Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Resensi Buku

Perang Troya

Memori itu seakan masih hangat di ingatan. Bahkan setelah berbilang lebih dari satu dekade. Memori itu adalah tentang buku Perang Troya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku Perang Troya tersebut merupakan terjemahan dari karya Iliade: La Guerra Di Troia. Adaptasi cerita dilakukan oleh Stelio Martelli, sedangkan ilustrasi oleh Libico Maraja. Buku Perang Troya ini mendapatkan tempat di hati saya sekurangnya dalam analisa saya karena dua hal. Pertama, karena ilustrasi gambarnya. Ketika membaca buku ini pertama kali, saya masih terbilang belia dan belum memperhatikan benar tentang keteraturan cerita, diksi yang memukau. Ilustrasi dalam buku tersebut melambungkan imajinasi saya pada era waktu lampau. Dimana para dewa begitu digdaya, tentang perang dan strateginya. Alasan kedua ialah film Perang Troya yang ditayangkan di TVRI (Helen of Troy). Film tersebut benar-benar menarik bagi saya. Terlebih dengan strategi kuda troya yang cerdik memasuki benteng pertahanan yang gagal ditembus oleh ragam gempuran.

Buku Perang Troya tersebut kembali saya temukan diantara tumpukan buku lama di Blok M Square. Adapun buku Perang Troya yang dulu saya baca di rumah, telah raib entah kemana. Tanpa pikir panjang, saya pun membeli dan membawa pulang memori buku Perang Troya tersebut. Lalu apa yang saya temukan ketika bersua dengan sejarah memori tersebut? Rupanya saya sudah tidak tertarik lagi pada buku tersebut. Alasannya ialah karena alur cerita dan diksi yang ternyata tidak istimewa. Rupanya di umur dua dekade lebih ini, saya telah memiliki komparasi pembanding mengenai karya yang memiliki cita rasa kualitas tinggi. Dan harus saya akui, baik dari segi penceritaan, diksi, buku Perang Troya ini benar-benar mengecewakan. Alasan lainnya ialah karena saya telah terpikat oleh film Troy (2004) gubahan dari sutradara Wolfgang Petersen. Ada disparitas yang teramat besar antara buku Perang Troya dengan film Troy. Baik dari segi pilihan kata, penceritaan, sudut pandang.

Alasan lainnya saya pikir ialah umur. Ketika dulu saya membaca buku Perang Troya ini (bahkan berkali-kali), imajinasi masa kecil tersebut cukup terpuaskan dengan ilustrasi, penceritaan sederhana, dan keterlibatan dewa dewi dalam perang Troya. Ketika saya menemukan kembali buku ini, patokan penilaian saya terhadap suatu karya telah berubah. Secara ilustrasi, telah banyak saya temui ilustrasi yang memukau dan complicated. Dari segi penceritaan, buku Perang Troya terasa dangkal. Dari segi keterlibatan dewa dewi malahan ini yang membuat cerita Perang Troya menjadi jauh dari heroisme manusia. Seolah manusia sekedar bidak-bidak lucu di bawah pertikaian para dewa.

Buku Perang Troya memberikan porsi yang besar pada turut campur tangannya para dewa. Contohnya ialah penyakit aneh yang tidak diketahui cara penyembuhannya (pertanda Dewa Apollo sedang marah); Thetis, ibu dari Achilles yang ternyata seorang dewi, kemudian terbang ke Olympus lalu memohon kepada Yupiter agar membantu membalaskan dendam kesedihan anaknya; para dewa dan dewi yang bersidang untuk membicarakan nasib kota Troya di gunung Olympus (Stelio Martelli, Perang Troya, hlm.3-12).

Keterlibatan para dewa dewi secara serampangan dalam buku Perang Troya seolah menafikan freewill dari manusia. Manusia yang berkehendak. Manusia yang berkeinginan. Manusia yang memutuskan. Menarik kiranya untuk menyimak pemikiran Augustinus bahwa mereka yang menyembah dewa-dewa dan menganut keyakinan Paganisme telah berulang kali mengalami kehancuran akibat dekadensi moralitas dan spiritualitas. Hubungan seks bebas tanpa pernikahan, pembunuhan biadab, pengkhianatan terhadap kawan atau keluarga yang terjadi sebelum datangnya Yesus telah menjadi sumber malapetaka bagi imperium Romawi. Dan, ternyata menurut Augustinus, dewa-dewa yang disembah dan diagungkan oleh rakyat Romawi tidak bisa menghalangi musibah itu (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm.76-77).

Fragmen yang berbeda didapati antara buku Perang Troya dengan film Troy. Pada edisi buku diterangkan:

Tiba-tiba terdengar teriakan, “Lihat! Lihat di angkasa!” Mereka semua mengarahkan pandangan ke angkasa. Seekor elang raksasa sedang terbang persis di atas medan tempur, sambil mencengkeram seekor ular besar. Ular tersebut belum mati, malah dengan mendesis dan menggeliat sekuat tenaga ia berusaha membebaskan diri. Dengan tenaganya yang masih tersisa ia mengangkat kepala dan menggigit dada elang itu. Burung raksasa itu memekik kesakitan, merenggangkan cengkeramannya, dan melepaskan korbannya. Ular itu jatuh ke tanah, dan merayap pergi. Menyaksikan hal itu, Polydamas, betapapun gagahnya ia, menjadi pucat pasi.

“Ular itu merupakan tanda dari para dewa, Hector,” katanya. “Kukira ini semacam isyarat buruk. Yupiter ingin memperingatkan bahwa kita akan sampai di perahu orang-orang Yunani, tetapi mereka akan memukul mundur kita…dengan telak!”

“Apa katamu, Polydamas?” teriak Hector. “Kaukira aku peduli pada elang dan ular itu? Bagiku yang penting bertempur, dan kita akan menang. Apakah kau takut bertempur…takut mati? Ingat, kalau kau berpikir untuk menarik diri, akulah orang yang akan membunuhmu! Maju terus! Serbu gerbang itu! Hai, orang-orang Troya, mari kita robohkan gerbang itu!” (Stelio Martelli, Perang Troya, hlm.37).

Sedangkan dalam film Troy, simbolisasi burung elang mencengkeram ular didefinisikan oleh pendeta dan lingkar dalam Raja Priam sebagai tanda untuk menyerang pasukan Yunani. Sebaliknya Hector justru berpikir rasional, berkalkulasi bahwa sebaiknya pasukan Troya tidak menyerang kamp pertahanan Yunani. Alasannya rasional, ia melihat pasukan Myrmidon di bawah pimpinan Achilles tidak ikut turun tempur dalam perang sebelumnya. Hal tersebut mengindikasikan sedang terjadi perpecahan di kubu Yunani. Dengan tidak menyerang, maka membiarkan kubu Yunani bertikai di internalnya dan digerogoti dari dalam.

Ada kesamaan memang dengan ketidakpedulian Hector pada elang dan ular tersebut, namun pilihan tindakan dan rasionalisasi yang ditempuh antara versi buku dan film dapat terlihat berbeda. Hasil akhir dari serangan pasukan Troya tersebut justru menjadi titik balik bagi pasukan Yunani. Kematian Patroclus di tangan Hector, mengembalikan Achilles ke medan laga. Achilles kemudian menantang Hector untuk berduel satu lawan satu. Saya pikir duel antara Achilles dan Hector dalam film Troy masih merupakan adu tarung terbaik yang pernah ada dalam sinema. Bagaimana primanya daya tempur antara Achilles (Brad Pitt) dengan Hector (Eric Bana).

Thomas Hobbes berpendapat: “Alam telah menjadikan manusia sama, dalam kemampuan tubuhnya dan akal (bahwa) yang paling lemah pun memiliki cukup kekuatan untuk membunuh yang paling kuat, baik dengan senjata rahasia, atau bersekutu dengan yang lainnya.”

Hobbes mencontohkan bahwa sekuat apa pun fisik manusia, ia tetap harus tidur. Tidur adalah tuntutan alamiah bagi fisik manusia. Maka ketika sedang tidur, orang yang paling kuat dapat di(ter) bunuh tanpa perlawanan. (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm.172)

Dalam buku Perang Troya dinarasikan: Troya memang harus dirobohkan melalui taktik tipuan. Kota itu runtuh ketika orang-orang Yunani, atas nasihat Odysseus, pura-pura menghentikan peperangan dan meninggalkan patung kuda besar dari kayu di pantai bekas kubu mereka. Di dalam patung kuda itu- yang dikira orang Troya persembahan kepada para dewa- bersembunyi beberapa serdadu Yunani yang paling gagah berani.

Dalam ketenangan malam, mereka keluar dari persembunyian, dan saat itu Troya tak dapat diselamatkan lagi. Gerbang-gerbang kota dibuka dan pasukan Yunani lain yang berlayar kembali ke pantai pada malam itu berbaris menuju kota, tanpa dapat dibendung. Pembantaian dan kobaran api menandai akhir kota Troya. Hampir semua serdadu yang mempertahankannya terbunuh. Putra Hector yang masih bayi pun terbunuh, demikian juga raja tua, Priamus. Tetapi ingatan terhadap mereka tak terhapus, sebagaimana ingatan terhadap para pemenang dalam pertempuran itu (Stelio Martelli, Perang Troya, hlm.74).

Senjata rahasia, tipu daya, kelengahan ternyata dapat menjadi konklusi dari pertempuran yang telah memakan waktu bertahun-tahun di Troya. Kisah perang Troya menjadi klasik, ever green dikarenakan kekuatan ceritanya dan kemampuan memintal imajinasi dan daya pikir manusia. Selepas epik kisah Troya ini menggariskan sebuah tanya yang diujarkan dalam opening film Troy sebagai And so we ask ourselves: will our actions echo across the centuries? Kenang, kenanglah kami, seperti tutur sajak Chairil Anwar. Dan pertanyaan agungnya ialah layakkah kita untuk dikenang?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s