Posted in Essai, Sosial Budaya

Berbahagialah Mereka yang Kalah

Berikan selamat kepada pemenang. Antologi sanjungan dimana-mana. Kalungan medali, bonus, jepretan blitz lampu kamera. Para pemenang adalah simbol keberhasilan. Merekalah yang dikenang di buku catatan sejarah. Kisah-kisah mereka disulam dalam rangkaian tutur. Jadilah pemenang, begitulah wejangan dimana-mana. Rangkaian teori pun menguatkan tentang para pemenang. Survival of the fittest, survival of the fastest, mereka yang mampu mengatasi segala badai rintangan.

Sementara di pojok sunyi sana, ada deretan mereka yang terkalahkan. Nasib? Takdir? Tidak beruntung? Kurang kompetensi? Entahlah, banyak kiranya variabel yang menyebabkan mereka ada di domain kekalahan. Yang kalah untuk kemudian terlupa. Terlepas dari segala lampu sorot. Jangan harapkan ada confetti dan hamparan karpet merah. Kalah berarti terlupa. Kalah berarti lemah. Kalah berarti mendekati kemusnahan. Maka mereka yang kalah, berupaya untuk menjadi pemenang. Berusaha merogoh segala kemasyhuran yang selama ini memenuhi ruang tampung imajinasi.

Lingkungan sosial turut memberikan makna bagi arti kekalahan dan kemenangan. Lalu bagaimana kiranya jika lingkungan sosial keliru terka. Keliru menjatuhkan keputusan. Keliru memutuskan. Yang kalah semestinya tidak ditempatkan sebagai si pesakitan yang tersungkur. Jangan-jangan segala persepsi terhadap mereka yang kalah merupakan akumulasi sikap kecewa dari individu-individu yang tergabung dalam masyarakat dimana kumpulan manusia tersebut adalah orang-orang yang kalah secara total. Kalah secara total ialah mereka yang kalah dalam persaingan di tiap sesi dan juga senantiasa ajeg berpikir kalah.

Berapa banyaknya orang-orang kalah total ini di lingkar yang kita kenal. Mungkin itu adalah orang-orang terdekat yang mentransformasikan gulana kekalahannya kepada Anda. Segala kekalahan lalu dilekatkan pada kekecewaan kegagalan mereka. Dan Anda bisa dijadikan sebagai pion refleksi dari kegagalan orang lingkar terdekat. Misalnya si bapak yang gagal menempuh pekerjaan tertentu lalu memplot anaknya sejak kecil untuk menempuh pekerjaan dimana dirinya dulu gagal. Kekalahan yang ditanggungkan kepada orang lain untuk memenangkannya.

Kalah semestinya disikapi dengan lebih arif. Kekalahan bahkan diperlukan untuk menjaga alur kerja on the right track. Tanpa adanya kekalahan, Anda tidak akan merasakan kepahitan, kekecewaan. Kekalahan perlu sebagai pembelajaran. Bahwasanya ada celah-celah yang masih terdapat sehingga belum menggapai juara. Kalah, paling tidak telah mencoba untuk ambil bagian dalam kompetisi. Ikut ambil bagian dalam kompetisi lalu kalah. Ada upaya untuk mencoba, dibanding berdiri di luar garis pertempuran.

Kalah semestinya lebih diapresiasi. Karena sejatinya kalah dan menang silih berganti dalam kehidupan manusia. Memuja kemenangan secara berlebih, dan memerosokkan kekalahan dapat menyebabkan persepsi pikir yang salah. Berbahagialah mereka yang kalah. Yang telah mencicipi kerasnya persaingan. Yang belur, menangis, kecewa, tak terungkap dengan kombinasi 26 huruf.

Berbahagialah mereka yang kalah. Karena ada persepsi dan penempatan pikir untuk memandang kalah atau menang. Pemenang di puncak trofi juga mengalami sikuensial kekalahan. Kalah hanya benar-benar kalah ketika telah berlepas dari pertarungan. Menjadi fatalis, kehilangan daya semangat untuk bersaing, menjalani ritme kehidupan mereka yang kalah. Semoga kekalahan tak perlu lagi disikapi dengan nuansa kekelaman dan kesedihan yang mendalam lagi. Yang kalah dan bersinar.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s