Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Lagu Anak-Anak

“Kapankah kita terakhir mendengarkan anak-anak kita, keponakan kita, anak-anak-anak tetangga kita, dan anak-anak lain mendendangkan lagu yang memang diciptakan untuk mereka? Bukankah kita lebih sering mendengar anak-anak mendengarkan lagu orang dewasa yang bertutur tentang percintaan, patah hati, dan perselingkuhan? Bahkan, juga mungkin lagu-lagu yang liriknya menyerempet dan bernuansa pornografis?” ujar Putut Widjanarko dalam launching film Ambilkan Bulan.

Keprihatinan itulah kiranya yang paralel dengan kondisi lagu anak-anak Indonesia kontemporer. Bagaimana di sudut-sudut gang hingga apartemen jauh meninggi, anak-anak Indonesia semakin kehilangan pegangan melodi lagu yang peruntukannya untuk seusianya. Lagu-lagu dewasa menjadi porsi yang dilahap oleh anak-anak dengan lugu. Mereka mendengarkan, menghafalkan, dan menyanyikannya. Terkadang kita tertawa dibuatnya karena kemampuan membeo tersebut. Namun lupa dengan detonasi bom waktu yang tertanam pada pertumbuhan jiwa sang anak.

Lagu dewasa yang dicangkokkan pada pikiran anak dapat berbahaya kiranya bagi perkembangan jiwa dan pikiran anak. Hal yang belum waktunya dan pesan rancu yang dapat mendistorsi konsep rancang bangun pemikiran. Kini anak kecil bernyanyi tentang cinta-cinta, perselingkuhan, kekasih gelap. Sebuah tema yang kiranya dapat menjadi kontaminasi pemikiran. Publik baru tersentak dengan artikel Bang Maman Dari Kali Pasir yang diperuntukkan untuk kelas 2 SD. Padahal boleh dibilang artikel Bang Maman Dari Kali Pasir merupakan fenomena gunung es bagi lukisan besar pendidikan Indonesia.

Amanat ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’, dalam lagu Indonesia Raya tidak menemui implementasi dikarenakan seni untuk anak-anak yang tersaji ialah kerontang. Dalam salah satu acara talent show menyanyi untuk anak-anak, saya mendapati bagaimana sukarnya untuk mendapatkan list lagu anak-anak sehingga terpaksalah beberapa lagu dewasa tertampilkan ataupun dimodifikasi liriknya.

Lagu anak-anak memiliki logika yang berbeda dari genre musik lainnya. Lalu apa kiranya kiat untuk menulis lagu anak-anak? Ibu Sud yang menciptakan lagu Hujan menyatakan syarat utamanya adalah harus mencintai dunia anak-anak terlebih dahulu. Setelah itu, baru memahami perkembangan emosi dan pikiran mereka. “Salah satu contohnya adalah jangan menulis lagu anak dengan banyak menggunakan huruf ‘r’. Kalau bisa sih dihindari atau jangan terlalu banyak memakai kosa kata berhuruf ini. Sebab huruf ini susah diucapkan seorang anak kecil. Ini salah satu contohnya. Liriknya pun harus sederhana.”

Sementara itu Kak Zepe (penulis lagu anak) mengungkapkan bahwa lagu anak dapat dikatakan bermutu apabila penulisan lirik, pesan lagunya harus mudah dipahami. Ini berarti menggunakan kata-kata yang sederhana dan tidak terlalu panjang. Hal lainnya yakni lagu anak harus mengandung pesan moral yang berguna bagi anak-anak seperti persahabatan ataupun kerajinan (Republika, 14 Mei 2012, hlm. 27).

Jika mem-flash back ke belakang, boleh dikatakan film musikal Petualangan Sherina merupakan tonggak monumental bagi lagu anak-anak. Bahkan tidak hanya bagi musik untuk anak, tapi juga bagi dunia perfilman Indonesia yang ketika itu mati suri akibat over load film-film bermuatan seksual pada era 1990-an. Film Petualangan Sherina mampu menyedot 1,6 juta penonton dan menjadi tontonan keluarga (http://www.tabloidbintang.com/extra/top-list/10694-20-film-nasional-paling-fenomenal-dalam-20-tahun-terakhir.html). Secara musikal, lagu-lagu dalam film yang disutradarai oleh Riri Riza tersebut memiliki kualitas yang mumpuni.

Sherina Munaf yang menjadi bintang utama di film tersebut sebelumnya pada tahun 1999 merilis album Andai Aku Besar Nanti. Album Andai Aku Besar Nanti mendapatkan atensi luas dari publik sebagai kesegaran dan membawa lagu anak-anak pada standar musikalitas yang baik. Lagu Kembali Ke Sekolah, Balon Udaraku, menjadi single andalan dari album yang digarap dengan apik secara musikalitas oleh Elfa Secioria. Dan harus diakui album ini benar-benar digarap serius. Mulai dari pemilihan diksi, musikalitasnya, vokal Sherina yang memberi nyawa pada tiap lagu. Setelah sukses dengan album Andai Aku Besar Nanti, maka di album kedua Sherina terjadi kolaborasi dengan menjadi original soundtrack dari film Petualangan Sherina.

Simaklah lagu Lihatlah Lebih Dekat, yang menceritakan tentang persahabatan dan kecintaan terhadap alam.

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan kau akan mengerti

Kiranya lirik lagu tersebut membawa anak Indonesia untuk menggunakan daya nalar dan daya pikirnya. Inilah kiranya yang dibutuhkan dalam pembangunan manusia yang utuh. Bukan sekedar memenuhi dengan segemplok hafalan yang lama kelamaan seperti mantra. Ataupun metode Catat Buku Sampai Abis (CBSA), tanpa si anak didik diajak untuk bernalar tentang apa yang dicatatnya dan mengapa harus dicatat.

Kahlil Gibran dalam karyanya Sang Nabi berbicara tentang anak syairnya yang berintikan (Kahlil Gibran, Tetralogi Masterpiece, hlm. 18):

Berikan mereka kasih-sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kauberikan rumah untuk raganya tapi tidak untuk jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam impian.

Ada sebuah kewajiban sejarah untuk membekali dan mencetak bangunan dasar dari anak. Pengembangan anak tidak sekedar pada fisik dan tumbuh kembangnya yang kasat mata. Lagu anak-anak merupakan salah satu medium pendidikan yang efektif untuk mengakselerasi intelektual dan perkembangan jiwa. Membiarkan anak Indonesia menyusu pada lagu dewasa ibarat menyiapkan generasi yang rentan dan rapuh secara kejiwaan. Jangan-jangan bangsa ini sedang membunuh masa depannya dengan penafian lagu anak-anak yang berkualitas dan bermutu.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s