Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku

Dunia Penciptaan yang Klasik

Judul Buku: Tales of the Deities
Penulis: Riesling, Farid Abdul, Shou Jinbei
Penerbit: well + done
Cetakan: Januari 2012
Tebal: 113 halaman

Menikmati 3 cerpen yang disajikan oleh tiga penulis yang berbeda membuat kita memahami bahwa ada variasi di dunia penulisan. Masing-masing memiliki karakter, gaya penulisan, dan konklusi. Buku Tales of the Deities sejatinya merupakan kumpulan cerpen yang dituliskan oleh tiga penulis muda yakni Riesling, Farid Abdul, dan Shou Jinbei. Menapaki cerpen pertama yang berjudul Loki, saya dibawa untuk menjejak ke lembah mitologi Skadinavia dengan senjakala para dewa. Pada cerpen kedua yang berjudul Ferum, Manusia dan Aburankal, imajinasi saya dihadapkan pada penggalan cerita yang menjelaskan tentang proses penciptaan Manusia oleh Aburankal dalam dunia yang disebut Farum. Pada cerpen ketiga yang berjudul Sodia & Oqeanos, mendamparkan saya pada romantisme persahabatan antara Sodia dan Oqeanos.

Cerpen 1: Loki (Riesling)

Cerpen Loki secara sederhana dapat disinopsiskan sebagai berikut: Kisah ini merupakan ‘sisi lain’ dari kejadian-kejadian seputar babak akhir mitologi negara-negara Skadinavia, Ragnarok atau senja para dewa. Dimulai dari pembunuhan Baldr sang dewa matahari, hukuman yang harus dijalani si pembunuh, perang antara para dewa dan kaum raksasa, hingga akhirnya tentang dunia setelah kerajaan para dewa runtuh seluruhnya. Semua ini disampaikan dari sudut pandang dari sang antagonis, Loki sang dewa kenakalan dan kejahatan.

Diantara ketiga cerpen dalam buku ini, cerpen Loki merupakan kisah yang paling memiliki daya sengat dalam diksi, pesan, dan penceritaan. Terlebih penulis memilih point of view dari sudut Loki sang antagonis. Melihat dari kacamata antagonis sesungguhnya menskeptisi kaum pembaca untuk bertanya seberapa protagonis dirinya sendiri? Penulis membawa sidang pembaca untuk berada pada zona abu-abu, dimana tidak kentara benar siapa yang heroes dan villain. Melalui Loki, dihadapkan sejumlah pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti dualisme sifat. Seperti tertera dalam halaman 3, Bukankah kalian sendiri yang mengunci segala macam kedengkian kejahatan, keburukan, dan segala macam emosi lain yang ingin kalian singkirkan dari tanah kalian yang damai dalam diriku? Begitu pula pada halaman 6, Kalian memilihku karena akulah satu-satunya yang memiliki keberanian-keberanian untuk melakukan hal-hal keji yang tak akan bisa kalian lakukan meski diam-diam, jauh di dalam lubuk hati kalian, benar-benar kalian inginkan.

Kalaupun ada ganjalan dalam cerpen ini menurut hemat saya ialah penjelasan yang minor terhadap beberapa istilah asing seperti Asgard, Midgard. Istilah asing ini alangkah eloknya jika diberikan glossarium atau catatan kaki untuk menerangkan konsep-konsep yang tidak lazim diketahui orang umum. Penggunaan catatan kaki dalam novel sekurangnya saya temui pada novel Supernova yang memuat banyak istilah fisika dan novel The Bartimaeus Trilogy yang melalui catatan kaki tersebut memaparkan hikayat, sejarah, dan pendapat personal dari tokoh utamanya. Ganjalan berikutnya ialah tempo yang terus di-push menjadi ‘dunia kelabu yang menyedihkan’. Dinamika tempo merupakan resep yang membuat pembaca tidak dibawa pada partitur yang seragam. Relatif lompatan tempo yang signifikan, baru dapat tertemui di bab Vi Er Her- Kami Ada di Sini.

Membaca cerpen Loki sesungguhnya menunjukkan karakteristik yang khas dari penulisnya yang gemar menuai cerita di kemudian.com. Meminjam frasa penulisnya ‘dunia kelabu yang menyedihkan’ merupakan karakteristik khas dan kuat dari Riesling. Kata yang menjadi karakteristik dari penulisnya juga hadir di cerpen ini yakni ‘eh’. Karakter lainnya ialah kemampuannya untuk membagi kegelisahan dan pertanyaan kepada para pembaca. Pesan ini kiranya yang menurut saya menjadikan fantasi tidak sekedar mengawang-awang tanpa menemukan relevansi dengan kehidupan kekitaan. Rangkaian kegelisahan dan pertanyaan yang mengetuk sosok manusia di diri kita.

Cerpen 2: Farum, Manusia dan Aburankal (Farid Abdul)

Membaca cerpen ini melentingkan ingatan saya akan kisah penciptaan Adam dan Hawa; serta tiga dewa dalam agama Hindu yakni Brahmana, Wisnu, Syiwa. Lentingan ingatan tersebut terkonfirmasi dalam halaman 63, “Aku memberimu nama, Aburankal. Tugasmu adalah menciptakan dunia sebagaimana aku inginkan dan aku memberimu kekuatan atas izin sang Pencipta untuk melakukannya.”

Aburankal mendapatkan titah sebagai berikut:

“Kau, Aburankal, embanlah tugasmu dengan baik, keabadian hidup telah aku turunkan kepadamu atas titah sang Pencipta. Kau akan memiliki emosi, akal pikiran dan hati nurani, sebagaimana seluruh Adikmu memilikinya, ciptakanlah Dunia yang indah untukku dan sang Pencipta!”

Dikarenakan cerpen ini merupakan penggalan kisah dari sebuah cerita besar berjudul The World, menurut hemat saya hal tersebut menjadi cerpen ini sebagai kisah yang menggantung. Cerpen ini seakan menyisakan koma dan belum utuh menceritakan. Eksesnya lagi ialah relatif tidak ada bangunan konflik yang tercipta dari cerpen yang disusun oleh Farid Abdul ini. Mungkin jika cerita besar yang berjudul The World telah terselesaikan dan terhidangkan ke publik, maka nukilan cerpen ini akan menjadi fragmen yang lebih menarik.

Cerpen 3: Sodia & Oqeanos (Shou Jinbei)

Klasik. Itulah kesan yang saya dapatkan selepas membaca cerpen penutup ini. Mulai dari pilihan kata yang sederhana, pasang surut relasi antara Sodia dan Oqeanos, dan makna ceritanya. Fantasi yang disajikan juga sederhana dan tidak berlebihan. Dengan keterbatasan ruang kata di cerpen, menurut hemat saya pilihan tersebut merupakan kecerdikan, dikarenakan semakin banyak konsep-konsep unfamiliar, maka ada kemestian untuk menjelaskannya.

Kalaupun ada sedikit ganjalan yang saya temui ialah pada penceritaan dari Sodia yang tidak terjelaskan. Pada bagian Oqeanos bercerita sebagai berikut: Sodia sangat suka dengan cerita-cerita Oqeanos mengenai hewan-hewan yang hidup di lautan. Ada makhluk dasar laut yang buruk rupa, ada hiu yang buas, ada lumba-lumba yang periang, hingga aneka ragam ikan (halaman 91). Sedangkan dunia penceritaan Sodia relatif tidak terjabarkan dengan baik. Penulis hanya menggunakan pendekatan berikut: Terbujuk oleh ucapan Oqeanos, Sodia mulai belajar untuk berbagi. Ia mulai belajar untuk bercerita tentang perasaannya, isi hatinya, dan buah pikirannya.

Sejak itu Oqeanos dan Sodia kembali dekat. Kali ini Oqeanos yang lebih banyak mendengar, sementara Sodia yang selalu berbicara. Rupanya Sodia memiliki topik pembicaraan yang jauh lebih banyak daripada Oqeanos.

Adapun mozaik yang menarik dan paling memorable dari cerpen Sodia & Oqeanos yakni terletak pada halaman 111: “Ia hidup di lautan, di duniaku, menjadi satu dengan duniaku. Ia ada di sekitarku, tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Aku tidak bisa mendengar suaranya atau cerita-ceritanya lagi. Aku tidak bisa melihatnya lagi. Aku tetap merindukannya.

Membaca cerpen penutup ini membawa saya untuk memutar cd Rectoverso track 04 (Aku Ada) karya Dewi Lestari. Ada keindahan di batas dua dunia yang diungkapkan oleh Dewi Lestari sebagai berikut:

Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku
Selain hatiku
Dan ombak berderu

Akulah lautan
Ke mana kau s’lalu pulang

Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia

Akulah lautan
Memeluk pantaimu erat

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s