Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Parade Kematian Para Dewa (Film Wrath of the Titans)

Apa jadinya jika para dewa musnah? Begitu kiranya tesis yang ditawarkan oleh kisah Wrath of the Titans (2012). Film Wrath of the Titans merupakan sekuel dari film Clash of the Titans (2010). Siapa saja pendukung di film sekuel ini? Peran utama masih dimainkan oleh Sam Worthington sebagai Perseus anak dari dewa Zeus. Dewa Zeus sendiri diperankan oleh Liam Neeson yang memiliki rekam jejak yang menyakinkan yakni sebagai Ra’s Al Ghul (Batman Begins), Hannibal (The A-Team). Dan harus diakui bahwa acting paling impresif di film Wrath of the Titans berhasil ditampilkan oleh Liam Neeson yang mampu menampilkan sosok Zeus yang terluka. Adapun peran ‘bunga’ yakni Andromeda diperankan oleh Rosamund Pike. Hmm..jika pada edisi sebelumnya peran pemanis dimainkan oleh Gemma Arterton yang berperan sebagai IO dengan cantik dan menarik. Maka pada edisi ini bersiap-siaplah untuk kecewa dengan Andromeda yang diperankan secara hambar oleh Rosamund Pike.

Cerita tentang dunia para dewa sendiri memliki berbagai banyak medan penafsiran di berbagai lini. Imajinasi dan fantasi tentang para dewa menghasilkan berbagai proses kreatif yang berbeda. Sebut saja dengan game God of War yang menghadirkan Kratos sebagai penggugat utama para dewa. Dengan kekuatan dan upayanya para dewa menghadapi kehancuran oleh Kratos. Para dewa digambarkan jahat dalam game God of War. Sementara dalam tampilan yang lebih teenage, kita mendapati serial Percy Jackson. Mulai dari diksi, narasi, maka rumitnya dunia mitologi dibaurkan dengan skema kontemporer dan dibuat tidak berjarak dengan kekitaan. Para dewa digugat, namun dalam kisah Percy Jackson ini, para dewa pun kebagian sejumlah peran madu dan protagonis. Ada pula film Troy (2004), yang lebih menekankan pada sisi humanis, daya juang dari manusia. Para dewa pada beberapa frasa dimarginalisasikan seperti Achilles yang tetap memakai baju perang ketika bertempur (dialog dengan anak kecil yang menganggap Achilles keturunan dewa dan tidak memerlukan baju perang), visi ramalan tentang perang dari lingkar terdekat Priam yang ditentang oleh Hector dengan daya analitis dan rasionalitas.

Kisah Wrath of the Titans diawali dengan melemahnya para dewa yang berhulu dari semakin berkurangnya manusia yang berdoa kepada para dewa. Hulu masalah ini sebenarnya dapat menjadi eksplosif dan menarik manakala mampu dikemas dan dinarasikan dengan baik, namun di film Wrath of the Titans ini, praktis ide menarik ini sekedar selintasan dan tidak dikutak-katik. Sementara kekuatan para dewa melemah, menyebabkan dinding Tartarus mengalami guncangan. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terlepasnya Kronos sang Titan yang juga bapak dari Zeus, Poseidon, dan Hades. Jika Kronos terlepas dari penjaranya di Tartarus, maka dapat dipastikan akan terjadi banjir darah dan kehancuran di bumi. Terlebih Kronos memiliki dendam kepada anak-anaknya (para dewa) yang menyebabkannya terpuruk, terpenjara di Tartarus.

Zeus, Poseidon, Ares, berangkat ke titik gerbang Tartarus untuk memperbaiki dindingnya yang semakin mengkhawatirkan. Namun Ares ternyata berkhianat. Beserta dengan Hades, si dewa perang menyerang dan menghantam Poseidon serta menahan Zeus. Dari tenaga Zeus, maka akan terbebaslah Kronos, begitulah kiranya alasan dari penangkapan dari ayah Perseus ini. Kejatuhan para dewa utama tersebut, membuat beban penyelamatan dunia terletak terutama di pundak Perseus. Manusia blasteran. Manusia setengah dewa, yang memiliki keistimewaan kekuatan dewa dan nilai adiluhung dari manusia. Perseus pun mengajak Andromeda dan Agenor (anak Poseidon) dalam koalisi penyelamatan dunia.

Siapa saja yang dihadapi oleh Perseus cs dalam misi heroiknya? Tentu bagi penggemar mitologi, sudah tidak asing lagi dengan Chimera, Cyclop, Minotaur, Makhai. Kalau ada yang dapat menjadi nilai positif dari film Wrath of The Titans yakni special effect-nya. Dan ini terkonfirmasi dalam pertarungan dengan para makhluk mitologi tersebut. Dalam pertarungan dengan Chimera misalnya, bagaimana Chimera merupakan makhluk yang memiliki ragam senjata mematikan dan ulet ditaklukkan. Chimera memiliki dua kepala, ludah yang beracun, ekor yang mengancam dan dapat menjadi senjata. Sayangnya segala spesial effect ini dirusak oleh gesture dari Perseus (Sam Worthington) yang tidak terlihat berkeringat, habis-habisan, dan sekedar membunuh seperti biasa saja tanpa bumbu drama dan heroik. Berbeda kiranya dengan film seri Hercules: The Legendary Journeys yang diperankan oleh Kevin Sorbo. Hercules (Kevin Sorbo) mampu menarasikan bagaimana sukarnya menaklukkan para monster, dan terkadang dengan sensasi humor yang menggelitik.

Melihat film Wrath of the Titans memantik memori saya pada serial novel Percy Jackson. Serial novel Percy Jackson sendiri menurut hemat saya layak untuk direkomendasikan dan menarik secara konsep serta penceritaan. Novel Percy Jackson secara menyakinkan mampu menampilkan kisah dewa dewi dan mitologi dalam tampilan kontemporer. Mitologi yang ditampilkan dalam bentuk pop, kekinian, berhasil membuat novel Percy Jackson laku secara penjualan dan mendapatkan sejumlah penghargaan. Film Wrath of the Titans dalam beberapa bagian seperti sinopsis dari novel Percy Jackson. Yang paling connected tentu saja melalui dewa Hephaestus yang merancang labirin. Labirin merupakan jalan rumit yang hanya memiliki satu jalan menuju pusat Tartarus.

Alur dari film Wrath of the Titans sendiri praktis tidak rumit dan tidak membutuhkan kejelian mengikuti fragmen demi fragmen secara teliti. Film yang disutradarai oleh Jonathan Liebesman ini sayangnya tidak memiliki perbendaharaan kata-kata puitis yang memikat. Padahal dengan latar dan nuansa jadul era Yunani kuno tersebut, seharusnya paralel dengan bermunculannya kata-kata yang bernas. Contoh nyata dari kisah Yunani dengan deretan kata berisi yakni film Troy (2004). Ada beberapa kata yang begitu kuat secara pembahasaan dan memiliki kedalaman makna. Sebut saja perkataan Achilles: The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again. Contoh lainnya ialah pada narasi awal film Troy: Men are haunted by the vastness of eternity. And so we ask ourselves: will our actions echo across the centuries? Will strangers hear our names long after we are gone and wonder who we were, how bravely we fought, how fiercely we loved?”

Sayangnya film Wrath of the Titans alpa dengan kata-kata yang mampu menyihir penontonnya semacam di film Troy. Bauran antara acting yang standar plus kalimat dialog yang hambar menjadikan drama dari film ini benar-benar layu. Tak ada keterhanyutan, patriotik, bahkan saya merasa anteng-anteng saja dan gagal dibawa kepada kemencekaman situasi jika Kronos kembali ke bumi dan mencengkramkan terornya.

Konflik dan pesan yang ingin diangkat dari film ini juga menjadi tercecer dikarenakan kualitas acting, penceritaan, serta dialog yang datar-datar saja. Padahal sejatinya film merupakan sebuah wahana yang mengajak penontonnya untuk berpikir, merenungkan, dan mengajak bertindak sesuatu. Bahkan kematian para dewa seperti Poseidon, Ares, Zeus, tidak memercikkan sensasi kehilangan. What’s next dengan bergugurannya para dewa tidak mampu menjadi sebuah pertanyaan, kegelisahan dari film ini.

Sekedar memanjakan mata dengan spesial effect, makhluk-makhluk mitologi. Praktis hanya itu yang yang mampu ditampilkan oleh film Wrath of the Titans. Parade kematian para dewa yang jauh dari kesan kolosal dan dramatik.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

4 thoughts on “Parade Kematian Para Dewa (Film Wrath of the Titans)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s