Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Komik

Peran Manga Jepang (3-Tamat)

Komik di Indonesia

Adakah kaitan dan pengaruh dari manga Jepang bagi perkembangan komik di Indonesia? Manga Jepang juga mempengaruhi dunia komik di Indonesia, hal ini dapat kita lihat pada pameran komik lokal yang diadakan pada tanggal 24 Mei hingga 5 Juni 2004 (Animonster, Volume 64, Juli 2004). Pada pameran ini, kita bisa bernostalgia dengan melihat berbagai komik lokal klasik karya komikus terkenal dari tahun 40-an hingga 80-an. Misalnya saja Fantasi Vaya Con Dios, Wayang Purwa (S. Ardisoma), Prabu Udrayana (R.A. Kosasih), Sandhora (Teguh Santosa), dan lain-lain. Bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk menemukan komik tersebut sekarang ini. Tak heran kalau tujuan dari pameran ini yaitu sebagai apresiasi generasi muda, mengingat selama ini belum pernah ada komik lokal yang didaur ulang dari komik yang sudah ada sebelummnya. Acara lainnya yang diadakan yaitu pada tanggal 28 Agustus 2004, pada acara ini dikumpulkan para pekerja komik dan pembuat animasi, memprakarsai sebuah apresiasi seni membuat komik dan dunianya dalam sebuah festival komik. Kegiatan ini diadakan juga dengan harapan di masa datang akan mempunyai kesinambungan dan bisa menjadi festival komik dan animasi internasional. Festival ini merupakan kolaborasi yang positif untuk mengangkat antusiasme baik dari kalangan komikus maupun penikmat komik Indonesia, sambil memadukannya dengan dunia animasi yang sedang digandrungi.

Acara dalam festival komik ini antara lain berupa workshop bengkel Komik Bersama MKI, diadakan pula talkshow yang mengangkat tema seputar dunia komik dan animasi, di antaranya perjalanan komik Indonesia dengan pembicara komikus Indonesia, Dwi Koen dan Ratna Sari dari Elex yang mewakili industri komik (Animonster, Volume 67, Oktober 2004). Ada juga pembahasan mengenai fenomena Komik Underground bersama Firmansyah dan Hikmat DJ pada tanggal 3 September. Festival ditutup dengan talk show The Making of Homeland bersma sang kreatornya, Visi Anak Bangsa, pada tanggal 12 September. Festival kali ini tidak melakukan penilaian terhadap suatu karya, tapi lebih bersifat non kompetitif, yaitu pameran serta temu para pembuat guru, penerbit, dan penikmat komik maupun pelaku animasi. Sebagai catatan, festival ini dibuat secara komprehensif, tidak tersekat-sekat dalam koridor komik saja; akan tetapi menghimpun segenap pekerja yang memanfaatkan komik atau yang base kerjanya menggunakan gambar komik. Pendongeng pun dihadirkan termasuk studio-studio pembuat animasi.

Sensor

Peran manga Jepang berhubungan pula dengan sensor, hal ini dikarenakan ada yang tidak sesuai dengan budaya kita. Kalau melihat berbagai macam adegan bernuansa seks dan kekerasan yang ada dalam anime dan manga, mungkin terbit pertanyaan dalam benak, apakah di sana masyarakatnya lebih bebas dan pervert dibanding masyarakat di negara Barat yang liberal misalnya? Sebetulnya sejauh mana sensor diberlakukan di Jepang? Sebenarnya berbeda dengan negara Barat, kebebasan yang terlihat di media Jepang tidak mencerminkan perilaku masyarakatnya. Orang Jepang pada umumnya sopan terhadap lawan jenis termasuk kaum prianya. Hobi, entah itu anime, manga atau apapun, adalah hal yang pribadi, yang hanya dibagi dengan orang- orang dengan minat yang sama, dan tidak diekspos ke masyarakat umum.

Soal sensor (Animonster, Volume 48, Maret 2003), memang ada undang-undang yang membatasi pornografi di Jepang, yang disebut Penal Code 175—Obscenity Law, tetapi peraturan ini pun sering disiasati oleh para pekerja anime dan manga sebab kurang spesifik dan ketat. Selain faktor undang-undang, jangan dilupakan pula bahwa budaya Jepang memang lain dengan budaya kita. Tak heran apabila pandangan dan patokan mereka tentang nudity pun berbeda. Ada satu lagi yang khas dari hukum sensor Jepang, yakni relatif lebih lunaknya sensor terhadap kekerasan. Makanya bila dibandingkan animasi Amerika yang hampir tidak mengijinkan adanya darah tertumpah (tapi sebaliknya, ada adegan tokoh dilindas buldoser atau tertimpa martil raksasa, meski dalam kapasitas adegan ”cartoonish”), anime lebih longgar dalam memperlihatkan darah dan adegan sadis lainnya. Seperti halnya dengan pornografi, kekerasan nampaknya tidak memiliki dampak langsung atas kehidupan sehari-hari masyarakat. Tentu saja bukannya tidak ada kasus. Masih ingat tahun 1995 anime sempat mendapat pengawasan keras sesudah seorang siswa menusuk gurunya dengan cutter akibat terilhami Evangelion. Yang mungkin menjadi masalah, kasus-kasus seperti ini, juga maraknya anime dan manga hentai (yang di Jepang sendiri dianggap industri biasa sama seperti industri lain), menjadi banyak diangkat di sini saat menyebut pengaruh buruk anime dan manga. Pada gilirannya, tertanam kesan bahwa anime dan manga memang berpengaruh buruk di Jepang sendiri.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Batasan apa yang diterapkan untuk menyensor anime dan manga di sini? Sejauh ini, menurut pengamatan saya paling tidak, tidak ada definisi baku tentang sensor. Sensor dapat berubah sesuai waktu dan keadaan. Ada dua contoh perubahan sensor menurut waktu yang saya angkat di sini. Pertama, saya membandingkan dua judul manga, yaitu Mamonogatari (diterjemahkan menjadi Coming Dark) dan Senkaiden Houshin Engi. Pada Mamonogatari, ada satu halaman penuh yang dihilangkan pihak Elex karena memperlihatkan seorang tokoh yang tewas dengan isi perut terurai. Namun pada Houshin Engi, bukan saja adegan orang tewas dengan isi perut terbuka tidak disensor, namun adegan tokoh Dakki yang sedang ’menikmati’ isi perut itu tidak dipotong. Standar ganda? Mungkin, karena Elex terikat perjanjian dengan pihak penerbit asli untuk tidak menyensor karya-karya mereka yang diterbitkan di Indonesia.

Kedua, pada anime, yakni Inu Yasha dan Fushigi Yuugi. Ada dua adegan yang sama dalam dua judul tersebut, yakni perempuan yang dadanya hanya bertutupkan rambut (Kikyou dan Soi). Pada Inu Yasha yang tayang di Indosiar, adegan yang menunjukkan Kikyou dengan penampilan demikian hilang dari cerita; pada Fushigi Yuugi di TPI, adegan itu tidak tersentuh sensor. Tentu saja bukan maksud saya untuk mengkritik atau membandingkan kedua stasiun TV yang bersangkutan. Yang ingin saya kedepankan pada dua contoh ini adalah betapa mudahnya batasan sensor bergeser sesuai waktu dan tempat.

Menyikapi pro dan kontra seputar sensor dan rating ini, sebaiknya sensor maupun rating diberlakukan kedua-duanya dengan pertimbangan yang matang agar bisa saling menutupi kekurangan satu sama lain. Soal batasan untuk manga yang beredar di pasaran atau anime yang disiarkan di televisi, barangkali memang kita harus serahkan di tangan penerbit dan stasiun TV, karena mereka punya aturan dan kebijakan tersendiri, yang tidak bisa kita ubah hanya dengan protes dan gerutuan. Selain itu kadang mereka terikat dengan kebijakan dari pemegang hak cipta anime dan manga aslinya. Kita cuma bisa berharap agar mereka lebih memperhatikan, misalnya segi keutuhan cerita, dan tidak main pangkas bagian yang dianggap kurang pantas.

Bab III. Kesimpulan

Peran manga Jepang bukan hanya mempengaruhi di Jepang saja, melainkan telah mempengaruhi dunia. Maka sukar untuk melepaskan peran manga Jepang dari konstruksi peradaban yang ada. Peran manga Jepang mempengaruhi berbagai macam dimensi dan aspek yang ada dalam kehidupan di masyarakat.

Daftar Pustaka

Animonster vol 48 edisi Maret 2003
Animonster vol 53 edisi Agustus 2003
Animonster vol 54 edisi September 2003
Animonster vol 56 edisi November 2003
Animonster vol 64 edisi Juli 2004
Animonster vol 65 edisi Agustus 2004
Animonster vol 67 edisi Oktober 2004
Wajah Jepang Dewasa Ini, Jepang: Urban Connection,1996

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s