Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Resensi Buku, Sosial Budaya

Sisi Politik Dari Kisah Petruk jadi Raja

Siapa sebenarnya yang layak untuk memerintah? Pertanyaan itu merupakan sebuah tanya yang merisaukan para cendekiawan semenjak dahulu hingga kini. Ada multi jawaban beserta alasan yang menyertainya. Jawaban yang diujarkan tak dapat dilepaskan dari pengalaman personal dan nilai yang dianut oleh para pemikir pencetus pendapat. Plato misalnya berpendapat ada lima bentuk pemerintahan negara yakni aristokrasi (cendekiawan yang dilaksanakan sesuai dengan pikiran keadilan), timokrasi (orang-orang yang ingin mencapai kemasyhuran dan kehormatan), oligarki (hartawan), demokrasi (rakyat jelata), tirani (seorang tiran sehingga jauh dari cita-cita keadilan). Aristoteles sementara itu berpendapat bentuk pemerintahan dapat dibagi berdasarkan dua kriteria pokok, yaitu jumlah orang yang memegang pucuk pemerintahan dan kualitas pemerintahannya. Aristoteles melakukan cluster sebagai berikut: monarki, tirani, aristokrasi, oligarki, politeia (republik), demokrasi (Budiyanto, Dasar-Dasar Ilmu Tata Negara, hlm. 36).

Pemikiran mengenai siapa yang layak memerintah suatu negeri kembali menemui percikan pendapat ketika saya melakukan wawancara dengan Suyadi (lebih dikenal dengan nama Pak Raden). Beliau berpendapat bahwa yang layak memerintah pada intinya menurut konsep ilmu sosial yakni the right man in the right place. Suyadi memperteguh pendapatnya dengan memberikan buku cerita karangannya yang berjudul Petruk jadi Raja. Selang beberapa hari dari wawancara tersebut, saya menamatkan buku Petruk jadi Raja dan radar skeptisme diri saya menguat.

Buku yang diterbitkan oleh Kelompok Pencinta Bacaan Anak tersebut langsung membuka kisah dengan menerangkan posisi sosial dari Petruk. Siapakah Petruk? Petruk adalah seorang punakawan. Punakawan berarti pengiring dan penasihat kesatria (Suyadi, Petruk jadi Raja, hlm. 3). Sosok Petruk digaambarkan bertubuh tinggi jangkung, berhidung panjang, langkahnya lebar, wajahnya selalu tersenyum dan suka melucu. Para punakwan mengabdi kepada kelima satria Pendawa yang memerintah di negeri Amarta. Selain Petruk terdapat Semar, Gareng, dan Bagong yang bergabung dalam kongsi punakawan.

Dalam buku Petruk jadi Raja diceritakan bahwa Petruk dititipkan pusaka Kalimasadha oleh Bambang Priyambada (salah seorang putra Pendawa). Dengan pusaka Kalimasadha tersebut Petruk tergoda dan bertindak menaklukkan sebuah negara. Negara yang dipilihnya adalah negara kecil bernama Sonyawibawa. Negara Sonyawibawa dinarasikan sebagai negara kecil yang cukup makmur dan mampu menjaga kerukunan antara warga manusia dan raksasa yang merupakan penghuni negeri tersebut. Dengan berbekal pusaka Kalisadha Petruk berhasil melakukan kudeta seorang diri dan dia pun menjadi seorang raja.

Menjadi seorang raja, Petruk mulai melakukan sejumlah movement. Ia memilih bergelar Prabu Kantongbolong, alias Prabu Tongtongsot alias Prabu Belgeduwelbeh. Ia memilih permaisuri sebagai pendampingnya di tahta. Jalan pikiran dari Petruk tentang permaisuri ideal terekam dalam kalimat berikut: “Tidak! Aku tidak suka putri-putri cantik ini. Mereka terlalu dimanjakan. Sehari-harian kerjanya cuma bersolek melulu. Yang kuinginkan ialah perempuan yang berasal dari kalangan wong cilik. Coba carikan aku calon permaisuri semacam itu!” Pilihan Petruk akhirnya jatuh kepada seorang juru masak istana yang berbadan gemuk dan berpenampilan bersahaja (Suyadi, Petruk jadi Raja, hlm. 17).

Berbagai perubahan dalam menu hidup keseharian nyata terjadi. Seperti dari menu makanan yang harus menyertakan rujak cingur, tarian istana yang lebih lincah dan sebagainya. Petruk rupanya ingin melakukan ekspansi kekuasaannya. Ia ingin memiliki jajahan. Negara Amarta dan Dwarawati menjadi wilayah invasi yang ditujunya. Alasannya karena di kedua negara tersebut bertahta mantan majikan-majikan Petruk. Petruk lalu mengirim surat tantangan yang berintikan agar kedua negara tersebut takluk pada kekuasaannya. Menerima ancaman ini, negara Amarta menyerang lebih dahulu dengan menempatkan Bima, Arjuna, Gatotkaca sebagai ujung tombak serangan.

Petruk lalu turun ke medan laga dengan menggunakan pusaka Kalimasadha tumbanglah Bima, Arjuna, Gatotkaca dan segenap pasukan Amarta. Ganti Petruk kini yang menjadi majikan terhadap para satria tersebut. Petruk pun bersabda:”Hai orang-orang Pendawa. Karena kalian sudah menyerah maka kalian masing-masing akan kuberi tugas. Engkau Bima yang besar, kuat, dan kekar, engkau kuberi tugas menjaga keamanan negara. Dengan kuku Pancanaka yang kau miliki, engkau harus mampu membinasakan musuh-musuhku. Sedangkan engkau, Gatotkaca, karena engkau pandai terbang petiklah buah-buahan yang masak untukku. Tangkaplah ternak dan perburuan hutan untuk dimasak menjadi hidangan lezat. Adapun Arjuna yang tampan diangkat menjadi mantri pasar yang bertugas mengatur pedagang di pasar. Ibu-ibu yang berbelanja pasti senang dengan kehadiran sosok Arjuna yang rupawan (Suyadi, Petruk jadi Raja, hlm. 23).

Menghadapi fakta otentik kekalahan, Prabu Kresna penasihat Pendawa memerintahkan punakawan (Semar dan Gareng) untuk maju ke medan laga. Mula-mula Semar dan Gareng keberatan untuk maju berperang, dengan alasan bahwa mereka bukan prajurit dan tak pernah berperang. Tapi Kresna berkata:”Kakang Semar dan Nala Gareng. Kalianlah harapan kita terakhir.” Maka berangkatlah Semar dan Gareng menuju istana Prabu Kantongbolong.

Semar dan Gareng lalu berhasil masuk ke tempat peraduan Prabu Kantongbolong. Raja sedang tidur nyenyak. Ia tidur dengan tetap mengenakan mahkota dan pakaian kebesarannya. Gareng segera memukul mahkota raja dengan gada. Baginda terbangun. Mahkota terpelanting dan dari dalam mahkota itu, pusaka Kalimasadha terlempar keluar. Karena pusaka Kalimasadha sudah lolos dari tangan Prabu Kantongbolong, maka baginda pun kehilangan semua kesaktiannya.

Penyergapan yang dilakukan oleh Semar dan Gareng mengingatkan saya akan buah pemikiran Thomas Hobbes dalam Leviathan:

“Alam telah menjadikan manusia sama, dalam kemampuan tubuhnya dan akal (bahwa) yang paling lemah pun memiliki cukup kekuatan untuk membunuh yang paling kuat, baik dengan senjata rahasia, atau bersekutu dengan yang lainnya.”

Hobbes mencontohkan bahwa sekuat apa pun fisik manusia, ia tetap harus tidur. Tidur adalah tuntutan alamiah bagi fisik manusia. Maka ketika sedang tidur, orang yang paling kuat dapat di(ter)bunuh tanpa perlawanan (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 172).

Kisah Petruk jadi Raja ditutup dengan fragmen berikut:

“Petruk,” kata Sri Kresna.” “Apa sebetulnya maumu? Membuat onar saja!”

“Ampun Sinuhun,” kata Petruk menghiba, “Hamba hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi raja. Masa dari dulu hamba ini menjadi wong cilik selalu.”

“Petruk,” kata Sri Kresna, “Engkau tak usah risau menjadi orang kecil. Dalam negara yang adil dan makmur siapa pun pasti dapat hidup layak. Soal menjadi raja? Ketahuilah, menjadi raja adalah tugas negarawan. Sedangkan engkau Petruk, engkau punakawan.”

“Yah, malangnya jadi punakawan,” keluh Petruk. “Petruk,” sambung Sri Kresna,

“Engkau tak usah merasa malang. Tugas punakawan ialah sebagai pengiring dan penasehat kesatria. Ini adalah tugas yang sangat mulia.” Petruk pun menyembah serta mengangguk tanda setuju.

Fragmen penutup dari kisah ini yang terus terang menggelitik dan melambungkan skeptisme saya. Bagaimana sebuah tesis yang menyatakan menjadi raja adalah tugas negarawan. Menurut hemat saya, konsep tersebut layak untuk dipertanyakan dan dikomparasikan dengan konsep demokrasi. Demokrasi memberikan ruang bagi siapapun untuk menjadi penguasa sepanjang memiliki kompetensi. Tugas menjadi pemimpin tidak dimonopoli dan dilahap semua oleh cluster tertentu yang dikhususkan. Ragam manusia dari berbagai latar belakang diberikan kesempatan untuk berprestasi dan berkarya, lalu melalui sebuah election, pemimpin tersebut akan menjalankan mandat amanat rakyat.

Untuk membawa negeri membawa kemakmuran menurut hemat saya tidak sekedar dibutuhkan tenaga dari mereka yang ahli, namun memerlukan political will, kesungguhan untuk optimal menuntaskan permasalahan. Banyak kiranya ahli-ahli di negeri, namun dibutuhkan kemampuan yang terampil dan dingin untuk memimpin para ahli. Mereka yang mampu memimpin para ahli inilah kiranya yang menurut pandangan saya layak untuk memerintah dan memimpin.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s