Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Sayonara Penulis

Salah satu fragmen memorable dari film Inception yang saya ingat yakni ketika Cobb mendatangi kumpulan orang-orang ‘sakau’ yang kehidupannya terdistorsi antara mimpi dan realitas. Bagaimana kumpulan orang-orang ‘sakau’ tersebut hidup dalam lapisan mimpi semu yang tidak tersentuh dalam kenyataan. Dalam beberapa pertalian persahabatan saya dengan sejumlah sobat, hal paralel saya temui. Hal tersebut yakni mimpi yang terlampau utopis. Rupa-rupa mimpi utopis yang mereka miliki. Dan sebagai pendengar yang baik, saya biasanya mendengarkan celotehan mimpi-mimpi mereka. Dalam beberapa celah kesempatan saya mencoba untuk ‘membangunkan’ mereka dari imajinasi semu tersebut. Namun terkadang mimpi utopis lebih nyenyak untuk dipelihara, ditimang-timang, dan diangankan.

Bukan berarti saya tidak percaya pada mimpi, harapan, keajaiban, mobilitas vertikal, dan sebagainya. Saya hanya menimbang dan mencermati antara das sein dan das sollen yang mereka ingin raih. Das sollen-nya mengembara tinggi, namun usahanya uring-uringan tak tentu arah, tentu sangat lumrah untuk menemui kegagalan. Das sollen-nya sekian, namun kompetensinya jauh..jauh pangggang dari arang, maka menjadi lazim untuk menemui kegagalan.

Mimpi untuk menjadi sesuatu yang saya bahas dalam essai kali ini ialah mimpi untuk berkiprah di jalur fiksi fantasi. Apa cita-cita Anda ketika kecil? Mengutip dari novel Supernova, saya sepakat bahwa cita-cita klasik yang jadi pedoman anak-anak SD Indonesia ialah menjadi dokter, insinyur, menjadi seperti Pak Habibie (Dewi Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, hlm. 28). Cita-cita klasik tersebut terlebih bagi manusia Indonesia kelahiran era Orde Baru yang memiliki rancang pola pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan skema terukur. Manusia-manusia Indonesia diharapkan akan mengisi kemerdekaan dengan berada di pos-pos cita-cita klasik tersebut. Betapa dari latar sistem sosial politik yang mencengkram, urusan cita-cita dan mimpi pun mengalami keberagaman, pengarahan, dan tidak merdeka seutuhnya.

Secara sosial politik, tanggal 21 Mei 1998 ditandai sebagai momentum berakhirnya era Orde Baru. Indonesia memasuki lembaran bernama reformasi. Reformasi hadir dengan menggeser sejumlah nilai-nilai baru dan melungsurkan nilai-nilai lama yang telah mapan. Reformasi memberikan ruang yang lebih lapang dan luas. Kelapangan tersebut memiliki korelasi dengan kreativitas yang tentunya bertalian dengan fiksi fantasi. Kreativitas kini menjadi hal yang didengung-dengungkan. Bahkan Kabinet Indonesia Bersatu II sampai membuat tambahan penamaan dalam salah satu pos kementeriannya menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Kreatifitas kini mendapatkan panggung lebih massif dan tidak terperiferikan.

Varian pekerjaan dari orang yang berada di usia produktif juga saya percaya di era reformasi lebih banyak dan kompleks. Sebut saja contohnya Yoris Sebastian yang menjual ide-ide kreatif untuk kliennya. Melalui perusahannya (OMG), ia menggarap proyek dari beragam bidang, seperti mal, hotel, rumah sakit, asuransi, minuman, media, serta membidani banyak signature event. Banyak pula kesempatan untuk mengisi domain-domain kreativitas terkait dengan fiksi fantasi, misalnya menjadi penulis, pembuat komik, berkecimpung di film, dan sebagainya. Lonjakan kesempatan ini bertemu dengan manusia Indonesia usia produktif yang tertarik untuk terjun dan eksis di ranah fiksi fantasi.

Diantara lini fiksi fantasi tersebut yang mendapatkan magnet cukup besar yakni dengan menjadi penulis fiksi fantasi. JK Rowling dengan sukses besarnya merupakan inspirasi yang menyalakan segenap kalangan usia muda untuk menjadi penulis di genre fiksi fantasi. Salah satu parameter validnya ialah meningkatnya secara berarti peserta dari Fantasy Fiesta. Fantasy Fiesta merupakan lomba cerpen fiksi fantasi, dimana pemenangnya akan dimuat karyanya dalam kumpulan cerpen berbentuk buku. Terjadi peningkatan karya yang masuk pada tahun 2011 dari tahun 2010. Pada tahun 2011 lebih dari 500 cerpen telah masuk ke meja panitia, 332 cerpen lolos menjadi peserta lomba, dan 20 cerita terbaiknya kini dibukukan dalam antologi cerpen Fantasy Fiesta 2011 (Fantasy Fiesta 2011, hlm. IX).

Dari pengalaman personal saya membaca berbagai ragam karya fiksi fantasi. Baiklah saya katakan bahwa beberapa orang memiliki talenta yang jika terus digosok, diasah akan semakin bersinar dan bertaji buah penanya. Sedangkan pada beberapa orang, dapatlah saya ungkapkan bahwa karyanya jauh dari keindahan dan dalam hemat saya tidak cocok untuk menjadi penulis fiksi fantasi.

Baiklah kiranya saya kutipkan buah pikiran dari Mohammad Natsir (Mohammad Natsir, Capita Selecta 1, hlm. 70-71) berikut:

Membaikkan pula bagi pujangga kita sendiri, oleh karena satu resensi yang ikhlas dan terus terang serta beralasan, lebih banyak faedahnya bagi seorang penulis muda dari pada pujian-pujian, yang tidak pada tempatnya. Tak usah kita kuatir, bahwa seorang penulis akan patah hatinya bila tidak mendapat pujian. Sebab, kalau betul ada mengalir darah pujangga dalam tubuhnya, ia tidak akan patah hati. Tetapi ia akan meng gertamkan gigi dan berjalan terus sampai buah penanya mendapat penghargaan yang sempurna. Kalau “Sjaalman” dalam Max Havelaar pematah hati, sudah tentu tidak akan ada pujangga Multatuli bukan?

Tetapi andai kata penulis muda kita itu betul datang patah hatinya, itupun baik sekali bagi dirinya.

Sebab yang demikian menunjukkan, bahwa dia bukan seorang pujangga. Itu bukan satu celaan baginya, tidak ! Akan tetapi satu pemberian ingat, bahwa ia itu semestinya duduk dilapangan lain. Boleh jadi ia lebih pantas menjadi seorang tukang yang cakap atau arsitek yang pintar, atau seorang saudagar yang ulung, seorang fabrikan barang tenun atau lain-lain. Dunia Allah besar ! Banyak pintu rezeki disediakan-Nya untuk makhluk-Nya yang bermacam-macam itu. Tidak semua orang mesti menjadi pujangga saja.

Jika mengambil intisari pembelajaran dari film 300, ketika Ephialtes yang bungkuk ingin bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Leonidas, namun ditolak oleh sang raja. Alasannya ialah karena keterbatasan dari Ephialtes tersebut membuatnya tidak dapat melindungi rekan di sebelahnya, padahal kunci kekuatan dari pasukan Sparta yakni pada kokoh dan solidnya pertahanan dari gempuran pihak luar. Ephialtes tidak memenuhi skema pertahanan tersebut. Namun sang raja (Leonidas) menyatakan bahwa Ephialtes masih dapat berperan di garis belakang pertempuran. Hal tersebut menunjukkan bahwa medan pengabdian tidak sekedar satu jalur, satu jalan, masih ada medan pengabdian lainnya yang determinan bagi keberhasilan perjuangan. Begitu juga dengan karier penulisan, dari sekian banyak mereka di usia produktif yang ingin berkarier di jalur menulis pastilah ada yang tidak memenuhi kualifikasi. Meski begitu itu bukanlah akhir dunia.

Mengetahui bahwa kompetensi personal bukanlah pada bidang penulisan fiksi fantasi merupakan sebuah anugerah. Mengapa disebut anugerah? Karena akan mengetahui ukuran siapa dirinya dan cocok tidaknya antara ekspektasi dengan kemampuan. Mengenal diri sendiri bukanlah hal yang mudah, terkadang dibutuhkan suara lainnya dari luar. Terkadang dibutuhkan rangkaian siklus kegagalan untuk meresonansikan hakikat diri. Mengenal diri sendiri seperti mampu memilah gelembung-gelembung delusi yang mampu menipu.

Mengenal diri sendiri seperti dinarasikan dalam film Awake, yakni seperti terbangun dari lilitan kepalsuan dan kebohongan. Kepahitan, keterjatuhan, realitas, lebih indah kiranya dibanding segala gapaian-gapaian utopis. Gapaian utopis persis seperti deretan orang ‘sakau’ dalam film Inception yang tak mampu lagi berpijak dan hidup pada kenyataan. Dengan demikian jika pada satu titik harus mengucapkan ‘sayonara penulis’ ada sebuah ketenangan, kerelaan. Bahwa ada ranah-ranah lainnya yang dapat diberikan permaknaan dan keberartian.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s