Posted in Essai, Jalan-Jalan

Bandung dan Perjalanan Itu

Perjalanan saya percaya bukan sekedar berpindahnya fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Perjalanan merupakan upaya untuk mengumpulkan kepingan makna. Maka lihatlah kisah perjalanan selalu menarik untuk diceritakan dan dibicarakan. Dalam kitab suci, kita mendapatinya, semisal perjalanan nabi Musa dengan nabi Khidir. Bagaimana sepanjang perjalanan nabi Musa terus bertanya tentang aneka ragam tindakan yang dilakukan oleh nabi Khidir, yakni merobohkan tembok rumah, membunuh anak kecil, menenggelamkan perahu. Untuk kemudian nabi Musa mendapati bahwa ada alasan, ada makna dari setiap tindakan yang dilakukan oleh nabi Khidir.

Kalau ada kota di Indonesia yang dapat membetot saya begitu erat. Maka dapat saya katakan ialah Bandung dan Yogyakarta. Kedua kota tersebut memiliki magnet tersendiri yang menimbulkan kekangenan untuk kembali singgah. Sebagai seorang betawi tulen menyebabkan saya tidak memiliki ‘kewajiban’ untuk pulang kampung halaman setiap lebaran. Hal inilah yang dimanfaatkan keluarga kami untuk melakukan perjalanan wisata setiap lebaran. Jalur yang dituju pun beragam-ragam. Saya dan keluarga pernah mengarungi pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Berbagai kota baik besar maupun kecil pernah saya singgahi. Rupanya sosialisasi politik yang dilakukan semenjak kecil ini membentuk DNA perjalanan pada diri saya. Timbul hasrat untuk menjelajahi tempat-tempat yang tidak biasa dikunjungi harian. Saya pun menyambut perjalanan sebagai tantangan dan eksplorasi pengalaman baru.

Di awal bulan Mei dan Juni 2012, saya melakukan perjalanan ke Bandung. Di perjalanan bulan Mei, lebih dikarenakan sebagai sebuah ‘pemberontakan’ terhadap pola kerja Senin-Jum’at. Saya pergi ke Bandung pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 dan merasakan betul orbit yang berbeda dari orang-orang yang saya temui di perjalanan (kisah lebih lengkap ada di artikel berjudul Orbit). Pada bulan Juni 2012, baru saja saya laksanakan perjalanan pada hari Sabtu tanggal 2 Juni 2012). Kebetulan ada acara Hotaru di ITB dan keesokannya sobat saya ada gathering dengan komunitas games-nya. Jadilah saya dapat menikmati durasi yang lebih panjang di kota yang memiliki julukan Paris Van Java ini.

Pada hari Sabtu 2 Juni 2012, acara Hotaru cukup menarik saya ikuti hingga penutupan. Hmm..sepertinya saya akan membuat liputan tersendiri tentang acara Hotaru ini. Lalu pada keesokan harinya, setelah menginap di rumah teman, saya pun berkesempatan untuk berkunjung ke Museum Asia-Afrika. Sudah lama kiranya saya memendam hasrat untuk ke tempat bersejarah yang merupakan tonggak penting dari politik luar negeri Indonesia ini. Konferensi Asia-Afrika merupakan event yang menunjukkan independensi, sebuah pernyataan untuk lepas dari cengkraman kolonialisme. Konferensi Asia Afrika (KAA) menghasilkan Dasasila Bandung. Prinsip yang menjadi panduan untuk masyarakat Asia dan Afrika untuk bekerjasama dan mengeratkan solidaritas internasional. KAA bertempat di Gedung Merdeka yang memiliki gaya arsitektur Art Deco. Dan saya menyusuri sejarah itu bata demi batanya.

Bandung memiliki percabangan yang menarik. Kuliner, oleh-oleh, kreatifitas, nuansa udara, bangunan bersejarah, padukan itu dalam satu kota, maka akan didapati di Bandung. Perjalanan menuju Bandung sendiri dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Jika memakai kereta api Argo Parahyangan maka akan didapati tekstur alam yang memikat. Mulai dari pemandangan pemantang sawah, jembatan gantung, terowongan, dan sebagainya. Deru suara kereta api yang beradu dengan rel juga menimbulkan harmoni tersendiri yang unik.

Saya percaya setiap perjalanan memiliki lembar sejarahnya tersendiri. Dari berbagai muhibah, saya ke Bandung, spot-spot berbeda saya dapati. Ketika bersama kakak saya, saya bertemu dengan bisnis kreatifitas. Jajaran factory outlet yang dipenuhi aneka desain yang limited edition nan ciamik. Bagaimana roda ekonomi berputar keras di sisi ini. Saya juga mengunjungi beberapa mall di Bandung. Sebut saja Cihampelas Walk, Paris Van Java, Bandung Indah Plaza. Bersama kakak saya, tinggal anteng ikut kemana-mana.

Sedangkan pada perjalanan tanggal 3 Mei 2012 ke ITB, saya melakukan perjalanan sendiri. Rupanya perjalanan sendiri menyenangkan. Saya hanya perlu berdialog dengan diri sendiri mengenai apa yang ingin dilakukan. Tentu saja perjalanan personal akan mengasah dan menguji kemandirian.

Perjalanan juga memberikan horizon wawasan baru. Bertemu dengan rangkaian realita baru dan orang-orang baru. Membuka mata dan hati. Ridwan Kamil sang master desain urban menyatakan bahwa rahasia kreatifnya ialah rajin membaca dunia. Membaca dunia itu dengan jalan rajin membaca buku dan rajin jalan-jalan, traveling. Di setiap kota yang Ridwan Kamil kunjungi, ia merekam dan menempelkan di memorinya. Jadi begitu ia mendesain, ia download memori-memori itu. Mencari ide, menurut lulusan Teknik Arsitektur ITB ini yakni dengan melihat, kemudian menyerap, dan memproses dalam memori otaknya untuk menghasilkan ide-ide kreatif (Tarbawi, Edisi 23 Februari 2012). Sedangkan bagi saya personal, perjalanan juga teramat penting untuk mengkayakan kemampuan menulis. Menulis memerlukan bahan-bahan yang menarik. Dan untuk mendapatkan bahan-bahan itu, salah satu caranya ialah dengan melakukan perjalanan.

Leonardo Da Vinci konon membawa buku catatan ketika dia melakukan perjalanan. Dia mencatat pemikirannya dan menggambar sketsa dari bangunan yang dilihatnya. Saya sendiri juga tidak sekedar menghamburkan uang dalam perjalanan ke Bandung. Bagi saya perjalanan tersebut merupakan sebuah investasi bagi karya-karya yang akan lahir. Saya merekamnya dalam ingatan, mengingat nuansa yang saya kecup, menulis tentang beberapa hal yang terlintas dan penting.

Jika orang-orang yang pergi ke Bandung umumnya memenuhi ranselnya dengan Kartika Sari, brownies, cheese stick, keripik, ataupun panganan lainnya. Saya memilih untuk tidak turut dengan arus mainstream tersebut. Bagi saya cukuplah membawa pulang rangkaian makna, konsep, rekam bangunan, dan nuansa. Itulah yang saya butuhkan untuk menjadi amunisi kreatifitas. Tentunya perjalanan ini menyadarkan saya tentang realitas lainnya. Memperluas pandangan dan tidak terkerangkeng dengan model berpikir Jakarta dan Jakarta. Masih banyak kiranya hal yang belum yang saya eksplorasi dari kota ini. Mungkin saya akan membeli buku panduan perjalanan di kota ini, untuk melihat titik-titik mana saja yang menarik untuk ditelusuri dan disinggahi.

Wisata sejarah rasanya layak saya garis bawahi. Dikarenakan praktis berbagai bangunan sejarah di Jakarta telah beberapa kali saya kunjungi. Maka mengarungi bangunan peninggalan sejarah dan cagar budaya di kota Bandung merupakan destinasi yang menarik untuk menjadi eksplorasi berikutnya.

Perjalanan memang krusial dan dibutuhkan oleh manusia. Di Sumatera Barat, kita mengenal istilah merantau. Di Sulawesi Selatan, kita mengenal istilah ‘sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian’. Orang etnis China yang menyebar ke berbagai penjuru dunia. Mereka yang telah mencicipi perjalanan akan memungkinkan untuk toleransi dan menerima perbedaan. Perjalanan itulah kiranya yang menempa dan mendialogkan diri secara personal. Selamat berjalan-jalan, dan tidak terpaku di satu titik bumi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s