Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Simbol

As a symbol i can be incorruptible. Begitulah kiranya quotes yang terdapat dalam film The Dark Knight. Batman bukan sekedar pria berjubah yang menyusuri malam di kota Gotham dengan busana kelamnya. Ia adalah simbol bagi kebajikan. Simbol bagi harapan. Para pahlawan dalam kisah fantasi tidak sekedar berbicara tentang kekuatan, pertarungan, dan kemenangan. Para pahlawan merupakan mereka yang berada di kutub putih. Menegakkan segala hal-hal yang mulia dan menjadi ekspektasi ideal. Dan pada beberapa hal simbol menjadi sebangun dengan mitos. Ada hal-hal yang tidak terjangkau, adiluhung, sebuah pencapaian tertinggi. Simbol seperti melambungkan dari segala kegaduhan keseharian. Sebuah ranah imajinasi dari kesumpekan perjalanan waktu 24 jam.

Itulah kiranya yang membuat kisah anak-anak dikemas sebagai hitam dan putih. Jelas demarkasinya siapa yang villain, siapa yang hero. Kita tak perlu berpening-pening untuk menerka berada di area mana tokoh dalam cerita. Lalu fungsi turunannya juga terlihat jelas villain mendapatkan ganjaran atas segala medan kejahatannya dan hero mendapatkan penghargaan atas segala tindak kepahlawanannya.

Simbol merupakan kata yang dapat menjelaskan latar sosial politik. Politisi bukan sekedar merek. Bukan sekedar nama, melainkan mengikat makna. Membaurkan antara emosi, harapan, cita-cita, dalam simbol yang ada. Soekarno misalnya menjadi mewakili banyak simbol. Nasionalisme, kebanggaan berbangsa, anti infiltrasi asing, penyambung lidah rakyat, revolusi, solidarity maker, dan sebagainya. Maka ketika muncul suara lainnya yang berbentuk kritik, maka tafsirannya dapat menjadi penodaan terhadap simbol. Reaksi yang diperlihatkan pun menjadi sarat dengan emosi dan tidak sekedar berbasis rasionalitas dan bertukar pendapat.

Dalam film Spider-Man tersurat jelas bagaimana Spider-Man merupakan simbol harapan. Kehadirannya menginspirasi warga kota. Ia menjadi warga kehormatan, dinanti kehadirannya ketika bergelayutan diantara gedung-gedung, orang-orang rela melihatnya walau keadaan hujan, dan sebagainya. Spider-Man menjadi tenaga bagi harapan yang melemah. Namun Spider-Man yang merupakan simbol sesungguhnya merupakan manusia dengan segala celah kelemahan sifatnya. Bagaimana pada film Spider-Man 2 (2004), Peter Parker melepaskan simbolnya untuk mengejar target-target personalnya. Kehidupan akademik, cinta, merupakan harga yang terbengkalai dari simbol kebajikan yang terus disuarkan. Dan Peter Parker ingin berada pada pemenuhan radius personalnya.

Namun with great power comes great responsibility. Peter Parker kembali ke medan kepahlawanannya. Ia mafhum bahwa dirinya telah mampu menyalakan api inspirasi dari masyarakat kebanyakan. Ia kembali ke medan laga, menjadi simbol kebajikan melawan kejahatan.

Sedangkan dalam kisah fantasi lainnya, Batman merupakan pahlawan yang sendu. Ia dan kesendirian seolah bernasib. Maka dalam film The Dark Knight (2008), ia memperjuangkan Harvey Dent sebagai simbol ksatria putih di kota Gotham. Batman mengerti jika sampai terungkap mengenai aksi minor Harvey Dent yang berlatarkan dendam dengan membunuh sejumlah polisi yang berkomplot dan muaranya ialah kematian Rachel, maka harapan akan nilai-nilai moral akan mengalami degradasi. Batman diburu, lampu panggilnya dipecahkan, sebuah pengorbanan untuk substansi dibalik simbol.

Sebelumnya Batman merupakan simbol dari kebenaran yang membuat para penjahat mengkerut dan tidak berani menampilkan laku kriminalnya. Batman adalah vigilante. Ia menerabas segala tata aturan baku, meringkus, beraksi di jalanan kota Gotham. Para penjahat kota pun resah, hingga datanglah Joker yang tidak sekedar melawan dengan senjata. Joker adalah musuh ideologis. Joker menggoyangkan equilibrium dari simbol Batman. Ia menghabisi para penegak hukum dan diperlihatkan secara eksebisionis ke hadapan massa. Ia melakukan teror mental. Ia menebarkan peluru wacana. Joker meredefinisi siapa sebenarnya Batman. Dan aksi tersebut berhasil. Tuntutan bagi Batman untuk membuka identitas aslinya menjadi sebuah cul de sac bagi Bruce Wayne.

Bruce Wayne nyaris membuka identitas aslinya sebagai Batman, namun keduluan oleh Harvey Dent yang mengklaim dirinya sebagai Batman. Joker yang dalam film The Dark Knight diperankan oleh Heath Ledger, memainkan kartu berikutnya. Ia merusak simbol keadilan lainnya. Ia mengkorupsi simbol yang nyata terlihat gigih memperjuangkan keadilan. Joker mengkontaminasi, memprovokasi Harvey Dent dan menjadikannya Two Face. Beralihnya Harvey Dent ke perahu antagonisme sesungguhnya merupakan hal rasional dan manusiawi. Bukankah dalam hidup sesungguhnya terjadi kurusetra personal. Nilai-nilai kebaikan dan kejahatan senantiasa berupaya memperoleh panggung di diri.

Sampel dari Harvey Dent tersebut sesungguhnya dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan kekitaan. Oleh karena itu dalam latar politik ada check and balances, untuk mengeliminir apa yang diistilahkan oleh Lord Acton sebagai Power tends corrupt, but absolute power corrupts absolutely (Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, hlm. 107). Itulah kiranya yang menyebabkan demokrasi memiliki keunggulan dari sistem tiran. Demokrasi memberi ruang lapang bagi kritik. Demokrasi melakukan humanisasi, desakralisasi kekuasaan, dan mereduksi pemimpin menjadi simbol yang tak tersentuh.

Mari kita lihat ketika kepemimpinan berada terpusat di satu tangan, sang pemimpin dapat menjadi simbol yang begitu powerful menghegemoni. Contohnya nyatanya pemimpin Uni Soviet yakni Stalin. Tentang Stalin, seorang penyair menulis, dengan hiperbol menarasikan (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir Tempo Edisi 21 Juni 2010):

Wahai, Stalin yang agung
Tuan-lah yang menyuburkan tanah
Tuan-lah yang memulihkan abad
Tuan-lah yang mengembangkan bunga di Musim Semi

Contoh lainnya ialah Mao Zedong di China. Tentang Mao, seorang prajurit yang diangkat jadi manusia tauladan oleh Partai, Li Feng, menulis catatan hariannya yang terdiri atas 200.000 kata. Hampir semuanya penuh pujaan:

”Bagiku, karya Ketua Mao ibarat makanan, senjata, dan kemudi. Kita harus makan dan dalam berperang kita harus bersenjata. Tanpa kemudi, kita tak dapat mengendarai mobil, dan tanpa mempelajari karya Mao Zedong orang tak dapat menempuh karier revolusioner.”

Dan tahukah Anda tentang bagaimana cara merawat dan menanamkan simbol? Contoh otentiknya ialah apa yang terjadi di Korea Utara di masa pemerintahan Kim Jong-il. Sejak masa kanak, rakyat Korea dibentuk untuk memuja Kim. Sebuah studi yang dikutip The Christian Science Monitor menunjukkan besarnya dana untuk itu. Sementara pada 1990 biaya untuk pemujaan sang pemimpin meliputi 19 persen anggaran nasional, pada 2004 naik jadi 38,5 persen. Pada masa krisis, ketika alokasi buat pertahanan dan kesejahteraan rakyat diperkecil, dana untuk sekolah ideologi justru naik. Biaya itu meliputi perawatan 30.000 monumen Kim, festival olahraga, film, buku, billboard, mural, dan seterusnya.

Belum lagi buat pendidikan sekolah. Di sini, indoktrinasi untuk memuja sang Ketua sangat intensif: antara 304 dan 567 jam pelajaran. Para murid SD harus mempelajari sejarah masa kecil Kim Il-sung 152 jam dan Kim Jong-il juga demikian. Di Universitas Kim Il-sung di Pyongyang ada enam fakultas yang khusus mengajarkan riwayat dan pemikiran kedua Kim Bapak dan Kim Putra.

Lalu simbol yang berlebihan dapat menjadi kultus individu. Kekuasaan seolah hanya mampu diisi oleh orang-orang istimewa. Kekuasaan menjadi berjarak jauh dari rakyat dan logika keseharian. Simbol menjadi kata-kata yang didengung-dengungkan, disuapkan kepada rakyat. Simbol menjadi sesuatu yang beku, tak tersentuh. Menarik kiranya apa yang dituturkan oleh Asvi Warman Adam bahwa tujuan utama penulisan biografi adalah mencoba menangkap dan menguraikan jalan hidupnya dengan lingkungan sosial-historis yang mengitarinya. Tujuan kedua biografi adalah memberi baju “baru” kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari sang tokoh dalam sejarah. Apakah ia yang menentukan jalannya sejarah, atau ia tak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam kedudukan strategis (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah, hlm. XI-XII).

Dunia keilmuan dengan demikian dapat menjadi garis penjelas mengenai siapa sebenarnya tokoh. Layakkah dia menyandang aneka varian simbol tersebut. Membedah secara jernih para tokoh misalnya, mampu menelaah dan menjaga persepsi dari delusi persepsi. Bahwasanya tokoh tersebut harus kita maklumi sebagai manusia biasa. Sama halnya dengan Beethoven yang konon merobek kertas simfoninya sendiri yang akan dipersembahkannya buat Napoleon yang ia kagumi, setelah pahlawan pengawal Revolusi Prancis itu menobatkan diri jadi maharaja. “Rupanya, ia juga makhluk biasa saja!” teriak sang komponis yang kecewa – yang rupanya pernah menduga bahwa ada manusia yang bukan “makhluk biasa saja” (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm. 62).

Benar kiranya simbol dapat menginspirasi. Menjadi ekspektasi ideal. Inspirasi dari segala kegaduhan hari. Namun simbol yang terikat dengan sosok manusia harus bersiap dengan karakter dasar manusia: bisa salah dan lupa. Manusia manapun dapat salah dan lupa, tak terkecuali sang simbol.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s