Posted in Essai, Sosial Budaya

Tambun

Lihatlah sobat perutnya yang membuncit. Perut yang berdesak-desakan dengan bajunya. Dan kalian boleh percaya speed dari orang ini teramat lamban. Pemikir? Nol besar. Sebuah nihilisme. Makan dan makan adalah obsesinya. Maka yang berputar dalam orbit pikirannya ya seputar lumbung di perut tak jauh-jauh. Maka ia membosankan, ia menyebalkan. Kelambanannya berpikir teramat luar biasa. Cobalah sekali-kali bicara perihal serius, maka seperti berbicara dengan ternak. Muka melongonya, kata-kata yang terbuang percuma.

Lucunya dia memiliki rekanan yang tak kalah menyebalkannya. Lidahnya bercuka. Atmosfer menjadi dipenuhi negatif ketika aksara keluar dari mulutnya. Hei yang disitu, sekali-kali bercermin apa diri sudah oke? Bukan cuma cermin fisik, tapi juga cermin batin. Perilakunya pun sebelas, dua belas. Maka dua insan ini adalah para pelahap hingga tulang sumsum. Keganasan mereka benar-benar mengerikan terhadap makanan. Selepas perut diisi, mereka kenyang, sempoyongan dan terlelap. Tolong jangan tanyakan tentang kualitas otak dan pemikiran mereka. Aku benar-benar malas untuk bertukar kata dengan tambun kuadrat.

Aduh..duh mereka memanggil dalam kode sayang. Tolong sediakan aku ember siap pakai, rasanya aku membutuhkannya. Gerangan tambun pemalas ini berbicara tak habis-habis. Rupa-rupa yang tak penting. Konklusinya sih sama: konsumsi dan konsumsi. Mereka adalah couple yang telaten menghabiskan rongga-rongga pundi segera, dalam tempo sesingkat-singkatnya. Mereka adalah simbiosis penghancur. Secara personal telah destruktif, lalu padu padankan menjadi personal + personal jadilah maha destruktif, destruktif eksponensial.

Berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tidak beririsan dengan tambun macam begini. Karcis bioskop, makan di food court, beli ini itu, adalah siklus agung dari kencan mereka. Oh iya kalau mereka berpetuah sok bijak, siapkan kapas dan bernyanyi dalam hati, karena saran mereka tidak akan laik pakai. Perhatikan siapa pembawa pesan maka kau akan mendapatkan arti lebih bijaksana.

Tambun dan tambun rajin menggerogot. Lalu selepas itu sekedar ampas, tumpukan sampah yang berhimpitan. Tolong jangan masukkan mereka ke dalam usia produktif, harapan bangsa, yah karena usia mereka lebih dipenuhi dengan jejalan konsumtif. Dan harapan bangsa? Alamak teruklah hari depan jika ada kloningisasi dari perkara sifat mereka.

Di bangku penonton sirkus kehidupan aku mengamati mereka yang berlumpur dalam pemenuhan perut dan hasrat. Sebuah popcorn manis pereda rasa pahit untuk tayangan maha tolol yang melintas di orbit waktu.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s