Posted in Essai, Sosial Budaya

Kompetisi

Entah apa kiranya rupa bumi jika tidak ada kata ‘kompetisi’ dalam kamus kehidupan. Pencapaian-pencapaian, sejumlah prestasi tidak akan menemui konklusinya jika kompetisi tidak ada. Kompetisi dapat mengkreasi jiwa pemenang dalam diri manusia. Dengan adanya kompetisi, maka ada kesadaran bahwa ada scarcity. Hanya ada satu pemenang, medali hanya terdapat dari emas, perak, dan perunggu. Kompetisi memecut kemampuan diri yang selama ini malas, terpendam. Dengan sentuhan kompetisi ada raison d’etre. Ada semangat untuk mengarungi waktu demi menjadi pemenang.

Kompetisi membentuk entitas pemenang. Ada tim pemenang. Ada nuansa yang dihasilkan dalam kompi para juara. Semangat yang menular, saling mengingatkan dan menguatkan untuk menjadi pemenang. Kompetisi menumbuhkan ritme pemenang. Maka ada pola latihan yang panjang. Ada upaya memantau kekuatan lawan. Ada perbaikan dalam metode-metode latihan. Kompetisi bahkan seperti pertarungan. Ada yang khusus untuk menjadi sang jago di bidang tertentu. Lihatlah misalnya atlet sepakbola yang diperhatikan segala porsi yang dilahapnya. Hal tersebut akan menentukan sejauhamana kemampuan untuk menghadirkan kejayaan.

Kompetisi menyadarkan bahwa individu ataupun entitas tidak tunggal. Itulah kiranya yang menyebabkan terjadi kreatifitas, perbaikan terus menerus. Dan konsumen ataupun masyarakat umum pun menikmati buah dari peluh kompetisi. Ada tawaran untuk mendapatkan yang terbaik. Berbeda kiranya jika hanya satu individu ataupun satu entitas tunggal yang menguasai penawaran. Maka akan terjadi stagnasi, kejemuan, bahkan bisa jadi kematian. Entitas tunggal tersebut menjadi terkeroposkan, terkalahkan. Dan akarnya bukan dari mana-mana, melainkan dari internal yang kehilangan ruh kompetisi.

Kompetisi mengajarkan tentang kebijaksanaan. Ada pemenang dan ada pula yang kalah. Berada pada kutub pemenang ataupun yang kalah memerlukan sikap yang benar. Jangan lupakan bahwa teramat mungkin terjadi sirkulasi keadaan. Mereka yang kalah pada satu waktu dapat menjadi raya kemenangan di waktu lain. Begitu juga sang pemenang, dapat menjadi pecundang di sumbu waktu yang berbeda. Kompetisi memainkan perannya untuk melahirkan pemenang dan pihak kalah yang baik. Pemenang yang tidak jumawa dengan trofinya. Sedangkan yang kalah, bukanlah mengungkapkan ragam alasan kenapa dia tertinggal, melainkan sekuat upaya instropeksi untuk menjadi pemenang di kemudian hari.

Kompetisi merupakan mekanisme untuk survive. Bertahan dari kepunahan. Hanya yang terpilih yang dapat terus melaju. Sedangkan di pojok sana terserakanlah yang tertumbangkan. Maka dikenallah kata pensiun, gantung sepatu. Secara alami, pensiun dan gantung sepatu merupakan sinyalemen dari berhenti dari roda kompetisi yang menuntut banyak. Perputaran kompetisi merupakan pressure dan pada akhirnya ada saat perpisahan.

Kompetisi juga yang menjelaskan berakhirnya era dari kegemilangan. Maka ada selera pasar. Suatu waktu tawaran komoditas dapat diburu, dipuja, dipuji. Lalu di lembar waktu yang lain, komoditas tersebut menjadi sepi. Sebut saja grup band yang menawarkan musikalitas. Produk musik dapat laris lalu surut seperti roda pedati yang menunjukkan limit bawahnya.

Kompetisi memang dapat menjadi begitu kejam. Nilai-nilai hitam dapat bermunculan demi menjaga eksistensi sebagai petarung di roda kompetisi. Ada suap misalnya yang menandakan bagaimana upaya di belakang meja untuk menang dalam perlombaan kompetisi. Kompetisi memang dapat menjadi panggung yang menyedihkan bagi kemanusiaan. Ada kepalsuan demi merebut simpati khalayak. Ada kebohongan publik. Ada perdagangan penderitaan.

Kompetisi itulah kiranya yang dapat menjelaskan tentang the invisible hand dari Adam Smith. Bagaimana ada tangan-tangan tak terlihat yang siap menggebuk mereka yang bersantai dan bermanja dengan waktu. Maka bergeraklah dengan ragam akar, dikarenakan jika tidak berputar, maka kompetisi akan mementalkan konstenstansi peserta alam raya. Kompetisi memang merupakan kata yang memuat ragam wajah. Dan kita adalah peserta abadinya. Entah dengan wajah apa yang akan digunakan dalam setiap kompetisi yang dihadapi.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Kompetisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s