Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Kabut (1)

Apakah kalian percaya cinta pada pandangan pertama? Klise, omong kosong, bunga tidur para pengkhayal, komoditas para industrialis cerita. Ya..ya, aku tahu cinta pada pandangan pertama memang dapat dipersepsikan macam-macam begitu. Akan kuberitahu pada kalian setitik rahasia pada mozaik hidupku. Aku harap kalian mempercayai kisahku. Hmm..aku pikir hanya sedikit, bahkan sangat-sangat sedikit yang percaya pada keajaiban di penggalan masa sekarang ini. Manusia terlalu sibuk dengan orbitnya masing-masing. Sehingga manusia kehilangan satu kata: melamun.

Kisahku dimulai pada satu pagi yang kukira akan biasa-biasa saja. Tapi kau takkan pernah tahu siapa yang akan kau temui pada suatu hari dan jejak keajaiban apa yang ditinggalkannya. Pagi itu aku duduk di teras rumahku sembari membaca buku Sejarah Indonesia Modern karangan M.C. Ricklefs. Aku anggap itu sebagai sarapan pagiku. Ketika aku sedang menelusuri Bab 23: Tantangan, Krisis, dan Keruntuhan Orde Baru, 1989-98 (Pada tahun 1998, rezim Soeharto runtuh di tengah-tengah suasana yang mirip dengan suasana kelahirannya di tahun 1965-6, yaitu di tengah-tengah krisis ekonomi, kerusuhan, dan pertumpahan darah di jalan-jalan. Kalian bisa mengecek pernyataan tersebut pada halaman 659), VW berwarna merah melintas dan parkir persis di rumah tetanggaku. Rumah itu sendiri baru seminggu lalu kudengar dibeli.

Pagiku menjadi benar-benar berbeda ketika pintu mobil VW merah dibuka. Muda, indah memukau. Deskripsi singkat itulah yang dapat kuberikan. Perempuan itu lalu mengeluarkan kunci dan masuk ke dalam rumah. Wow, aku mendapatkan tetangga yang oke. Baiklah super oke. Aku sendiri memutuskan untuk (pura-pura) melanjutkan membaca dan seolah tidak terjadi apa-apa. Cukup selintasan keindahan. Seperti bintang jatuh yang cepat melintas, menyisakan ketakjuban pada jiwa.

Setelah menunggu sekitar dua jam, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Sang pesona belum menampakkan kelebatan pijarnya lagi. Mungkin dia memilih beristirahat. Baiklah masih ada waktu lain. Aku pun memutuskan untuk ke kamarku dan bergelut dengan tumpukan bacaan yang siap memeluk intelektualku.

Masih di hari yang sama, kini waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Bunyi bel rumahku berdering. Tanpa pretensi aku ngeloyor bergerak membuka pintu. Membaca pemikiran Hegel, Hobbes, Machiavelli dalam buku Pemikiran Politik Barat karangan Ahmad Suhelmi benar-benar membawaku pada khazanah intelektual yang mumpuni. Membuatku melakukan penjelajahan intelektual imajinatif tak terbatas ke abad-abad silam Eropa.

Dan..

Senyum itu pertama-tama membekukan tubuh, mengkelukan lidah, menghangatkan hati. Rambut pendek sebahunya, corak wajahnya yang imut-imut seperti boneka, dan sepasang matanya yang memulihkan gelora kehidupan.

“Halo, gw Julia,” ujar perempuan mempesona itu membuka bidak kata. “Gw bakalan menjadi tetangga lu. Salam kenal.”

Sebuah brownies cokelat disodorkannya ke tanganku.

Aku pun mencoba untuk kembali ke alam realitas.

“Namaku Arifin,” jawabku dengan warna suara yang kacau balau.

Ia celingukan melihat rumahku.

“Orangtua lu ada di rumah?” tanyanya cepat.

“Ayahku sedang mengisi seminar di luar kota,” tanggapku dengan suara mulai normal. Oh Tuhan kenapa basa-basi di negeri ini selalu berputar-putar pada pertanyaan yang standar. Salah satunya ialah tentang orangtua.

Aku menambahkan jawab dengan suara agak terseret, “Sedangkan ibuku sudah meninggal 12 tahun yang lalu.”

Ia hanya menganggukkan kepala pelan.

“Okelah kalau begitu. Dimakan ya browniesnya, bukan bikinan sendiri sih, beli di toko. Kalau begitu gw cabut dulu, mau nonton DVD di rumah. Dah”

“Orangtuamu sudah datang Julia?” tanya balikku. “Hmm.. tadi pagi saya lihat kamu bawa mobil sendiri.”

“Orangtuaku sudah meninggal 14 tahun yang lalu,” ungkapnya ringan tanpa beban.

Jawaban yang menghadirkan spektrum pertanyaan bagiku.

***

Hari-hari setelah pertemuan pertama itu adalah pengamatan bagiku. Kini aku memiliki opsi baru dalam kehidupanku: mengamati tetanggaku yang jelita. Tenang saudara-saudara aku bukanlah psycho gila yang sedang mengintai musuhnya. Sebut saja ini sebagai penelusuran dari pandangan pertama yang begitu menggoda. Cinta harus diperjuangkan. Dan anggap saja ini sebagai perjuangan dan upayaku untuk mengenal dan mencari tahu siapa Julia secara lebih dekat.

Tak percuma aku membaca beberapa buku bergenre detektif. Hercule Poirot, Sherlock Holmes mengajarkanku tentang teknik mengintai. Dan berikut adalah hasil laporanku. Julia merupakan orang yang gemar kegiatan out door. Dia senang berolahraga, berpetualang, ataupun mencoba aneka ragam beladiri. Adapun kegiatan in door yang dia gemari praktis hanya menonton film. Batok kepalanya penuh dengan referensi film yang berderet. Bahkan dia hafal lekat segala quotes yang ada di film-film yang ditontonnya. Ia juga orang yang mandiri dan terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain. Soal kekayaan dia mengaku tajir melintir sehingga memungkinkannya untuk memiliki mobil dan dapat tinggal di rumah sendiri. SIM-nya tentu saja melalui proses nembak (ada uang ada barang). Dan saudara-saudara pembacaku sekalian, kakeknya adalah salah seorang pengusaha yang bergerak di bidang infrastruktur. Tenang, kakeknya tidak ikutan cawe-cawe proyek Hambalang.

Begitulah informasi yang mampu kukumpulkan dari upaya pdkt yang kulakukan. Upaya yang terus terang melelahkanku. Dikarenakan Julia baru bisa diperas informasi dirinya jika aku ikutan segala kegiatan out door yang dilakukannya. Sebagai informasi, aku adalah orang rumahan yang punya hobi membaca buku, kemudian tertidur. Oh iya satu lagi, aku memiliki obsesi untuk menjadi novelis fantasi handal. Mimpi yang telah kurajut semenjak duduk di bangku SD. Penyebabnya ialah karena “keracunan” membaca serial Harry Potter. “Keracunan” disini yang positif maksudku, aku benar-benar terpikat tingkat lanjut dengan segala gaya penceritaan dan fantasi yang disuguhkan oleh JK Rowling.

Bicara tentang buku, obsesi novelisku, dan Julia terdapat satu simultan yang unik. Julia tidak suka membaca buku. Menurutnya buku membosankan, terlalu lama, dan tidak cocok dengan tipikal otaknya. Dia memandang para penulis novel seperti dewa yang memainkan pionnya dalam cerita.

“Bagaimana jika kita adalah pion dalam cerita itu, Fin?” tanya Julia suatu waktu. Yap dia mengkorting memanggil namaku menjadi tinggal ‘Fin’.

“Dan kita tidak memiliki kehendak sendiri sesungguhnya,” tambahnya menerawang.

“Nasib, jalan hidup, ulekan emosi ditentukan oleh si penulis novel.”

“Termasuk kematian kita,” tutupnya termenung.

Aku memutar otak untuk mencari referensi yang tepat dalam menjawab ujaran dari Julia.

“Dhimas dan Ruben dalam kisah Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh,” ah akhirnya aku menemukan tambatan pustaka yang dapat menjawab kecut tanyanya.

Aku ingat perbincangan itu berlangsung di beranda depan rumahku. Aku pamit sebentar untuk mengambil buku Supernova dan kembali seperti seorang Avatar yang bersiap menitahkan jawaban.

“Aku akan mengutipkan dari buku Supernova di bagian terakhirnya,” ungkapku.

“Bagaimana kalau ternyata kita hanya dalang tempelan. Figuran. Dua orang pria yang bahkan tak punya nama belakang…hidup dalam sebuah molekul pikiran seorang penulis lain…dan kita selamanya tak akan bisa keluar dari sini.”

Ruben bergidik ngeri, tapi ia berusaha melanjutkan. “Semua memori, pengetahuan, dan hikayat hidup kita hanya diinjeksikan begitu saja…kita tidak sungguhan mengalami itu semua.”

“Dan eksistensi kita habis di halaman terakhir bukunya.”

Julia merenung senyap mendengar hikayat dari novel Supernova.

Aku tersenyum tenang dan bersiap dengan kalimat bernuansa romansa.

“Dan tahukah kemungkinan tamat dari pion dalam cerita tersebut?” tanyaku retoris.

Julia hanya menggelengkan kepala. Menampakkan keluguan dalam tanya.

Aku pun mengutipkan lagi untaian kata dari novel karangan Dewi Lestari tersebut.

“Setidaknya aku tamat dalam rasa cinta.”

***

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s