contoh nyata dari kisah Yunani dengan deretan kata berisi yakni film Troy (2004). Ada beberapa kata yang begitu kuat secara pembahasaan dan memiliki kedalaman makna. Sebut saja perkataan Achilles: The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again. Contoh lainnya ialah pada narasi awal film Troy: Men are haunted by the vastness of eternity. And so we ask ourselves: will our actions echo across the centuries? Will strangers hear our names long after we are gone and wonder who we were, how bravely we fought, how fiercely we loved?”

Sayangnya film Wrath of the Titans alpa dengan kata-kata yang mampu menyihir penontonnya semacam di film Troy. Bauran antara acting yang standar plus kalimat dialog yang hambar menjadikan drama dari film ini benar-benar layu. Tak ada keterhanyutan, patriotik, bahkan saya merasa anteng-anteng saja dan gagal dibawa kepada kemencekaman situasi jika Kronos kembali ke bumi dan mencengkramkan terornya.

Konflik dan pesan yang ingin diangkat dari film ini juga menjadi tercecer dikarenakan kualitas acting, penceritaan, serta dialog yang datar-datar saja. Padahal sejatinya film merupakan sebuah wahana yang mengajak penontonnya untuk berpikir, merenungkan, dan mengajak bertindak sesuatu. Bahkan kematian para dewa seperti Poseidon, Ares, Zeus, tidak memercikkan sensasi kehilangan. What’s next dengan bergugurannya para dewa tidak mampu menjadi sebuah pertanyaan, kegelisahan dari film ini.

Sekedar memanjakan mata dengan spesial effect, makhluk-makhluk mitologi. Praktis hanya itu yang yang mampu ditampilkan oleh film Wrath of the Titans. Parade kematian para dewa yang jauh dari kesan kolosal dan dramatik.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}