Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Setuju, Jari Kelingking (1)

Hujan membungkus Jakarta dalam kelam yang berlebihan. Ramai-ramai orang menyemut di bawah jembatan penyebrangan, di segala tempat yang memiliki atap. Tapi tidak bagi Tora yang menembus kelebatan air yang mencurah dan menderas. Dia harus sampai ke rumah tepat pada waktunya. Seperti janji yang terus diputar dalam ketukan pemutar lagu. Hidup baginya adalah penjara semesta yang mengekang. Belenggu jiwa. Namun dulu dia pernah mengalami hidup. Hidup sebenar-benar hidup. Hidup yang berbeda dengan sekarang ini. Hidup dalam skala kontemporer yakni dimana Senin-Ahad adalah siklus yang membosankan dan menjemukan.

Pada hari kerja, Senin-Jum’at, Tora harus berdesak-desakan dengan kerumunan motor dan mobil yang memenuhi jalanan ibukota. Berangkat ke kantor bertumpuk dengan sarden kemacetan, pulang ke rumah pun meraung-raung dengan lengkingan klakson. Itu baru di jalan. Di kantor, dia adalah pekerja yang harus menghadapi semprotan para pelanggan. Pekerjaan Tora di customer service yang memungkinkannya untuk mendengarkan dampratan, keluhan, sampah kata-kata pada jam-jam pekerjaan. Rentang pekerjaan Tora juga bukanlah dari Senin-Jum’at, dia bekerja dengan sistem shift dimana hanya dapat libur pada waktu yang ditentukan.

Dan Tora memiliki seorang anak, anak yang bernama Ara. Ara kini telah berumur 5 tahun, duduk di taman kanak-kanak. Pada beberapa bagian Ara adalah seperti reka ulang dari Alma. Rambutnya, cerdas matanya, kelincahannya yang seperti bola bekel, skeptismenya adalah copy paste dari wanita yang menjadi pelangi rasa bagi Tora. Maka melihat Ara seperti melihat Alma dalam bentuk mini. Seperti bayangan yang mengejar dalam kesadaran.

Seberapa besar cinta Tora pada Ara, si anak genetiknya? Dia mencintai sebagai ayah dengan caranya tersendiri. Jangan bayangkan kau akan mendapatkan ayah yang akan membacakan dongeng ketika menjelang tidur, menjawab segala lintasan pertanyaan apa saja dari Ara, makan bersama di waktu-waktu istimewa. Tora bukanlah orang yang ekspresif, imajinatif, enigmatik. Ia lebih seperti mesin yang bernafas. Segala hal yang dikerjakannya seperti mekanik mesin. Ia kaku dalam keseharian. Namun dia nyata dalam tindakan. Ia berjanji, dan dengan segenap upaya akan berusaha untuk mematuhi.

Tora adalah ayah yang kaku dan disiplin. Dia akan sedia membuatkan sarapan yang itu-itu lagi setiap hari sekolah bagi Ara. Roti berselai. Maka suara roti yang telah matang, selai yang dioleskan, merupakan harmoni wajib di pagi hari. Jangan lupakan susu putih yang setia dibikinkannya. Adapun pengecualian, tentu saja jika Tora harus bekerja pada waktu pagi, namun dia biasanya telah bersiap dengan roti dan susu putih yang tinggal disantap bagi Ara. Pada malam hari, Tora akan patuh untuk menyuruh Ara tidur tepat jam 9 malam. Tak peduli sedang hebohnya acara televisi. Setia dalam keteraturan waktu.

***

Tora pun berupaya untuk selalu memenuhi janji-janjinya. Seperti hari ini, pulang ke rumah jam 8 malam tepat. Perkaranya sederhana Ara ingin menunjukkan gambar dan kerajinan prakaryanya.

“Ayah, jangan lupa pulang jam 8 malam tepat ya,” rajuk suara Ara dengan suara kecilnya.

“Hmm.. ada apa dan kenapa harus jam 8 malam. Ayah mungkin akan telat.” Tora melihat dari ketinggian kantornya awan yang berarak menghitam dan titik-titik kendaraan jauh di bawah sana.

“Ara pengen kasih liat gambar dan prakarya yang akan dinilai ke ibu guru besok. Jadi sebelum siapa-siapa liat, ayah harus jadi orang pertama yang liat. Setuju, jari kelingking?”

Setuju, jari kelingking adalah kode dari keluarga kecil ini, yang intinya mengharapkan persetujuan benar-benar agar memenuhi permohonan yang diajukan. Dan jika frasa ‘setuju, jari kelingking’ telah diujarkan berarti hal tersebut merupakan keinginan yang benar-benar diharapkan untuk diwujudkan.

Tora menghembuskan nafas sejenak.

“Tentu saja, setuju, jari kelingking.”

Dan disinilah Tora berada, bersama kelebatan hujan dan kendaraan yang masih ngotot menembus air yang menggila dari langit. Sebuah janji harus ditepati. Sebuah janji untuk siapa? Dirinya, Ara, atau Alma?

Sejenak lamunan di tengah hujan sambil mengendarai motor tuanya. Dan untuk kemudian sebuah cahaya. Cahaya yang amat terang melahapnya. Membungkusnya dalam jaring-jaring rumit penuh gemerlap cahaya putih yang terlampau benderang.

***

Mati itu mudah. Hidup itu sulit.

Tapi benarkah Tora telah mati?

Ia kini berada di hamparan padang rumput yang luas. Di sekelilingnya ada bunga aneka warna. Tak jauh darinya ada sungai yang mengalir deras. Dimana ini? Yang pasti ini bukan di Jakarta. Jakarta terlampau keparat untuk memberikan kemewahan ruang terbuka semacam ini. Satu demi satu kesadarannya mulai kembali menghangat di otak. Agak berat awalnya, namun dia kembali menemukan kesadarannya dan hal terakhir yang diingatnya. Ia sedang berkendara dengan motor tuanya di kepungan hujan kota Jakarta. Lalu limpahan cahaya putih. Dan kini dia disini. Di hamparan padang rumput yang membentang ini.

Ara. Ara pasti menunggunya di rumah. Ara dengan mata lincahnya dan semangat bereksplorasinya yang meletup-letup sedang menunggunya untuk memperlihatkan sebuah gambar dan hasil buah tangan prakaryanya. Tora harus pergi dari entah tempat apa ini. Dan dia harus kembali ke rumahnya.

Tora berlari menyusuri hamparan padang rumput yang menghijau. Di tempat ini senja akan menjelang. Tapak-tapak langkah dari Tora mengalun beradu dengan tekadnya untuk kembali pada anaknya. Berbagai pikiran sempat menghampirinya. Apakah dia telah mati? Tapi mati terlalu aneh. Mati, tidak seharusnya seperti ini. Tapi bagaimana dia bisa tahu, dia belum pernah mati.

Tapi mati seharusnya memiliki semacam prosesi. Mungkin ada yang akan memberitahukan dan menjelaskan bahwa secara resmi dia telah mati. Tidak seperti ini. Dia ditinggalkan di padang rumput yang okelah indah dan memukau, tapi tanpa penjelasan. Tora berlari dan berlari, hingga dilihatnya dari kejauhan sesosok berbaju putih. Detak jantungnya menguat, inikah jawabannya? Konfirmasi bahwa dia sudah mati atau masih hidup. Tunggu dulu, Tora benar merasakan sensasi detak jantung yang menghebat, ketegangan yang mengerucut bersama desakan waktu.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s