Posted in Essai, Sosial Budaya

Lady Gaga

Seperti apakah seharusnya seni itu? Rasanya pertanyaan tersebut akan terus menggelayut di aneka ragam potongan waktu. Seni sebagai hasil rasa, cipta, karsa manusia akan terus tertampil dan mengalami dilema-dilema dalam perjalanannya. Belakangan ini publik Indonesia disuguhi pro dan kontra tentang konser Lady Gaga. Pada akhirnya konser dari penyanyi bernama lengkap Stefani Joanne Angelina Germanotta ini batal digelar karena alasan keamanan. Ribut riuh tentang konser Lady Gaga kembali mendaratkan tentang arti dari seni.

Bagi seorang yang berpendirian “seni buat kesenian”, (l’art pour l’art) hendaklah merenungkan apa yang dituturkan oleh Mohammad Natsir. Natsir bependapat: Saudara-saudara lebih maklum, bahwa selain dari pada seni masih ada moral., masih ada ideologi kenegaraan, masih ada i’tikad ketuhanan, masih ada cita-cita keagamaan, masih ada falsafah kehidupan. Dan pada hakikatnya seni yang sebenarnya seni dari salah satu bangsa, ialah bangun lahir (uitingsvorm) dari apa yang seluhur-luhur dan sesuci-sucinya yang ada dalam sanubari bangsa itu (Mohammad Natsir, Capita Selecta 1, hlm. 67-68).

Bagi yang berpandangan “seni buat kesenian”, (l’art pour l’art), seni seolah-olah berada pada medan tabula rasa. Netral, dan diserahkan kepada masyarakat. Dalam sebuah diskusi di facebook saya pernah mendapatkan sebuah pertanyaan haruskah sebuah novel membawa nilai dan pesan? Saya sendiri berpendapat karya seharusnya membawa nilai. Tidak sekedar aksara yang berdesak-desakan tanpa hakikat permaknaan. Pun begitu dengan karya seni dalam berbagai bentuknya, mestilah harus memiliki muatan nilai. Nilai inilah kiranya yang membawa pada sisi positif dan negatif. Maka kita mengenal rating, peringatan pada sejumlah karya, sebuah cluster agar siapa yang laik untuk mengkonsumsinya.

Film Batman The Dark Knight Rises misalnya memiliki rating 13+ yang menunjukkan bahwa selaiknya ditonton oleh mereka yang berusia 13 tahun atau lebih. Ada perlindungan yang dimaksudkan dengan klasifikasi rating. Lalu nyatanya dalam konser Lady Gaga di Indonesia tak ada segmentasi umur dari penontonnya. Padahal Lady Gaga merupakan sosok penyanyi kontroversial yang membawa nilai transeksual, menghina agama, menyajikan pornografi. Transmisi nilai ini jika terus berkembang akan membawa kemudharatan dari bangsa Indonesia ini. Kesukaran ekonomi, kebuntuan politik, akan mendapatkan tambahan beban dengan korosi dari segi budaya.

Indonesia tentu memiliki filter bernama Pancasila untuk menyaring nilai, paham yang tidak paralel dengan bangsa ini. Ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan sila pertama dan utama. Lady Gaga sementara itu menimbulkan resistensi dari kalangan beragama karena lirik-lirik dalam lagunya yang melecehkan agama. Atas nama demokrasi, kemerdekaan berpendapat, kebebasan berkekspresi, sejumlah kalangan mendesakkan agar konser Lady Gaga dapat tampil di Indonesia. Sebelumnya Kepolisian tak kunjung memberikan izin keamanan dikarenakan content dari lagu Lady Gaga yang melecehkan agama dan meresahkan masyarakat. Belakangan Kepolisian terlihat melunak dan agak akomodatif dengan tuntutan dari yang pro dengan konser Lady Gaga.

Demokrasi memang selalu memiliki penumpang berbahaya dalam gerbongnya. Pada awal reformasi, kita mendapati penumpangnya ialah pornografi. Serbuan media berbasis pornografi bermunculan dengan harga yang terjangkau pula. Bahkan hingga kini sekalipun, UU Pornografi telah disahkan, jerat pornografi masih begitu kuat membebat Indonesia. Demokrasi memberikan ruang untuk kontestansi nilai. Dalam hal ini demokrasi tak bisa dibiarkan lepas sendirian. Demokrasi harus bersanding dengan hukum positif. Oleh karena itu dengan adanya aturan hukum di Indonesia, maka nilai-nilai yang sekiranya destruktif dapat dieliminasi dari negeri.

Negeri yang membebaskan sebebas-bebasnya akan menjadi negeri yang berantakan dan compang camping. Jika menyitir Ibnu Khaldun, hancurnya peradaban dapat disebabkan oleh dosa keangkuhan, dosa kemewahan, dosa kerakusan. Bila prinsip moral ini tetap saja dilangkahi dengan semena-mena dan tanpa rasa salah, maka siklus bangun jatuhnya kekuasaan akan berulang tanpa henti karena manusia lebih menuruti naluri hewaniahnya (Ahmad Syafii Maarif, Ibn Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, hlm. 6). Moral yang bejat dapat menyebabkan rusaknya tatanan masyarakat. Padahal dari masyarakat yang merupakan orang per orang, sebuah kehidupan bertumpu. Risalah kenabian memberikan pelajaran tegas dan jelas. Bagaimana kaum Luth yang dihujani batu dikarenakan perilaku homo dan lesbian, lalu termusnahkan. Hal tersebut merupakan suluh bagi bagaimana menjalankan kehidupan yang baik.

Negeri Indonesia memiliki potensi. Terlebih kaum mudanya. Pada tahun 2010-2035, kaum muda Indonesia akan memiliki jumlah signifikan dalam jumlah. Namun hal tersebut dapat menjadi bumerang manakala kaum muda yang ada merupakan bibit-bibit yang rusak. Ahmad Dhani pernah menyitir dalam lagunya:

Yang muda mabok
Yang tua korup

Jika kaum muda yang ada ialah orang-orang yang mabuk dalam banyak hal terutama pemikirannya maka centang perenanglah negeri ini. Yang muda dengan segenap tenaga dan semangatnya malahan membolongi perahu besar Indonesia dengan pemikiran yang nyeleneh serta menyimpang dari dasar negara Indonesia yakni Pancasila dan UUD 1945.

Kehebohan yang dihasilkan oleh konser Lady Gaga merupakan sebuah hal yang kontraproduktif. Pemberitaan media harus diakui turut berperan untuk meng-amplifikasi gaungnya kemana-mana. Yang semula tidak tahu Lady Gaga dengan menggunakan search engine mulai melakukan penelusuran. Dan popularitas pun direngguk oleh Lady Gaga. Pengerekan popularitas ini semoga menimbulkan kesadaran dari anak bangsa untuk melihatnya secara jernih. Tidak terombang-ambing dengan penumpang gelap demokrasi ataupun atas nama kebebasan berekspresi.

Kesenian pada akhirnya bukan hanya untuk kesenian. Hiburan juga bukan untuk hiburan saja. Ada yang dibawa dan efek lanjutan dari kesenian dan hiburan. Jiwa dan pemikiran bangsa Indonesia harus sebisa mungkin dilindungi dari invasi nilai destruktif.

Advertisements
Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, sastra

Dewi Lestari

Sebuah nama dapat termaktub dengan berbagai makna. Contohnya adalah Dewi Lestari atau akrab dipanggil Dee. Dewi Lestari mulanya dikenal masyarakat luas sebagai penyanyi dalam grup vokal Rida, Sita, Dewi (RSD). Beberapa tembang hitsnya sempat mewarnai blantika musik Indonesia, sebut saja Antara Kita, Kusadari, Aku Kan Datang. Kanal aktualisasi diri dari Dewi Lestari untuk kemudian mengembang. Pada tahun 2001, ia meluncurkan karya Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Novel tersebut mereguk sukses baik dari segi penjualan maupun dari segi pencapaian prestasi karier penulisan. Melalui novel roman science fiction tersebut Dewi Lestari menjadi nominator Khatulistiwa Award tahun 2001.

Kanal aktualisasi Dee terus menemukan muaranya dengan menjadi pencipta lagu. Lagu Firasat yang dibawakan oleh Marcell meneguhkan posisinya sebagai komposer lagu yang handal. Hibrida aktualisasi antara menyanyi, mencipta lagu, dan membuat cerita, akhirnya berhasil dijembatani oleh perempuan kelahiran 20 Januari 1976 ini melalui proyeknya yang diberi nama Rectoverso. Rectoverso sendiri berarti pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi (Dewi Lestari, Rectoverso, hlm. VIII).

Proyek Rectoverso seperti diakui Dewi Lestari merupakan salah satu proyek paling ‘gila’ sekaligus paling menantang yang pernah dikerjakannya. Berawal dari eksperimen “Hanya Isyarat”, Dee tersadarkan mengenai contoh sempurna dari hibrida buku dan musik. Dua dunia yang selama ini menjadi saluran utama dari kreativitasnya. Dewi Lestari mulai menggali lagu-lagu gubahannya yang lain, yang liriknya memiliki kekuatan naratif hingga bisa dibentuk menjadi cerita pendek. Satu demi satu mulai mewujud, mendapatkan bentuk lainnya dalam format prosa (Dewi Lestari, Rectoverso, hlm. VIII).

Untuk merampungkan Rectoverso, Dee menggandeng Ruzie Firuzie dan Tommy P.Utomo sebagai produser. Adapun dari segi musikal ia dibantu oleh Andi Rianto dan Ricky Lionardi. Kesan grande dalam album Rectoverso begitu terasa dengan kolaborasi yang dilakukan dengan Magenta Orchestra. Yang hebatnya lagi rekaman dilakukan secara live.

Jika menilik rekam jejak karya dari Dewi Lestari maka akan terdapati kreatifitas yang beragam. Karya-karya yang dihasilkannya mampu tampil segar dan tampil dalam berbagai warna. Ibarat keindahan, karyanya adalah keindahan yang tidak monokrom. Ambil contoh dalam serial Supernova yang rencananya akan tampil heksalogi. Sejauh ini telah terbit novel Supernova sebanyak empat edisi. Rentang waktu terbitnya pun beraneka ragam. Supernova 1:Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh hadir tahun 2001, lalu Supernova 2: Akar di tahun 2002, Supernova 3: Petir di tahun 2004, Supernova 4: Partikel di tahun 2012.

Dari keempat episode Supernova yang telah mekar tersebut terlihat perbedaan dalam gaya penceritaan. Pada Supernova 1, terdapati science fiction; pada Supernova 2, gaya penceritaannya lebih ringan dan mengangkat punk; pada Supernova 3, gaya penuturannya renyah lagi lucu; pada Supernova 4, kembali tema ilmiah menyambangi dengan rangkaian pertanyaan tentang UFO. Dari keempat novel tersebut dapat terdeteksi bagaimana Dee tidak melakukan pendekatan yang sama dalam setiap karya. Ia mampu dengan cerdas melakukan perubahan dengan benang merah karakter yang masih terasa.

Serial Supernova sendiri ibarat mozaik. Dimana ternyata ada jembatan penghubung antara kisah-kisah tersebut. Contohnya ialah Diva yang hilang di Tambopata (Supernova 2), Bong yang ternyata sepupu dari Mpret (Bong ada di Supernova 2, sedangkan Mpret merupakan tokoh di Supernova 3), Elektra yang bertemu dengan Bodhi (Supernova 4). Dengan demikian kita dihadapkan pada keterpisahan yang utuh. Pada tiap episodenya, Supernova menjanjikan keindahan personal. Disamping itu ada keterkaitan antar episodenya yang membuat jalinan ketakjuban tersebut tidak terputus.

Melalui Supernova, Dewi Lestari mengusung nilai-nilai yang dipercayainya. Dia menggugat dan mendobrak melalui karakter homo, pelacur, istri yang selingkuh pada Supernova 1. Dia melakukan perjalanan di Asia Tenggara dan mengeksplorasi budaya punk, seni tato pada Supernova 2. Dia berhasil menampilkan sisi humoris dan penceritaan yang mengalir dalam Supernova 3. Dia mempertanyakan tentang agama, ilmu pengetahuan pada Supernova 4. Medan spektrum yang luas ditelusuri oleh Sarjana Ilmu Politik dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan ini. Dari keempat buah Supernova terdapat benang merah bahwa Dee bicara cinta, tapi cinta dengan latar sosial dan narasi nilai yang kuat.

Melalui karya sastranya, Dewi Lestari menelusuri banyak jalan penceritaan dan berbagai pilihan penyampaian. Dalam Madre (kumpulan cerita), saya terpesona dengan cerita pembuka (Madre) dan cerita pendek penutup (Menunggu Layang-layang). Cerpen berjudul Madre mengisahkan tentang bagaimana dari roti dapat merangkum pencarian makna dan pertanyaan hidup. Dee dengan cerkas mengolah adonan nilai dalam sisipan kuliner roti yang memikat. Pembacanya dibawa menelusuri sejarah masa lalu dan bagaimana roti yang turun temurun memberikan kehangatan nilai-nilai kekeluargaan. Sedangkan pada cerpen Menunggu Layang-layang, disuguhkan bagaimana cinta, persahabatan, dan melawan kesepian. Pada akhirnya cinta dapat meluluhkan dan menghentikan pencarian dan penungguan terhadap sesuatu.

Pada Rectoverso, Dewi Lestari melakukan fusion antara musik dengan cerpen. Tagline yang dinarasikan ialah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Cerpen-cerpen yang dihadirkan oleh Dee mampu memikat. Saya sendiri menjagokan kisah Malaikat Juga Tahu, Aku Ada, Cicak di Dinding, Tidur sebagai kisah favorit dalam Rectoverso. Puas membaca cerpennya, keindahan tidak berhenti. Kita dapat mendengarkan lagu oke seperti Malaikat Juga Tahu, Aku Ada. Pada lagu Firasat, aransemen ulang dilakukan pada lagu yang pernah dipopulerkan oleh Marcell ini. Pada aransemen baru, lagu Firasat dibawa lebih slow dan mendapatkan tambahan kata Aku pun sadari/ Kau tak kan kembali lagi.

Diantara kepungan karya Dewi Lestari saya memiliki beberapa favorit dengan karakter kuatnya masing-masing. Pada Supernova, edisi pertama dan ketiga menjadi unggulan saya. Pada Supernova edisi ketiga, terus terang saya mendapatkan paralel keindahan dengan novel Perahu Kertas. Sukar bagi saya untuk berhenti membaca halaman demi halamannya. Ada humor, keceriaan, filosofi nilai yang tertampil. Boleh dibilang Supernova 3: Petir dan Perahu Kertas menghadirkan wajah berbeda dari Dee. Intelektualitasnya tetap terlihat, namun sisi komedi dan penyampaian yang lebih ringan berhasil direngkuhnya.

Tak syak lagi Dewi Lestari merupakan pengarang yang karyanya memiliki kedalaman dan menawarkan ‘virus’. Pada beberapa hal saya bersebrangan pemikiran dengan pendapat Dee. Meski begitu itu tidak menyurutkan saya untuk berkata bahwa karya-karya Dewi Lestari impresif dan layak direkomendasikan.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Politik, Sejarah

Sejarah Politik

Pada akhirnya adalah senja. Remang-remang, dan disanalah kita melihat sejarah politik. Indah dalam kemisteriusannya. Medan sejarah dan politik bukanlah sebuah area 100 %. Ada kemungkinan yang melingkupinya. Maka membaca dan menghayati literatur sejarah dan politik hendaknya jangan menanggalkan daya kritis dan skeptisme. Jangan sekedar pasrah, mencangkokkan ilmu begitu saja. Celakanya sikap skeptisme inilah yang diserang dalam hegemoni domain sejarah politik. “Jangan mempertanyakan lagi, ini sudah final,” begitulah kira-kira asumsi yang terbangun. Akibatnya ialah dunia ilmu menjadi beku. Dialektika, apa yang dikatakan dalam istilah Perancis sebagai du chocs des opinions jaillit la verite (dari benturan berbagai opini akan muncul sebuah kebenaran) ataupun du chocs des idees jaillit la lumiere (dari benturan berbagai gagasan akan muncul sinar- kebenaran) (Amien Rais, Selamatkan Indonesia !, hlm. XV) tidak terjadi dalam kajian keilmuan dan di masyarakat luas.

Sejarah politik sejatinya teramat mungkin mengalami kekeliruan. Namun dalam praktek otoriter, terjadi apa yang diistilahkan oleh Asvi Warman Adam sebagai hegemoni makna dan wacana. Makna dan wacana ditafsirkan totalitas berdasarkan kerangka pihak penguasa. Mereka yang berpikir di luar kerangka berarti salah, berarti keliru. Hal inilah yang menyebabkan terjadi penyematan anti revolusi, ekstrem kanan, ekstrem kiri. Jalan berpikir yang berbeda dengan ide dari pemerintah merupakan basis pemikiran yang berbahaya. Terjadi kriminalisasi terhadap kongsi yang bersebrangan. Ranah pemikiran menjadi bersifat hitam-putih. Di luar itu mereka yang oposan mengalami kematian perdata.

Sejarah politik penting untuk menumbuhkan semangat berbangsa. Lihatlah Hitler yang mendengungkan Ubber Alles di Jerman sana. Betapa Jerman terpukul setelah mengalami kekalahan di Perang Dunia I. Jerman harus membayar kerugian perang sebesar $ 1,5 milyar, Angkatan darat dikurangi hingga hanya 100.000 personil, angkatan laut Jerman yang dulunya besar dan membanggakan diperkecil menjadi hanya 24 kapal, Jerman dilarang memiliki angkatan udara dalam bentuk apapun, Jerman kehilangan wilayah negara-negara di perbatasannya, semua koloninya di Afrika dan Asia disita, melalui Perjanjian Versailles rakyat Jerman merasa marah dan dipermalukan (Colin Hynson, Kisah Yang Terlewatkan Perang Dunia II, hlm. 8-9). Maka Jerman Ubber Alles membangun konsep dengan melakukan ‘ilmiahisasi’.

Diseminasi gagasan yang terus menerus dilakukan seperti termaktub dalam cuplikan peristiwa berikut (Colin Hynson, Kisah Yang Terlewatkan Perang Dunia II, hlm. 11):

“Selama tiga bulan saya berhasil menghindar untuk menghormati bendera swastika. Namun, saya terlalu sering melakukannya. Saya melihat sebuah iring-iringan perawat Nazi, yang membawa spanduk. Tanpa pikir panjang, saya berbalik dan berjalan berlawanan arah, hanya untuk kemudian menghadapi empat orang berseragam cokelat menyeberang jalan mendekati saya.

“Mau menghindar?” kata salah satu dari mereka. “Angkat lenganmu! Sekarang bilang apa?”

“Hail Hitler”, kata saya

Saya bisa meludahi diri sendiri saat berjalan melewati iring-iringan dengan lengan terangkat.”

Dari All Quiet in Germany oleh Karl Billinger, diterbitkan pada 1935.

Terlebih diseminasi gagasan dilakukan ketika oleh penguasa membuat derajat kebenaran ide menjadi periferi dan tak penting lagi untuk dipertanyakan. Ada kesan sejarah politik menjadi mitologi. Ada nilai tak tersentuh, ada keajaiban, ada keistimewaan bagi para pemimpinnya.

Sejarah politik yang diproduksi penguasa macam begitu meninabobokan rakyat. Melucuti intelektualitas dan daya sengat skeptisme. Rakyat menjadi sekedar penerus yang patuh. Beo-beo dalam sangkar. Takaran pengetahuan ditentukan dosisnya dan harus ditelan serta dinarasikan persis. Tak ada alternatif. Sejarah merupakan milik para pemenang. Dan penguasa adalah para pemenang itu. Maka tak mengherankan terjadi penggelembungan-penggelembungan peran. Soeharto misalnya dikesankan menjadi konseptor Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam buku-buku pelajaran sejarah. Padahal dua minggu sebelumnya Soeharto diminta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX ke Keraton Yogyakarta. Jadi, ide serangan itu sebetulnya dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Foto yang merekam pertemuan ini juga tidak dipasang pada monumen yang dibangun beberapa kilometer dari kota Yogyakarta. Dengan demikian, peran Sri Sultan sengaja dihilangkan (Essai Asvi Warman Adam, 1000 Tahun Nusantara, hlm. 215).

Pengokohan sejarah politik lainnya ialah termaktub dalam film. Film Janur Kuning yang biayanya Rp 385 juta (tahun 1979, hampir dua kali lipat biaya rata-rata pembuatan film Indonesia saat itu) menggambarkan Soeharto sebagai seorang komandan yang berwibawa, tenang, dan murah senyum. Daya fisiknya luar biasa. Setelah pertempuran panjang, anak buahnya tampak lelah, Soeharto tetap berjalan dengan energik. Seorang anggota pasukannya (di dalam film itu) berkata, “Berjalan tujuh hari tujuh malam, Pak Harto tak pernah istirahat.” Ia juga menjadi teladan bagi anak buahnya, ketika ditawari makanan oleh penduduk, ia memastikan dulu orang lain memperoleh makanan tersebut. Fokus kamera dan percakapan tertuju kepada Soeharto. Jenderal Sudirman dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX hanya disoroti sekilas. Dalam film ini divisualkan (Budi Irawanto: 1999), Latief membawa berita bahwa Belanda menyerbu Yogyakarta tanggal 19 Desember 1948. Pertanyaan Sudirman yang pertama-tama adalah “Bagaimana Soeharto?” (Essai Asvi Warman Adam, 1000 Tahun Nusantara, hlm. 215-216).

Sejarah Orde Baru menurut Asvi Warman Adam merupakan hikayat yang disusun oleh militer. Fungsi turunannya ialah diagungkannya persatuan dan kesatuan. Segala upaya daerah yang mengusik sebagai lalat pengganggu dilabeli pemberontakan, upaya untuk memecah belah. PRRI/Permesta menjadi salah satu yang dilabeli sebagai gerak pemberontakan. Padahal jika mau jernih melihat seperti dikatakan RZ Leirissa gerakan PRRI merupakan upaya untuk menangkal gerakan komunisme yang semakin mencengkram Republik Indonesia. PRRI juga harus dilihat sebagai protes daerah terhadap pusat. Bahwa praktek politik yang timpang menyebabkan daerah meradang. Dari segi tokoh di PRRI seperti Mohammad Natsir, Boerhanuddin Harahap, mengalami ‘antagonisme peran’. ‘Antagonisme peran’ dikarenakan mereka dianggap sebagai tokoh-tokoh pemberontak yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Antagonisme ini bahkan berlanjut lebih mendalam dan bersifat budaya seperti anak-anak Sumatera Barat kelahiran pasca PRRI/Permesta yang banyak menggunakan nama barat. Hal ini untuk menghindari stigma pemberontak yang diproduksi oleh pihak penguasa. Mohammad Natsir sendiri sesungguhnya merupakan tokoh yang amat berperan dalam padunya Indonesia. Ia ketika menjadi Ketua Fraksi Masyumi mengajukan Mosi Integral di parlemen pada tanggal 3 April 1950. Mosi Integral ini bahkan dikenal sebagai proklamasi kedua. Dengan adanya Mosi Integral ini maka wilayah-wilayah Indonesia kembali utuh setelah politik negara boneka yang dijalankan oleh Van Mook.

Dengan demikian sejarah politik dapat begitu hegemonik dan perkasa. Sejarah politik menyerang pemikiran. Memberikan definisi miring terhadap upaya oposan. Celakanya limbah dari sejarah politik yang keliru ini tidak serta merta berakhir ketika tumbangnya rezim otoriter. Buktinya ialah dengan adanya arus balik pemikiran ‘lebih baik zaman Orde Baru’. Orde Baru dengan segala prestasinya disandingkan dengan era reformasi yang masih tertatih ini. Segala tindakan keras, menafikan HAM, dikompromikan sebagai langkah yang harus ditempuh untuk jayanya negeri. Sejarah politik rupanya telah mencengkramkan idenya ke sumsum yang mendalam.

Seperti film Inception, bagaimana Cobb dapat menanamkan ide berikut: You’re waiting for a train, a train that will take you far away. You know where you hope this train will take you, but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. How can it not matter to you where the train will take you? Konsep kata-kata tersebut dihidupkan melalui narasi dan dialog intensif antara Cobb dan Mal di dunia mimpi. Hingga akhirnya ketika kembali ke dunia nyata, Mal masih begitu kukuh memegang ide yang ditanamkan oleh Cobb tersebut. Ia sebegitu percayanya dan itu wajar, mengingat bagaimana pesan itu dulu menemui banyak pintu ketika diinjeksikan di dunia mimpi. Mal akhirnya bunuh diri, lompat dari apartemennya. Meninggal dengan konsep yang ditanamkan tersebut.

Jika dikomparasikan dengan sejarah politik, maka banyak kiranya tipikal Mal yang tumbuh akibat corong dari hegemoni makna dan wacana tersebut. Kebenaran sejarah telah terkonsep, hadir dalam bentuk yang utuh. Maka diperlukan sikap yang benar untuk meluruskan sejarah yang keliru dimana-mana. Masyarakat harus bersiap menerima bahwa apa yang selama ini dipercayainya ialah salah. Dan ini tidak mudah. Pengetahuan tersebut telah berlapis dan membentuk corak berpikir. Meluruskan sejarah berarti menghadirkan jalan-jalan baru, menyanggah pendapat di masa lalu yang telah tertanam. Sedangkan bagi kalangan cendekiawan, diperlukan ketelatenan untuk mereka ulang sejarah. Cendekiawan juga jangan sampai serta merta emosional membabat semua sejarah yang sumbernya dari pemerintah. Informasi-informasi dari penelusuran sejarah politik para cendekiawan inilah kiranya akan menempatkan domain ilmu ini menjadi ‘selalu koma’.

Sejarah politik akan terbuka untuk ditafsirkan, diproduksi dengan membuka lembar-lembar historis baru. Contoh nyatanya ialah perihal penempatan pasukan di istana yang mengalami ragam permaknaan dari B.J.Habibie, Wiranto, Prabowo. Sejarah yang terbuka inilah kiranya yang mencegah dari dogma, final, dan sempurna. Karena dalam sejarah politik tidak berlaku “Pada hari ini telah kusempurnakan risalah sejarah politik”. Sejarah politik yang ‘selalu koma’ inilah yang menandakan adanya proses intelektual dan dapat menjadi medan terbuka untuk dikaji.

Posted in Essai, Jalan-Jalan

Bandung dan Perjalanan Itu

Perjalanan saya percaya bukan sekedar berpindahnya fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Perjalanan merupakan upaya untuk mengumpulkan kepingan makna. Maka lihatlah kisah perjalanan selalu menarik untuk diceritakan dan dibicarakan. Dalam kitab suci, kita mendapatinya, semisal perjalanan nabi Musa dengan nabi Khidir. Bagaimana sepanjang perjalanan nabi Musa terus bertanya tentang aneka ragam tindakan yang dilakukan oleh nabi Khidir, yakni merobohkan tembok rumah, membunuh anak kecil, menenggelamkan perahu. Untuk kemudian nabi Musa mendapati bahwa ada alasan, ada makna dari setiap tindakan yang dilakukan oleh nabi Khidir.

Kalau ada kota di Indonesia yang dapat membetot saya begitu erat. Maka dapat saya katakan ialah Bandung dan Yogyakarta. Kedua kota tersebut memiliki magnet tersendiri yang menimbulkan kekangenan untuk kembali singgah. Sebagai seorang betawi tulen menyebabkan saya tidak memiliki ‘kewajiban’ untuk pulang kampung halaman setiap lebaran. Hal inilah yang dimanfaatkan keluarga kami untuk melakukan perjalanan wisata setiap lebaran. Jalur yang dituju pun beragam-ragam. Saya dan keluarga pernah mengarungi pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Berbagai kota baik besar maupun kecil pernah saya singgahi. Rupanya sosialisasi politik yang dilakukan semenjak kecil ini membentuk DNA perjalanan pada diri saya. Timbul hasrat untuk menjelajahi tempat-tempat yang tidak biasa dikunjungi harian. Saya pun menyambut perjalanan sebagai tantangan dan eksplorasi pengalaman baru.

Di awal bulan Mei dan Juni 2012, saya melakukan perjalanan ke Bandung. Di perjalanan bulan Mei, lebih dikarenakan sebagai sebuah ‘pemberontakan’ terhadap pola kerja Senin-Jum’at. Saya pergi ke Bandung pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 dan merasakan betul orbit yang berbeda dari orang-orang yang saya temui di perjalanan (kisah lebih lengkap ada di artikel berjudul Orbit). Pada bulan Juni 2012, baru saja saya laksanakan perjalanan pada hari Sabtu tanggal 2 Juni 2012). Kebetulan ada acara Hotaru di ITB dan keesokannya sobat saya ada gathering dengan komunitas games-nya. Jadilah saya dapat menikmati durasi yang lebih panjang di kota yang memiliki julukan Paris Van Java ini.

Pada hari Sabtu 2 Juni 2012, acara Hotaru cukup menarik saya ikuti hingga penutupan. Hmm..sepertinya saya akan membuat liputan tersendiri tentang acara Hotaru ini. Lalu pada keesokan harinya, setelah menginap di rumah teman, saya pun berkesempatan untuk berkunjung ke Museum Asia-Afrika. Sudah lama kiranya saya memendam hasrat untuk ke tempat bersejarah yang merupakan tonggak penting dari politik luar negeri Indonesia ini. Konferensi Asia-Afrika merupakan event yang menunjukkan independensi, sebuah pernyataan untuk lepas dari cengkraman kolonialisme. Konferensi Asia Afrika (KAA) menghasilkan Dasasila Bandung. Prinsip yang menjadi panduan untuk masyarakat Asia dan Afrika untuk bekerjasama dan mengeratkan solidaritas internasional. KAA bertempat di Gedung Merdeka yang memiliki gaya arsitektur Art Deco. Dan saya menyusuri sejarah itu bata demi batanya.

Bandung memiliki percabangan yang menarik. Kuliner, oleh-oleh, kreatifitas, nuansa udara, bangunan bersejarah, padukan itu dalam satu kota, maka akan didapati di Bandung. Perjalanan menuju Bandung sendiri dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Jika memakai kereta api Argo Parahyangan maka akan didapati tekstur alam yang memikat. Mulai dari pemandangan pemantang sawah, jembatan gantung, terowongan, dan sebagainya. Deru suara kereta api yang beradu dengan rel juga menimbulkan harmoni tersendiri yang unik.

Saya percaya setiap perjalanan memiliki lembar sejarahnya tersendiri. Dari berbagai muhibah, saya ke Bandung, spot-spot berbeda saya dapati. Ketika bersama kakak saya, saya bertemu dengan bisnis kreatifitas. Jajaran factory outlet yang dipenuhi aneka desain yang limited edition nan ciamik. Bagaimana roda ekonomi berputar keras di sisi ini. Saya juga mengunjungi beberapa mall di Bandung. Sebut saja Cihampelas Walk, Paris Van Java, Bandung Indah Plaza. Bersama kakak saya, tinggal anteng ikut kemana-mana.

Sedangkan pada perjalanan tanggal 3 Mei 2012 ke ITB, saya melakukan perjalanan sendiri. Rupanya perjalanan sendiri menyenangkan. Saya hanya perlu berdialog dengan diri sendiri mengenai apa yang ingin dilakukan. Tentu saja perjalanan personal akan mengasah dan menguji kemandirian.

Perjalanan juga memberikan horizon wawasan baru. Bertemu dengan rangkaian realita baru dan orang-orang baru. Membuka mata dan hati. Ridwan Kamil sang master desain urban menyatakan bahwa rahasia kreatifnya ialah rajin membaca dunia. Membaca dunia itu dengan jalan rajin membaca buku dan rajin jalan-jalan, traveling. Di setiap kota yang Ridwan Kamil kunjungi, ia merekam dan menempelkan di memorinya. Jadi begitu ia mendesain, ia download memori-memori itu. Mencari ide, menurut lulusan Teknik Arsitektur ITB ini yakni dengan melihat, kemudian menyerap, dan memproses dalam memori otaknya untuk menghasilkan ide-ide kreatif (Tarbawi, Edisi 23 Februari 2012). Sedangkan bagi saya personal, perjalanan juga teramat penting untuk mengkayakan kemampuan menulis. Menulis memerlukan bahan-bahan yang menarik. Dan untuk mendapatkan bahan-bahan itu, salah satu caranya ialah dengan melakukan perjalanan.

Leonardo Da Vinci konon membawa buku catatan ketika dia melakukan perjalanan. Dia mencatat pemikirannya dan menggambar sketsa dari bangunan yang dilihatnya. Saya sendiri juga tidak sekedar menghamburkan uang dalam perjalanan ke Bandung. Bagi saya perjalanan tersebut merupakan sebuah investasi bagi karya-karya yang akan lahir. Saya merekamnya dalam ingatan, mengingat nuansa yang saya kecup, menulis tentang beberapa hal yang terlintas dan penting.

Jika orang-orang yang pergi ke Bandung umumnya memenuhi ranselnya dengan Kartika Sari, brownies, cheese stick, keripik, ataupun panganan lainnya. Saya memilih untuk tidak turut dengan arus mainstream tersebut. Bagi saya cukuplah membawa pulang rangkaian makna, konsep, rekam bangunan, dan nuansa. Itulah yang saya butuhkan untuk menjadi amunisi kreatifitas. Tentunya perjalanan ini menyadarkan saya tentang realitas lainnya. Memperluas pandangan dan tidak terkerangkeng dengan model berpikir Jakarta dan Jakarta. Masih banyak kiranya hal yang belum yang saya eksplorasi dari kota ini. Mungkin saya akan membeli buku panduan perjalanan di kota ini, untuk melihat titik-titik mana saja yang menarik untuk ditelusuri dan disinggahi.

Wisata sejarah rasanya layak saya garis bawahi. Dikarenakan praktis berbagai bangunan sejarah di Jakarta telah beberapa kali saya kunjungi. Maka mengarungi bangunan peninggalan sejarah dan cagar budaya di kota Bandung merupakan destinasi yang menarik untuk menjadi eksplorasi berikutnya.

Perjalanan memang krusial dan dibutuhkan oleh manusia. Di Sumatera Barat, kita mengenal istilah merantau. Di Sulawesi Selatan, kita mengenal istilah ‘sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian’. Orang etnis China yang menyebar ke berbagai penjuru dunia. Mereka yang telah mencicipi perjalanan akan memungkinkan untuk toleransi dan menerima perbedaan. Perjalanan itulah kiranya yang menempa dan mendialogkan diri secara personal. Selamat berjalan-jalan, dan tidak terpaku di satu titik bumi.

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Kabut (3- Tamat)

Berapa bulan telah berlalu semenjak perkenalan pertama kami yang disertai serah terima brownies. Kami pun semakin akrab dan saling menaruh kepercayaan satu sama lain.

“Bokap lu jarang pulang ya..,” ungkap kata Julia selepas melakukan pemindahan aneka snack dari kulkas.

“Sibuk,” jawabku singkat.

Dialog ini sendiri bertempat di ruang tamu dimana aku sedang bergulat dengan kata di depan mesin tik. Yap kalian tidak salah membacanya ‘mesin tik’. Bagiku mesin tik selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, klasik, juga merupakan medan pelatihan yang mumpuni bagi penulis. Coba jika Anda menggunakan komputer atau laptop dalam menulis, bisa jadi pikiran Anda akan terpecah dengan sosial media. Sibuk update status di facebook, berkicau di twitter, atau menjelajah tak ada juntrungannya di dunia maya. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan perangkat antik legendaris ini: mesin tik.

“Padahal lu anak satu-satunya,” ucap Julia sembari menopangkan wajahnya dengan sebelah tangan. “Eh entar SNMPTN mau milih jurusan apa?”

Cetak-cetok suara mesin tik.

“Halo?” tanya Julia melambaikan tangannya di dekat mukaku.

“Ayahku menginstruksikan untuk memilih Manajemen Fakultas Ekonomi UI,” jawabku dengan arah mata ke mesin tik.

“Terus?”

“Terus apa?” tanyaku melirik Julia yang dengan kecepatan tinggi menghabiskan persediaan makananku.

“Bukannya lu mau jadi novelis? Kenapa gak milih sastra gituh.”

“Bisa ambilin buku itu,” tunjukku pada buku bersampul hijau dengan cover perahu dimana terdapat dua orang manusia sebagai latar.

“Aku bacakan ya, halaman 37 dari novel Perahu Kertas,” aku siap mensajikan alasan.

“Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segelintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok. Kebanyakan dari mereka punya pekerjaan lain, jadi wartawan kek, dosen kek, copy writer di biro iklan kek. Apalagi kalau mau jadi penulis dongeng! Sekalipun aku serius mencintai dongeng, tapi penulis dongeng bukan pekerjaan ‘serius’. Ngak bisa makan.”

“Jadi konklusinya karena uang?” Julia menatapku dan menghentikan kegiatan makan-makannya.

“Bukan cuma uang nona, ada keinginan orang tua,” jawabku menatapnya balik.

“Terus mimpi menjadi novelis apa kabarnya. Sayonara aja gituh?”

Sebuah pertanyaan yang menohokku. Aku dan mimpi yang kusulam di pergantian waktu. Aku dan realitas kehidupan. Aku dan cita-cita. Aku dan masa depan.

“Gw udah baca draft novel lu,” Julia merajut kata lagi.

“Salah sendiri naruh tumpukan kertas karya dimana-mana dan bisa diakses sama siapa aja. Jadi gw baca aja,” Julia melanjutkan monolognya.

Perlu dibenerin sih di beberapa bagian. Ngelantur ke kiri kanan, kurang fokus,” tambahnya sok tahu dan sok memberi saran.

“Yang gw bingung tokoh cinta platonik dalam draft novel lu, kok mirip gw ya?”

Sontak mukaku merah padam. Kata-kata kehilangan aksaranya.

***

Malam telah merangkak naik. Lampu-lampu kecil menjalar diantara rerumputan. Lampion yang diisi oleh bohlam memadukan cahaya temaram yang menentramkan. Festival perpisahan bagi kelas III, sebuah ritual wajib tahunan. Rupa-rupa band dari anak kelas I dan kelas II telah naik panggung. Beberapa kata berintikan semangat, persatuan, persahabatan telah diucapkan. Sementara aku kini berada di perpustakaan sekolah. Sebabnya secarik kertas yang ditulis tangan oleh Julia. Jangan tanya aku bagaimana dia bisa membuka pintu perpustakaan. Minimal ada dua variabel yang dapat menjelaskan: lobi kepada petugas perpustakaan atau mengakali kuncinya.

“Akhirnya kita berpisah ya Fin,” ungkap kata pertamanya menampilkan siluet sosoknya.

“Lu mau tahu alasan sebenarnya gw antipati ama buku?” tanyanya melembut.

“Gw takut menemui halaman terakhirnya,” ucapnya dengan corak suara tercekat.

“Halaman terakhir berarti kematian buat gw, Fin.”

“Dan momen-momen sekarang udah mau sampai di halaman terakhir, Fin.”

Terus terang aku tidak begitu paham apa yang diucapkan Julia.

Sampai dia melanjutkan lagi penjelasannya.

“Lu yang terpenting berhasil menemukan siapa dirimu sebenarnya sekarang,” rajut kata Julia.

“Lu udah melihat realitas-realitas yang lain.”

“Dihajar habis-habisan di kelas bela diri, jumpalitan menyusun kata tapi tidak berguna untuk mengejar narasumber dan buku-buku tentang perjalanan yang tidak diperlukan untuk perjalanan,” kataku menafsirkan realitas yang kutemui bersama Julia.

Kami tertawa pelan bersama.

“Bukan cuma itu. Mimpi lu buat jadi penulis novelis fantasi. Gw tahu kenapa lu rajin betul baca rupa-rupa literatur. Lu pengen membuat karya yang bisa menjembatani ilmu-ilmu yang ada. Lu baca novel detektif, buku politik, sejarah, filsafat, psikologi, dan cabang ilmu lainnya. Lu berjalan menuju mimpi menjadi novelis fantasi di realitas bernama Indonesia.”

“Aku bakalan memilih Sastra Indonesia di SNMPTN,” jawabku mantap.

“Dan kau tahu kenapa?” aku balik bertanya.

“Karena seorang hawa telah menunjukkan kepadaku jalan menuju cita-cita dan harapan.

“Bukan gw, Fin. Tapi lu sendiri yang mencerahi dan menuntun menuju jalan harapan,” Julia menjawab pasti.

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Quotes dari film Hugo,” aku merasakan lembut senyum Julia ketika mengucapkannya.

Aku telah bernyanyi untukmu
Tapi kau tidak juga menari
Aku telah menangis di depanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi

“Lagu Gelombang karya Kahlil Gibran,” ujarku menjelaskan sajak yang kukutip.

Julia bergerak mendekat kepadaku. Ia menyalakan lilin dalam satu sapuan gerakan pemantik.

“Gw gak nyata Fin,” ujarnya tenang.

“Haha..lucu sekali nona Julia,” tandasku menanggapi.

“Gw cuma pion Fin. Pion dalam cerita. Yang bakalan tamat di akhir cerita.”

“Biar kutebak siapa sang pengarang agungnya,“ balasku memberanikan diri menggenggam tangannya.

“Aku si pengarang agung dalam cerita tersebut,“ rentet kataku menatap mata beningnya.

“Halaman terakhir berarti kematian buat gw, Fin.”

“Dan gw senang bisa berakhir dengan cinta. Darimu sang pengarang, sang aktor.”

Julia mendekatkan wajahnya. Ia mengeratkan genggaman tangannya padaku. Remang cahaya lilin merefleksikan keindahan wajahnya. Kecantikan yang sedih. Kecantikan yang menemui kata cinta di ujung cerita personalnya. Titik airmata, senyum lepas kebahagiaan, kecupan singkat di kening.

***

Apakah hidup ini nyata? Apakah yang tergenggam ini benar adanya? Ketika ilusi melebur menjadi kenyataan. Ketika kenyataan melebur menjadi ilusi. Aku membenahi tumpukan kertas yang berserakan di kamar kostku. Buah dari pengetikan yang kulakukan. Pergulatan dari ide, harapan, ekspektasi, imajinasi. Jejak Julia terasa begitu nyata. Aku kehilangan arah membedakan antara realitas dengan ilusi yang kuciptakan dalam cerita. Konon kata psikolog yang didatangkan ayahku, Julia adalah refleksi dari perempuan yang kuidamkan menjadi pasangan hidupku. Ia menghidup dalam pikiranku. Ia menghidup dalam draft novel yang kubuat. Sebegitu kuatnya hingga aku menyakini telah menjalani rangkaian momentum dengan Julia.

Aku sendiri tak pernah menemui draft novelku dimana Julia menjadi tokoh utama wanitanya. Ayahku telah membakar segala karya-karya lamaku.

“Fantasi itu menyesatkan dan membawa ke pulau utopis,” kata ayahku menjatuhkan konklusinya.

Aku sendiri kini menempuh pendidikan di Manajemen FE UI. Aku masih menulis fantasi dengan segala derivasi cerita yang kubuat. Dan bagiku fantasi tidak dapat dimusnahkan. Fantasi hidup bersamaku dan kuharap dia hidup bersama kalian. Bukankah hidup merupakan kenyataan yang kita pilih? Dan aku memilih hidup dengan segala imajinasi fantasiku. Bersama kenangan Julia yang nyata dan ilusif.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Kabut (2)

Tahun ajaran baru. Kini aku menduduki bangku kelas III-IPS. Sudah 10 hari lamanya Julia resmi menjadi tetangga baruku. Di hari pertama masuk kelas aku telah bersiap semenjak pagi hari. Kalian tahulah posisi kursi dalam kelas dapat menentukan macam-macam dalam konstelasi persaingan. Jadi aku memutuskan untuk berangkat pagi demi mendapatkan bangku kelas yang kuidamkan. Berada di baris terdepan.

Alangkah kagetnya aku ketika sampai di kelas III-IPS 1, bertemu dengan sosok Julia. Dia yang sedang tafakur dengan ear phone-nya.

Aku menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

Ia menatapku.

“Kaget?” tanyanya.

“Aku duduk sini ya,”pintaku dengan sekeranjang harapan.

Dia hanya mengangguk dan kembali menyatu dengan musik di play list-nya.

Aku pun menaburkan confetti suka cita dalam hatiku. Dekat di mata, dekat di hati.

Kehidupan dua tahun SMA-ku yang berkutat pada perpustakaan- ruang kelas- perpustakaan, kini menjadi jauh berbeda. Kini aku memiliki teman sebangku yang kuidamkan. Berita tentang murid baru yang memiliki kecantikan alami seperti elf, wajah innocent tanpa dosa, telah tersebar ke sudut-sudut sekolah. Mulai dari sudut kantin, lapangan basket, perpustakaan. Akibatnya pria-pria di sekolahku mulai mencoba mencari tahu perihal Julia. Pria-pria lain baik yang sekelas maupun lain kelas mengobarkan bendera cemburu padaku begitu teridentifikasi aku merupakan rekan sebangkunya. Haha..peduli amat. Ini cinta bung. Ini medan pertempuran rekan-rekan putih abu-abu. Yang ajaibnya Julia seolah memiliki kecuekan tingkat tinggi terhadap pria-pria lainnya di SMA. Dia tak bergeming ketika digoda, dikirimi surat cinta, diajak nonton. Aku pun menabuhkan keriangan dalam hatiku. Hubungan Julia dengan teman perempuan juga relatif hambar. Ia hanya menyapa seperlunya dan tidak bergabung dalam geng cewek manapun di sekolahan. Jadilah aku dan Julia sebagai dua sosok yang asyik dengan orbit kami sendiri.

Julia mengenalkanku pada rangkaian realitas baru. Muaranya pada rangkaian kegiatan outdoor. Aku diajaknya untuk mencicipi aneka bela diri. Sebagai informasi di sekolah kami, ada beberapa ekstra kulikuler beladiri. Perisai Diri, Taekwondo, Karate, menjadi ekstra kulikuler yang kami coba. Hasilnya aku digasak para rekan putih abu-abu yang setengah dendam dengan kedekatanku pada Julia. Sementara Julia dengan terampil memperagakan jurus apa saja yang diperagakan dan menjadi rising star di segala bela diri itu. Cinta memang benar-benar berdarah dan penuh perjuangan. Lihat diriku yang harus pegal-pegal sekujur badan dan kena hantaman kaki dan tangan yang kelewat keras intensitasnya.

“Dunia tidak secupat yang ada di lembar halaman buku,” ujarnya sehabisku dibanting bolak-balik dalam sesi duel.

“Dengan buku kita dapat mengenal dunia,” ungkapku membela domain pecinta buku.

“Pengalaman yang udah bersatu dengan darah dan daging, itu baru tingkat tertinggi pengetahuan. Coba aja lu tanya para penulis buku teoritis itu, belum tentu mereka pernah mengalami langsung. Kalo berada di lapangan mereka bakalan kelabakan, sempoyongan. Makan tuh teori,” Julia berduel kata keras.

“Buku juga mengambil dari data empirik kok, terus sudah mengalami validasi, dan melihat kemungkinan kesalahannya,” balasku sembari memeriksa memar tubuhku yang dihantam bolak-balik ke lantai.

“Kalau gitu lu cari buku tentang bela diri. Baca ampe ngelotok dan yok kita uji tanding. Kita lihat yang menang itu buku atau aksi langsung.”

“Oke!” jawabku menerima tantangan. Ini nih sialnya orang kalau sudah kesengsem stadium empat, tantangan apa saja bakalan diladenin.

***

Kami berdua seperti pelancong di aneka ektra kulikuler yang menyajikan menu out door. Julia tidak mau terpaku pada satu ekstra kulikuler. Dan kami mencicipi berbagai menu out door yang disediakan oleh kegiatan di luar jam sekolah ini. Harus kuakui dari berbagai muhibahku, Julia banyak benarnya, dan aku merasa selama ini benar-benar terperangkap dalam benteng yang kuciptakan sendiri. Sebelumnya aku berpandangan pencapaian tertinggi manusia adalah ilmu. Dimana itu dapat dicapai melalui buku. Maka aku menjadi kutu buku kelas berat. Sarapan pagiku buku, menjelang tidur buku, buku selalu menjadi sobat karib. Ekses sampingannya aku under estimate terhadap mereka yang gandrung dengan kegiatan out door dan tidak ludes membaca buku.

Cinta memang dapat mengubah seseorang, seperti aku yang mengalaminya sendiri.

Persepsiku terhadap kehidupan bergeser pendulumnya setelah melalui serangkaian aktivitas memeras keringat. Bela diri sudah kuceritakan. Dengan pecinta alam, segala yang kubaca seperti senyap ketika menghadapi medan. Padahal sebelumnya aku telah bela-belain membaca tips dan trik perjalanan, melancong ke Eropa (salah baca kayaknya, toh trip yang kami lakukan tidak sampai sekuku-kukunya Eropa), dan buku-buku lainnya yang kupikir menunjang.

Ketika ikutan memburu berita untuk buletin sekolah, aku harus mendefinisikan kembali ilmuku. Segala pelajaran bahasa Indonesia yang susah payah kuhapalkan menemui kegagalan ketika beraksi di lapangan. Julia yang cekatan dan supel lebih menjadi resep mujarab mewawancarai narasumber ketimbang melalui proses formal dengan pengajuan surat permohonan wawancara. Surat permohonan wawancara yang kususun dengan mengutak-atik kata agar sesuai ejaan yang disempurnakan dan kaidah berbahasa.

***

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Kabut (1)

Apakah kalian percaya cinta pada pandangan pertama? Klise, omong kosong, bunga tidur para pengkhayal, komoditas para industrialis cerita. Ya..ya, aku tahu cinta pada pandangan pertama memang dapat dipersepsikan macam-macam begitu. Akan kuberitahu pada kalian setitik rahasia pada mozaik hidupku. Aku harap kalian mempercayai kisahku. Hmm..aku pikir hanya sedikit, bahkan sangat-sangat sedikit yang percaya pada keajaiban di penggalan masa sekarang ini. Manusia terlalu sibuk dengan orbitnya masing-masing. Sehingga manusia kehilangan satu kata: melamun.

Kisahku dimulai pada satu pagi yang kukira akan biasa-biasa saja. Tapi kau takkan pernah tahu siapa yang akan kau temui pada suatu hari dan jejak keajaiban apa yang ditinggalkannya. Pagi itu aku duduk di teras rumahku sembari membaca buku Sejarah Indonesia Modern karangan M.C. Ricklefs. Aku anggap itu sebagai sarapan pagiku. Ketika aku sedang menelusuri Bab 23: Tantangan, Krisis, dan Keruntuhan Orde Baru, 1989-98 (Pada tahun 1998, rezim Soeharto runtuh di tengah-tengah suasana yang mirip dengan suasana kelahirannya di tahun 1965-6, yaitu di tengah-tengah krisis ekonomi, kerusuhan, dan pertumpahan darah di jalan-jalan. Kalian bisa mengecek pernyataan tersebut pada halaman 659), VW berwarna merah melintas dan parkir persis di rumah tetanggaku. Rumah itu sendiri baru seminggu lalu kudengar dibeli.

Pagiku menjadi benar-benar berbeda ketika pintu mobil VW merah dibuka. Muda, indah memukau. Deskripsi singkat itulah yang dapat kuberikan. Perempuan itu lalu mengeluarkan kunci dan masuk ke dalam rumah. Wow, aku mendapatkan tetangga yang oke. Baiklah super oke. Aku sendiri memutuskan untuk (pura-pura) melanjutkan membaca dan seolah tidak terjadi apa-apa. Cukup selintasan keindahan. Seperti bintang jatuh yang cepat melintas, menyisakan ketakjuban pada jiwa.

Setelah menunggu sekitar dua jam, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Sang pesona belum menampakkan kelebatan pijarnya lagi. Mungkin dia memilih beristirahat. Baiklah masih ada waktu lain. Aku pun memutuskan untuk ke kamarku dan bergelut dengan tumpukan bacaan yang siap memeluk intelektualku.

Masih di hari yang sama, kini waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Bunyi bel rumahku berdering. Tanpa pretensi aku ngeloyor bergerak membuka pintu. Membaca pemikiran Hegel, Hobbes, Machiavelli dalam buku Pemikiran Politik Barat karangan Ahmad Suhelmi benar-benar membawaku pada khazanah intelektual yang mumpuni. Membuatku melakukan penjelajahan intelektual imajinatif tak terbatas ke abad-abad silam Eropa.

Dan..

Senyum itu pertama-tama membekukan tubuh, mengkelukan lidah, menghangatkan hati. Rambut pendek sebahunya, corak wajahnya yang imut-imut seperti boneka, dan sepasang matanya yang memulihkan gelora kehidupan.

“Halo, gw Julia,” ujar perempuan mempesona itu membuka bidak kata. “Gw bakalan menjadi tetangga lu. Salam kenal.”

Sebuah brownies cokelat disodorkannya ke tanganku.

Aku pun mencoba untuk kembali ke alam realitas.

“Namaku Arifin,” jawabku dengan warna suara yang kacau balau.

Ia celingukan melihat rumahku.

“Orangtua lu ada di rumah?” tanyanya cepat.

“Ayahku sedang mengisi seminar di luar kota,” tanggapku dengan suara mulai normal. Oh Tuhan kenapa basa-basi di negeri ini selalu berputar-putar pada pertanyaan yang standar. Salah satunya ialah tentang orangtua.

Aku menambahkan jawab dengan suara agak terseret, “Sedangkan ibuku sudah meninggal 12 tahun yang lalu.”

Ia hanya menganggukkan kepala pelan.

“Okelah kalau begitu. Dimakan ya browniesnya, bukan bikinan sendiri sih, beli di toko. Kalau begitu gw cabut dulu, mau nonton DVD di rumah. Dah”

“Orangtuamu sudah datang Julia?” tanya balikku. “Hmm.. tadi pagi saya lihat kamu bawa mobil sendiri.”

“Orangtuaku sudah meninggal 14 tahun yang lalu,” ungkapnya ringan tanpa beban.

Jawaban yang menghadirkan spektrum pertanyaan bagiku.

***

Hari-hari setelah pertemuan pertama itu adalah pengamatan bagiku. Kini aku memiliki opsi baru dalam kehidupanku: mengamati tetanggaku yang jelita. Tenang saudara-saudara aku bukanlah psycho gila yang sedang mengintai musuhnya. Sebut saja ini sebagai penelusuran dari pandangan pertama yang begitu menggoda. Cinta harus diperjuangkan. Dan anggap saja ini sebagai perjuangan dan upayaku untuk mengenal dan mencari tahu siapa Julia secara lebih dekat.

Tak percuma aku membaca beberapa buku bergenre detektif. Hercule Poirot, Sherlock Holmes mengajarkanku tentang teknik mengintai. Dan berikut adalah hasil laporanku. Julia merupakan orang yang gemar kegiatan out door. Dia senang berolahraga, berpetualang, ataupun mencoba aneka ragam beladiri. Adapun kegiatan in door yang dia gemari praktis hanya menonton film. Batok kepalanya penuh dengan referensi film yang berderet. Bahkan dia hafal lekat segala quotes yang ada di film-film yang ditontonnya. Ia juga orang yang mandiri dan terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain. Soal kekayaan dia mengaku tajir melintir sehingga memungkinkannya untuk memiliki mobil dan dapat tinggal di rumah sendiri. SIM-nya tentu saja melalui proses nembak (ada uang ada barang). Dan saudara-saudara pembacaku sekalian, kakeknya adalah salah seorang pengusaha yang bergerak di bidang infrastruktur. Tenang, kakeknya tidak ikutan cawe-cawe proyek Hambalang.

Begitulah informasi yang mampu kukumpulkan dari upaya pdkt yang kulakukan. Upaya yang terus terang melelahkanku. Dikarenakan Julia baru bisa diperas informasi dirinya jika aku ikutan segala kegiatan out door yang dilakukannya. Sebagai informasi, aku adalah orang rumahan yang punya hobi membaca buku, kemudian tertidur. Oh iya satu lagi, aku memiliki obsesi untuk menjadi novelis fantasi handal. Mimpi yang telah kurajut semenjak duduk di bangku SD. Penyebabnya ialah karena “keracunan” membaca serial Harry Potter. “Keracunan” disini yang positif maksudku, aku benar-benar terpikat tingkat lanjut dengan segala gaya penceritaan dan fantasi yang disuguhkan oleh JK Rowling.

Bicara tentang buku, obsesi novelisku, dan Julia terdapat satu simultan yang unik. Julia tidak suka membaca buku. Menurutnya buku membosankan, terlalu lama, dan tidak cocok dengan tipikal otaknya. Dia memandang para penulis novel seperti dewa yang memainkan pionnya dalam cerita.

“Bagaimana jika kita adalah pion dalam cerita itu, Fin?” tanya Julia suatu waktu. Yap dia mengkorting memanggil namaku menjadi tinggal ‘Fin’.

“Dan kita tidak memiliki kehendak sendiri sesungguhnya,” tambahnya menerawang.

“Nasib, jalan hidup, ulekan emosi ditentukan oleh si penulis novel.”

“Termasuk kematian kita,” tutupnya termenung.

Aku memutar otak untuk mencari referensi yang tepat dalam menjawab ujaran dari Julia.

“Dhimas dan Ruben dalam kisah Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh,” ah akhirnya aku menemukan tambatan pustaka yang dapat menjawab kecut tanyanya.

Aku ingat perbincangan itu berlangsung di beranda depan rumahku. Aku pamit sebentar untuk mengambil buku Supernova dan kembali seperti seorang Avatar yang bersiap menitahkan jawaban.

“Aku akan mengutipkan dari buku Supernova di bagian terakhirnya,” ungkapku.

“Bagaimana kalau ternyata kita hanya dalang tempelan. Figuran. Dua orang pria yang bahkan tak punya nama belakang…hidup dalam sebuah molekul pikiran seorang penulis lain…dan kita selamanya tak akan bisa keluar dari sini.”

Ruben bergidik ngeri, tapi ia berusaha melanjutkan. “Semua memori, pengetahuan, dan hikayat hidup kita hanya diinjeksikan begitu saja…kita tidak sungguhan mengalami itu semua.”

“Dan eksistensi kita habis di halaman terakhir bukunya.”

Julia merenung senyap mendengar hikayat dari novel Supernova.

Aku tersenyum tenang dan bersiap dengan kalimat bernuansa romansa.

“Dan tahukah kemungkinan tamat dari pion dalam cerita tersebut?” tanyaku retoris.

Julia hanya menggelengkan kepala. Menampakkan keluguan dalam tanya.

Aku pun mengutipkan lagi untaian kata dari novel karangan Dewi Lestari tersebut.

“Setidaknya aku tamat dalam rasa cinta.”

***

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa