Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Menyelami Mitologi Bersama Djokolelono (Makko Go Show 10 Mei 2012)

Ia adalah legenda. Pada 1970-1980-an karya-karyanya menyeruak dan menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia. Simak saja mulai dari Jatuh ke Matahari, Terlontar ke Masa Silam, Penjelajahan Antariksa, Astrid dan Bandit mendapatkan sambutan yang hangat dari sidang pembaca. Karyanya mengajak untuk berpikir dan menjelajahi lapisan sains dan intelektual. Pada tahun 2011, pria yang pernah kuliah di Astronomi ITB ini kembali mewarnai jagat fantasi Indonesia dengan karyanya Anak Rembulan. Novel Anak Rembulan sendiri mampu menyajikan kesederhanaan dalam kata, nilai sejarah, mitologi lokal, dan imajinasi yang meletup-letup.

Pada tanggal 10 Mei 2012, bertempat di Kinokuniya Plaza Senayan, Djokolelono menjadi salah satu pembicara dengan tema besar Exploring Mythology and Writing Fantasy. Berikut akan saya coba narasikan apa yang disampaikan oleh beliau dalam acara yang juga dimeriahkan oleh komunitas World Mythology Community dan Kaldera Fantasi (Kalfa). Bertemu dengan Djokolelono menghadirkan eksentrik dari karya kreatif. Simaklah rambut dari pria kelahiran Desa Beru, Wlingi, Jawa Timur, tanggal 10 April 1944 yang berwarna oranye. Ia juga mampu melekatkan diri pada orang lain dengan melontarkan joke-joke segar.

Jam terbang menjadi pembicara di khalayak umum jelas terlihat. Dari slide yang disiapkan beliau terdapat 17 bagian dan dengan piawainya ia membawa penonton dalam arus “dongengnya”. Sesekali Djokolelono melucu layaknya comic di stand up commedy, sesekali dia memainkan intonasi suaranya seperti seorang pendongeng, sesekali dia serius seperti dosen yang menerangkan perihal kuliah. Kombinasi inilah kiranya yang membuat waktu pemaparan beliau mendapatkan sambutan hangat.

Menurut Djokolelono, science fiction di Indonesia sudah ada sebelum dirinya menulis. Sebagai catatan, Djokolelono dikenal sebagai pelopor dalam penulisan science fiction di Indonesia. Karyanya Jatuh ke Matahari yang terbit tahun 1976 bahkan mendahului karya fenomenal Star Wars gubahan George Lucas secara durasi waktu yang baru muncul setahun kemudian (Tempo, 19 Februari 2012, hlm. 48). Adapun menurut beliau, Science fiction impor telah banyak dijumpai dalam bentuk comic strip seperti The Magician dan Flash Gordon.

Menulis science fiction menurut pria yang pernah mendapat nilai 10 dalam pelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya menulis sesuatu yang rasional dan mengikuti hukum-hukum ilmiah walaupun hukum ilmiah itu masih merupakan khayalan atau spekulasi. Menarik kiranya jika dikaitkan dengan sejumlah temuan ilmiah yang terilhami oleh novel Jules Verne. Jules Verne sendiri untuk kemudian dikenal sebagai bapak fiksi ilmiah dikarenakan sejumlah imajinasinya telah mengakselerasi dan memberikan perspektif lain bagi penemuan ilmiah yang berguna di kemudian hari. Jules Verne dalam ceritanya mampu menggabungkan bakatnya sebagai penutur cerita yang eksotik dengan minatnya pada hasil penemuan ilmiah yang mutakhir. Ia banyak menghabiskan waktu di perpustakaan Paris untuk belajar ilmu geologi, astronomi, dan teknik (Jules Verne, 80 Hari Keliling Dunia, hlm. 6). Beberapa karyanya yang termasyhur antara lain Five Weeks in a balloon (1863), Journey to the Center of the Earth (1864), From the Earth to the Moon (1865).

Djokolelono berpendapat bahwa science fiction dan fantasi ‘boleh dibilang’ merupakan bentuk lain dari mitologi. Beliau menerangkan tentang pionir dari science fiction yakni Mandrake dan Flash Gordon. Mandrake sendiri memiliki kemampuan untuk menghipnotis dan menciptakan ilusi. Sedangkan Flash Gordon yang pertama kali mentas di tahun 1934 sendiri menurut hemat saya menarik untuk dikupas. Jika menyitir pendapat Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 2, cerita Flash Gordon merupakan kisah yang berangkat dari prasangka-prasangka orang Amerika, orang Barat, yang – apa boleh buat – tampaknya berakar kukuh di kesadaran. Flash Gordon yang matanya biru, kulitnya putih, rambutnya pirang terang merupakan si “baik”. Sedangkan musuhnya adalah Ming. “Ming”: nama itu berdering sebagai sesuatu dan Timur yang jauh.

Di Perancis dimana komik pun dibahas secara serius, Ming merupakan sebentuk purbasangka. Menurut Edouard Francois, menyimpulkan: “…pasti bukan tanpa alasan Alex Raymond menamakan planet itu Mongo, penguasa tertingginya Ming, dan melukiskan penghuninya sedikit berwarna kuning dan wajahnya bercorak Asia.” Sebab, Mongo adalah “sebuah tirani oriental” dan Ming – dengan kebuasan dan kecurangannya – telah menunjukkan adat “keraton Mongol” (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 234). Harus diakui ini adalah sebentuk orientalisme, dimana barat mempersepsikan dan menilai tentang timur. Tentu saja kesalahan dan kekeliruan dapat terjadi dalam timbangan verdict yang ditetapkan.

Menurut Djokolelono rasa takut dan rasa ingin tahu akan hal-hal yang tak bisa dijelaskan merupakan akar dari kisah-kisah mitologi, religi, supranatural, dan metafisikal. Carl Sagan pernah berhipotesis bahwa alam semesta tidak menunjukkan rahasianya sekaligus. Harus diakui bahwasanya segenap rahasia alam dapat menjadi lahan subur bagi berkembangnya mitologi. Contohnya ialah pada abad pertengahan di Eropa. Banyak sejarawan menilai abad ini sebagai fase sejarah Eropa yang ‘kelam’, dipenuhi pertumpahan darah karena perang antar agama, abad anti intelektualisme dan maraknya takhayul dan irasionalisme (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 13).

Djokolelono mengutip Mirriam Allen de Ford, “Science fiction deals with improbable possibilities, fantasy with plausible impossibilities”. Science fiction rupanya memberikan alternatif lain dan mimpi tentang masa depan. Seperti terlihat dalam gambar yang dipertunjukkan oleh Djokolelono bagaimana kiranya rumah masa depan akan berbentuk. Rumah tersebut akan bertingkat, dimana pada tingkat atas digunakan oleh anak-anak untuk bermain layang-layang (tentu saja dapat langsung terbang tinggi layangan tersebut). Lantai atasnya juga dapat berputar perlahan sehingga menyajikan panorama yang berbeda dalam tiap sudut waktu.

Menutup artikel ini saya akan mengutipkan quotes dari Menteri Propaganda Nazi Jerman Dr.Josef Goebels, “Jika sebuah kebohongan terus menerus diceritakan hingga terdengar luas di masyarakat, lama kelamaan masyarakat akan menyakini kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran”. Banyak kiranya desas desus, mitologi yang diciptakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu di masyarakat. Contohnya adalah klaim ratu adil yang disematkan pada sosok politisi tertentu. Menurut hemat saya dibutuhkan sebuah pencerahan, pembedahan secara rasional untuk sejumlah mitologi yang berkembang. Masyarakat perlu kiranya untuk melakukan sport otak. Menggunakan otaknya untuk memilah dan memilih mana fakta nyata, mana khayalan utopis. Dengan demikian mitologi tidak lagi menjadi vehicle bagi kebekuan daya pikir dan penina boboan intelektualitas.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

4 thoughts on “Menyelami Mitologi Bersama Djokolelono (Makko Go Show 10 Mei 2012)

  1. Saya baru mendengar sinopsis dari ayah saya. Beliau adalah kebanggaan Indonesia. Tidak terlepas dengan rasa nasionalisme-nya, beliau tetap menyajikan cerita science-fiction yang menggebu keseluruh dunia. BAHKAN, seluruh galaksi.

  2. wah, saya penggemar berat om Djokolelono😄
    kaget sekali saya waktu liat judul ini di pencarian google.. ditulis th 2012 lagi!! (nggak lama2 amat dari skarang) apakah bliau masih aktif menulis? ? ada cersil karya bliau yang saya ikuti… tapi sayang sekali, berhenti di seri 13…

    kalau ada emailnya, saya mau mohon2 supaya cersilnya dilanjutin😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s