Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Setuju, Jari Kelingking (2)

“Apakah aku masih hidup kalau begitu,” dialog Tora pada dirinya sendiri.

Setelah serangkaian lari, Tora pun tiba di sosok berbaju putih yang sedang memunggunginya.

“Halo..,” ujar Tora bingung harus berkata apa.

“Saya Tora, dimana ini? Surgakah ini?” tanya Tora setengah berharap, setengah mencari tahu.

Sosok berbusana putih itu tertawa riang. Tawanya benar-benar renyah dan nyaman mengalun di udara. Ia berbalik. Dan yang Tora temui adalah wanita. Wanita yang teramat cantik bahkan, sehingga sukar untuk dapat menyusun kata. Setelah menenangkan diri dari serbuan pesona kecantikan wanita berbaju putih itu, Tora mulai membangun konsep di kepalanya.

“Dimana ini?”

“Pentingkah,” jawab wanita itu antara menjawab dan bertanya.

“Tentu saja penting, aku harus menemui anakku. Aku harus kembali ke rumah, segera.”

“Rumah?”

“Iya rumah, tempat tinggal,” Tora menjawab.

“Tempat ini akan menjadi tempat tinggalmu,” kata wanita itu seolah hal tersebut telah jelas.

“Hmm..bagus kalau begitu. Berarti kau malaikat, dan aku berada di surga,” konklusi dari Tora.

Wanita itu kali ini tersenyum.

“Seandainya sesederhana itu.”

“Bagaimana kalau kukatakan ini adalah tempat bagimu untuk menjawab satu pertanyaan agung yang mengusikmu,” ungkap wanita itu menerangkan.

“Satu pertanyaan agung?” giliran Tora yang setengah tertawa.

“Yang aku ingin tahu apakah aku telah mati atau masih hidup. Apakah aku berada di surga atau neraka, jika benar ini adalah fase setelah kematian.”

Wanita itu memutar bola matanya yang berwarna biru cerah.

“Tidakkah kau ingin mendapatkan jawaban atas satu pertanyaan agung?” wanita itu balik bertanya.

“Mati atau masih hidup, surga atau neraka. Begini saja, opsi itu pasti akan kau ketahui nanti. Tapi satu pertanyaan agung, kaulah yang harus menjawabnya sendiri. Kaulah yang harus memutuskannya sendiri,” tawar kata dari wanita itu menatap Tora dengan tegas.

“Ayo, ikut aku akan kutunjukkan tempat bermalammu,” ajak wanita itu melangkah di depan.

“Hei, apa-apaan ini. Aku harus menemui anakku, Ara. Dan aku tidak tahu dimana ini. Jika kau tidak memberikan jawaban, aku akan terus berjalan dan mencari tahu untuk kembali ke tempat asalku,” Tora menegaskan ganjil situasi yang masih dihadapinya.

Wanita itu menatap Tora, kali ini kalimatnya tegas dan final.

“Lihat pakaian yang kau kenakan. Lihat alam yang kau injak, rasakan udara yang kau hirup. Kau pikir ini adalah tempat yang biasa kau tinggali? Kau bisa saja terus berjalan, tapi aku jamin kau hanya mendapatkan kesia-siaan dan bukan jalan kembali ataupun jawaban atas segala keterusikanmu. Sekali waktu kau harus percaya pada keajaiban, tuan Tora.”

Mendengar kalimat tersebut, Tora melihat pakaian yang dikenakannya. Benar kiranya ini bukanlah pakaian yang akrab dengan dirinya. Ini bukanlah jaket usang miliknya, serta celana bahan yang sehari-hari dipakainya. Ini adalah busana yang seperti dilihatnya di kisah-kisah zaman kerajaan. Ia menggunakan tunik, baju terusan yang dipakainya merupakan kreasi tangan, celananya dari bahan kulit. Ia semakin benar-benar tidak mengerti. Tanpa ada opsi yang terlihat menjanjikan, Tora mengikuti wanita itu hingga sampai di sebuah rumah sederhana dengan perapian di dalamnya.

“Aku akan menemuimu besok pagi, beristirahatlah,” saran dari wanita itu dengan intonasi yang lebih lembut.

Tora sempat mengelilingi ruangan dalam dari rumah ini. Rasanya seperti berada dalam setting layar kaca televisi di kisah-kisah jaman baheula. Semua perabotan disini terasa natural dan seolah ingin menjaga koneksi dengan alam. Tora pun tiba di kamar tidurnya. Merebahkan diri, dan terlelap tanpa mimpi yang mengusik. Sudah lama dia tidak merasakan tidur yang sedamai ini.

Tora terbangun keesokan harinya. Dia merenung di embun pagi yang masih hening. Ia memikirkan Ara. Bagaimana ia melewatkan janji jam 8 malamnya, bagaimana Ara akan bertanya kemana ayahnya semalaman ini, di waktu ini Ara seharusnya sudah bangun dan bersiap. Ara akan membuat sendiri roti berselai dengan susu putih, lalu berangkat sekolah. Dia merasa amat bersalah dengan belum menitipkan Ara pada kedua orang tuanya yang juga merupakan kakek dan nenek Ara. Tanpa terasa Tora meneteskan airmata. Betapa dunianya yang terasa sederhana begitu bernilai. Dan ia belum pernah mengutarakannya langsung secara verbal, bagaimana Ara teramat berarti baginya.

Ketukan pelan di pintu. Wanita berbaju putih itu masuk ke dalam ruangan.

“Ikut aku, mari kita temui keluargamu disini,” ucap wanita seperti malaikat itu bertukar kata.

“Keluarga disini?” kernyit tanya dari Tora.

Pertanyaan itu menggantung di udara seiring perjalanan mereka berdua yang melintasi halimun pagi. Dibutuhkan waktu berjalan sekitar 10 menit sebelum mereka sampai di tempat perhentian yang dijanjikan wanita berbaju putih tersebut.

“Masuklah,” tuntun wanita itu mengarahkan langkah Tora.

Sebuah pintu kayu tanpa hiasan serta aroma masakan yang menunjukkan daya pikat harumnya di udara. Tora membuka pintu dengan perlahan. Dan dia pun masuk ke dalam rumah itu perlahan. Sebuah senyum sederhana. Dari seorang wanita berambut panjang dan seorang anak lelaki yang memiliki garis wajah serupa dengan Tora. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Wanita berambut panjang yang ada di hadapannya memiliki tiap titik ideal dari wanita yang diharapkannya menjadi istrinya. Ia memiliki lesung pipit ketika tersenyum, rambutnya yang terkepang takjub, matanya yang memancarkan keramahan, tubuhnya yang padat berisi, alisnya yang rimbun di atas matanya. Ini terlalu sempurna. Seperti spesifikasi yang dulu pernah dimilikinya ketika mengejar perempuan. Dan kini di hadapannya kesempurnaan imajinasinya benar-benar terlaksana.

Sedangkan di hadapannya ialah anak laki-laki yang kira-kira berumur 10 tahun dengan perawakan seperti dirinya. Ia seperti melihat Tora dalam bentuk mini. Bagaimana bisa, kesempurnaan ini terlalu indah.

“Duduklah, aku sudah menyiapkan sup untuk sarapan pagi,” ungkap wanita ideal yang selama ini memenuhi lembar imajinasinya.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Advertisements
Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Setuju, Jari Kelingking (1)

Hujan membungkus Jakarta dalam kelam yang berlebihan. Ramai-ramai orang menyemut di bawah jembatan penyebrangan, di segala tempat yang memiliki atap. Tapi tidak bagi Tora yang menembus kelebatan air yang mencurah dan menderas. Dia harus sampai ke rumah tepat pada waktunya. Seperti janji yang terus diputar dalam ketukan pemutar lagu. Hidup baginya adalah penjara semesta yang mengekang. Belenggu jiwa. Namun dulu dia pernah mengalami hidup. Hidup sebenar-benar hidup. Hidup yang berbeda dengan sekarang ini. Hidup dalam skala kontemporer yakni dimana Senin-Ahad adalah siklus yang membosankan dan menjemukan.

Pada hari kerja, Senin-Jum’at, Tora harus berdesak-desakan dengan kerumunan motor dan mobil yang memenuhi jalanan ibukota. Berangkat ke kantor bertumpuk dengan sarden kemacetan, pulang ke rumah pun meraung-raung dengan lengkingan klakson. Itu baru di jalan. Di kantor, dia adalah pekerja yang harus menghadapi semprotan para pelanggan. Pekerjaan Tora di customer service yang memungkinkannya untuk mendengarkan dampratan, keluhan, sampah kata-kata pada jam-jam pekerjaan. Rentang pekerjaan Tora juga bukanlah dari Senin-Jum’at, dia bekerja dengan sistem shift dimana hanya dapat libur pada waktu yang ditentukan.

Dan Tora memiliki seorang anak, anak yang bernama Ara. Ara kini telah berumur 5 tahun, duduk di taman kanak-kanak. Pada beberapa bagian Ara adalah seperti reka ulang dari Alma. Rambutnya, cerdas matanya, kelincahannya yang seperti bola bekel, skeptismenya adalah copy paste dari wanita yang menjadi pelangi rasa bagi Tora. Maka melihat Ara seperti melihat Alma dalam bentuk mini. Seperti bayangan yang mengejar dalam kesadaran.

Seberapa besar cinta Tora pada Ara, si anak genetiknya? Dia mencintai sebagai ayah dengan caranya tersendiri. Jangan bayangkan kau akan mendapatkan ayah yang akan membacakan dongeng ketika menjelang tidur, menjawab segala lintasan pertanyaan apa saja dari Ara, makan bersama di waktu-waktu istimewa. Tora bukanlah orang yang ekspresif, imajinatif, enigmatik. Ia lebih seperti mesin yang bernafas. Segala hal yang dikerjakannya seperti mekanik mesin. Ia kaku dalam keseharian. Namun dia nyata dalam tindakan. Ia berjanji, dan dengan segenap upaya akan berusaha untuk mematuhi.

Tora adalah ayah yang kaku dan disiplin. Dia akan sedia membuatkan sarapan yang itu-itu lagi setiap hari sekolah bagi Ara. Roti berselai. Maka suara roti yang telah matang, selai yang dioleskan, merupakan harmoni wajib di pagi hari. Jangan lupakan susu putih yang setia dibikinkannya. Adapun pengecualian, tentu saja jika Tora harus bekerja pada waktu pagi, namun dia biasanya telah bersiap dengan roti dan susu putih yang tinggal disantap bagi Ara. Pada malam hari, Tora akan patuh untuk menyuruh Ara tidur tepat jam 9 malam. Tak peduli sedang hebohnya acara televisi. Setia dalam keteraturan waktu.

***

Tora pun berupaya untuk selalu memenuhi janji-janjinya. Seperti hari ini, pulang ke rumah jam 8 malam tepat. Perkaranya sederhana Ara ingin menunjukkan gambar dan kerajinan prakaryanya.

“Ayah, jangan lupa pulang jam 8 malam tepat ya,” rajuk suara Ara dengan suara kecilnya.

“Hmm.. ada apa dan kenapa harus jam 8 malam. Ayah mungkin akan telat.” Tora melihat dari ketinggian kantornya awan yang berarak menghitam dan titik-titik kendaraan jauh di bawah sana.

“Ara pengen kasih liat gambar dan prakarya yang akan dinilai ke ibu guru besok. Jadi sebelum siapa-siapa liat, ayah harus jadi orang pertama yang liat. Setuju, jari kelingking?”

Setuju, jari kelingking adalah kode dari keluarga kecil ini, yang intinya mengharapkan persetujuan benar-benar agar memenuhi permohonan yang diajukan. Dan jika frasa ‘setuju, jari kelingking’ telah diujarkan berarti hal tersebut merupakan keinginan yang benar-benar diharapkan untuk diwujudkan.

Tora menghembuskan nafas sejenak.

“Tentu saja, setuju, jari kelingking.”

Dan disinilah Tora berada, bersama kelebatan hujan dan kendaraan yang masih ngotot menembus air yang menggila dari langit. Sebuah janji harus ditepati. Sebuah janji untuk siapa? Dirinya, Ara, atau Alma?

Sejenak lamunan di tengah hujan sambil mengendarai motor tuanya. Dan untuk kemudian sebuah cahaya. Cahaya yang amat terang melahapnya. Membungkusnya dalam jaring-jaring rumit penuh gemerlap cahaya putih yang terlampau benderang.

***

Mati itu mudah. Hidup itu sulit.

Tapi benarkah Tora telah mati?

Ia kini berada di hamparan padang rumput yang luas. Di sekelilingnya ada bunga aneka warna. Tak jauh darinya ada sungai yang mengalir deras. Dimana ini? Yang pasti ini bukan di Jakarta. Jakarta terlampau keparat untuk memberikan kemewahan ruang terbuka semacam ini. Satu demi satu kesadarannya mulai kembali menghangat di otak. Agak berat awalnya, namun dia kembali menemukan kesadarannya dan hal terakhir yang diingatnya. Ia sedang berkendara dengan motor tuanya di kepungan hujan kota Jakarta. Lalu limpahan cahaya putih. Dan kini dia disini. Di hamparan padang rumput yang membentang ini.

Ara. Ara pasti menunggunya di rumah. Ara dengan mata lincahnya dan semangat bereksplorasinya yang meletup-letup sedang menunggunya untuk memperlihatkan sebuah gambar dan hasil buah tangan prakaryanya. Tora harus pergi dari entah tempat apa ini. Dan dia harus kembali ke rumahnya.

Tora berlari menyusuri hamparan padang rumput yang menghijau. Di tempat ini senja akan menjelang. Tapak-tapak langkah dari Tora mengalun beradu dengan tekadnya untuk kembali pada anaknya. Berbagai pikiran sempat menghampirinya. Apakah dia telah mati? Tapi mati terlalu aneh. Mati, tidak seharusnya seperti ini. Tapi bagaimana dia bisa tahu, dia belum pernah mati.

Tapi mati seharusnya memiliki semacam prosesi. Mungkin ada yang akan memberitahukan dan menjelaskan bahwa secara resmi dia telah mati. Tidak seperti ini. Dia ditinggalkan di padang rumput yang okelah indah dan memukau, tapi tanpa penjelasan. Tora berlari dan berlari, hingga dilihatnya dari kejauhan sesosok berbaju putih. Detak jantungnya menguat, inikah jawabannya? Konfirmasi bahwa dia sudah mati atau masih hidup. Tunggu dulu, Tora benar merasakan sensasi detak jantung yang menghebat, ketegangan yang mengerucut bersama desakan waktu.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Resensi Buku, Sosial Budaya

Sisi Politik Dari Kisah Petruk jadi Raja

Siapa sebenarnya yang layak untuk memerintah? Pertanyaan itu merupakan sebuah tanya yang merisaukan para cendekiawan semenjak dahulu hingga kini. Ada multi jawaban beserta alasan yang menyertainya. Jawaban yang diujarkan tak dapat dilepaskan dari pengalaman personal dan nilai yang dianut oleh para pemikir pencetus pendapat. Plato misalnya berpendapat ada lima bentuk pemerintahan negara yakni aristokrasi (cendekiawan yang dilaksanakan sesuai dengan pikiran keadilan), timokrasi (orang-orang yang ingin mencapai kemasyhuran dan kehormatan), oligarki (hartawan), demokrasi (rakyat jelata), tirani (seorang tiran sehingga jauh dari cita-cita keadilan). Aristoteles sementara itu berpendapat bentuk pemerintahan dapat dibagi berdasarkan dua kriteria pokok, yaitu jumlah orang yang memegang pucuk pemerintahan dan kualitas pemerintahannya. Aristoteles melakukan cluster sebagai berikut: monarki, tirani, aristokrasi, oligarki, politeia (republik), demokrasi (Budiyanto, Dasar-Dasar Ilmu Tata Negara, hlm. 36).

Pemikiran mengenai siapa yang layak memerintah suatu negeri kembali menemui percikan pendapat ketika saya melakukan wawancara dengan Suyadi (lebih dikenal dengan nama Pak Raden). Beliau berpendapat bahwa yang layak memerintah pada intinya menurut konsep ilmu sosial yakni the right man in the right place. Suyadi memperteguh pendapatnya dengan memberikan buku cerita karangannya yang berjudul Petruk jadi Raja. Selang beberapa hari dari wawancara tersebut, saya menamatkan buku Petruk jadi Raja dan radar skeptisme diri saya menguat.

Buku yang diterbitkan oleh Kelompok Pencinta Bacaan Anak tersebut langsung membuka kisah dengan menerangkan posisi sosial dari Petruk. Siapakah Petruk? Petruk adalah seorang punakawan. Punakawan berarti pengiring dan penasihat kesatria (Suyadi, Petruk jadi Raja, hlm. 3). Sosok Petruk digaambarkan bertubuh tinggi jangkung, berhidung panjang, langkahnya lebar, wajahnya selalu tersenyum dan suka melucu. Para punakwan mengabdi kepada kelima satria Pendawa yang memerintah di negeri Amarta. Selain Petruk terdapat Semar, Gareng, dan Bagong yang bergabung dalam kongsi punakawan.

Dalam buku Petruk jadi Raja diceritakan bahwa Petruk dititipkan pusaka Kalimasadha oleh Bambang Priyambada (salah seorang putra Pendawa). Dengan pusaka Kalimasadha tersebut Petruk tergoda dan bertindak menaklukkan sebuah negara. Negara yang dipilihnya adalah negara kecil bernama Sonyawibawa. Negara Sonyawibawa dinarasikan sebagai negara kecil yang cukup makmur dan mampu menjaga kerukunan antara warga manusia dan raksasa yang merupakan penghuni negeri tersebut. Dengan berbekal pusaka Kalisadha Petruk berhasil melakukan kudeta seorang diri dan dia pun menjadi seorang raja.

Menjadi seorang raja, Petruk mulai melakukan sejumlah movement. Ia memilih bergelar Prabu Kantongbolong, alias Prabu Tongtongsot alias Prabu Belgeduwelbeh. Ia memilih permaisuri sebagai pendampingnya di tahta. Jalan pikiran dari Petruk tentang permaisuri ideal terekam dalam kalimat berikut: “Tidak! Aku tidak suka putri-putri cantik ini. Mereka terlalu dimanjakan. Sehari-harian kerjanya cuma bersolek melulu. Yang kuinginkan ialah perempuan yang berasal dari kalangan wong cilik. Coba carikan aku calon permaisuri semacam itu!” Pilihan Petruk akhirnya jatuh kepada seorang juru masak istana yang berbadan gemuk dan berpenampilan bersahaja (Suyadi, Petruk jadi Raja, hlm. 17).

Berbagai perubahan dalam menu hidup keseharian nyata terjadi. Seperti dari menu makanan yang harus menyertakan rujak cingur, tarian istana yang lebih lincah dan sebagainya. Petruk rupanya ingin melakukan ekspansi kekuasaannya. Ia ingin memiliki jajahan. Negara Amarta dan Dwarawati menjadi wilayah invasi yang ditujunya. Alasannya karena di kedua negara tersebut bertahta mantan majikan-majikan Petruk. Petruk lalu mengirim surat tantangan yang berintikan agar kedua negara tersebut takluk pada kekuasaannya. Menerima ancaman ini, negara Amarta menyerang lebih dahulu dengan menempatkan Bima, Arjuna, Gatotkaca sebagai ujung tombak serangan.

Petruk lalu turun ke medan laga dengan menggunakan pusaka Kalimasadha tumbanglah Bima, Arjuna, Gatotkaca dan segenap pasukan Amarta. Ganti Petruk kini yang menjadi majikan terhadap para satria tersebut. Petruk pun bersabda:”Hai orang-orang Pendawa. Karena kalian sudah menyerah maka kalian masing-masing akan kuberi tugas. Engkau Bima yang besar, kuat, dan kekar, engkau kuberi tugas menjaga keamanan negara. Dengan kuku Pancanaka yang kau miliki, engkau harus mampu membinasakan musuh-musuhku. Sedangkan engkau, Gatotkaca, karena engkau pandai terbang petiklah buah-buahan yang masak untukku. Tangkaplah ternak dan perburuan hutan untuk dimasak menjadi hidangan lezat. Adapun Arjuna yang tampan diangkat menjadi mantri pasar yang bertugas mengatur pedagang di pasar. Ibu-ibu yang berbelanja pasti senang dengan kehadiran sosok Arjuna yang rupawan (Suyadi, Petruk jadi Raja, hlm. 23).

Menghadapi fakta otentik kekalahan, Prabu Kresna penasihat Pendawa memerintahkan punakawan (Semar dan Gareng) untuk maju ke medan laga. Mula-mula Semar dan Gareng keberatan untuk maju berperang, dengan alasan bahwa mereka bukan prajurit dan tak pernah berperang. Tapi Kresna berkata:”Kakang Semar dan Nala Gareng. Kalianlah harapan kita terakhir.” Maka berangkatlah Semar dan Gareng menuju istana Prabu Kantongbolong.

Semar dan Gareng lalu berhasil masuk ke tempat peraduan Prabu Kantongbolong. Raja sedang tidur nyenyak. Ia tidur dengan tetap mengenakan mahkota dan pakaian kebesarannya. Gareng segera memukul mahkota raja dengan gada. Baginda terbangun. Mahkota terpelanting dan dari dalam mahkota itu, pusaka Kalimasadha terlempar keluar. Karena pusaka Kalimasadha sudah lolos dari tangan Prabu Kantongbolong, maka baginda pun kehilangan semua kesaktiannya.

Penyergapan yang dilakukan oleh Semar dan Gareng mengingatkan saya akan buah pemikiran Thomas Hobbes dalam Leviathan:

“Alam telah menjadikan manusia sama, dalam kemampuan tubuhnya dan akal (bahwa) yang paling lemah pun memiliki cukup kekuatan untuk membunuh yang paling kuat, baik dengan senjata rahasia, atau bersekutu dengan yang lainnya.”

Hobbes mencontohkan bahwa sekuat apa pun fisik manusia, ia tetap harus tidur. Tidur adalah tuntutan alamiah bagi fisik manusia. Maka ketika sedang tidur, orang yang paling kuat dapat di(ter)bunuh tanpa perlawanan (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 172).

Kisah Petruk jadi Raja ditutup dengan fragmen berikut:

“Petruk,” kata Sri Kresna.” “Apa sebetulnya maumu? Membuat onar saja!”

“Ampun Sinuhun,” kata Petruk menghiba, “Hamba hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi raja. Masa dari dulu hamba ini menjadi wong cilik selalu.”

“Petruk,” kata Sri Kresna, “Engkau tak usah risau menjadi orang kecil. Dalam negara yang adil dan makmur siapa pun pasti dapat hidup layak. Soal menjadi raja? Ketahuilah, menjadi raja adalah tugas negarawan. Sedangkan engkau Petruk, engkau punakawan.”

“Yah, malangnya jadi punakawan,” keluh Petruk. “Petruk,” sambung Sri Kresna,

“Engkau tak usah merasa malang. Tugas punakawan ialah sebagai pengiring dan penasehat kesatria. Ini adalah tugas yang sangat mulia.” Petruk pun menyembah serta mengangguk tanda setuju.

Fragmen penutup dari kisah ini yang terus terang menggelitik dan melambungkan skeptisme saya. Bagaimana sebuah tesis yang menyatakan menjadi raja adalah tugas negarawan. Menurut hemat saya, konsep tersebut layak untuk dipertanyakan dan dikomparasikan dengan konsep demokrasi. Demokrasi memberikan ruang bagi siapapun untuk menjadi penguasa sepanjang memiliki kompetensi. Tugas menjadi pemimpin tidak dimonopoli dan dilahap semua oleh cluster tertentu yang dikhususkan. Ragam manusia dari berbagai latar belakang diberikan kesempatan untuk berprestasi dan berkarya, lalu melalui sebuah election, pemimpin tersebut akan menjalankan mandat amanat rakyat.

Untuk membawa negeri membawa kemakmuran menurut hemat saya tidak sekedar dibutuhkan tenaga dari mereka yang ahli, namun memerlukan political will, kesungguhan untuk optimal menuntaskan permasalahan. Banyak kiranya ahli-ahli di negeri, namun dibutuhkan kemampuan yang terampil dan dingin untuk memimpin para ahli. Mereka yang mampu memimpin para ahli inilah kiranya yang menurut pandangan saya layak untuk memerintah dan memimpin.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Menyelami Mitologi Bersama Djokolelono (Makko Go Show 10 Mei 2012)

Ia adalah legenda. Pada 1970-1980-an karya-karyanya menyeruak dan menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia. Simak saja mulai dari Jatuh ke Matahari, Terlontar ke Masa Silam, Penjelajahan Antariksa, Astrid dan Bandit mendapatkan sambutan yang hangat dari sidang pembaca. Karyanya mengajak untuk berpikir dan menjelajahi lapisan sains dan intelektual. Pada tahun 2011, pria yang pernah kuliah di Astronomi ITB ini kembali mewarnai jagat fantasi Indonesia dengan karyanya Anak Rembulan. Novel Anak Rembulan sendiri mampu menyajikan kesederhanaan dalam kata, nilai sejarah, mitologi lokal, dan imajinasi yang meletup-letup.

Pada tanggal 10 Mei 2012, bertempat di Kinokuniya Plaza Senayan, Djokolelono menjadi salah satu pembicara dengan tema besar Exploring Mythology and Writing Fantasy. Berikut akan saya coba narasikan apa yang disampaikan oleh beliau dalam acara yang juga dimeriahkan oleh komunitas World Mythology Community dan Kaldera Fantasi (Kalfa). Bertemu dengan Djokolelono menghadirkan eksentrik dari karya kreatif. Simaklah rambut dari pria kelahiran Desa Beru, Wlingi, Jawa Timur, tanggal 10 April 1944 yang berwarna oranye. Ia juga mampu melekatkan diri pada orang lain dengan melontarkan joke-joke segar.

Jam terbang menjadi pembicara di khalayak umum jelas terlihat. Dari slide yang disiapkan beliau terdapat 17 bagian dan dengan piawainya ia membawa penonton dalam arus “dongengnya”. Sesekali Djokolelono melucu layaknya comic di stand up commedy, sesekali dia memainkan intonasi suaranya seperti seorang pendongeng, sesekali dia serius seperti dosen yang menerangkan perihal kuliah. Kombinasi inilah kiranya yang membuat waktu pemaparan beliau mendapatkan sambutan hangat.

Menurut Djokolelono, science fiction di Indonesia sudah ada sebelum dirinya menulis. Sebagai catatan, Djokolelono dikenal sebagai pelopor dalam penulisan science fiction di Indonesia. Karyanya Jatuh ke Matahari yang terbit tahun 1976 bahkan mendahului karya fenomenal Star Wars gubahan George Lucas secara durasi waktu yang baru muncul setahun kemudian (Tempo, 19 Februari 2012, hlm. 48). Adapun menurut beliau, Science fiction impor telah banyak dijumpai dalam bentuk comic strip seperti The Magician dan Flash Gordon.

Menulis science fiction menurut pria yang pernah mendapat nilai 10 dalam pelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya menulis sesuatu yang rasional dan mengikuti hukum-hukum ilmiah walaupun hukum ilmiah itu masih merupakan khayalan atau spekulasi. Menarik kiranya jika dikaitkan dengan sejumlah temuan ilmiah yang terilhami oleh novel Jules Verne. Jules Verne sendiri untuk kemudian dikenal sebagai bapak fiksi ilmiah dikarenakan sejumlah imajinasinya telah mengakselerasi dan memberikan perspektif lain bagi penemuan ilmiah yang berguna di kemudian hari. Jules Verne dalam ceritanya mampu menggabungkan bakatnya sebagai penutur cerita yang eksotik dengan minatnya pada hasil penemuan ilmiah yang mutakhir. Ia banyak menghabiskan waktu di perpustakaan Paris untuk belajar ilmu geologi, astronomi, dan teknik (Jules Verne, 80 Hari Keliling Dunia, hlm. 6). Beberapa karyanya yang termasyhur antara lain Five Weeks in a balloon (1863), Journey to the Center of the Earth (1864), From the Earth to the Moon (1865).

Djokolelono berpendapat bahwa science fiction dan fantasi ‘boleh dibilang’ merupakan bentuk lain dari mitologi. Beliau menerangkan tentang pionir dari science fiction yakni Mandrake dan Flash Gordon. Mandrake sendiri memiliki kemampuan untuk menghipnotis dan menciptakan ilusi. Sedangkan Flash Gordon yang pertama kali mentas di tahun 1934 sendiri menurut hemat saya menarik untuk dikupas. Jika menyitir pendapat Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 2, cerita Flash Gordon merupakan kisah yang berangkat dari prasangka-prasangka orang Amerika, orang Barat, yang – apa boleh buat – tampaknya berakar kukuh di kesadaran. Flash Gordon yang matanya biru, kulitnya putih, rambutnya pirang terang merupakan si “baik”. Sedangkan musuhnya adalah Ming. “Ming”: nama itu berdering sebagai sesuatu dan Timur yang jauh.

Di Perancis dimana komik pun dibahas secara serius, Ming merupakan sebentuk purbasangka. Menurut Edouard Francois, menyimpulkan: “…pasti bukan tanpa alasan Alex Raymond menamakan planet itu Mongo, penguasa tertingginya Ming, dan melukiskan penghuninya sedikit berwarna kuning dan wajahnya bercorak Asia.” Sebab, Mongo adalah “sebuah tirani oriental” dan Ming – dengan kebuasan dan kecurangannya – telah menunjukkan adat “keraton Mongol” (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 234). Harus diakui ini adalah sebentuk orientalisme, dimana barat mempersepsikan dan menilai tentang timur. Tentu saja kesalahan dan kekeliruan dapat terjadi dalam timbangan verdict yang ditetapkan.

Menurut Djokolelono rasa takut dan rasa ingin tahu akan hal-hal yang tak bisa dijelaskan merupakan akar dari kisah-kisah mitologi, religi, supranatural, dan metafisikal. Carl Sagan pernah berhipotesis bahwa alam semesta tidak menunjukkan rahasianya sekaligus. Harus diakui bahwasanya segenap rahasia alam dapat menjadi lahan subur bagi berkembangnya mitologi. Contohnya ialah pada abad pertengahan di Eropa. Banyak sejarawan menilai abad ini sebagai fase sejarah Eropa yang ‘kelam’, dipenuhi pertumpahan darah karena perang antar agama, abad anti intelektualisme dan maraknya takhayul dan irasionalisme (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 13).

Djokolelono mengutip Mirriam Allen de Ford, “Science fiction deals with improbable possibilities, fantasy with plausible impossibilities”. Science fiction rupanya memberikan alternatif lain dan mimpi tentang masa depan. Seperti terlihat dalam gambar yang dipertunjukkan oleh Djokolelono bagaimana kiranya rumah masa depan akan berbentuk. Rumah tersebut akan bertingkat, dimana pada tingkat atas digunakan oleh anak-anak untuk bermain layang-layang (tentu saja dapat langsung terbang tinggi layangan tersebut). Lantai atasnya juga dapat berputar perlahan sehingga menyajikan panorama yang berbeda dalam tiap sudut waktu.

Menutup artikel ini saya akan mengutipkan quotes dari Menteri Propaganda Nazi Jerman Dr.Josef Goebels, “Jika sebuah kebohongan terus menerus diceritakan hingga terdengar luas di masyarakat, lama kelamaan masyarakat akan menyakini kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran”. Banyak kiranya desas desus, mitologi yang diciptakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu di masyarakat. Contohnya adalah klaim ratu adil yang disematkan pada sosok politisi tertentu. Menurut hemat saya dibutuhkan sebuah pencerahan, pembedahan secara rasional untuk sejumlah mitologi yang berkembang. Masyarakat perlu kiranya untuk melakukan sport otak. Menggunakan otaknya untuk memilah dan memilih mana fakta nyata, mana khayalan utopis. Dengan demikian mitologi tidak lagi menjadi vehicle bagi kebekuan daya pikir dan penina boboan intelektualitas.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Lagu Anak-Anak

“Kapankah kita terakhir mendengarkan anak-anak kita, keponakan kita, anak-anak-anak tetangga kita, dan anak-anak lain mendendangkan lagu yang memang diciptakan untuk mereka? Bukankah kita lebih sering mendengar anak-anak mendengarkan lagu orang dewasa yang bertutur tentang percintaan, patah hati, dan perselingkuhan? Bahkan, juga mungkin lagu-lagu yang liriknya menyerempet dan bernuansa pornografis?” ujar Putut Widjanarko dalam launching film Ambilkan Bulan.

Keprihatinan itulah kiranya yang paralel dengan kondisi lagu anak-anak Indonesia kontemporer. Bagaimana di sudut-sudut gang hingga apartemen jauh meninggi, anak-anak Indonesia semakin kehilangan pegangan melodi lagu yang peruntukannya untuk seusianya. Lagu-lagu dewasa menjadi porsi yang dilahap oleh anak-anak dengan lugu. Mereka mendengarkan, menghafalkan, dan menyanyikannya. Terkadang kita tertawa dibuatnya karena kemampuan membeo tersebut. Namun lupa dengan detonasi bom waktu yang tertanam pada pertumbuhan jiwa sang anak.

Lagu dewasa yang dicangkokkan pada pikiran anak dapat berbahaya kiranya bagi perkembangan jiwa dan pikiran anak. Hal yang belum waktunya dan pesan rancu yang dapat mendistorsi konsep rancang bangun pemikiran. Kini anak kecil bernyanyi tentang cinta-cinta, perselingkuhan, kekasih gelap. Sebuah tema yang kiranya dapat menjadi kontaminasi pemikiran. Publik baru tersentak dengan artikel Bang Maman Dari Kali Pasir yang diperuntukkan untuk kelas 2 SD. Padahal boleh dibilang artikel Bang Maman Dari Kali Pasir merupakan fenomena gunung es bagi lukisan besar pendidikan Indonesia.

Amanat ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’, dalam lagu Indonesia Raya tidak menemui implementasi dikarenakan seni untuk anak-anak yang tersaji ialah kerontang. Dalam salah satu acara talent show menyanyi untuk anak-anak, saya mendapati bagaimana sukarnya untuk mendapatkan list lagu anak-anak sehingga terpaksalah beberapa lagu dewasa tertampilkan ataupun dimodifikasi liriknya.

Lagu anak-anak memiliki logika yang berbeda dari genre musik lainnya. Lalu apa kiranya kiat untuk menulis lagu anak-anak? Ibu Sud yang menciptakan lagu Hujan menyatakan syarat utamanya adalah harus mencintai dunia anak-anak terlebih dahulu. Setelah itu, baru memahami perkembangan emosi dan pikiran mereka. “Salah satu contohnya adalah jangan menulis lagu anak dengan banyak menggunakan huruf ‘r’. Kalau bisa sih dihindari atau jangan terlalu banyak memakai kosa kata berhuruf ini. Sebab huruf ini susah diucapkan seorang anak kecil. Ini salah satu contohnya. Liriknya pun harus sederhana.”

Sementara itu Kak Zepe (penulis lagu anak) mengungkapkan bahwa lagu anak dapat dikatakan bermutu apabila penulisan lirik, pesan lagunya harus mudah dipahami. Ini berarti menggunakan kata-kata yang sederhana dan tidak terlalu panjang. Hal lainnya yakni lagu anak harus mengandung pesan moral yang berguna bagi anak-anak seperti persahabatan ataupun kerajinan (Republika, 14 Mei 2012, hlm. 27).

Jika mem-flash back ke belakang, boleh dikatakan film musikal Petualangan Sherina merupakan tonggak monumental bagi lagu anak-anak. Bahkan tidak hanya bagi musik untuk anak, tapi juga bagi dunia perfilman Indonesia yang ketika itu mati suri akibat over load film-film bermuatan seksual pada era 1990-an. Film Petualangan Sherina mampu menyedot 1,6 juta penonton dan menjadi tontonan keluarga (http://www.tabloidbintang.com/extra/top-list/10694-20-film-nasional-paling-fenomenal-dalam-20-tahun-terakhir.html). Secara musikal, lagu-lagu dalam film yang disutradarai oleh Riri Riza tersebut memiliki kualitas yang mumpuni.

Sherina Munaf yang menjadi bintang utama di film tersebut sebelumnya pada tahun 1999 merilis album Andai Aku Besar Nanti. Album Andai Aku Besar Nanti mendapatkan atensi luas dari publik sebagai kesegaran dan membawa lagu anak-anak pada standar musikalitas yang baik. Lagu Kembali Ke Sekolah, Balon Udaraku, menjadi single andalan dari album yang digarap dengan apik secara musikalitas oleh Elfa Secioria. Dan harus diakui album ini benar-benar digarap serius. Mulai dari pemilihan diksi, musikalitasnya, vokal Sherina yang memberi nyawa pada tiap lagu. Setelah sukses dengan album Andai Aku Besar Nanti, maka di album kedua Sherina terjadi kolaborasi dengan menjadi original soundtrack dari film Petualangan Sherina.

Simaklah lagu Lihatlah Lebih Dekat, yang menceritakan tentang persahabatan dan kecintaan terhadap alam.

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan kau akan mengerti

Kiranya lirik lagu tersebut membawa anak Indonesia untuk menggunakan daya nalar dan daya pikirnya. Inilah kiranya yang dibutuhkan dalam pembangunan manusia yang utuh. Bukan sekedar memenuhi dengan segemplok hafalan yang lama kelamaan seperti mantra. Ataupun metode Catat Buku Sampai Abis (CBSA), tanpa si anak didik diajak untuk bernalar tentang apa yang dicatatnya dan mengapa harus dicatat.

Kahlil Gibran dalam karyanya Sang Nabi berbicara tentang anak syairnya yang berintikan (Kahlil Gibran, Tetralogi Masterpiece, hlm. 18):

Berikan mereka kasih-sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kauberikan rumah untuk raganya tapi tidak untuk jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam impian.

Ada sebuah kewajiban sejarah untuk membekali dan mencetak bangunan dasar dari anak. Pengembangan anak tidak sekedar pada fisik dan tumbuh kembangnya yang kasat mata. Lagu anak-anak merupakan salah satu medium pendidikan yang efektif untuk mengakselerasi intelektual dan perkembangan jiwa. Membiarkan anak Indonesia menyusu pada lagu dewasa ibarat menyiapkan generasi yang rentan dan rapuh secara kejiwaan. Jangan-jangan bangsa ini sedang membunuh masa depannya dengan penafian lagu anak-anak yang berkualitas dan bermutu.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai

Melupakan Apa Yang Harus Dilupakan

Benar kiranya manusia memiliki ingatan. Ingatan yang menghubungkan dengan rangkaian di masa lalu. Ingatan itulah kiranya yang melandasi apa yang dilakukan dalam era kontemporer dan tentu saja berpengaruh pada masa mendatang. Dengan demikian masa lalu tidak hanya bergaung pada eranya, namun juga dapat berkelindan pada rangkaian peristiwa masa depan. Ada begitu banyak cerita, kisah, permaknaan pada masa lalu. Tidak semuanya gembira. Ada cuka kehidupan. Ada luka yang membelur di jiwa. Dan segenap sesak itu bisa jadi hingga kini masih belum terlupakan dan terenyahkan dari benak.

Hidup ternyata harus merelakan. Merelakan apa yang telah berlalu dan terlewat. Tiada gunanya merutuki angan-angan di slot waktu yang telah usai. Hidup ternyata harus melupakan. Tidak semuanya tentu saja. Tapi beberapa bagian harus dilupakan, dienyahkan, disingkirkan dari orbit pemikiran. Contohnya adalah melupakan kegagalan. Mengenang-ngenang dan menimang-nimang kegagalan dapat menyebabkan diri berada pada siklus kegagalan yang akut. Ketika berada dalam tantangan kontemporer misalnya, maka sikap yang diambil ialah dengan mengambil referensi kegagalan. Kita memang harus belajar dari kegagalan, namun makna dari kegagalan, jiwa dari kegagalan. Bukan pada kegagalannya.

Jika teror kegagalan di masa lalu masih mencengkram di langkah kontemporer, maka bisa jadi kegagalan akan kembali tertempuh. Dan ini akan memperkuat paranoid kegagalan. Kini kegagalan telah membiak dan menduplikasi tidak hanya satu. Kegagalan yang demikian dapat menjadi karakter. Lalu hilanglah peluang, hilanglah kesempatan. Dalam urusan cinta misalnya, kegagalan dalam merajut rasa dapat menyebabkan menutup diri, enggan untuk berkorelasi. Padahal esensi dari cinta adalah kemampuan untuk memberi. Yang terpenting ialah bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang kuat dan memiliki sesuatu. Lalu momentum dapat tercipta dan selalu ada. Dahulu boleh gagal, namun sepanjang karakter diri kuat dan abundance, maka selalu ada ruang untuk rasa.

Melupakan apa yang harus dilupakan. Jika menilik dari lirik lagu Menghapus Jejakmu dari Peterpan maka akan terdapati: Engkau bukanlah segalaku/Bukan tempat tuk hentikan langkahku/Usai sudah semua berlalu/Biar hujan menghapus jejakmu. Jejak, itulah kiranya yang masih kuat dan terpelihara bagi mereka yang diputus cinta. Kegagalan cinta bukan sekedar tidak bersatunya dua insan. Namun kegagalan cinta dapat berarti kegagalan untuk menghapus, merelakan, melepaskan. Sesungguhnya alternatif masih tersedia. Masih ada orang lain yang dapat menjadi belahan jiwa. Tentunya dengan menyiapkan diri, memiliki limpahan perasaan, sebuah abundance.

Memulai cerita baru saya percaya dapat membantu untuk menghapuskan kisah yang telah berlalu. Memulai cerita berarti menciptakan kenangan-kenangan baru. Maka ada penyusutan, pelupaan, penafian terhadap segala kenangan indah pada kisah di masa lampau. Memulai cerita baru dapat memulihkan. Bahwa masih ada tangan yang dapat bertepuk. Masih ada rasa yang dapat bergenggaman. Masih ada harapan tentang keindahan di lembaran hari depan.

Melupakan juga dapat dilakukan dengan mengubah jalur. Merapikan segala hal yang terkait dengan koneksi rasa di masa lalu. Tidak melewati jalur-jalur kebersamaan berdua. Sebisa mungkin tidak memberikan “makan” bagi kenangan rasa untuk kembali singgah di top list pikiran.

Kenangan dapat menggerogoti pikiran. Mengkanvaskan peluang. Menjatuhkan rasa ke lembah ketersesatan. Maka lepaskan yang harus dilupakan. Redakan beban kegagalan masa lalu dengan menghanyutkannya pergi. Buka lebar pintu persahabatan. Berkenalanlah. Hidup dengan kemampuan memberi. Dan temukanlah satu orang. Sang penggenap yang membuat diri tak terlupakan.

Posted in puisi, sastra

Remah-remah

Tuan-tuan yang berjajar di meja makan
Bersiap dengan hidangannya
Rapi betul pakaian mereka
Serbet, garpu, sendok, piring, gelas, kesemuanya dari bahan kelas satu
Mereka adalah mulia di masyarakat kita

Violin yang mendera
Desau tawa selembut udara
Alangkah elok mereka dipandang
Legit di penglihatan

Tutur kata mereka terukur
Ekspresi mereka teratur
Ada adab di meja makan

Berkumpullah mereka bicara perihal
Rupa-rupa soal
Denting gelas beradu
Senyum malu-malu
Kesepakatan di meja makan

Mereka orang-orang mulia kawan
Detak detik yang berlalu
Jabat tangan bertukar kata perpisahan

Berpisah jalan pulanglah mereka masing-masing
Di taman yang mengusam
Roti yang menua dan mengeras
Remah-remah ditebarkan
Burung-burung berdesakan
Menyikut, menyundut, berlutut
Sekedar tetes kecil kesejahteraan dalam kemelut
Sekedar ceruk sempit beserta apak keringat dan darah luka