Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Resensi Buku

Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief

Relasi antara buku dan film biasanya menghadirkan kekecewaan personal bagi saya. Umumnya saya terlebih dahulu membaca bukunya, lalu menemukan kegulanaan karena gagal tertransformasi dengan apik dalam film. Ada sebuah lelucon di Amerika yang bunyinya sebagai berikut, “Bacalah buku ini sebelum dirusak oleh Hollywood!” Lelucon tersebut teruji dan saya setuju pada beberapa sampel kasus. Ketertarikan saya dengan serial Percy Jackson sendiri diawali dengan menonton film bioskopnya. Film Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief (2010) yang dibintangi oleh Logan Lerman, Alexandra Daddario, Sean Bean, Pierce Brosnan sebenarnya dalam verdict saya hanya berada pada kisaran lumayan. Namun saya percaya bahan baku cerita dari film tersebutlah yang menarik.

Maka tak lama setelah menonton film besutan sutradara Chris Columbus tersebut, saya mencari edisi novel Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief. Buku Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief sendiri mendapatkan sejumlah penghargaan seperti A BookSense National Children’s Series Bestseller, A BookSense Top Ten Summer Pick for 2006, A Best Fantasy Sequel of 2006, Kirkus Reviews.

Sinopsis dari seri pertama buku Percy Jackson tersebut berbunyi: Percy Jackson- dua belas tahun, penderita disleksia-hampir dikeluarkan dari sekolah asramanya…lagi. Tetapi, itu hanya sedikit saja dari sekian masalah yang menantinya. Monster-monster dan dewa-dewi dari Gunung Olympus tampaknya berebutan keluar langsung dari buku pelajaran Sejarah Yunani milik Percy. Lebih parah lagi, Percy telah membuat beberapa di antara mereka marah besar. Petir asali milik Dewa Zeus telah hilang dicuri, dan Percy adalah tersangka utamanya.

Kini Percy dan dua orang kawannya hanya punya waktu sepuluh hari untuk mencari dan mengembalikan benda keramat tersebut, serta mendamaikan kembali perang yang hampir pecah di Gunung Olympus. Tetapi, tantangannya jauh lebih berat dari itu, Percy akhirnya harus berhadapan dengan kekuatan mengerikan yang bahkan lebih hebat dibandingkan para dewa sendiri.

Dalam edisi bukunya terdapat sejumlah penjelasan, pendalaman, dan tentu saja lebih komplet dibandingkan edisi filmnya yang berdurasi 118 menit. Jikalau ada distingsi yang paling mengganggu yakni dengan tidak disentuhnya Kronos yang terpenjara di Tartarus. Kronos sendiri mendapatkan penjelasan di versi buku sebagai berikut (Rick Riordan, Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief, hlm. 417): “Dalam Perang Pertama, Percy, Zeus memotong-motong ayah kami, Kronos, menjadi seribu keping, sebagaimana yang dilakukan Kronos sendiri kepada ayahnya sendiri, Ouranos. Zeus membuang jenazah Kronos ke dalam lubang tergelap yang bernama Tartarus. Pasukan Titan tercerai-berai, benteng gunung mereka di Etna hancur, sekutu monster mereka terusir ke sudut-sudut pelosok bumi. Namun, bangsa Titan tak bisa mati, sama seperti kami para dewa. Apa pun yang tersisa dari Kronos tetap hidup dalam cara yang mengerikan, masih sadar dalam nyeri abadinya, masih haus kekuasaan.”

“Dari waktu ke waktu, selama sekian abad, Kronos bergerak. Dia memasuki mimpi buruk manusia dan mengembuskan pikiran jahat. Dia membangkitkan monster-monster gelisah dari kedalaman.”

Dalam versi filmnya The Lighning Thief disajikan dengan alur yang sederhana. Percy Jackson yang awalnya merupakan siswa disleksia yang kerap berpindah-pindah sekolah akhirnya menemukan realita bahwa dia sesungguhnya merupakan blasteran. Ayahnya adalah dewa Poseidon sedangkan ibunya manusia biasa. Percy lalu menempuh pendidikan di perkemahan blasteran. Di perkemahan inilah dia menemukan sahabat dan petualangannya. Dunia tidak pernah sama lagi bagi Percy Jackson setelah dia mengetahui siapa dirinya sesungguhnya dan mitologi para dewa yang ternyata nyata.

Percy Jackson dikisahkan kabur dari perkemahan blasteran untuk mencari ibunya yang ternyata masih selamat. Tak ada opsi lain bagi Percy selain mencari petir asali milik Dewa Zeus yang hilang dicuri. Dalam petualangannya Percy (Logan Lerman) dibantu oleh Annabeth (Alexandra Daddario) dan Grover (Brandon T.Jackson). Annabeth sendiri merupakan anak dari Dewi Athena. Sedangkan Grover merupakan satyr yang digambarkan sebagai sosok humoris.

Percy Jackson cs harus menghadapi Medusa yang mampu membuat siapapun yang melihat matanya menjadi patung. Medusa akhirnya mampu dikalahkan dengan menggunakan pantulan bayangan dari ponsel, sehingga Percy dapat menebas kepala Medusa dengan Riptide. Titik pertarungan berikutnya ialah menghadapi Hydra. Percy Jackson menggunakan sepatu terbang milik Hermes untuk mengambil mutiara. Hydra dikalahkan dengan menjadikannya batu dengan menggunakan kepala Medusa. Hydra tentu saja lawan yang tangguh karena setiap kepalanya ditebas, makhluk ini akan menduplikasi kepalanya dua kali lebih banyak.

Titik pertarungan berikutnya ialah ketika rombongan muda ini pergi ke Las Vegas. Keterlenaan dan delusi, rupanya mendistraksi mereka dari tugas utama mereka. Akhirnya mereka sadar dan berhenti memakan bunga lotus yang mengacaukan persepsi tujuan. Setelah mutiara lengkap terpenuhi dari titik-titik pertarungan tersebut, mereka pergi ke Hollywood Hills. Ternyata di bukit Hollywood Hills terdapat pintu masuk menuju under world. Di istana Hades mereka menemukan jawaban tentang teka teki dan siapa sesungguhnya pencuri petir asali milik Dewa Zeus.

Salah satu keunggulan dan magnet pikat dari serial Percy Jackson menurut hemat saya ialah tampilannya yang pop. Dunia mitologi Yunani yang terkesan jadul, old school, berat, mampu dihidangkan dengan tampilan kekinian, kekitaan, dan ringan. Dengan pilihan tersebut, maka Percy Jackson mampu merengguk ceruk pasar kaum muda. Tentu saja pilihan menampilkan mitologi dalam bentuk pop akan mengalami sejumlah resistensi. Teman saya dalam sebuah diskusi mengatakan bahwa Percy Jackson merupakan produk yang gagal. Teman saya sendiri merupakan penggemar kelas berat mitologi. Namun itulah konsekuensi dari sebuah karya, sebaik apapun karya, selalu ada nada minor yang menghampiri.

Saya sendiri memandang kisah Percy Jackson berhasil untuk menyegarkan kembali mitologi Yunani dan menggaet pangsa pasar muda. Dalam edisi filmnya, Percy Jackson yang diperankan oleh Logan Lerman tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Logan Lerman yang bertampang cakep, innocent, dapat menjadi raison d’etre untuk membeli karcis di bioskop. Dengan tampilan yang pop juga menjadikan mitologi yang memiliki kedalaman kisah, keberbelitan, dan percabangan menjadi lebih mudah untuk dimengerti. Dengan tampilan yang ringan, maka ide tempur antara Titans vs Dewa, makhluk-makhluk dalam dunia mitologi (Hydra, anjing Cerberus, Minotaur), tokoh-tokoh unik seperti Satyr, Chiron, mampu dihadirkan dalam format kekinian dan adaptif dengan perkembangan zaman.

Tentu saja untuk mereka yang lebih ingin mendalami mitologi, dapat mencari literatur secara lebih mendalam dan intens. Kehadiran serial Percy Jackson seperti menjadi gerbang memasuki dunia mitologi Yunani. Rick Riordan sang sahibul hikayat mampu untuk menyajikan paparan yang mengalir dan mudah dipahami. Ini tidak saja mematahkan mitos bahwa mitologi itu selalu rumit dan membuat kening berkerut, tetapi juga potensial menggairahkan minat berbagai kalangan yang lama hilang pada mitologi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s