Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Komik

Peran Manga Jepang (2)

2. Manga jenis parade parodi (Animonster, Volume 54, September 2003)
Parodi ialah meniru (atau tiruan) yang dengan sengaja dibuat berlebihan atau dengan maksud mengejek. Tanpa maksud negatif, parodi lebih sering bersifat komedi dan bertujuan untuk melucu. Kita lebih mengenalnya sebagai plesetan Parodi sudah banyak dilakukan dalam berbagai format. Film seperti scary movie, lagu- lagu yang dinyanyikan Project P, atau bahkan komik seperti doujinshi dalam Animonster. Intinya parodi mengeksploitasi sesuatu yang sudah ada (atau dikenal baik karena khas) supaya menjadi lucu. Bukan hal yang aneh bila suatu trade mark, ucapan, atribut/kostum, atau adegan yang menjadi ciri khas diparodikan dalam bentuk komedi. Kadang parodi sering dicampurbaurkan dengan komedi murni yang memang gila- gilaan, sehingga sama ‘ancur’nya dengan parodi. Perbedaannya adalah komedi murni benar- benar original. Tidak mengambil/memparodikan yang sudah ada.

Dalam parodi bisa saja karakteristik tokohnya digambarkan secara berlebihan. Atau justru karakternya dibuat 180 derajat berbeda dari aslinya, yang disebut out of character. Untuk membedakan dengan original, versi parodi seringkali memakai format gambar super deformed (SD) atau chibi character. Tokoh-tokoh yang di kisah aslinya serius bisa saja berkonyol ria bila digambarkan kontet dan imut-imut. Hal ini bisa kita lihat dalam anime Adventure of mini Goddess (side story dari Aats! Megami- sama), di mana Urd, Skuld, Belldandy dan Gan si Tikus menciut menjadi kecil bila Keichi tidak ada di rumah. Anime pendek kocak ini menampilkan berbagai petualang dewi-dewi mini tersebut yang ceritanya memodifikasi cerita aslinya, memparodikan Godzilla sampai Galaxy Express 999. Versi Super Deformed ini juga diterapkan dalam anime Tenipuri, Gundam, dan lain-lain.

3. Manga jenis sains dan teknologi (Animonster, Volume 65, Agustus 2004)
Hubungan antara saintis dan media massa merupakan sebuah hubungan yang sulit. Media massa memang berperan besar dalam publikasi hasil penelitian para saintis. Namun, kerap kali publikasi tersebut terlalu bombastis, sehingga malah menyesatkan para pembaca. Terkadang pula media massa salah memahami data maupun hasil penelitian itu sendiri dan mempublikasikan sesuatu yang tidak benar, atau malah sengaja dipelintir untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Saintis sering pula mengeluhkan penggambaran sains dan para saintis yang kurang tepat dalam media-media seperti buku atau film fiksi. Nah, bagaimana kiranya dengan sains dan teknologi yang digambarkan dalam anime dan manga? Banyak sekali anime dan manga yang menjadikan sains sebagai bagian terpadu, meskipun tak bisa dipungkiri banyak yang menjadikan sains sebagai bumbu penyedap semata tanpa mengindahkan benar tidaknya fakta sains yang disajikan.

Dalam hal anime dan manga, dapat diperhatikan kalau banyak diantaranya yang menampilkan sains dan teknologi sebagai penghasil mesin-mesin perang yang digunakan manusia untuk saling membunuh. Serial akbar Gundam, misalnya cukup menonjol karena membangun ‘dunia’-nya berdasarkan sebuah cabang ilmu fisika khayalan, Fisika Minovsky. Berkat penemuan-penemuan di bidang fisika yang dipelopori Minovsky tersebut, dibangunlah kapal-kapal perang, mobile suit ,mobile armour, dan berbagai peralatan tempur lainnya. Setiap kali kata- kata ‘ I- Field’ dan ‘ partikel Minovsky’ terdengar dalam Gundam, di situlah sains bekerja. Dan biasanya, di ujung serial terbitlah sebuah penyesalan mengenai mengapa manusia berperang dengan mesin-mesin yang mereka ciptakan sendiri. Tidakkah semua energi, waktu, dan pikiran yang telah dihabiskan untuk perang digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna? Penekanan tersebut terasa jelas dalam Gundam, karena yang berperang adalah manusia melawan manusia, bukan melawan monster asing dari luar angkasa, misalnya. Anime/manga seperti Texhnolyze, project ARMS, dan Ghost in the Shell bahkan melangkah lebih jauh dengan menghadirkan manusia-manusia separuh mesin, tentunya dengan setting masa depan yang diangankan sudah secanggih itu.

Seperti itulah sains berbahaya atau tidaknya, terpulang kepada mereka yang menguasainya. Tidak perlu takut pada sains karena citra yang ditampilkan oleh film, buku, anime, ataupun manga. Meski mungkin mengandung kebenaran dan bisa dijadikan bahan renungan, tapi mereka tidak sepenuhnya nyata. Tentu tidak semua anime/manga menyebarkan ketakutan terhadap sains (sengaja maupun tidak). Ada beberapa serial anime/manga yang menyajikan sains dengan halus dan indah, meski tak luput menampilkan problematika yang mungkin muncul karena sains. Yukimura Makoto dengan karyanya, Planetes dengan lancar mengintegrasikan fisika dan astronomi dalam cerita-ceritanya dengan sentuhan kemanusiaan yang kuat. Q.E.D. karya Motohiro Katsuo, dengan tokoh utama Touma Sou sang jenius Matematika, menguntai Matematika dengan gemilang dalam sejumlah kasus yang dihadapi Touma dan sahabatnya Mizuhara Kana. Berapa banyak orang di dunia ini yang dapat membuat cerita detektif berlandaskan rumus Euler dengan begitu indahnya?

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s