Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Bima, Hanoman dan Tokoh Bangsa

Soekarno dan HOS Tjokroaminoto merupakan tokoh yang memiliki kegemaran terhadap wayang. Begitu gemarnya sehingga mereka melekatkan diri dengan tokoh yang mengisi panggung wayang. Soekarno merupakan pengagum Bima. Sedangkan HOS Tjokroaminoto pernah memerankan Hanoman dalam pertunjukan. Bagaimana kiranya nilai wayang membentuk corak berpikir dan berperilaku mereka? Hal tersebut tak dapat dilepaskan dari proses sosialisasi yang dialami oleh kedua tokoh pergerakan nasional ini.

Arti pentingnya proses sosialisasi dalam membentuk watak pemikiran seseorang adalah karena proses ini merupakan sarana transformasi manusia menjadi makhluk sosial (Don Martindale, Institution, Organization and Mass Society, hlm. 401). Jadi sosialisasi politik menunjuk pada proses pembentukan sikap-sikap politik dan pola tingkah laku.

Dari segi dimensi waktu, sosialisasi itu bermula semenjak seseorang lahir hingga meninggal dunia. “Ia merupakan proses sepanjang hidup seseorang” (Gertrude Jaeger, Socialization, hlm. 86). Sikap-sikap yang dibentuk selama masa kanak-kanak selalu disesuaikan atau diperkuat sementara ia menjalani berbagai pengalaman keagamaan, sosial, politik, dan intelektual. Pengaruh keluarga dalam masa kanak-kanak, misalnya mungkin menciptakan gambaran yang bagus, tetapi pendidikan sekolah, pekerjaan atau pengaruh pengalaman pribadi yang unik mungkin saja mengubah pandangan tersebut secara dramatis. Selain itu, ada kemungkinan bahwa pengaruh figur tertentu yang dikagumi akan dapat membentuk corak pemikiran atau kepribadian seseorang, terutama saat ia menjalani usia pembentukan kepribadian.

Soekarno

Kakek Soekarno, sebagaimana ayahnya, adalah seorang Jawa fanatik terhadap wayang. Terhadap cucunya itu, ia berusaha mewariskan kecintaannya pada mitologi klasik Jawa itu. Di saat tinggal bersama kakeknya ini, Soekarno kecil seringkali diperkenankan menonton pagelaran wayang yang berlangsung sejak senja hari sampai menjelang pagi.

Saat itu pula, Karno, nama kecil Soekarno, mulai menginternalisasikan cerita-cerita wayang ke dalam dirinya. Ia mulai menjadi pecinta wayang yang fanatik, dan mengagumi falsafah-falsafah ceritanya. Di antara cerita-cerita wayang tersebut, kisah perang Mahabarata dan Ratu Adil merupakan kisah-kisah yang paling memukau Soekarno.

Dalam kisah Mahabarata, Bima, tokoh wayang yang dikagumi Soekarno, berperan sebagai pejuang sejati membela Pandawa. Bima dilukiskan pejuang suci, pemberani, tidak kenal kompromi dengan lawan-lawannya, tetapi selalu siap bermufakat dengan mereka yang segolongan dengannya. Dalam diri Bima tercermin watak pejuang militan (crusader) dan tokoh sinkritis. Dalam diri tokoh Pandawa ini Soekarno mengidentifikasi ketokohan dirinya (Ahmad Suhelmi, Soekarno Versus Natsir, hlm. 10).

Dalam kajiannya mengenai proses sosialisasi politik Soekarno, Bernhard Dahm mencoba membuktikan bahwa perjuangan Bharatayudha ini telah memberikan nilai-nilai perjuangan kepada Soekarno di masa kanak-kanaknya sebelum ia terjun ke gelanggang politik di kemudian hari. Keinginan Soekarno berjuang demi kemerdekaan Indonesia lepas dari penjajahan asing, merupakan pencerminan dari nilai-nilai wayang yang diserapnya di masa anak-anak, saat ia menonton pertunjukan wayang semalam suntuk. Figur Bima telah memberikan pengaruh mistis pada Soekarno lebih dari figur-figur wayang lainnya. Oleh karena itu menurut Dahm, “tidak ada jalan lain yang lebih baik untuk memahami Soekarno kecuali melalui Bima,” tokoh wayang yang dikaguminya itu (Bernard Dahm, Soekarno and The Struggle for Indonesia Independence, hlm. 25). Pemikiran Soekarno serta tindakan-tindakan politiknya yang tidak kenal kompromi terhadap kolonialisme dan imperialisme tetapi selalu berusaha melakukan kompromi terhadap mereka yang segolongan dengannya merupakan pengaruh figur Bima terhadap dirinya (John D.Legge, Sukarno: Sebuah Biografi Politik, hlm. 34).

HOS Tjokroaminoto

Haji Oemar Said Tjokroaminoto memiliki andil menempa para tokoh pergerakan nasional. Dialah guru politik serta induk semang Presiden Soekarno serta tokoh pergerakan lain yang saling bersimpang jalan, seperti Semaoen, Musso, Alimin, dan Kartosoewirjo.

Di tangan Tjokro, Sarekat Islam berubah dari organisasi saudagar batik pribumi menjadi gerakan politik yang besar dan kuat. Pidato dan tulisannya menginspirasi puluhan ribu orang dan menumbuhkan semangat kebangsaan. Rakyat jelata menganggapnya “Ratu Adil”, sementara Pemerintah Belanda menjulukinya “Raja Tanpa Mahkota”.

Oleh umatnya, Tjokro dianggap juru selamat. Dalam ramalan Jayabaya, ratu adil bergelar Prabu Heru Tjokro-nama yang mirip Tjokroaminoto. Di puncak popularitasnya Tjokroaminoto kerap dipanggil Heru-Tjokro. Selain kemiripan nama, para pengikut Sarekat Islam mengaitkan ramalan Jayabaya dengan letusan Gunung Krakatau yang bertepatan dengan kelahiran Tjokroaminoto pada 1882. Bencana alam menurut Jayabaya menjadi pertanda hadirnya seorang mesiah (Tempo, Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa, hlm. 74).

Yang menarik, di tengah kultus individu tersebut, HOS Tjokroaminoto mencoba menetralisir paham dirinya sebagai jelmaan Ratu Adil. Dalam kongres Sarekat Islam di Bandung 1916, Tjokroaminoto berpidato yang intinya menolak dianggap ratu adil. “Walaupun hati kita penuh dengan harapan dan hasrat yang agung, kita tidak boleh bermimpi akan datangnya seorang ratu adil atau keadaan-keadaan lain yang mustahil.”

Adapun sosialisasi politik yang dialami oleh HOS Tjokroaminoto tak dapat dilepaskan dari nilai-nilai budaya Jawa. Tjokro pandai menabuh gamelan. Sejak kecil ia menyukai tari Jawa-kesenian wajib di sekolah pegawai negeri pribumi Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Tjokro juga sangat tertarik pada wayang. “Dalam hal pidato, bisa jadi belajar dari wayang,” kata Muhammad Basyir, cucu Tjokroaminoto (Tempo, Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa, hlm. 71).

Harsono, anak Tjokroaminoto, dalam Mengikuti Jejak Perjuangan Sang Ayah, menyebut ayahnya pernah berperan sebagai Hanoman. Kera putih itu adalah lambang keberanian.

Keberanian Hanoman dipraktekkan Tjokroaminoto di pengadilan. Ketika itu, dalam sebuah sidang, hakim Belanda bertanya: “Apakah Tuan Tjokro tahu berhadapan dengan siapa?” Hakim itu menukas lagi, “Tuan sedang berhadapan dengan Ketua Pengadilan Tinggi Belanda.” Tjokro menjawab tenang. “Tahukah Tuan sekarang duduk di hadapan siapa? Ketua Sentral Sarekat Islam seluruh Indonesia.”

Pujangga Jerman, Schiller pernah berkata, Eine grosse Epoche has hat das Jahrhundert geboren. Aber der grosse Moment findet ein kleines Geslecht (Sebuah zaman besar dalam abad ini telah lahir. Tetapi masa besar ini menemukan jiwa yang kerdil) (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, hlm. XLII). Mungkin kiranya dalam lanskap politik kontemporer ada gulana, kegundahan, ketidakpercayaan terhadap tingkah dari para politisi yang mengisi lapisan kekuasaan sekarang. Semoga rangkaian hikmah dari Soekarno dengan tokoh Bima dan HOS Tjokroaminoto dengan tokoh Hanoman bukan sekedar romantisme terhadap masa lalu. Semoga tidak terjebak pada glorifikasi- bahwa masa silam merupakan era gilang-gemilang-dinamis, romantis, penuh pesona-dan masa kini adalah dekade yang suram. Jikalau orang lain menurut penilaian memperlihatkan jiwa yang kerdil, paling tidak kita berupaya betul agar menjadi jiwa ksatria dan jiwa yang besar di abad ini. Semoga impian tersebut tidak utopis.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s