Posted in Essai, Sosial Budaya

Etalase

Media sosial mungkin telah mengubah secara signifikan karakter dari masyarakat bangsa ini. Mengutip dari pendapat Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir 2: Bahwa kata pamer, yang setahu saya berasal dari bahasa Jawa, sekarang dipakai dengan tenang, berarti suatu perkembangan yang menarik telah terjadi di kepala kita. Pamer, dalam bahasa asalnya, punya konotasi buruk. Di dalamnya ada unsur menyombongkan diri. Padahal, beratus-tahun lamanya kita merasa risi untuk bersikap demikian. Perhatikan saja nama warung atau hotel-hotel kita yang melanjutkan gaya masa lampau: warung Sudi Mapir atau hotel Sederhana; restoran Saung Kuring (yang berarti “gubuk saya”) atau penginapan Tawakal (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 35). Lalu marilah kita konfrontasi dengan lalu lintas dunia maya yang ada saat ini. 40 juta akun facebook, 7 juta akun twitter, 6 juta blog (Majalah Marketing, Merek-Merek Juara di Social Media, hlm. 40) merupakan angka yang signifikan menunjukkan betapa gemuknya pasar populasi dunia maya dari Indonesia. Dari jumlah akumulatif jutaan tersebut, kita akan mendapati dalam time line bahwa betapa banyak yang saling berlomba-lomba untuk pamer. Fastabiqul pamer.

Lini dunia maya untuk kemudian menjadi dijejali oleh berbagai ragam pamer. Mulai dari pergi ke tempat makan yang kira-kira bonafid (saya pikir check in di warteg belum pernah saya temui), bertemu dengan orang terkenal (dalam foto aneka gaya), romantisme lewat kanal sosial (baik melalui update status yang tersurat jelas maupun dalam foto dua yang seolah menyatu), dan sebagainya. Yang semula adem ayem, anteng-anteng, untuk kemudian mengalami efek getok tular dengan nimbrung dalam perlombaan pamer. Dan pamer menjadi sesuatu yang lazim, wajar, normal. Pamer menjadi paralel dengan kata eksis. Adalah naif untuk menyatakan bahwa pamer yang menggurita ini berakar dari sosial media en sich. Tentunya jika dibedah dan ditelaah, ada hulu-hulu, pintu-pintu penyebab lainnya. Meski begitu sukar untuk tidak mendaratkan konklusi bahwa sosial media berperan dalam memelihara dan menumbuhkan kata pamer.

Sosial media memang dapat menjadikan sesuatu yang sifatnya personal menjadi milik publik. Media sosial dapat menjadi sebuah kaca pembesar. Media sosial dapat menjadi bumbu rempah-rempah yang menambah tensi permaknaan. Semula segala sesuatu yang radiusnya hanya personal dan terbatas menjadi meluas dan tanpa batas. Lalu salahkah dengan etalase pamer yang terjadi di sosial media? Jika berada di era Orde Baru saya pikir jawabannya telah tegas. Anda bisa melacaknya dalam hand book PPKN ataupun penataran P4. Ada keharusan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain, tenggang rasa, tidak menyombongkan diri, dan tidak gemar hidup berfoya-foya. Namun Orde Baru telah berakhir dan berganti era dengan yang diistilahkan secara politik dan sosial sebagai reformasi. Ada pergeseran, penumbangan nilai lama, bermunculan nilai baru.

Nilai baru yang mencuat ke permukaan salah satunya ialah lomba pamer. Bukan berarti pada era Orde Baru, lomba pamer tidak terjadi, namun skalanya tidak sevulgar sekarang. Ada prinsip kehati-hatian ketika pamer waktu dulu. Lomba pamer kini menemukan panggungnya baik dalam skala individu dan entitas. Show of force dari koleksi menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan membanggakan. Celakanya setiap aksi selalu menghasilkan reaksi. Lomba pamer ini dapat memerosokkan pada budaya konsumerisme. Beli..beli..dan beli. Tunjukkan..tunjukkan..dan tunjukkan. “Tapi tuan bukankah itu akan baik bagi perekonomian? Pasar akan ramai. Produksi akan hidup. Penawaran dan permintaan akan menggeliat.” Skema pendapat tersebut ada benarnya, namun jangan lupakan bahaya korosi yang akan terjadi dalam konsumerisme yang menggejala.

Konsumerisme dapat menjadi manusia bergelimang dengan kemewahan. Ibnu Khaldun dalam tesisnya menyatakan bahwa ada tiga penyebab yang dapat meruntuhkan bangunan kekuasaan dan bahkan peradaban, yakni: 1. Dosa keangkuhan, 2. Dosa kemewahan, 3. Dosa kerakusan. Tesis dari Ibnu Khaldun tersebut tentu saja beranjak dari fakta otentik dan kontemplasi yang dilakukannya. Nyatanya peradaban yang terlalu tambun akan cenderung tidak gesit dalam merespons dan menghadapi tantangan. Padahal seperti dituturkan oleh Arnold Toynbee bahwa kenyalnya suatu peradaban ditentukan oleh kemampuannya untuk merespons dan menghadapi tantangan (respons and challengge). Ketidakmampuan untuk merespons dengan benar dapat menjelaskan terjadinya dekadensi, kemerosotan, dan kekalahan.

Ironisnya jika yang diinfiltrasi oleh dosa kemewahan, gejala tersebut bukan hanya menyergap peradaban yang berada di atas dan berjaya. Mungkin seperti negeri Indonesia yang tidak berada dalam jajaran elite dunia, namun telah terkontaminasi dengan virus dosa kemewahan di berbagai sumsum bangsa. Bukannya bersaing mengejar ketertinggalan, malahan mengelus-elus perut dan saling menggerincingkan kekayaan.

Di etalase, berbagai hilir mudik memaparkan wangi. Sedap dipandang mata. Nyaman di imajinasi. Namun ilusi itu dapat menggoda dan menyesatkan baik dalam skala individu dan komunitas. Dan kita punya sampel otentik bernama Qarun yang gemar pamer kekayaan di hadapan masyarakat. Berduyun-duyun kekayaannya diperlihatkan beserta dengan kunci untuk menjaga hartanya yang berat. Silang pendapat masyarakat terhadap eksebisionisme Qarun pun terjadi. Ada yang memandangnya beruntung, ada yang memandangnya telah berlebihan. Dan Allah Swt menjadikan Qarun yang tamak, sombong, serta gemar pamer kekayaan sebagai simbol dari kekeliruan dengan membenamkannya ke bumi beserta seluruh harta kekayaannya.

Dan saya percaya kita tahu konklusi dari jalan Qarun. Ya kita tahu kisah Qarun, namun terkadang lupa substansinya dan menerapkannya dalam hidup kekinian dan kekitaan.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s