Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Wayang

Berselang berapa tahun telah berlalu ketika saya untuk pertama kalinya menonton langsung pagelaran wayang. Ketika itu pagelaran wayang dilakukan di Taman Fatahillah daerah kota tua Jakarta. Saya menyesapi betul pengalaman impresif itu. Mulai dari tingkah penontonnya yang mengepulkan asap rokok, memesan kopi banyak-banyak, melonjorkan kaki, hingga pertunjukan wayang yang mampu melambungkan daya imajinasi dan nalar. Bagaimana seorang dalang begitu piawai untuk memerankan begitu banyak karakter dan suara. Bagaimana iringan musik berirama yang mengalunkan ketenangan sekaligus gelora.

Apa kiranya definisi dari wayang? Wayang adalah “semacam pertunjukan bayangan” yang dimainkan oleh para dalang. Dalam masyarakat Jawa tradisionil, pertunjukan wayang bukan sekedar sebagai suatu pertunjukan hiburan, melainkan juga dianggap sebagai suatu bagian dari kegiatan keagamaan orang-orang Jawa (Sri Mulyono, Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang, hlm. 44). Di antara cerita-cerita wayang, dapatlah dikatakan kisah perang Mahabrata dan Ratu Adil merupakan narasi yang paling banyak dipertontonkan.

Kisah perang Mahabarata melukiskan suatu perjuangan heroik antara kelompok Pandawa dan Kurawa, yang dikenal sebagai perang Bharata Yudha. Perang ini terjadi karena Kurawa telah merebut kerajaan Ngastina yang sebenarnya milik Pandawa dengan cara-cara keji (Ahmad Suhelmi, Soekarno Versus Natsir, hlm.10).

Wayang banyak dipertunjukkan di dalam perayaan sosial atau keluarga, seperti memperingati tujuh bulan kehamilan, lima hari sehabis melahirkan, khitanan, dan perayaan serta upacara pengantin. Wayang juga dipertunjukkan dalam konteks upacara agama dan spiritual, seperti ruwatan, nadaran, kematian, ngunjung, sedekah bumi, dan bersih desa. Wayang juga dipertunjukkan di dalam perayaan-perayaan sekuler yang diselenggarakan oleh kantor pemerintah, untuk memperingati hari kemerdekaan RI, pembukaan atau penutupan konferensi, pembangunan pasar, sekolah, jembatan, penyuluhan KB, dan kampanye pemilihan umum (Tim Kompas, 1000 Tahun Nusantara, hlm. 357).

Wayang memiliki fungsi sebagai sarana upacara dan hiburan. Pada awal kemerdekaan, wayang baru dicipta sebagai alat promosi berbagai pihak. Ada wayang suluh yang mengisahkan masa-masa revolusi dan perjuangan kemerdekaan, wayang wahyu yang bercerita tentang Yesus, wayang kancil tentang dongeng binatang, wayang Diponegoro untuk mempopulerkan pahlawan Diponegoro, dan sebagainya. Ketika Golkar berkuasa, lagi-lagi wayang dikooptasi. Sejumlah pakar dan seniman dari perguruan tinggi seni menuliskan lakon Waringin Kencono atau Beringin Emas, misalnya (Tim Kompas, 1000 Tahun Nusantara, hlm. 358-359).

Jika Anda berkunjung ke Museum Wayang yang terletak di sisi barat lapangan Fatahillah, maka akan Anda dapati tidak kurang dari 4000 koleksi wayang juga boneka dari Indonesia dan luar negeri seperti: Tiongkok, Kamboja, Eropa, Thailand, Suriname, Vietnam, India dan Kolombia. Di Museum Wayang akan didapati penjelasan mengenai asal wayang, cerita wayang, filosofi di balik wayang, bahan pembuatan wayang, dan sebagainya. Pengetahuan yang kiranya akan memperkaya khazanah wawasan.

Cerita wayang memiliki alur besar yakni:1. Membahas kondisi masyarakat, siapa saja yang bertugas dalam lingkup negara, 2. Negara gagal, terjadilah visualisasi keadaan buruk, pihak yang benar mengalami kekalahan, 3. Pihak yang benar (protagonis) meminta wejangan dan timbang saran dari para guru kehidupan, ataupun ulama, 4. Perang sesungguhnya dimana pelakon kebenaran menang, menyelesaikan masalah, dan menjadi solusi. Dari alur cerita tersebut, dapat diambil intisari bahwa setiap masalah itu selalu ada solusinya sepanjang masih mengacu, menimbang saran pada kearifan, pengalaman, nasihat dari ulama. Pihak yang benar juga tidak serta merta menang dalam setiap kesempatan. Sepanjang menetapi nasihat atau cara-cara dari guru kehidupan ataupun ulama maka yang benar akan menang, yang salah akan kalah (Zainal Arifin, Sang Penjaga Moral: 70 Tahun Perjalanan dan Pemikiran Seorang Irsyad Sudiro, hlm. 33).

Dalam pagelaran wayang terdapat sejumlah karakter dengan nilai-nilai yang diusungnya. Contohnya adalah Bima yang memiliki tipikal lugas, tegas, dan apa adanya. Karakter Bima dalam aktualisasi kata menggunakan bahasa Jawa Ngoko. Aktualisasi kata tersebut diantaranya dengan berbicara dengan para dewa menggunakan kata Aku, Gua, Moh, yang menunjukkan dimensi independen dari Bima.

Tokoh Bima merupakan karakter favorit dari Soekarno. Maka tak mengherankan jika Soekarno memiliki nama samaran Bima ketika menuliskan artikel di media. Soekarno, yang aktif menulis di Oetoesan Hindia. Dengan nama samaran Bima, ia menulis tak kurang dari 500 artikel. Banyak dari tulisannya dimuat di halaman tajuk rencana. Topiknya seputar realitas rakyat terjajah dan kerakusan pemerintah Hindia Belanda. Tulisan-tulisan itu bikin geger dan jadi bahan perbincangan (Tim Tempo, Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa, hlm. 66-67). Mengutip pendapat Dahm, “tidak ada jalan lain yang lebih baik untuk memahami Soekarno kecuali melalui Bima, tokoh wayang yang dikaguminya itu (Bernhard Dahm, Soekarno and The Struggle for Indonesia Independence, hlm. 25). Pemikiran Soekarno serta tindakan-tindakan politiknya yang tidak kenal kompromi terhadap Kolonialisme dan Imperialisme tetapi selalu berusaha melakukan kompromi terhadap mereka yang segolongan dengannya merupakan pengaruh figur Bima terhadap dirinya (John D.Legge, Sukarno: Sebuah Biografi Politik, hlm. 34).

Karakter menarik lainnya ialah Semar. Semar sendiri menjelma menjadi manusia meski asalnya merupakan dewa. Semar mendapatkan tugas untuk melatih para ksatria untuk menghadapi pertarungan besar mereka. Sedangkan sosok Gareng dan Petruk merupakan cerminan dari grassrott. Gareng dan Petruk kerap melontarkan humor dan sindiran. Kehadiran dua tokoh ini menjadikan cerita wayang semakin membumi dan dekat dengan denyut pikiran rakyat. Dengan kehadiran Gareng dan Petruk aspirasi dan suara rakyat kalangan bawah mendapatkan perwujudannya (Zainal Arifin, Sang Penjaga Moral: 70 Tahun Perjalanan dan Pemikiran Seorang Irsyad Sudiro, hlm. 34).

Pada akhirnya filosofi nilai wayang tidak sekedar pemanis kata dan pemanis cerita. Wayang dapat dijadikan pembanding mengenai kondisi yang dialami negeri. Rupanya komparasi ini masih memiliki daya eksistensi jika diterapkan di perjalanan Indonesia sekarang ini. Muatan nilai serta sifat-sifat daasar kemanusiaan dalam setiap pertukaran masa pada dasarnya dapat diukur melalui parameter yang sifatnya antroposentris dan transendental.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s