Posted in Ekonomi, Essai, Sosial Budaya

Uang

Dahulu ketika meniti bangku sekolah, saya diajarkan tentang apa itu uang. Uang sebagai alat tukar. Uang yang mensubtitusi model barter yang dipandang tidak compatible lagi dengan perkembangan zaman. Namun dari rangkaian ilmu di mata pelajaran ekonomi tersebut, saya tidak mendapati penjelasan bagaimana uang dapat mengkorupsi manusia. Bagaimana uang dapat merusak manusia dengan berbagai cara. Diskusi lebih lanjut tentang bagaimana pengaruh uang, baru saya dapati ketika menginjak bangku kuliah. Ada kecaman terhadap materialisme, hedonisme, yang disajikan dalam hidangan akademik. Ada gugatan terhadap sistem ekonomi yang selama ini berputar dan memasok rangkaian kebutuhan sehari-hari kita.

Uang bahkan menjadi perkara yang pelik. Dari kata ‘uang’ maka berkelindanlah dengan berbagai terminologi kapitalisme, sosialisme, neoliberalisme, dan sebagainya. Uang bahkan terkait dengan domain lainnya. Politik, sosial budaya, agama, pertahanan keamanan. Uang menelusup ke ruang-ruang privat dan publik. Uang menjadi satuan pengukur dan harga yang harus dibayarkan atas sesuatu. Relasi antara satu manusia dengan manusia lainnya dapat terdefinisikan dengan kata:uang. Koalisi dan oposisi yang terjadi menemukan muaranya pada kata:uang. Cinta dengan romansa dan bunga-bunganya pun terpaut dengan kata:uang. Uang..uang..dan uang.

Uang telah dapat mengkorosi kemanusiaan. Karena uang mangsa memangsa menjadi lumrah. Bocoran kompensasi, amplop, uang bensin, pelicin dan segala frasa lainnya menjadi lazim dalam lalu lintas kehidupan ini. Idealisme pada beberapa bagian menjadi barang usang dan tercampakkan karena cengkraman uang yang memenuhi langit kata dari pagi hingga malam. Bahkan ‘idealisme’ menjadi tambang uang. Ada yang berlindung di balik tameng ‘idealisme’ untuk mengeruk dan mengais uang. Perjuangan menjadi sesuatu yang ditertawakan. Untuk apa berjuang, toh tak ada kompensasi uangnya. Untuk apa menghabiskan peluh, waktu, tenaga, tanpa ada subtitusi uang dalam jumlah sekian. Mungkin inilah kekhawatiran yang telah disuarakan oleh Mohammad Natsir 6 dekade yang lalu. Bahwa dulu: kehilangan, rasa mendapat; sedangkan kini: mendapat, rasa kehilangan. Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpal. Sekarang telah timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi (Mohammad Natsir, Capita Selecta 2, hlm.76-77).

“Uang,” kata sutradara Wall Street Oliver Stone, “adalah sex buat dasawarsa 80” (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm. 453). Dan orang-orang yang memandang jumlah ribuan angka dolar sebagai sesuatu yang bisa membuat orgasme. Nyatanya titik kata tersebut tidak berhenti pada dasawarsa 80. Hal tersebut masih berlaku hingga kini, di tahun 2012, di era millenium baru, dan entah sampai kapan lagi.

Goenawan Mohamad berpendapat bahwa kerja- dalam sejarah – telah melahirkan peradaban. Barangkali karena di dalam proses bekerja, kita bisa merasakan desakan untuk merdeka dari eksploitasi maupun arus yang rutin, dan pada saat yang sama, dengan bekerja kita melihat bahwa dari tangan kita terlahir sesuatu yang punya harga (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm. 454). Saya akan menggarisbawahi ‘dari tangan kita terlahir sesuatu yang punya harga’. Dengan segala talenta, kemampuan yang dimiliki menjadi lumrah untuk terjadinya penghargaan berupa uang terhadap hasil yang nyata tercipta. Namun disinilah kerap terjadi titik konflik. Ada harga yang ditetapkan dengan terlampau murah dari kemampuan tangan melahirkan sesuatu. Maka muncullah gelombang tuntutan buruh untuk meminta upah yang sesuai. Maka muncullah Upah Minimum Provinsi (UMP). Maka kita mengenal pendapatan per kapita yang dapat mengkomparasikan negara per negara.

Harga menjadi sesuatu yang enigmatik terkadang. Mereka yang memiliki pengetahuan, sumber daya, dapat dengan semena-mena melambungkan harga untuk mendapatkan uang dalam level yang lebih banyak. Maka dalam budaya Indonesia ada tawar menawar seperti mungkin yang menjadi keseharian yang kerap tertemui. Atau mungkin Anda adalah pelaku tawar menawar aktif di tiap bertemunya permintaan dan penawaran. Ada gertakan, ada politik, ada psikologis, dan mungkin ada tipu-tipu dalam proses tawar menawar. Bagaimana uang dapat menjerat kelindan yang begitu rumit macam begini.

Ataukah memang di era kontemporer dan modern ini kita harus menghamba pada kertas bernilai yang dikeluarkan bank sentral tersebut? Hanya orang-orang gila yang tidak termagnet dengan uang. Seperti Joker dalam film The Dark Knight yang membakar habis uang dalam jumlah maha menjadi menara api. Ada kegilaan pada Joker. Dan mungkin itu yang membuatnya tidak terbeli secara finansial. Ia merdeka dari tawar menawar harga. Ia memiliki free will. Ada kegilaan..ya kegilaan. Dan di dunia yang sakit ini kita butuh beberapa dosis dari kegilaan tersebut.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s