Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Setuju, Jari Kelingking (2)

“Apakah aku masih hidup kalau begitu,” dialog Tora pada dirinya sendiri.

Setelah serangkaian lari, Tora pun tiba di sosok berbaju putih yang sedang memunggunginya.

“Halo..,” ujar Tora bingung harus berkata apa.

“Saya Tora, dimana ini? Surgakah ini?” tanya Tora setengah berharap, setengah mencari tahu.

Sosok berbusana putih itu tertawa riang. Tawanya benar-benar renyah dan nyaman mengalun di udara. Ia berbalik. Dan yang Tora temui adalah wanita. Wanita yang teramat cantik bahkan, sehingga sukar untuk dapat menyusun kata. Setelah menenangkan diri dari serbuan pesona kecantikan wanita berbaju putih itu, Tora mulai membangun konsep di kepalanya.

“Dimana ini?”

“Pentingkah,” jawab wanita itu antara menjawab dan bertanya.

“Tentu saja penting, aku harus menemui anakku. Aku harus kembali ke rumah, segera.”

“Rumah?”

“Iya rumah, tempat tinggal,” Tora menjawab.

“Tempat ini akan menjadi tempat tinggalmu,” kata wanita itu seolah hal tersebut telah jelas.

“Hmm..bagus kalau begitu. Berarti kau malaikat, dan aku berada di surga,” konklusi dari Tora.

Wanita itu kali ini tersenyum.

“Seandainya sesederhana itu.”

“Bagaimana kalau kukatakan ini adalah tempat bagimu untuk menjawab satu pertanyaan agung yang mengusikmu,” ungkap wanita itu menerangkan.

“Satu pertanyaan agung?” giliran Tora yang setengah tertawa.

“Yang aku ingin tahu apakah aku telah mati atau masih hidup. Apakah aku berada di surga atau neraka, jika benar ini adalah fase setelah kematian.”

Wanita itu memutar bola matanya yang berwarna biru cerah.

“Tidakkah kau ingin mendapatkan jawaban atas satu pertanyaan agung?” wanita itu balik bertanya.

“Mati atau masih hidup, surga atau neraka. Begini saja, opsi itu pasti akan kau ketahui nanti. Tapi satu pertanyaan agung, kaulah yang harus menjawabnya sendiri. Kaulah yang harus memutuskannya sendiri,” tawar kata dari wanita itu menatap Tora dengan tegas.

“Ayo, ikut aku akan kutunjukkan tempat bermalammu,” ajak wanita itu melangkah di depan.

“Hei, apa-apaan ini. Aku harus menemui anakku, Ara. Dan aku tidak tahu dimana ini. Jika kau tidak memberikan jawaban, aku akan terus berjalan dan mencari tahu untuk kembali ke tempat asalku,” Tora menegaskan ganjil situasi yang masih dihadapinya.

Wanita itu menatap Tora, kali ini kalimatnya tegas dan final.

“Lihat pakaian yang kau kenakan. Lihat alam yang kau injak, rasakan udara yang kau hirup. Kau pikir ini adalah tempat yang biasa kau tinggali? Kau bisa saja terus berjalan, tapi aku jamin kau hanya mendapatkan kesia-siaan dan bukan jalan kembali ataupun jawaban atas segala keterusikanmu. Sekali waktu kau harus percaya pada keajaiban, tuan Tora.”

Mendengar kalimat tersebut, Tora melihat pakaian yang dikenakannya. Benar kiranya ini bukanlah pakaian yang akrab dengan dirinya. Ini bukanlah jaket usang miliknya, serta celana bahan yang sehari-hari dipakainya. Ini adalah busana yang seperti dilihatnya di kisah-kisah zaman kerajaan. Ia menggunakan tunik, baju terusan yang dipakainya merupakan kreasi tangan, celananya dari bahan kulit. Ia semakin benar-benar tidak mengerti. Tanpa ada opsi yang terlihat menjanjikan, Tora mengikuti wanita itu hingga sampai di sebuah rumah sederhana dengan perapian di dalamnya.

“Aku akan menemuimu besok pagi, beristirahatlah,” saran dari wanita itu dengan intonasi yang lebih lembut.

Tora sempat mengelilingi ruangan dalam dari rumah ini. Rasanya seperti berada dalam setting layar kaca televisi di kisah-kisah jaman baheula. Semua perabotan disini terasa natural dan seolah ingin menjaga koneksi dengan alam. Tora pun tiba di kamar tidurnya. Merebahkan diri, dan terlelap tanpa mimpi yang mengusik. Sudah lama dia tidak merasakan tidur yang sedamai ini.

Tora terbangun keesokan harinya. Dia merenung di embun pagi yang masih hening. Ia memikirkan Ara. Bagaimana ia melewatkan janji jam 8 malamnya, bagaimana Ara akan bertanya kemana ayahnya semalaman ini, di waktu ini Ara seharusnya sudah bangun dan bersiap. Ara akan membuat sendiri roti berselai dengan susu putih, lalu berangkat sekolah. Dia merasa amat bersalah dengan belum menitipkan Ara pada kedua orang tuanya yang juga merupakan kakek dan nenek Ara. Tanpa terasa Tora meneteskan airmata. Betapa dunianya yang terasa sederhana begitu bernilai. Dan ia belum pernah mengutarakannya langsung secara verbal, bagaimana Ara teramat berarti baginya.

Ketukan pelan di pintu. Wanita berbaju putih itu masuk ke dalam ruangan.

“Ikut aku, mari kita temui keluargamu disini,” ucap wanita seperti malaikat itu bertukar kata.

“Keluarga disini?” kernyit tanya dari Tora.

Pertanyaan itu menggantung di udara seiring perjalanan mereka berdua yang melintasi halimun pagi. Dibutuhkan waktu berjalan sekitar 10 menit sebelum mereka sampai di tempat perhentian yang dijanjikan wanita berbaju putih tersebut.

“Masuklah,” tuntun wanita itu mengarahkan langkah Tora.

Sebuah pintu kayu tanpa hiasan serta aroma masakan yang menunjukkan daya pikat harumnya di udara. Tora membuka pintu dengan perlahan. Dan dia pun masuk ke dalam rumah itu perlahan. Sebuah senyum sederhana. Dari seorang wanita berambut panjang dan seorang anak lelaki yang memiliki garis wajah serupa dengan Tora. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Wanita berambut panjang yang ada di hadapannya memiliki tiap titik ideal dari wanita yang diharapkannya menjadi istrinya. Ia memiliki lesung pipit ketika tersenyum, rambutnya yang terkepang takjub, matanya yang memancarkan keramahan, tubuhnya yang padat berisi, alisnya yang rimbun di atas matanya. Ini terlalu sempurna. Seperti spesifikasi yang dulu pernah dimilikinya ketika mengejar perempuan. Dan kini di hadapannya kesempurnaan imajinasinya benar-benar terlaksana.

Sedangkan di hadapannya ialah anak laki-laki yang kira-kira berumur 10 tahun dengan perawakan seperti dirinya. Ia seperti melihat Tora dalam bentuk mini. Bagaimana bisa, kesempurnaan ini terlalu indah.

“Duduklah, aku sudah menyiapkan sup untuk sarapan pagi,” ungkap wanita ideal yang selama ini memenuhi lembar imajinasinya.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s