Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Politik

Mitologi Politik

Darimana awalnya mitologi politik dapat bertahta di hati rakyat? Apakah itu merupakan hasil dari rekayasa intensif dan tekun dari pihak penguasa? Ataukah merupakan hilir dari ekspektasi rakyat terhadap munculnya pemimpin yang serba. Serba hebat, serba istimewa, serba solusi.

Secara singkat Firmanzah menarasikan mitologi politik sebagai berikut (Firmanzah, Mengelola Partai Politik, hlm.241-243):

Pemilih tradisional lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat mitos. Mitos yang dimaksud dalam kaitan ini adalah semua hal yang berkembang dalam masyarakat mengenai suatu atribut individu atau organisasi yang sebenarnya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Mitos berkembang secara sosial dan kebenarannya bisa dikatakan tidak dapat – atau sekurang-kurangnya sulit sekali – dibuktikan secara empiris. Berkembangnya mitos bisa dari melalui narasi dari mulut ke mulut atas suatu peristiwa, kejadian atau situasi yang melibatkan seseorang atau suatu kelompok masyarakat. Dari peristiwa tersebut dimunculkan narasi-narasi tentang aspek kepahlawanan (heroik) orang atau kelompok tertentu. Dalam mitos ini terkadang dikisahkan sesuatu yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia normal. Dari situ, sosok individu yang bersangkutan diyakini kelompok tertentu sebagai orang yang memiliki kekuatan superior dan ‘magis’ atau ‘metafisik’.

Mitos tumbuh berkembang karena digunakannya simbol-simbol yang menopang mitos tersebut. Simbol-simbol ini merupakan instrumen yang mutlak harus ada agar mitos bersangkutan bisa tetap terjaga. Adakalanya juga simbol-simbol itu malahan sengaja diciptakan agar mitos yang terkait tetap menjadi buah bibir dan dipercayai kebenarannya di dalam masyarakat. Sama sekali tidak membuat terperangah kalau mitos juga muncul atau direkayasa untuk ada dalam dunia politik. Dengan adanya mitos ini, masyarakat dibuat untuk melihat si individu memiliki sifat dan kemampuan yang melebihi manusia normal, sehingga menarik untuk dipilih. Misalnya, orang yang dituakan, kharismatik, dan dikultuskan merupakan manifestasi berlakunya mitos dan simbol di ranah politik. Dalam budaya Indonesia – terutama di kalangan masyarakat Jawa, sebagai suku mayoritas – mitos akan Satrio Piningit selalu hidup dan terus menjadi harapan bangsa ini. Padahal kriteria seseorang untuk bisa disebut sebagai Satrio Piningit tidaklah jelas. Masing-masing orang atau kelompok mendefinisikan Satrio Piningit dengan cara berbeda-beda, dan sulit sekali untuk dibuktikan kapan serta bagaimana ia akan datang menyelamatkan bumi Indonesia. Apakah ia akan diturunkan ke bumi dari langit ataukah melalui suatu proses pendidikan dan regenerasi dalam suatu organisasi. Akibatnya, banyak kandidat yang mengklaim dirinya sebagai Satrio Piningit. Mereka sadar, apabila masyarakat melihat bahwa mereka adalah Satrio Piningit, mereka akan mendapatkan dukungan yang luas dari masyarakat. Mengingat mitos Satrio Piningit terus hidup dalam perspektif masyarakat Indonesia, bisa dimengerti bila tokoh ini dijadikan basis legitimasi yang merupakan sumber kekuatan untuk menarik dukungan dari masyarakat luas.

Jika memakai terminologi awal yang saya paparkan bahwa mitologi politik dapat merupakan hasil dari upaya tekun dan intensif dari pihak penguasa. Mari kita turunkan dalam uji sampel di kancah politik. Eep Saefulloh Fatah menelaah bahwa terdapat rezimentasi dari kekuasaan Soeharto dalam lima fase (Eep Saefulloh Fatah, Membangun Oposisi, hlm. XVI-XVIII). Fase pertama adalah fase konsolidasi awal rezim (1967-1974). Dalam fase ini, Soeharto belum menjadi siapa-siapa, bahkan pada awalnya kurang diperhitungkan oleh banyak orang. Soeharto masih menjadi bagian dari kekuatan politik militer secara kolektif; belum menjadi kekuatan politik mandiri.

Fase kedua (1974-1978), dalam fase ini Soeharto menata kekuasaan Orde Baru untuk mempertinggi soliditas penguasaan militer atas Orde Baru sekaligus mulai membangun dirinya sebagai kekuatan politik mandiri. Fase ketiga (1978-1985), fase ini bisa disebut sebagai fase personalisasi dan sakralisasi kekuasaan Soeharto. Konfigurasi kekuasaan Orde Baru makin mengerucut ke dalam tangan pengendalian Soeharto; elemen-elemen kekuasaan Orde Baru lain praktis sudah berada di bawah penguasaan Soeharto secara hampir penuh.

Fase keempat (1985-1990), dalam fase ini format politik Orde Baru yang otonom (dalam arti “antipartisipasi publik”) dan sentralistis, bisa dikatakan “telah selesai pembentukannya”. Fase kelima (1990-1998), “Islamisasi”- dalam pengertian sekadar simbolik- ini memberikan basis legitimasi moral bagi Orde Baru tanpa mengubah karakter kekuasaannya sama sekali.

Kelima fase yang dijalani Orde Baru telah menghasilkan karakter operasi kekuasaan Orde Baru yang berpusat pada Soeharto. Salah satu karakternya yakni sakral. Kekuasaan menjadi sakral, tidak bisa tersentuh, tidak bisa salah atau disalahkan, steril dari dosa. Kekuasaan yang sakral bahkan telah diposisikan sedemikian rupa sehingga seolah-olah bukan fenomena kerja manusia biasa.

Uraian dari Eep Saefulloh Fatah tentang fase kekuasaan dan karakter operasi kekuasaan menunjukkan bagaimana untuk mencapai limit mitologi politik dibutuhkan waktu dan penguasaan yang kukuh terhadap berbagai lini berbangsa.

Dan tahukah Anda tentang bagaimana cara merawat dan menanamkan mitologi politik? Contoh otentik lainnya ialah apa yang terjadi di Korea Utara di masa pemerintahan Kim Jong-il. Sejak masa kanak, rakyat Korea dibentuk untuk memuja Kim. Sebuah studi yang dikutip The Christian Science Monitor menunjukkan besarnya dana untuk itu. Sementara pada 1990 biaya untuk pemujaan sang pemimpin meliputi 19 persen anggaran nasional, pada 2004 naik jadi 38,5 persen. Pada masa krisis, ketika alokasi buat pertahanan dan kesejahteraan rakyat diperkecil, dana untuk sekolah ideologi justru naik. Biaya itu meliputi perawatan 30.000 monumen Kim, festival olahraga, film, buku, billboard, mural, dan seterusnya.

Belum lagi buat pendidikan sekolah. Di sini, indoktrinasi untuk memuja sang Ketua sangat intensif: antara 304 dan 567 jam pelajaran. Para murid SD harus mempelajari sejarah masa kecil Kim Il-sung 152 jam dan Kim Jong-il juga demikian. Di Universitas Kim Il-sung di Pyongyang ada enam fakultas yang khusus mengajarkan riwayat dan pemikiran kedua Kim Bapak dan Kim Putra (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir Tempo Edisi 21 Juni 2010).

Pada koin sisi lainnya, rakyat kebanyakan juga gandrung pada mitologi. Di sini menunggu satrio piningit, di belahan barat sana menunggu Superman (hingga ada satu film pendidikan yang berjudul Waiting for ‘Superman’). Inilah kiranya yang membuat Herbert Feith dan Lance Castles memasukkan tradisionalisme Jawa sebagai bagian dari cleavage di Indonesia. Buah pikir dari konsep tradisionalisme Jawa dapat terlacak pada artikel R.M.S. Soeriokoesoemo tentang Hak Orang Bijaksana. Berikut saya kutipkan: Di sini sang ayah berkewajiban untuk mengatur negara, sementara si ibu atau isteri diberi tugas khusus untuk mengatur urusan ekonomi. Anak-anak mengerjakan pekerjaan mereka sesuai dengan perintah orang-tuanya. Ayah menjamin bahwa anak yang terkecil diberi pekerjaan yang paling mudah. Ayah dan ibu berembug bersama dengan bahagia tentang persoalan-persoalan mereka, dan anak-anak mengambil bagian dalam pembicaraan dan menikmati suasana yang penuh persaudaraan. Kalau keadaan sedang kalut, anak-anak akan cepat mengetahuinya dari air muka ibu yang muram serta keseriusan yang diperlihatkan oleh ayah. Lalu mereka mengambil sikap diam dan menunggu dengan sabar apa yang akan diperintahkan ayah untuk mereka lakukan. Tugas uang diberikan ayah kepada isteri dan anak-anaknya diterima dengan gembira; tak ada yang menggerutu. Apa yang dikatakan ayah adalah benar, sebab ayah adalah orang yang bijaksana!

Itulah gambaran ideal sebuah keluarga – dan juga sebuah negara. (Herbert Feith dan Lance Castles, Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, hlm.175)

Kebekuan daya kritis dan kesepahaman terhadap mitologi lainnya dapat terkonfirmasi dalam buah pikir Goenawan Mohamad berikut: Kita ogah – atau kita belum – menampilkan satu potret “antihero”, dalam sejarah kita. Pahlawan nasional bukanlah orang-orang lazim yang bisa dianalisa dengan pisau urai yang tajam. Bayangkan keributan yang terjadi jika seseorang berani menyajikan suatu risalah yang kritis tentang Bung Karno, atau Bung Hatta, Diponegoro, atau Pattimura. Mungkin itulah sebabnya kita terdiam (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm.47).

Arus atas dan arus bawah yang menyokong mitologi politik ini telah mengantarkan negeri ini pada penanggalan daya kritis dan daya sengat oposisi. Dan pemimpin yang telah menjadi simbol mitologi akan memiliki tendensi untuk despotik. Ia telah menjelma sebagai manusia istimewa, manusia super. Disitulah letak kekeliruannya. Karena pemimpin sejatinya amat mungkin salah dan keliru. Sedangkan pada rakyat, rasionalitas dan kalkulasi menjadi hilang dari orbit keputusan. Yang ada adalah kebekuan, kejumudan berpikir. Para pembeo yang mengulang ujaran para pemimpin yang telah dimitologikan. Alangkah butuhnya kita dengan pemimpin yang mafhum dan minta didudukung bila benar dan diluruskan bila salah. Pun begitu alangkah butuhnya kita dengan rakyat yang berdaya dan berani untuk menyatakan kebenaran di hadapan penguasa.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Mitologi Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s