Posted in Essai

Melupakan Apa Yang Harus Dilupakan

Benar kiranya manusia memiliki ingatan. Ingatan yang menghubungkan dengan rangkaian di masa lalu. Ingatan itulah kiranya yang melandasi apa yang dilakukan dalam era kontemporer dan tentu saja berpengaruh pada masa mendatang. Dengan demikian masa lalu tidak hanya bergaung pada eranya, namun juga dapat berkelindan pada rangkaian peristiwa masa depan. Ada begitu banyak cerita, kisah, permaknaan pada masa lalu. Tidak semuanya gembira. Ada cuka kehidupan. Ada luka yang membelur di jiwa. Dan segenap sesak itu bisa jadi hingga kini masih belum terlupakan dan terenyahkan dari benak.

Hidup ternyata harus merelakan. Merelakan apa yang telah berlalu dan terlewat. Tiada gunanya merutuki angan-angan di slot waktu yang telah usai. Hidup ternyata harus melupakan. Tidak semuanya tentu saja. Tapi beberapa bagian harus dilupakan, dienyahkan, disingkirkan dari orbit pemikiran. Contohnya adalah melupakan kegagalan. Mengenang-ngenang dan menimang-nimang kegagalan dapat menyebabkan diri berada pada siklus kegagalan yang akut. Ketika berada dalam tantangan kontemporer misalnya, maka sikap yang diambil ialah dengan mengambil referensi kegagalan. Kita memang harus belajar dari kegagalan, namun makna dari kegagalan, jiwa dari kegagalan. Bukan pada kegagalannya.

Jika teror kegagalan di masa lalu masih mencengkram di langkah kontemporer, maka bisa jadi kegagalan akan kembali tertempuh. Dan ini akan memperkuat paranoid kegagalan. Kini kegagalan telah membiak dan menduplikasi tidak hanya satu. Kegagalan yang demikian dapat menjadi karakter. Lalu hilanglah peluang, hilanglah kesempatan. Dalam urusan cinta misalnya, kegagalan dalam merajut rasa dapat menyebabkan menutup diri, enggan untuk berkorelasi. Padahal esensi dari cinta adalah kemampuan untuk memberi. Yang terpenting ialah bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang kuat dan memiliki sesuatu. Lalu momentum dapat tercipta dan selalu ada. Dahulu boleh gagal, namun sepanjang karakter diri kuat dan abundance, maka selalu ada ruang untuk rasa.

Melupakan apa yang harus dilupakan. Jika menilik dari lirik lagu Menghapus Jejakmu dari Peterpan maka akan terdapati: Engkau bukanlah segalaku/Bukan tempat tuk hentikan langkahku/Usai sudah semua berlalu/Biar hujan menghapus jejakmu. Jejak, itulah kiranya yang masih kuat dan terpelihara bagi mereka yang diputus cinta. Kegagalan cinta bukan sekedar tidak bersatunya dua insan. Namun kegagalan cinta dapat berarti kegagalan untuk menghapus, merelakan, melepaskan. Sesungguhnya alternatif masih tersedia. Masih ada orang lain yang dapat menjadi belahan jiwa. Tentunya dengan menyiapkan diri, memiliki limpahan perasaan, sebuah abundance.

Memulai cerita baru saya percaya dapat membantu untuk menghapuskan kisah yang telah berlalu. Memulai cerita berarti menciptakan kenangan-kenangan baru. Maka ada penyusutan, pelupaan, penafian terhadap segala kenangan indah pada kisah di masa lampau. Memulai cerita baru dapat memulihkan. Bahwa masih ada tangan yang dapat bertepuk. Masih ada rasa yang dapat bergenggaman. Masih ada harapan tentang keindahan di lembaran hari depan.

Melupakan juga dapat dilakukan dengan mengubah jalur. Merapikan segala hal yang terkait dengan koneksi rasa di masa lalu. Tidak melewati jalur-jalur kebersamaan berdua. Sebisa mungkin tidak memberikan “makan” bagi kenangan rasa untuk kembali singgah di top list pikiran.

Kenangan dapat menggerogoti pikiran. Mengkanvaskan peluang. Menjatuhkan rasa ke lembah ketersesatan. Maka lepaskan yang harus dilupakan. Redakan beban kegagalan masa lalu dengan menghanyutkannya pergi. Buka lebar pintu persahabatan. Berkenalanlah. Hidup dengan kemampuan memberi. Dan temukanlah satu orang. Sang penggenap yang membuat diri tak terlupakan.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s