Posted in Essai, Sosial Budaya

Bumi

Dari tempat kita dilahirkan, kita dibentuk dan membentuk. Bumi, lahan dimana milyaran manusia, lahir, tumbuh, dan mati. Bumi, lahan semai bagi milyaran manusia dengan rangkaian tingkah polahnya, pemikiran, jejak-jejak kehadirannya. Bumi yang melengkungkan senyum, menerbitkan duka. Daratan, lautan, udara, adalah teritori yang membentang dari tempat yang tidak sekedar ditempati oleh manusia. Kita tidak sendiri di semesta ini. Di bumi, kita berbagi dengan hewan dan tumbuhan. Namun kitalah puncak rantai makanan. Manusialah yang dapat menjerat hewan untuk kemudian menjadikannya santapan di waktu malam mengintai. Manusialah yang dapat membudidayakan tanaman, sekaligus membumi hanguskan rangkaian pepohonan.

Bumi, tempat para gladiator manusia bertarung setiap harinya. Ada aksi tipu-tipu, sogok sana sini, ilusi demokrasi. Tempat dimana manusia dengan rakusnya mengkonsumsi. Dari lautan, dari daratan, dari udara. Manusia si omnivora numero uno. Bumi, saksi si puncak rantai makanan yang “memakan” manusia lainnya atas nama berbagai kata. Atas nama ideologi, ambisi kekuasaan, atau entah apalagi. Tersungkurlah bumi dalam genangan darah, abu mesiu, bara yang melentingkan jejak di tanah, bersama air, mengikat di udara. Bumi, tempat dimana kelindan kepentingan membelenggu manusia. 24 jam adalah belenggu yang terus berputar dan berputar.

Maka bumi harus takluk. Mesin-mesin industri dengan cerobong asapnya ialah pertanda kemajuan, jutaan kiloliter yang tersedot di mesin-mesin mobil adalah modernitas. Botak, bukan sekedar teritori manusia. Bumi pun bisa botak. Hutan yang dibabati, ruang kota yang menjadi hutan beton. Dan menimbang dalam imajinasi tentang ruang terbuka hijau sebesar 30 % diantara kepul asap knalpot dan bangunan yang seolah saling berkelindan. Naiklah ke atap, maka kau akan mendapati potret bumi. Ada atap yang saling berdempetan, sehingga jika terjadi kebakaran di satu titik, akan menyebar si jago merah menjadi pelahap titik demi titik dengan ganas. Ada yang seolah tanpa atap, karena bangunan berbentuk vertikal menjulang. Upaya untuk mengatasi lahan yang semakin mahal setiap tahunnya. Ada atap bocor, yang kesukaran untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar hidupnya. Millenium Development Goals yang sekedar kata-kata pemanis di seminar-seminar. Ada atap, dimana kau bisa melihat lautan kompi cahaya gedung-gedung pencakar langit. Inilah tempat kau bisa melihat si “macan asia” dengan postur APBN mencapai 1.500 triliun dengan pendapatan per kapita mencapai US$ 3.000 setiap tahunnya. Lalu apa kabar dengan bumi?

Ada imajinasi memang. Atau sebuah eskapisme? Tentang kehidupan di luar bumi. Mars dan semesta yang luas ini, kiranya memiliki probabilitas untuk menjadi tempat huni baru bagi manusia. Bumi yang kian menua, jeritan di lubang ozon, imajinasi. Skenario-skenario kemungkinan. Namun disinilah kita sekarang ini. Bersama di bumi. Berdesakan bersama 7 milyar manusia lainnya. Tempat kita lahir, tumbuh, dan teramat mungkin mati juga di bumi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s