Posted in Essai, Sosial Budaya

Klakson

Cobalah berdiam sejenak di lampu hijau yang menyala pada lalu lintas Jakarta. Tanpa komando, tanpa diktator, raungan klakson akan menghantam Anda. Plus lagi dengan rangkaian kata entah itu dari rangkaian hewan ataupun kata-kata bernada minor. Apa gerangan kiranya yang dapat menjelaskan fenomena semacam ini. Apakah ini pertanda bahwa segenap mobil dan motor yang berdesak-desakan itu sedang bergegas dikejar waktu. Bukti dari intensitas dan efisiensi waktu? Rasanya bukan itu jawabannya. Para peraung dengan klakson itu mungkin memaparkan potret dari kekuasaan yang ada dalam genggaman. Mumpung ada kuasa untuk menghardik, mendesak, menggugat, maka klakson bergaung silih berganti.

Pada kehidupan keseharian, bisa jadi si peraung merupakan mereka yang tertekan. Mereka yang kalah. Mereka yang terintimidasi. Mereka yang hanya dapat meratap lewat kegalauan di facebook ataupun twitter. Namun di jalanan, dengan perangkat bersuara tinggi itu, mereka seperti menggunakan jubah yang berbeda. Mereka adalah penguasa. Mereka arogan. Mereka ada di atas dan seolah benar tentang apa yang harus terjadi.

Klakson mungkin juga dapat menjawab tentang kegelisahan. Kegelisahan akan seolah kesibukan. Seakan-akan waktu 24 jam tidak pernah cukup untuk melakukan ini dan itu. Padahal realitanya 24 jam keseharian tidak kentara melakukan ini dan itu. Klakson adalah potret dari manusia yang konon modern. Pigura dari pertumbuhan ekonomi yang meledakkan penduduk sepeda motor dan mobil. Lalu jalanan menjadi arena pertempuran. Tumpukan kemacetan di berbagai titik. Maka momentum lampu hijau adalah kesempatan untuk bergerak, segera beranjak dari belitan (untuk menuju belitan kemacetan baru).

Sandra Reimers pernah menulis sebuah lagu berjudul I Had A Dream of Indonesia (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 30). Indonesia digambarkan sebagai tempat di mana, “orang-orang seakan mendengarkan kearifan samudra”.

They never hurry
They never worry
They take the tide away the way it meant to be….

Rasanya gubahan Sandra Reimers seperti utopis di frasa Jakarta. Raungan klakson menjadi sinyalemen dari mereka terburu-buru, mereka khawatir.

Klakson merupakan sinyalemen dari belum beresnya. Belum beresnya tata kelola kota dan belum beresnya pemikiran mereka yang gemar menghantamkan bunyi melalui klakson. Bagaimana bisa sebuah kota harus menghadapi kegilaan semacam ini. Waktu, energi fosil, energi manusia, tertumpah setiap harinya di jalanan ibukota. Klason bisa jadi adalah muara dari kegulanaan simpul perasaan yang bergelayut itu. Klakson adalah bunyi gugatan terhadap tata kelola Jakarta tanpa menemui gaung yang untuk kemudian akan menepi. Klakson sekedar ad hoc. Setelah itu bertemu lagi dengan masalah. Klakson tidak benar-benar dapat menjadi solusi. Lagian sejak kapan suara meraung dapat menjadi jalan temu penyelesaian masalah.

Mereka yang marah lebih memungkinkan untuk menjadi destruktif. Sia-sia. Sekedar bara. Sekedar amarah. Bahkan dalam sebuah iklan rokok diperlihatkan bagaimana seorang yang sekedar berbicara dan berbicara namun geraknya statis. Berbeda kiranya dengan seorang yang do it something dan mampu mengatasi permasalahan keruwetan dan kemumetan. Klakson hanya sekedar berbicara dan berbicara itu. Yang sayangnya itu menjadi perilaku kolektif. Tanpa perlu dikomando, tanpa perlu penataran semacam P4. Atau jangan-jangan perkara klakson ini lebih gawat dan serius. Bahwa banyak yang sekedar mengeluh dan menggertak tanpa menghadirkan jalan keluar?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s