Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Kabut (2)

Tahun ajaran baru. Kini aku menduduki bangku kelas III-IPS. Sudah 10 hari lamanya Julia resmi menjadi tetangga baruku. Di hari pertama masuk kelas aku telah bersiap semenjak pagi hari. Kalian tahulah posisi kursi dalam kelas dapat menentukan macam-macam dalam konstelasi persaingan. Jadi aku memutuskan untuk berangkat pagi demi mendapatkan bangku kelas yang kuidamkan. Berada di baris terdepan.

Alangkah kagetnya aku ketika sampai di kelas III-IPS 1, bertemu dengan sosok Julia. Dia yang sedang tafakur dengan ear phone-nya.

Aku menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

Ia menatapku.

“Kaget?” tanyanya.

“Aku duduk sini ya,”pintaku dengan sekeranjang harapan.

Dia hanya mengangguk dan kembali menyatu dengan musik di play list-nya.

Aku pun menaburkan confetti suka cita dalam hatiku. Dekat di mata, dekat di hati.

Kehidupan dua tahun SMA-ku yang berkutat pada perpustakaan- ruang kelas- perpustakaan, kini menjadi jauh berbeda. Kini aku memiliki teman sebangku yang kuidamkan. Berita tentang murid baru yang memiliki kecantikan alami seperti elf, wajah innocent tanpa dosa, telah tersebar ke sudut-sudut sekolah. Mulai dari sudut kantin, lapangan basket, perpustakaan. Akibatnya pria-pria di sekolahku mulai mencoba mencari tahu perihal Julia. Pria-pria lain baik yang sekelas maupun lain kelas mengobarkan bendera cemburu padaku begitu teridentifikasi aku merupakan rekan sebangkunya. Haha..peduli amat. Ini cinta bung. Ini medan pertempuran rekan-rekan putih abu-abu. Yang ajaibnya Julia seolah memiliki kecuekan tingkat tinggi terhadap pria-pria lainnya di SMA. Dia tak bergeming ketika digoda, dikirimi surat cinta, diajak nonton. Aku pun menabuhkan keriangan dalam hatiku. Hubungan Julia dengan teman perempuan juga relatif hambar. Ia hanya menyapa seperlunya dan tidak bergabung dalam geng cewek manapun di sekolahan. Jadilah aku dan Julia sebagai dua sosok yang asyik dengan orbit kami sendiri.

Julia mengenalkanku pada rangkaian realitas baru. Muaranya pada rangkaian kegiatan outdoor. Aku diajaknya untuk mencicipi aneka bela diri. Sebagai informasi di sekolah kami, ada beberapa ekstra kulikuler beladiri. Perisai Diri, Taekwondo, Karate, menjadi ekstra kulikuler yang kami coba. Hasilnya aku digasak para rekan putih abu-abu yang setengah dendam dengan kedekatanku pada Julia. Sementara Julia dengan terampil memperagakan jurus apa saja yang diperagakan dan menjadi rising star di segala bela diri itu. Cinta memang benar-benar berdarah dan penuh perjuangan. Lihat diriku yang harus pegal-pegal sekujur badan dan kena hantaman kaki dan tangan yang kelewat keras intensitasnya.

“Dunia tidak secupat yang ada di lembar halaman buku,” ujarnya sehabisku dibanting bolak-balik dalam sesi duel.

“Dengan buku kita dapat mengenal dunia,” ungkapku membela domain pecinta buku.

“Pengalaman yang udah bersatu dengan darah dan daging, itu baru tingkat tertinggi pengetahuan. Coba aja lu tanya para penulis buku teoritis itu, belum tentu mereka pernah mengalami langsung. Kalo berada di lapangan mereka bakalan kelabakan, sempoyongan. Makan tuh teori,” Julia berduel kata keras.

“Buku juga mengambil dari data empirik kok, terus sudah mengalami validasi, dan melihat kemungkinan kesalahannya,” balasku sembari memeriksa memar tubuhku yang dihantam bolak-balik ke lantai.

“Kalau gitu lu cari buku tentang bela diri. Baca ampe ngelotok dan yok kita uji tanding. Kita lihat yang menang itu buku atau aksi langsung.”

“Oke!” jawabku menerima tantangan. Ini nih sialnya orang kalau sudah kesengsem stadium empat, tantangan apa saja bakalan diladenin.

***

Kami berdua seperti pelancong di aneka ektra kulikuler yang menyajikan menu out door. Julia tidak mau terpaku pada satu ekstra kulikuler. Dan kami mencicipi berbagai menu out door yang disediakan oleh kegiatan di luar jam sekolah ini. Harus kuakui dari berbagai muhibahku, Julia banyak benarnya, dan aku merasa selama ini benar-benar terperangkap dalam benteng yang kuciptakan sendiri. Sebelumnya aku berpandangan pencapaian tertinggi manusia adalah ilmu. Dimana itu dapat dicapai melalui buku. Maka aku menjadi kutu buku kelas berat. Sarapan pagiku buku, menjelang tidur buku, buku selalu menjadi sobat karib. Ekses sampingannya aku under estimate terhadap mereka yang gandrung dengan kegiatan out door dan tidak ludes membaca buku.

Cinta memang dapat mengubah seseorang, seperti aku yang mengalaminya sendiri.

Persepsiku terhadap kehidupan bergeser pendulumnya setelah melalui serangkaian aktivitas memeras keringat. Bela diri sudah kuceritakan. Dengan pecinta alam, segala yang kubaca seperti senyap ketika menghadapi medan. Padahal sebelumnya aku telah bela-belain membaca tips dan trik perjalanan, melancong ke Eropa (salah baca kayaknya, toh trip yang kami lakukan tidak sampai sekuku-kukunya Eropa), dan buku-buku lainnya yang kupikir menunjang.

Ketika ikutan memburu berita untuk buletin sekolah, aku harus mendefinisikan kembali ilmuku. Segala pelajaran bahasa Indonesia yang susah payah kuhapalkan menemui kegagalan ketika beraksi di lapangan. Julia yang cekatan dan supel lebih menjadi resep mujarab mewawancarai narasumber ketimbang melalui proses formal dengan pengajuan surat permohonan wawancara. Surat permohonan wawancara yang kususun dengan mengutak-atik kata agar sesuai ejaan yang disempurnakan dan kaidah berbahasa.

***

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s