Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Setuju, Jari Kelingking (3- Tamat)

Mereka pun sarapan bersama dalam hening. Hanya tatapan sesekali yang menginterupsi makan pagi itu. Sementara wanita berbusana putih itu mengamati dari kursi ruang tamu. Setelah sarapan selesai, wanita ideal itu dengan cekatan mengambil mangkuk dan gelas untuk dibersihkannya. Sementara anak laki-laki tersebut bergerak ke luar rumah.

Tora menghampiri si wanita berbusana putih yang sudah mengira pertanyaan mesti terjadi.

“Apa ini?” tuntut tanya dari Tora.

“Keluargamu,” jawabnya singkat.

“Bukan. Keluargaku ada di Jakarta, ada Ara yang menungguku di rumah, dan…,”

“Dan?” wanita itu tersenyum tipis.

“Begini saranku, kau jalani kehidupan dengan keluargamu disini. Dan aku akan kembali 5 hari dari sekarang menemuimu.”

“Tapi…?” Tora mencoba berdebat kata.

“Tiket entah menuju kemana ada padaku Tora. Aku percaya dalam 5 hari kau akan menemukan pertanyaan agung dan jawabannya sekaligus. Kau juga harus memilih pada akhirnya. Hmm..aku harap kau dapat memilih dengan bijak.”

Wanita itu merapikan pakaiannya yang sebenarnya tidak perlu karena telah apik tertata. Kelihatannya dia menunggu Tora bereaksi.

“Ada clue tentang pertanyaan agung dan jawabannya?” Tora berusaha memenangkan tiket entah menuju kemana ini.

Wanita itu mengenakan sarung tangan hitam perlahan, sambil berpikir sejenak.

“Jangan menanti keajaiban, tapi ciptakan keajaiban,” hanya itu clue dari wanita tersebut sebelum berlalu pergi dan meninggalkan Tora di sudut rumah ini.

Mereka memperkenalkan diri. Wanita sempurna ini bernama Wanda sedangkan anak laki-laki ini bernama Navis. Tora pun mencoba mengenal, beradaptasi dengan Wanda dan Navis. Awalnya ia masih tak habis pikir dengan segala yang dialaminya. Bagaimana bisa dia terdampar di tempat entah apa ini. Belum lagi Ara yang masih memenuhi timangan pendulum waktunya disini. Juga satu lintasan rasa yang diakuinya sukar untuk dipadamkan dan dihapuskan jejaknya. Cinta memang ketika sekali tercetus, sukar untuk dibuyarkan.

Detik, menit, jam, Tora menghabiskan waktu dengan keluarganya disini. Wanda ternyata bukan sekedar memenuhi kualifikasi idealnya dalam tampilan luar. Ia juga mewujudkan sosok istri ideal dalam tampilan sifat dan karakter. Ia mendengarkan segala cerita dari Tora yang sebenarnya membosankan dan berputar itu-itu lagi. Ia begitu penurut dan aktif memanjakan Tora dengan tangan yang cekatan. Ia pemasak yang handal. Segera saja lapisan kuliner tersaji di meja makan, mulai dari makanan utama, pembukaan, penutup, cemilan. Ia juga sama teraturnya dengan Tora. Bagaimana tiap waktu berjalan dengan presisi yang akurat, juga penataan ruangan yang benar-benar rapi.

Sedangkan Navis, merupakan anak yang menjadi idamannya. Ia memiliki kekuatan, seperti diperlihatkannya dalam membelah kayu bakar, berburu di hutan. Ia memiliki kecermatan, seperti diperlihatkannya dengan aneka ragam tanaman yang tumbuh subur di pekarangan.

Melihat Wanda dan Navis ia melihat kesempurnaan. Segala imajinasinya tentang keindahan termanifestasi nyata. Tapi benarkah ini yang diinginkannya? Seiring segala presisi kesempurnaan itu, Tora masih mengapungkan ingatan pada segala hiper aktif dari Ara. Ara yang gemar menggambar dimana-mana. Bahkan tembok di rumah pun menjadi sasaran dari kanvas oret-oretannya. Ara yang gemar berkotor-kotor ria untuk mencoba segala sesuatu.

Ingatan Tora tidak berhenti disitu. Ia teringat pada istrinya, Alma. Wanita berambut pendek yang memiliki ragam obsesi dan cita-cita. Tora mengingatnya sambil tersenyum pelan, ketika mengingat kekacauan dari hasil kuliner Alma. Alma tidak pernah mampu memadukan cita rasa dalam masakan. Alma yang menarik, justru karena kerap berbeda pendapat dalam berbagai hal. Dengan Alma, Tora merasakan adanya dinamika hidup. Bagaimana nilai-nilai yang selama ini dipercaya, diuji dengan konsep yang kerap bersebrangan yang dimiliki oleh Alma. Mulai dari busana, pilihan buku, acara di televisi. Tora dan Alma selalu berbeda dan bertentangan. Namun mungkin itulah menariknya. Dua kutub yang berbeda saling tarik menarik dan mempesona satu sama lain.

5 hari usai sudah. Wanita berbaju putih itu mengetuk pintu pelan. Tora telah bersiap. Ia membelai kepala Navis dan memeluk Wanda erat-erat. Ini benar-benar terasa nyata. Dan dia tahu di lubuk hatinya dia telah memilih. Tora dan wanita berbaju putih itupun beranjak berjalan kaki, menuju bukit yang harus ditempuh dalam perjalanan mendaki selama 20 menit.

“Aku telah menemukan pertanyaan agung dan jawabannya,” kali ini Tora membuka kata dan memantapkan diri.

“Pertanyaan agung yang selama ini ternyata mengintai kehidupanku ialah perihal keajaiban. Aku selalu bertanya tentang keajaiban. Aku menanti keajaiban. Aku pasif berharap keajaiban. Aku seperti orang papa yang tak berdaya di gerbang keajaiban. Aku tercandukan keajaiban. Aku berharap tentang segala yang ideal, mulai dari istriku, anakku, kehidupanku. Lalu apa yang kuimajinasikan tidak bertemu dengan kenyataan. Aku kecewa. Aku terbutakan. Aku teralihkan. Aku bahkan tidak menyadari bahwasanya mereka adalah keajaiban untukku. Anakku, istriku, adalah permata-permata keajaiban.”

Tora sejenak mengambil nafas dan melanjutkan, “Jika tempat ini surga, maka seharusnya tidak ada lagi keresahan. Tidak ada lagi pertanyaan. Tapi nyatanya dengan segala keindahan dari tempat ini, aku masih resah, aku masih bertanya. Ini pasti bukanlah surga.”

“Bukankah Wanda dan Navis seperti keluarga ideal yang kau harapkan?” goda tanya dari wanita putih tersebut.

“Keluargaku hanya satu. Dan mereka menungguku. Tak peduli seberapa kurang idealnya mereka. Tak peduli seberapa kurang idealnya diriku. Mereka adalah keluargaku,” ujar Tora dengan suara percaya diri.

“Tolong kembalikan aku. Ke tempatku. Tempat ini memang indah, tapi ini bukan tempatku,” rangkum pendapat dari Tora.

“Kau yakin?” tanya dari wanita bermata biru cerah tersebut.

“Yakin seyakin-yakinnya.”

“Tidakkah kau ingin mengetahui namaku, sebelum aku memberikan tiket kembali?” tanya wanita itu.

“Baiklah sebagai salam perpisahan, siapa namamu?”

“Mala.”

Tora tersenyum pelan.

“Seandainya aku sejak awal menanyakan namamu. Sebuah clue, sebuah anagram,” pungkas Tora.

“Lebih baik terlambat mengetahui daripada tidak sama sekali,” ungkap Mala.

“Pesanku satu, ciptakan keajaiban ketika kau kembali ke bumi,” tutur perpisahan dari Mala.

***

Ruang rumah sakit. Infus yang menetes pelan. Wanita berambut pendek itu tertidur lelap di kursi. Begitu damai melihatnya kembali. Alma, istrinya terlelap menungguinya. Tora berjanji begitu dia bangun, ia akan memintanya untuk kembali ke rumah. Jujur saja kehidupan rumah tangga keluarga kecil ini sempat menghadapi badai. Mereka selama 2 bulan berpisah rumah. Namun segala pengalaman ini menyadarkannya. Alma adalah keajaibannya. Si kecil Ara adalah keajaibannya.

“Ayah sudah bangun,” suara Ara memekik gembira.

“Ayah sudah kembali, nak” tutur Tora singkat.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s