Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film

Berkemah dan Minor Drama (Film The Hunger Games)

Ingatan itu terkubur seiring rutinitas keseharian. Lalu sebuah trailer ketika saya akan menyaksikan film Hugo di bioskop memanggil kembali ingatan itu. Ingatan itu adalah The Hunger Games. Dahulu saya pernah mendapatkan impresi menawan ketika membaca liputan di koran Republika yang membahas tentang novel The Hunger Games. Tekad saya selepas membaca artikel di koran Republika tersebut ialah mencari novelnya. Namun karena satu dan lain hal, tekad itu terlupa dari kegiatan membeli buku saya. Melihat cuplikan film The Hunger Games terus terang saya skeptis dengan kualitas film yang diangkat dari novel gubahan Suzanne Collins tersebut. Trailer merupakan mozaik singkat yang dibuat memikat agar para calon penonton mau meluangkan waktu dan uang dengan selembar tiket film. Dan yang saya dapati ialah trailer yang hambar dan tidak “memanggil” saya untuk menonton.

Meski begitu selang berapa hari kemudian saya langsung mencari dan membeli novel The Hunger Games. Novel The Hunger Games mendapatkan sejumlah rekam jejak positif yakni Publishers Weekly’s Best Books of the Year dan New York Times Notable Children’s Book of 2008. Membaca novelnya saya langsung terpikat dengan konsep dan ide ceritanya. Sinopsis singkat dari novel The Hunger Games yakni:

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

Bukan hal mudah memang untuk memindahkan format novel menjadi format film. Beberapa kisah fantasi dalam bentuk novel menurut hemat saya mengalami kegagalan serius ketika berpindah ke lini film. Sebut saja Eragon, Harry Potter edisi 1-4. Makna, detail cerita, penjelasan, drama, tidak didapatkan ketika tertampil dalam format film. Dan sayangnya repetisi itu terjadi pula dalam film The Hunger Games. Film The Hunger Games seperti menjejalkan fragmen-fragmen utama tanpa memberikan sentuhan drama ataupun teknologi grafis yang impresif. Tampilan dari film yang disutradarai oleh Gary Ross ini begitu suram, lebih banyak di studio, dan jauh dari kesan kolosal. Padahal dari segi novelnya telah memberikan amunisi untuk eksplorasi bagi sophisticated teknologi. Sebut saja dengan kostum dalam parade perkenalan para peserta The Hunger Games yang membuat Katniss dikenal sebagai gadis yang terbakar.

Dalam novelnya dinarasikan:

Semua kepala menoleh memandang aku dan Peeta, perhatian terhadap tiga kereta kuda sebelumnya teralih pada kami. Mulanya, aku tak sanggup bergerak, tapi kemudian aku melihat penampilan kami di layar televisi raksasa dan aku terpana melihat betapa menakjubkannya kami di layar itu. Dalam cahaya senja yang makin kelam, kobaran api itu menyinari wajah kami. Mantel kami yang berkibar seakan meninggalkan jejak-jejak api (Suzanne Collins, The Hunger Games, hlm. 81).

Sayangnya dalam versi sinemanya penggambaran secara visual jauh dari kesan kolosal dan gagal untuk mengkonfirmasi pesan Katniss sebagai gadis yang terbakar. Film The Hunger Games juga nihil dalam menampilkan sisi drama yang teramat luar biasa. Membaca novel The Hunger Games saya benar-benar mendapati bagaimana nuansa perlawanan, dilema pilihan, dan bagaimana tokoh-tokoh dalam kisah mampu menyulam relasi yang rumit. Hambarnya dalam versi film tak dapat dilepaskan dari acting yang di bawah standar dari seluruh pemeran di film yang diproduksi oleh Lionsgate ini. Katniss yang semestinya taft, memiliki jiwa kemerdekaan, bertipikal rebellion, lebih terlihat sebagai sosok yang bersungut dan sekedar seperti berkemah di The Hunger Games. Katniss Everdeen yang diperankan oleh Jennifer Lawrence gagal menampilkan bagaimana hakikat survival antara hidup dan mati, bagaimana peliknya perasaan yang menyelubungi antara Katniss, Peeta, dan Gale.

Hubungan “roman” antara Katniss dan Peeta Mellark yang digambarkan dengan rumit dan pelik diantara batas kehidupan dan kematian gagal tertampilkan di film yang berbudget $ 78,000,000 ini. Baik Katniss dan Peeta terlihat kaku dalam memperlihatkan romansa dan saya percaya bagi yang belum membaca novelnya akan mengernyitkan dahi tentang mengapa terjadi percikan rasa diantara keduanya. Terkait dengan romansa, terus terang saya langsung mengkomparasikannya dengan Twilight Saga. Beranjak dari novelnya yang ditulis oleh perempuan (Suzanne Collins dan Stephenie Meyer), lalu menggunakan point of view dari sudut peran utama perempuan (Katniss dan Bella), persaingan antara dua pria (Edward Cullen vs Jacob Black dan Gale vs Peeta). Sayangnya berbeda dengan Twilight Saga yang mampu tertampil apik secara drama di versi film, film The Hunger Games sangat kering dalam membangun relasi complicated yang meliputi rasa cinta antar tokohnya.

Film The Hunger Games juga alpa dalam memberikan penjelasan esensial. Seperti arti burung mockingjay, arti salam perpisahan tiga jari. Padahal simbol-simbol tersebut termaktubkan perlawanan dan menolak untuk kalah. Melalui novelnya kita mendapatkan penjelasan bahwa burung mockingjay sendiri merupakan jenis burung yang lucu dan menampar wajah Capitol. Selama masa pemberontakan, Capitol membiakkan serangkaian hewan rekayasa genetika sebagai senjata. Salah satunya adalah burung istimewa yang disebut jabberjay yang memiliki kemampuan untuk mengingat dan mengulang seluruh percakapan manusia. Burung jabberjay yang berspesies jantan lalu dikirim ke markas para pemberontak. Para pemberontak untuk kemudian mengetahui tentang fungsi burung jabberjay dan mengibuli Capitol dengan kebohongan-kebohongan informasi. Capitol yang tertipu habis-habisan, lalu menutup sarang jabberjay dan burung-burung tersebut dibiarkan begitu saja agar punah di alam liar. Hanya mereka tidak punah. Malahan, burung-burung jabberjay itu kawin dengan mockingbird betina menciptakan spesies baru (mockingjay) yang bisa meniru siulan burung dan melodi manusia. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk mengulang kata-kata tapi masih bisa meniru suara manusia sampai tingkat tertentu, mulai dari suara merdu bernada tinggi milik anak-anak hingga suara berat orang dewasa (Suzanne Collins, The Hunger Games, hlm. 52-53). Mockingbird memang bukan cuma burung penyanyi biasa. Mockingjay adalah hewan yang tak pernah sengaja diniatkan untuk ada. Mereka tak pernah menyangka burung-burung jabberjay yang biasanya dipelihara dalam wilayah yang terkontrol ternyata punya otak untuk beradaptasi di alam liar, menurunkan kode genetik, dan menghasilkan bentuk spesies baru. Mereka tak memperkirakan kemauan binatang itu untuk tetap hidup (Suzanne Collins, Catching Fire, hlm. 107).

Sedangkan arti dari salam tiga jari yakni seperti dinarasikan oleh Suzanne Collins, menyentuhkan tiga jemari tengah tangan kiri ke bibir mereka kemudian mengulurkan jemari mereka ke arah Katniss. Gerakan ini adalah gerakan lama dan jarang digunakan di distrik 12, kadang-kadang dilakukan oleh beberapa orang di pemakaman. Gerakan ini artinya terima kasih, penghormatan, salam selamat tinggal pada seseorang yang kaukasihi (Suzanne Collins, The Hunger Games, hlm. 32-33).

Verdict yang saya tetapkan dalam The Hunger Games ialah merekomendasikan untuk membaca novelnya dan menyarankan untuk siap-siap kecewa ketika melihat versi filmnya. Dalam The Prince (karangan Machiavelli) dikemukakan bahwa seorang penguasa bisa menjadi singa di satu saat, dan menjadi rubah di saat lainnya. Menghadapi musuhnya yang ganas bagai seekor serigala, penguasa hendaknya bisa berperangai seperti singa, karena dengan cara itulah ia bisa mengalahkan lawannya. Tetapi penguasa harus bersikap seperti rubah bila lawan yang dihadapinya adalah perangkap-perangkap musuh. Bukan singa yang mampu mengendus perangkap-perangkap itu, melainkan rubah. Rubah amat peka dengan perangkap yang akan menjerat dirinya (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 137-138). Seperti singa dan rubah, itulah yang dapat menjadi intisari bagaimana Katniss dapat selamat dari The Hunger Games.

Buah pemikiran dari Hobbes dalam Leviathan (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 172) juga dapat menerangkan hikayat The Hunger Games:

“Alam telah menjadikan manusia sama, dalam kemampuan tubuhnya dan akal (bahwa) yang paling lemah pun memiliki cukup kekuatan untuk membunuh yang paling kuat, baik dengan senjata rahasia, atau bersekutu dengan yang lainnya.”

Dalam kehidupan nyata tentu saja kita layak mempertanyakan tentang resep survive di dunia dimana manusianya meminjam istilah Hobbes sebagai manusia akan menjadi serigala manusia lainnya (homo homini lupus). Ada sisi brutalitas dalam kehidupan yang benar-benar terjadi di bumi. Siapa yang bertahan, siapa yang terpunahkan, siapa yang mampu beradaptasi? Bukankah kita sejatinya sedang memainkan permainan di bumi ini?

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

4 thoughts on “Berkemah dan Minor Drama (Film The Hunger Games)

    1. Sedangkan arti dari salam tiga jari yakni seperti dinarasikan oleh Suzanne Collins, menyentuhkan tiga jemari tengah tangan kiri ke bibir mereka kemudian mengulurkan jemari mereka ke arah Katniss. Gerakan ini adalah gerakan lama dan jarang digunakan di distrik 12, kadang-kadang dilakukan oleh beberapa orang di pemakaman. Gerakan ini artinya terima kasih, penghormatan, salam selamat tinggal pada seseorang yang kaukasihi (Suzanne Collins, The Hunger Games, hlm. 32-33).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s