Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Bak..Bik..Buk..(Film The Raid)

Film The Raid hadir di bioskop Indonesia dengan semerbak prestasi dari sejumlah festival. Tercatat sebagai pemenang di Dublin International Film Festival (Audience Award dan Dublin Film Critics Award), Toronto International Film Festival (People’s Choice Award), melambungkan nama The Raid di pentas internasional. Sejumlah pencapaian internasional tersebut membuat segenap penonton Indonesia merasa lebih ‘keren’ dan rasanya ketinggalan kereta jika belum menonton film besutan Gareth Evans ini. The Raid untuk kemudian hadir tidak hanya pada lini sinema, melainkan hadir pula dalam bentuk komik. Hal ini merupakan sebuah sinyalemen baru bagi dunia kreatif Indonesia. Umumnya relasi film terkait dengan novel. Pengembangan dari film menjadi ranah komik tentunya merupakan diferensiasi yang sekaligus berusaha untuk merangkul segmen komik untuk tertarik pada brand The Raid. Disamping itu dengan hadirnya komik The Raid dapat menjadi wahana intensifikasi dari ceruk penonton film yang dibintangi oleh sejumlah nama terkenal seperti Ray Sahetapy, Doni Alamsyah, Iko Uwais.

Film The Raid sendiri dibuka oleh Rama (Iko Uwais) yang melaksanakan shalat, sembari dibarengi dengan fragmen aksi memukul sansak. Entah kenapa memori saya langsung terkoneksi dengan Si Boy yang playboy juga religius (film Catatan Si Boy) dan Rangga yang pemberontak serta melaksanakan ibadah shalat (film Ada Apa Dengan Cinta). Mungkin pembukaan ini menjadi sebuah sintesa baru petarung yang religius. Tentu saja jika membaca literatur sejarah, seperti gubahan Alwi Shahab, maka para petarung Betawi merupakan mereka yang ahli pukul dan religius. Ada nilai-nilai kesantrian yang menyatu pada si jagoan ahli pukul, begitulah kiranya analisanya.

Rama sendiri merupakan anggota dari polisi elite yang akan berupaya menangkap Tama (Ray Sahetapy). Tama merupakan dedengkot penjahat yang menyediakan fasilitas perlindungan bagi para penjahat. Sebuah apartemen 30 lantai menjadi koloni para penjahat yang untouchable oleh para penegak hukum. Beberapa kali operasi dilakukan oleh para penegak hukum, namun selalu menemui kegagalan. Kali ini operasi dipimpin oleh Sersan Jaka (Joe Taslim) yang berkoordinasi dengan Letnan Wahyu (Pierre Gruno). Misi penyerbuan 20 polisi elite ini ternyata tidak memiliki back up dari pusat. Akibatnya mereka harus merampungkan misi ini untuk dapat selamat dari ‘neraka kejahatan’.

Siapa saja yang berada di perahu antagonis? Domain tersebut dengan apik dinarasikan di elemen pembukaan dan pengenalan tokoh. Ada Tama yang memakai singlet sembari menyantap mie dengan diapit oleh Andi (Doni Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhian). Hook dari sadisme di mozaik awal ini cukup menghentak. Eksekusi yang dilakukan oleh Tama dengan menembakkan pistol di bagian belakang kepala benar-benar memercikkan kengerian stadium tinggi. Ketika tinggal tersisa satu orang yang akan dihabisi, efek dramatik diberikan dengan habisnya peluru isi enam tersebut. Tama lalu beranjak ke laci, dan ternyata masih ada deretan peluru, namun ia memilih untuk menuntaskan dengan palu kecil. Pilihan penghabisan yang memberikan efek dramatik.

Penyerbuan yang dilakukan oleh polisi elite tersebut merupakan operasi senyap. Apartemen yang ditempati oleh para penjahat tersebut merupakan tempat oldies yang saya pikir merupakan tempat yang juga digunakan sebagai tempat shooting dari video klip Tak Ada Yang Abadi oleh grup band Peterpan.

Penyerbuan senyap tersebut menemui keganjilan ketika bertemu dengan seorang bapak yang menempati kamar 726 di apartemen tersebut. Dari segi tampilan bapak tersebut jauh dari kesan antagonis. Dan hingga akhir film tak terjelaskan mengapa bapak tersebut dengan istrinya berada di tempat perlindungan para penjahat. Terlebih lagi pria tersebut membantu Rama ketika dalam keadaan terjepit, dan lagi-lagi terlihat simbol religi yakni tempat untuk meletakkan Al Qur’an di kamar nomor 726. Ketidakjelasan alasan bapak tersebut bermukim merupakan salah satu titik celah dari film yang konon akan tampil dalam versi Amerika ini. Bapak tersebut yang pasti bukanlah perawan di sarang penyamun.

Titik celah lainnya ialah unsur cerita dan drama yang terasa hambar dalam film ini. Seolah-olah film The Raid hanya sekedar sinema bak..bik..buk..yang menekankan pada aksi laga. Nuansa drama benar-benar abai dalam film ini. Harapan dari Rama untuk kembali ke rumah dikarenakan istrinya yang sedang mengandung, pertalian darah antara Rama dan Andi, perilaku korupsi para penegak hukum, merupakan arena drama yang secara ‘menyedihkan’ tertampilkan. Eksplorasi dan penghayatan karakter drama yang kurang menjadikan nilai keseluruhan dari film ini mengalami degradasi. Jika dikomparasikan dengan film bertipe sejenis di Indonesia, maka harus saya katakan film Serigala Terakhir jauh lebih baik secara penceritaan dan sisi drama. Dalam film Serigala Terakhir bangunan konflik benar-benar terasa dan mengintai dalam setiap scene-nya. Nuansa pengkhianatan, posisi dilema, eratnya nilai persahabatan benar-benar menemukan muara dalam film Serigala Terakhir yang disutradarai oleh Upi Avianto.

Secara laga film The Raid menemukan titik kulminasinya. Berbagai adegan fighting yang tersaji benar-benar memukau dan menarik secara visual. Mulai dari tarung satu lawan satu ataupun bertarung satu lawan keroyokan mampu disajikan dalam seni beladiri yang memikat. Dalam adegan pertarungan, saya akan memilih pertarungan antara Mad Dog dengan Sersan Jaka dan Mad Dog versus Rama dan Andi sebagai dua fragmen pertarungan terbaik. Dalam pertarungan antara Mad Dog dengan Jaka dapat terlihat bagaimana begitu prima dan sadisnya orang kepercayaan dari Tama ini dalam mengalahkan lawannya. Mad Dog yang sebenarnya telah menang dengan menodongkan pistol, lebih memilih untuk bertarung satu lawan satu dengan pemimpin operasi penyergapan dari polisi elite ini. Alasannya karena lebih ada geregetnya. Kegilaan akan pertarungan ini menjadi nilai lebih dari karakter Mad Dog. Bukan sekedar ahli tarung, namun juga memiliki kelaparan psikologis untuk berduel dengan rivalnya. Dalam duel satu lawan satu, terlihat jelas bagaimana Mad Dog mampu melumpuhkan titik-titik sentral dari lawannya, sebelum menghabisinya dengan memuntir kepala Jaka.

Adapun pertarungan antara Mad Dog versus Rama dan Andi benar-benar memperlihatkan bagaimana liatnya Mad Dog dan kerjasama antara Rama dengan saudaranya tersebut. Mad Dog benar-benar musuh yang sukar untuk ditaklukkan bahkan sekalipun telah dikepung oleh dua ahli tarung. Meski harus digaris bawahi bahwa Rama telah terkuras tenaganya menghadapi rangkaian penjahat di lantai demi lantai apartemen, sedangkan Andi telah bonyok sebagai sansak dari Mad Dog. Plus lagi tangan Andi terluka akibat tikaman pisau Mad Dog ketika mengetahui bahwa orang kepercayaan Tama ini telah menyelamatkan Rama. Setelah melalui pertarungan ketat, akhirnya Mad Dog dapat terkalahkan dengan pecahan lampu neon yang ditusukkan ke leher untuk kemudian ditegaskan dengan gerakan horizontal di leher. Dan mungkin karena liatnya Mad Dog sampai ada penonton di bioskop yang menyeletuk Mad Dog bakalan bangun lagi setelah ditusuk melintang di area sentral tersebut. Tentu saja itu tidak terjadi Mad Dog telah terkalahkan (dalam hati saya berceloteh, “hei ini bukan film Jason, Freddy Krueger, ataupun thriller tipikal”).

Film The Raid yang soundtrack-nya digubah oleh Mike Shinoda juga sesekali menyisipkan humor-humor singkat yang berhasil menurunkan tensi ketegangan dan memberikan perspektif tidak sekedar aksi laga. Dialog-dialog singkat seperti sekilas info dengan siapa kita berhadapan, pertukaran kata antara Andi dengan Mad Dog ketika membawa korban, aksen daerah dari pria bertampang sangar bergolok, mampu menjadi bumbu yang memancing tawa di tengah kepungan adegan.

Peradaban manusia disusun dari elemen darah dan tengkorak. Itulah kiranya yang menyebabkan adegan aksi terus stabil mengisi panggung kehidupan. Gladiator, tinju, film laga, merupakan rangkaian potret yang menjaga denyut pertarungan tetap berlalu lalang di pentas kemanusiaan. Raison d’etre, sisi humanis dan dramatik dapat membuat genangan darah menjadi lebih eksplosif sebagai produk hiburan. Sebut saja novel Hunger Games, film seri Band of Brothers sebagai sampel yang memberikan ‘nyawa drama’ pada genangan darah. Verdict saya terhadap Film The Raid memang mampu memikat secara laga, namun minor dalam penceritaan dan segi drama.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s