Posted in Essai, Sosial Budaya

Orbit

Kita berputar pada orbit masing-masing. Sadarkah? Bagaimana menjalani hari demi hari dalam orbit personalnya. Senin-Jum’at, Sabtu-Ahad. Waktu untuk kemudian didefinisikan sebagai pecahan dalam orbit. Ketika dulu sekolah, orbitnya adalah dunia sekolah. Maka ada frasa pekerjaan rumah (pr), ujian, sahabat, cinta. Orbit tersebut berpengaruh pada lingkup pemikiran. Cobalah tengok rangkaian kata yang berceloteh dari anak sekolah. Saya percaya frasa yang diungkap di atas akan menemukan relevansinya. Itu berarti dari orbit akan memiliki keterkaitan dengan pola pikir.

Orbit ketika di dunia kerja tentu berbeda kiranya dengan ketika duduk di bangku sekolah. Ada jam kerja 9-5, tekanan produktivitas, uang, kebutuhan rupa-rupa. Maka pola pikirnya pun berbeda. Berada dalam orbit yang terus menerus dan ajek dilakukan menurut hemat saya lama kelamaan dapat menjadikan beku dan kaku. Seperti mesin yang bernafas. Lama-lama membosankan, lama-lama nir kreatifitas. Itulah kiranya yang menyebabkan banyak kantor di belahan dunia yang semakin friendly dengan permainan dan menempatkan kantor sebagai ruang yang nyaman. Kantor yang tidak kaku dengan partisi-partisi. Tentunya diharapkan produktivitas akan menyala dan meletup-letup.

Pada hari Kamis 3 Mei 2012, saya mencoba untuk memecah lingkar orbit keseharian. Sebagai manusia kantoran yang masuk dari Senin-Jum’at, rupa-rupanya saya berada pada limit jenuh. Saya mencoba untuk sejenak beralih dari orbit yang senantiasa dijalani. Saya berangkat di hari Kamis tersebut menuju Bandung. Ada acara Gen-Day di kampus ITB yang mengangkat dunia games dari pengembang studio Indonesia. Keputusan saya pergi ke Bandung tersebut menyadarkan saya tentang siklus orbit ini. Bagaimana manusia benar-benar berputar dalam garis edarnya masing-masing.

Saya berangkat sejak pagi naik bus way ke terminal Lebak Bulus. Sementara orang-orang dengan busana kantoran menuju tempat kerjanya, saya berada pada tujuan yang berbeda menuju Bandung. Saya amati betul gesture mereka. Bagaimana tarikan keseharian dapat menjadi beban yang tak terkatakan. Ada yang masih dalam kantuk di bangku penumpang, ada yang mendengarkan musik mencoba menyemangati diri, ada yang menatap mengawang-awang. Bagaimana saya merasa beruntung. Sekali ini keluar dari orbit keseharian pekerjaan. Saya dapat berada di luar garis. Mengamati.

Hidup ternyata memiliki alternatif lain. Seperti yang saya tempuh pada Kamis 3 Mei 2012 tersebut. Inilah kiranya yang mungkin kurang disadari oleh banyak orang. Belenggu. Yang sekolah terbelenggu, yang bekerja terbelenggu. Dan pada beberapa bagian belenggu itu menjadi alasan akan segala dalih prestasi dan cita-cita yang tidak teraih. Sekali-kali saran saya, beralihlah dari orbit keseharian. Lakukan lompatan perubahan. Rasakan alternatif lainnya. Dan Anda akan menemukan sisi lain yang berbeda dari hidup. Hidup semestinya benar-benar hidup. Dan itu hanya dapat terjadi ketika ada gairah dalam menjalaninya. Ada “api” dalam mengarungi sesi waktu. Tanpa itu adalah waktu yang terasa hambar dan belenggu yang mengikat dan menguat.

Keluar sejenak dari orbit membuat diri dapat melihat realitas yang terlewatkan. Menjadikan diri sebagai pengamat yang lebih handal. Berapa seringnya kontemplasi dilakukan dalam kehidupan. Ataukah sekedar menjalani bentangan jam, tanpa benar-benar pernah memikirkan makna? Orbit yang berbeda akan menjadi detoksifikasi dari kebosanan, kejemuan, kejumudan. Biarkan kreatifitas menemukan ejawantahnya. Orbit yang berbeda memungkinkan diri untuk bertemu dengan orang-orang baru. Membuka koridor-koridor persahabatan dan kemungkinan.

Kelebihan dari manusia adalah memiliki free will. Setiap hari ada 24 jam yang terbentang. Saya percaya ada “orbit tradisional” yang telah menjadi habbit. Saran saya lakukanlah lompatan perpindahan sekali-kali dari “orbit tradisional” itu. Jangan terlalu kaku, kolot, dan tidak terbuka. Berilah kesempatan pada alternatif lainnya. Maka hidup pun akan lebih kaya dan berwarna.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s