Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Filsafat, Resensi Buku, Sosial Budaya

Gerbang Bifurkasi (Buku Supernova- Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)

Judul Buku: Supernova- Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Truedee Pustaka Sejati
Tebal: 251 halaman

Saya mendapati buku Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh 11 tahun yang lalu. Ketika itu saya masih duduk di bangku sekolah. Saya terpesona, terpikat, terprovokasi ketika itu. Kini setelah bilangan waktu mengarungi satu dekade lebih, saya tetap terpesona, terpikat, terprovokasi dengan caranya tersendiri. Dalam salah satu roadshow bukunya, saya mendapatkan tanda tangan langsung dari Dewi Lestari. Sayangnya buku bertanda tangan tersebut kini raib dikarenakan perpindahan domisili tempat tinggal saya.

Marilah membahas karya novel yang menjadi titik awal seorang Dewi Lestari untuk menjadi novelis terkemuka di Indonesia. Novel ini oleh Putu Wijaya digambarkan sebagai ‘Di tebing akhir Supernova akan muncul sebuah kalimat besar yang bisa jadi kunci segala macam fanatisme yang kini tengah mengoyak negeri ini: Matilah terhadap segala yang kau tahu’. Sedangkan Dr. I. Bambang Sugiharto memberikan testimoni ‘Sebuah petualangan intelektual yang menerabas segala sekat disipliner; semacam perselingkuhan visioner yang mempesona antara fisika, psikologi, religi, mitos dan fiksi’.

Saya masih ingat ketika dulu saya membaca, begitu terpukau saya dengan konsep dan terminologi yang membutuhkan footnote. Bagaimana sebuah novel dapat selayaknya buku serius nan ilmiah. Contohnya ialah konsep order dan chaos yang dijelaskan sebagai teori tentang sistem deterministik tetapi pergerakannya sangat sensitif terhadap kondisi-kondisi inisial sehingga tidak memungkinkan adanya prediksi jangka panjang. Sesempurna apa pun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengobrak-abrik. Bahkan dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesunggunya chaos dan order hadir bersamaan, seperti kue lapis, yang di antaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Selai itu adalah zona kuantum; rimba infinit di mana segalanya relatif; kumpulan potensi dan probabilitas (Dewi Lestari, Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, hlm. 5).

Konsep-konsep ilmiah tersebut tidak berdiri sendiri melainkan mampu disulam menjadi inheren dengan cerita. Inilah yang membuat terjadinya paduan perayaan yang mengagumkan. Pada beberapa novel seperti disitir oleh Sapardi Djoko Damono lebih seperti tunggangan dari pemikiran yang dimiliki oleh penulisnya. Novel Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh tentunya membawa seperangkat nilai dan pemikiran dari penulisnya. Yang eloknya ialah mampu dirajut dengan bahasa puitis, ilmiah, sehingga nyaman untuk menjadi ‘virus’ di benak pembacanya.

Ketrampilan untuk menginjeksikan virus inilah yang menjadi salah satu nilai lebih dari novel yang masuk 5 besar dalam Khatulistiwa Award tahun 2001. Pesan yang tidak disampaikan dengan elegan dapat menjadi kering, dogmatis, dan tidak menimbulkan efek gugah di kalangan banyak. Ibaratnya masakan nasi goreng, mungkin penampakannya sama nasi goreng, namun di tangan koki yang handal akan menjadi nasi goreng berating tinggi dibandingkan jika yang memasaknya orang biasa saja. Dan Dewi Lestari merupakan chef yang handal dalam hal menyajikan tulisan.

Novel Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh memiliki kedinamisan dalam perpindahan dari satu panel ke panel lainnya. Ada Ferre si eksekutif muda berumur 29 tahun yang merasakan kehampaan di balik kekayaan dan kesuksesannya. Ia adalah seorang yang rasional, kalkulatif, namun sesungguhnya berjiwa Pujangga. Chaos dalam hidupnya akhirnya bertemu pada sosok Rana. Rana yang merupakan seorang Wakil Pemimpin Redaksi sebuah majalah wanita berumur 28 tahun, telah memiliki suami, terikat pada lapisan-lapisan yang melingkupinya. Roman antara dua insan ini harus terbentur dengan tradisi, norma, dan nilai-nilai yang ada.

Tokoh lainnya dalam kisah ini adalah Dhimas dan Ruben. Dhimas merupakan lulusan dari George Washington University, geng anak orang kaya, kalangan mahasiswa Indonesia berlebih harta. Sedangkan Ruben merupakan lulusan dari John Hopskins Medical School, geng anak beasiswa yang cuma cocok bersosialisasi dengan buku. Keduanya saling jatuh cinta. Keduanya pria. Dan berarti mereka adalah homoseksual. Lagi-lagi benturan terhadap tradisi, norma, dan nilai-nilai dihadirkan dalam novel pertama dari serial Supernova ini. Benturan itu dapat dipotret misalnya dalam fragmen kalimat dari Ruben berikut (Dewi Lestari, Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, hlm. 11):

“Sangat ‘laki? Siapa bilang jadi gay harus klemak-klemek atau ngomong pakai bahasa bencong! Gini-gini aku sudah ‘coming out’ dari setahun yang lalu. Orang tuaku juga sudah tahu. Malah mereka sudah kompak, katanya kalau sampai aku dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya kalau aku dianggap produk gagal, berarti mereka juga. Hebat ya?”

Dhimas dan Ruben merupakan “sahibul hikayat” dari kisah Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Mengapa saya berikan tanda kutip (“) pada kata sahibul hikayat dikarenakan…(sebaiknya Anda membaca sendiri novel ini untuk mengetahui jawabannya).

Dhimas dan Ruben sendiri hadir sebagai panel yang menyegarkan dalam kisah ini. Dhimas yang terampil mengolah cerita, Ruben yang piawai menggabungkan ilmu psikologi dengan teori-teori kosmologi. Kolaborasi mereka menjadikan kisah Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh menjadi memiliki distingsi berarti dari kisah roman ataupun gugatan tradisi lainnya. Simaklah bagaimana ide Mandelbrot Set, reserved order mechanism, paradoks kucing Schrodinger, koevolusi dapat dielaborasi menjadi nyetel dengan jalannya cerita.

Jangan Anda pikir kontroversi telah berakhir. Masih ada Diva. Si pelacur papan atas yang hanya mau dibayar dengan dollar. Ia adalah seorang yang sepenuhnya mewakili area abu-abu. Ia adalah teori relativitas berjalan. Manusia yang penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, juga bukan protagonis. Penuh kebajikan, tapi juga penuh kepahitan (Dewi Lestari, Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, hlm. 52). Ia adalah orang yang independen. Diva yang secara literasi merupakan seorang pelacur papan atas, ternyata dihadirkan memiliki alter ego sebagai cyber avatar.

Apa itu cyber avatar? Dalam mitologi Hindu, Avatar berarti inkarnasi dari Yang Maha Tunggal. Istilah ini juga biasa disinonimkan dengan konsep “Juruselamat” dan sejenisnya (Dewi Lestari, Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, hlm. 15). Cyber avatar dinarasikan sebagai Avatar dengan asktetika modern. Cyber Avatar adalah turbulensi yang bisa diakses kapan saja, di mana saja. Dia akan mengamplifikasi sistem pemahaman orang-orang tanpa hierarki, tanpa bayang-bayang institusi atau dogma apa pun. Cyber Avatar akan mempraktekkan apa yang dijuluki Aquarian Conspiracy, sistem kerja berdasarkan jaringan (Dewi Lestari, Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, hlm. 154).

Novel Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh menurut hemat saya memerlukan filter dari pembacanya. Banyak kiranya pemikiran yang ditawarkan yang dalam pandangan saya layak untuk dipertanyakan. Dhimas dan Ruben yang merupakan homoseksual, Diva yang merupakan pelacur papan atas, perselingkuhan Ferre dan Rana. Menelan mentah-mentah segala konsep yang ditawarkan dari kisah ini akan membuat suatu pergesekan dengan nilai di negeri ini. Dan sebagai pembaca, sudah semestinya untuk menskeptisi dan memiliki daya saring sendiri. Jangan sampai terombang-ambing dengan bahan bacaan yang ada dan buah pemikiran yang ditawarkan.

Keindahan dalam bertutur, metode ilmiah yang ditawarkan menjadi daya unggul dari novel Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Maka biarkan saya mengutip puisi pembuka dalam novel tersebut menjadi penutup dalam artikel ini:

Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang
tak berujungku mengenal Hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku
dalam Cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari
kata pertama di cakrawala aksara.

Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti. Namun aku terus di sini.

Mencintaimu.

Entah kenapa.

(catatan di satu pagi buta di atas atap rumah tetangga)

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s