Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Kabut (3- Tamat)

Berapa bulan telah berlalu semenjak perkenalan pertama kami yang disertai serah terima brownies. Kami pun semakin akrab dan saling menaruh kepercayaan satu sama lain.

“Bokap lu jarang pulang ya..,” ungkap kata Julia selepas melakukan pemindahan aneka snack dari kulkas.

“Sibuk,” jawabku singkat.

Dialog ini sendiri bertempat di ruang tamu dimana aku sedang bergulat dengan kata di depan mesin tik. Yap kalian tidak salah membacanya ‘mesin tik’. Bagiku mesin tik selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, klasik, juga merupakan medan pelatihan yang mumpuni bagi penulis. Coba jika Anda menggunakan komputer atau laptop dalam menulis, bisa jadi pikiran Anda akan terpecah dengan sosial media. Sibuk update status di facebook, berkicau di twitter, atau menjelajah tak ada juntrungannya di dunia maya. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan perangkat antik legendaris ini: mesin tik.

“Padahal lu anak satu-satunya,” ucap Julia sembari menopangkan wajahnya dengan sebelah tangan. “Eh entar SNMPTN mau milih jurusan apa?”

Cetak-cetok suara mesin tik.

“Halo?” tanya Julia melambaikan tangannya di dekat mukaku.

“Ayahku menginstruksikan untuk memilih Manajemen Fakultas Ekonomi UI,” jawabku dengan arah mata ke mesin tik.

“Terus?”

“Terus apa?” tanyaku melirik Julia yang dengan kecepatan tinggi menghabiskan persediaan makananku.

“Bukannya lu mau jadi novelis? Kenapa gak milih sastra gituh.”

“Bisa ambilin buku itu,” tunjukku pada buku bersampul hijau dengan cover perahu dimana terdapat dua orang manusia sebagai latar.

“Aku bacakan ya, halaman 37 dari novel Perahu Kertas,” aku siap mensajikan alasan.

“Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segelintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok. Kebanyakan dari mereka punya pekerjaan lain, jadi wartawan kek, dosen kek, copy writer di biro iklan kek. Apalagi kalau mau jadi penulis dongeng! Sekalipun aku serius mencintai dongeng, tapi penulis dongeng bukan pekerjaan ‘serius’. Ngak bisa makan.”

“Jadi konklusinya karena uang?” Julia menatapku dan menghentikan kegiatan makan-makannya.

“Bukan cuma uang nona, ada keinginan orang tua,” jawabku menatapnya balik.

“Terus mimpi menjadi novelis apa kabarnya. Sayonara aja gituh?”

Sebuah pertanyaan yang menohokku. Aku dan mimpi yang kusulam di pergantian waktu. Aku dan realitas kehidupan. Aku dan cita-cita. Aku dan masa depan.

“Gw udah baca draft novel lu,” Julia merajut kata lagi.

“Salah sendiri naruh tumpukan kertas karya dimana-mana dan bisa diakses sama siapa aja. Jadi gw baca aja,” Julia melanjutkan monolognya.

Perlu dibenerin sih di beberapa bagian. Ngelantur ke kiri kanan, kurang fokus,” tambahnya sok tahu dan sok memberi saran.

“Yang gw bingung tokoh cinta platonik dalam draft novel lu, kok mirip gw ya?”

Sontak mukaku merah padam. Kata-kata kehilangan aksaranya.

***

Malam telah merangkak naik. Lampu-lampu kecil menjalar diantara rerumputan. Lampion yang diisi oleh bohlam memadukan cahaya temaram yang menentramkan. Festival perpisahan bagi kelas III, sebuah ritual wajib tahunan. Rupa-rupa band dari anak kelas I dan kelas II telah naik panggung. Beberapa kata berintikan semangat, persatuan, persahabatan telah diucapkan. Sementara aku kini berada di perpustakaan sekolah. Sebabnya secarik kertas yang ditulis tangan oleh Julia. Jangan tanya aku bagaimana dia bisa membuka pintu perpustakaan. Minimal ada dua variabel yang dapat menjelaskan: lobi kepada petugas perpustakaan atau mengakali kuncinya.

“Akhirnya kita berpisah ya Fin,” ungkap kata pertamanya menampilkan siluet sosoknya.

“Lu mau tahu alasan sebenarnya gw antipati ama buku?” tanyanya melembut.

“Gw takut menemui halaman terakhirnya,” ucapnya dengan corak suara tercekat.

“Halaman terakhir berarti kematian buat gw, Fin.”

“Dan momen-momen sekarang udah mau sampai di halaman terakhir, Fin.”

Terus terang aku tidak begitu paham apa yang diucapkan Julia.

Sampai dia melanjutkan lagi penjelasannya.

“Lu yang terpenting berhasil menemukan siapa dirimu sebenarnya sekarang,” rajut kata Julia.

“Lu udah melihat realitas-realitas yang lain.”

“Dihajar habis-habisan di kelas bela diri, jumpalitan menyusun kata tapi tidak berguna untuk mengejar narasumber dan buku-buku tentang perjalanan yang tidak diperlukan untuk perjalanan,” kataku menafsirkan realitas yang kutemui bersama Julia.

Kami tertawa pelan bersama.

“Bukan cuma itu. Mimpi lu buat jadi penulis novelis fantasi. Gw tahu kenapa lu rajin betul baca rupa-rupa literatur. Lu pengen membuat karya yang bisa menjembatani ilmu-ilmu yang ada. Lu baca novel detektif, buku politik, sejarah, filsafat, psikologi, dan cabang ilmu lainnya. Lu berjalan menuju mimpi menjadi novelis fantasi di realitas bernama Indonesia.”

“Aku bakalan memilih Sastra Indonesia di SNMPTN,” jawabku mantap.

“Dan kau tahu kenapa?” aku balik bertanya.

“Karena seorang hawa telah menunjukkan kepadaku jalan menuju cita-cita dan harapan.

“Bukan gw, Fin. Tapi lu sendiri yang mencerahi dan menuntun menuju jalan harapan,” Julia menjawab pasti.

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Quotes dari film Hugo,” aku merasakan lembut senyum Julia ketika mengucapkannya.

Aku telah bernyanyi untukmu
Tapi kau tidak juga menari
Aku telah menangis di depanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi

“Lagu Gelombang karya Kahlil Gibran,” ujarku menjelaskan sajak yang kukutip.

Julia bergerak mendekat kepadaku. Ia menyalakan lilin dalam satu sapuan gerakan pemantik.

“Gw gak nyata Fin,” ujarnya tenang.

“Haha..lucu sekali nona Julia,” tandasku menanggapi.

“Gw cuma pion Fin. Pion dalam cerita. Yang bakalan tamat di akhir cerita.”

“Biar kutebak siapa sang pengarang agungnya,“ balasku memberanikan diri menggenggam tangannya.

“Aku si pengarang agung dalam cerita tersebut,“ rentet kataku menatap mata beningnya.

“Halaman terakhir berarti kematian buat gw, Fin.”

“Dan gw senang bisa berakhir dengan cinta. Darimu sang pengarang, sang aktor.”

Julia mendekatkan wajahnya. Ia mengeratkan genggaman tangannya padaku. Remang cahaya lilin merefleksikan keindahan wajahnya. Kecantikan yang sedih. Kecantikan yang menemui kata cinta di ujung cerita personalnya. Titik airmata, senyum lepas kebahagiaan, kecupan singkat di kening.

***

Apakah hidup ini nyata? Apakah yang tergenggam ini benar adanya? Ketika ilusi melebur menjadi kenyataan. Ketika kenyataan melebur menjadi ilusi. Aku membenahi tumpukan kertas yang berserakan di kamar kostku. Buah dari pengetikan yang kulakukan. Pergulatan dari ide, harapan, ekspektasi, imajinasi. Jejak Julia terasa begitu nyata. Aku kehilangan arah membedakan antara realitas dengan ilusi yang kuciptakan dalam cerita. Konon kata psikolog yang didatangkan ayahku, Julia adalah refleksi dari perempuan yang kuidamkan menjadi pasangan hidupku. Ia menghidup dalam pikiranku. Ia menghidup dalam draft novel yang kubuat. Sebegitu kuatnya hingga aku menyakini telah menjalani rangkaian momentum dengan Julia.

Aku sendiri tak pernah menemui draft novelku dimana Julia menjadi tokoh utama wanitanya. Ayahku telah membakar segala karya-karya lamaku.

“Fantasi itu menyesatkan dan membawa ke pulau utopis,” kata ayahku menjatuhkan konklusinya.

Aku sendiri kini menempuh pendidikan di Manajemen FE UI. Aku masih menulis fantasi dengan segala derivasi cerita yang kubuat. Dan bagiku fantasi tidak dapat dimusnahkan. Fantasi hidup bersamaku dan kuharap dia hidup bersama kalian. Bukankah hidup merupakan kenyataan yang kita pilih? Dan aku memilih hidup dengan segala imajinasi fantasiku. Bersama kenangan Julia yang nyata dan ilusif.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s