Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi

Hikayat Nama Nathaniel (The Bartimaeus Trilogy)

Pernah menonton film Once? Film musikal yang menceritakan perjuangan seorang pemusik dalam menggapai mimpinya ini memiliki satu keunikan yang jarang ditemui dalam hikayat penceritaan lazimnya. Tokoh utama pria dan wanita dalam film Once tidak memiliki nama. Pun begitu dengan cerita silat buah pena Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Nagabumi. Tokoh utamanya sesungguhnya tidak memiliki nama yang generik. Ia untuk kemudian dilabeli di telaga dunia persilatan sebagai Pendekar Tanpa Nama. Nama, baik secara literasi ataupun tidak ada sekalipun (tanpa nama) sesungguhnya mengungkap makna. Nama mengaitkan dengan identitas dan personalisasi diri. Dengan nama kita dikenal.

Salah satu fragmen yang menarik dalam kisah The Bartimaeus Trilogy yang dapat diangkat ialah terkait dengan nama. Ada begitu banyak nama dan makna baik yang tersurat maupun yang tersirat. Dari ketiga tokoh utama cerita, maka Anda akan mendapati mereka tidak memiliki nama yang tunggal. Bartimaeus sang jin, memiliki nama lain yakni Sakhr al-Jinni, N’gorso yang Hebat, sang Ular dari Silver Plumes (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 12), Necho, Rekhyt (Jonathan Stroud, Gerbang Ptolemy, hlm. 104). Nathaniel sang penyihir memiliki nama lain yakni John Mandrake. Sedangkan Kitty yang memiliki nama asli Kathleen Jones, memiliki nama samaran yakni Clara Bell dan Lizzie Temple (Jonathan Stroud, Gerbang Ptolemy, hlm. 157-158).

Dari setiap penamaan di tokoh utama tersebut memiliki jalur tercerita sendiri. Mari kita menilik cerita tentang nama Nathaniel. Dua nama dari Nathaniel (Nathaniel adalah nama lahir dan John Mandrake adalah nama resmi) dapat ditemui penjelasannya melalui catatan kaki dari Bartimaeus berikut: Semua penyihir memiliki dua nama, nama resmi mereka dan nama lahir. Nama lahir adalah yang diberikan orangtua mereka, dan karena nama lahir berhubungan kuat dengan sifat dasar dan tabiat mereka, nama itu merupakan sumber kekuatan sekaligus kelemahan mereka. Mereka merahasiakannya dari semua orang, karena jika musuh mengetahuinya, dia dapat menguasai si pemilik nama, caranya mirip dengan penyihir yang hanya bisa memanggil jin jika dia mengetahui nama aslinya. Maka para penyihir menyembunyikan nama lahir mereka dengan hati-hati sekali, menggantinya dengan nama resmi saat mereka cukup umur. Selalu berguna jika mengetahui nama resmi penyihir – tapi jauh, jauh lebih menguntungkan jika mengetahui nama rahasianya (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 97).

Nathaniel memilih nama resminya berbasiskan Loew’s Nominative Almanac edisi ketiga ratus sembilan puluh lima. Berdasarkan penuturan Arhthur Underwood (master Nathaniel), Almanak tersebut berisi daftar nama-nama resmi yang digunakan para penyihir dari zaman keemasan Praha hingga sekarang. Banyak nama yang digunakan lebih dari satu kali. Di samping tiap nama ada daftar yang menunjukkan apakah nama itu sedang ada yang memakainya saat ini. Jika tidak, boleh digunakan. Atau kau dapat menciptakan nama baru (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 161).

Menarik kiranya dari sebuah nama, kita dapat mengetahui hikayat karakter dari Nathaniel. Seperti digambarkan dalam fragmen berikut:

“Apakah William Gladstone bisa, Sir? Saya mengaguminya.”

“Gladstone!” Mata masternya melotot. “Lancang…Ada beberapa nama, Nak yang terlalu hebat dan terlalu dekat jeda waktunya untuk disentuh. Tak akan ada yang berani! Hanya kesombongan luar biasa yang membuat seseorang mengambil nama besarnya.” (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 161-162).

Pemilihan nama resmi dari Nathaniel memiliki sisi humor seperti ditunjukkan: Memakan waktu satu jam dua puluh lima menit untuk menentukan pilihan, dan bagi Nathaniel kegiatan itu merupakan kesengsaraan. Masternya rupanya memiliki rasa suka yang begitu besar terhadap penyihir-penyihir tidak jelas dengan nama-nama yang lebih tidak jelas lagi, dan Fitzgibbon, Treacle, Hooms, dan Gallimaufry lolos dari pilihan dengan susah payah. Sebaliknya, pilihan Nathaniel selalu saja terlalu sombong atau berlebihan menurut Mr.Underwood. Namun akhirnya pilihan ditentukan…Dia membaca kembali dalam hati: John Mandrake.

Dia penyihir ketiga yang memakai nama itu. Di antara kedua pendahulunya, tak satu pun pernah melakukan hal-hal hebat, tapi kali ini Nathaniel tak peduli. Apa saja lebih baik daripada Treacle. Nama itu cukup memadai (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 162).

Celakanya bagi Nathaniel ialah tanpa sengaja nama lahirnya diketahui oleh Bartimaeus sang jin yang berusia 5.000 tahun. Hal yang disebabkan oleh Martha istri dari Arthur Underwood yang begitu penyayang dan terbiasa memanggil nama lahir Nathaniel agar terdapat nuansa akrab dan homy. Hal tersebut tercermin dari nukilan berikut:

“Nah, Sayang,” katanya, “ayo kita buat kesepakatan. Aku tahu kau telah dilarang menyebutkan namamu kepada siapapun, tapi kau dapat membuat pengecualian untukku. Aku tak dapat mengenalmu dengan baik hanya dengan memanggilmu ‘Nak’, bukan? Nah, jika kau memberitahuku namamu, aku akan memberitahumu namaku – dengan kepercayaan penuh. Bagaimana? Apakah itu anggukan? Baiklah kalau begitu. Aku Martha. Dan kau adalah…?”

Dengusan kecil, suara yang lebih kecil lagi. “Nathaniel.” (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 65).

Adapun terungkapnya nama lahir Nathaniel tertutur sebagai berikut:

Wanita itu melangkah mendekati meja. “Arthur, Nathaniel sudah di sini,” katanya.

Si laba-laba telah melangkah ke sudut gelap di atas pintu. Mendengar kata-kata ini dia tetap tak bergerak, seperti biasanya laba-laba. Tapi dalam hati dia bersorak.

Nathaniel! Bagus. Itu permulaan (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 106).

Kegetiran dari Nathaniel akan nama aslinya yang terungkap diperlihatkan sebagai berikut:

Peraturan paling penting…jika kau melanggarnya, kau membiarkan dirimu menjadi mangsa. Demon selalu menemukan cara. Beri mereka kekuasaan apa saja, maka cepat atau lambat mereka akan memangsamu. Kadang-kadang butuh bertahun-tahun, tapi mereka akan selalu…

Dia teringat studi-studi kasus yang terkenal dalam buku-buku. Werner dari Praha: dia membiarkan nama lahirnya diketahui imp tak berbahaya yang melayaninya; kemudian si imp memberitahu sesosok foliot, si foliot memberitahu sesosok jin, dan si jin memberitahu sesosok afrit. Tiga tahun kemudian, ketika Werner menyebrangi Wenceslas Square untuk membeli sosis asap, angin puting beliung menerbangkannya ke udara. Selama beberapa jam teriakan-teriakannya dari atas memekakkan telinga para warga kota yang melintas melakukan kegiatan mereka, sampai akhirnya bencana itu selesai bersamaan dengan berjatuhannya bagian-bagian tubuh si penyihir ke penunjuk arah angin di atap dan cerobong-cerobong asap. Dan nasibnya bukanlah yang terburuk yang menimpa penyihir-penyihir ceroboh. Ada Paulo dari Turin, Septimus Manning, Johan Faust…(Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm. 157-158).

Pengetahuan Bartimaeus akan nama asli Nathaniel ini berbuntut pada simbiosis aneh antara keduanya. Korelasi antara keduanya terus berlanjut di buku kedua Mata Golem dan buku ketiga Gerbang Ptolemy. Pada buku kedua, Mata Golem yang berdurasi cerita dua tahun delapan bulan dari terungkapnya persengkongkolan Simon Lovelace, Nathaniel yang sekarang menempati posisi sebagai Asisten Kepala Departemen Urusan Dalam Negeri mengalami situasi terdesak sehingga harus memanggil Bartimaeus yang memiliki kombinasi inisiatif, kekuatan, dan kepatuhan yang diinginkannya (Jonathan Stroud, Mata Golem, hlm. 113).

Bartimaeus yang kembali dipanggil ke bumi, memainkan kartu andalannya yakni pengetahuan tentang nama lahir dari Nathaniel seperti terungkap dalam frasa berikut:

“-bahwa kau takkan memanggilku lagi? Justru di situlah tersiratnya. Aku akan melupakan nama aslimu, kau akan melupakan namaku.

“Dasar tolol! Aku tahu nama lahirmu dan kau membawaku kembali ke dunia secara paksa. Well, tidak apa-apa karena aku akan meneriakkan namamu dari atap-atap rumah sebelum aku pergi!”

“Sumpahku sudah lewat, selesai, gugur, batal, dikembalikan ke alamat pengirim tanpa dibuka. Permainanmu dapat dilakukan dua pihak, Nak.” (Jonathan Stroud, Mata Golem, hlm. 130-131).

Marc Bloch memiliki pemikiran “comprendre le present par le passé” (memahami masa kini melalui masa lalu) dan “comprendre le passé par le present” (memahami masa lalu melalui masa kini) (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah, hlm. X). Nampaknya filosofi yang diungkap oleh Marc Bloch tersebut dapat menjadi frasa yang menjelaskan bagaimana saling berkelindannya nama Nathaniel dan John Mandrake pada satu sosok yang sama. Pada akhirnya nama tersebut mengurai peran sejarahnya dan melambungkan kenangan. Persis seperti sajak Krawang-Bekasi buah karya Chairil Anwar: Kenang, kenanglah kami.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s