Posted in Buku, Essai, Politik, Sejarah

Sejarah Politik

Pada akhirnya adalah senja. Remang-remang, dan disanalah kita melihat sejarah politik. Indah dalam kemisteriusannya. Medan sejarah dan politik bukanlah sebuah area 100 %. Ada kemungkinan yang melingkupinya. Maka membaca dan menghayati literatur sejarah dan politik hendaknya jangan menanggalkan daya kritis dan skeptisme. Jangan sekedar pasrah, mencangkokkan ilmu begitu saja. Celakanya sikap skeptisme inilah yang diserang dalam hegemoni domain sejarah politik. “Jangan mempertanyakan lagi, ini sudah final,” begitulah kira-kira asumsi yang terbangun. Akibatnya ialah dunia ilmu menjadi beku. Dialektika, apa yang dikatakan dalam istilah Perancis sebagai du chocs des opinions jaillit la verite (dari benturan berbagai opini akan muncul sebuah kebenaran) ataupun du chocs des idees jaillit la lumiere (dari benturan berbagai gagasan akan muncul sinar- kebenaran) (Amien Rais, Selamatkan Indonesia !, hlm. XV) tidak terjadi dalam kajian keilmuan dan di masyarakat luas.

Sejarah politik sejatinya teramat mungkin mengalami kekeliruan. Namun dalam praktek otoriter, terjadi apa yang diistilahkan oleh Asvi Warman Adam sebagai hegemoni makna dan wacana. Makna dan wacana ditafsirkan totalitas berdasarkan kerangka pihak penguasa. Mereka yang berpikir di luar kerangka berarti salah, berarti keliru. Hal inilah yang menyebabkan terjadi penyematan anti revolusi, ekstrem kanan, ekstrem kiri. Jalan berpikir yang berbeda dengan ide dari pemerintah merupakan basis pemikiran yang berbahaya. Terjadi kriminalisasi terhadap kongsi yang bersebrangan. Ranah pemikiran menjadi bersifat hitam-putih. Di luar itu mereka yang oposan mengalami kematian perdata.

Sejarah politik penting untuk menumbuhkan semangat berbangsa. Lihatlah Hitler yang mendengungkan Ubber Alles di Jerman sana. Betapa Jerman terpukul setelah mengalami kekalahan di Perang Dunia I. Jerman harus membayar kerugian perang sebesar $ 1,5 milyar, Angkatan darat dikurangi hingga hanya 100.000 personil, angkatan laut Jerman yang dulunya besar dan membanggakan diperkecil menjadi hanya 24 kapal, Jerman dilarang memiliki angkatan udara dalam bentuk apapun, Jerman kehilangan wilayah negara-negara di perbatasannya, semua koloninya di Afrika dan Asia disita, melalui Perjanjian Versailles rakyat Jerman merasa marah dan dipermalukan (Colin Hynson, Kisah Yang Terlewatkan Perang Dunia II, hlm. 8-9). Maka Jerman Ubber Alles membangun konsep dengan melakukan ‘ilmiahisasi’.

Diseminasi gagasan yang terus menerus dilakukan seperti termaktub dalam cuplikan peristiwa berikut (Colin Hynson, Kisah Yang Terlewatkan Perang Dunia II, hlm. 11):

“Selama tiga bulan saya berhasil menghindar untuk menghormati bendera swastika. Namun, saya terlalu sering melakukannya. Saya melihat sebuah iring-iringan perawat Nazi, yang membawa spanduk. Tanpa pikir panjang, saya berbalik dan berjalan berlawanan arah, hanya untuk kemudian menghadapi empat orang berseragam cokelat menyeberang jalan mendekati saya.

“Mau menghindar?” kata salah satu dari mereka. “Angkat lenganmu! Sekarang bilang apa?”

“Hail Hitler”, kata saya

Saya bisa meludahi diri sendiri saat berjalan melewati iring-iringan dengan lengan terangkat.”

Dari All Quiet in Germany oleh Karl Billinger, diterbitkan pada 1935.

Terlebih diseminasi gagasan dilakukan ketika oleh penguasa membuat derajat kebenaran ide menjadi periferi dan tak penting lagi untuk dipertanyakan. Ada kesan sejarah politik menjadi mitologi. Ada nilai tak tersentuh, ada keajaiban, ada keistimewaan bagi para pemimpinnya.

Sejarah politik yang diproduksi penguasa macam begitu meninabobokan rakyat. Melucuti intelektualitas dan daya sengat skeptisme. Rakyat menjadi sekedar penerus yang patuh. Beo-beo dalam sangkar. Takaran pengetahuan ditentukan dosisnya dan harus ditelan serta dinarasikan persis. Tak ada alternatif. Sejarah merupakan milik para pemenang. Dan penguasa adalah para pemenang itu. Maka tak mengherankan terjadi penggelembungan-penggelembungan peran. Soeharto misalnya dikesankan menjadi konseptor Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam buku-buku pelajaran sejarah. Padahal dua minggu sebelumnya Soeharto diminta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX ke Keraton Yogyakarta. Jadi, ide serangan itu sebetulnya dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Foto yang merekam pertemuan ini juga tidak dipasang pada monumen yang dibangun beberapa kilometer dari kota Yogyakarta. Dengan demikian, peran Sri Sultan sengaja dihilangkan (Essai Asvi Warman Adam, 1000 Tahun Nusantara, hlm. 215).

Pengokohan sejarah politik lainnya ialah termaktub dalam film. Film Janur Kuning yang biayanya Rp 385 juta (tahun 1979, hampir dua kali lipat biaya rata-rata pembuatan film Indonesia saat itu) menggambarkan Soeharto sebagai seorang komandan yang berwibawa, tenang, dan murah senyum. Daya fisiknya luar biasa. Setelah pertempuran panjang, anak buahnya tampak lelah, Soeharto tetap berjalan dengan energik. Seorang anggota pasukannya (di dalam film itu) berkata, “Berjalan tujuh hari tujuh malam, Pak Harto tak pernah istirahat.” Ia juga menjadi teladan bagi anak buahnya, ketika ditawari makanan oleh penduduk, ia memastikan dulu orang lain memperoleh makanan tersebut. Fokus kamera dan percakapan tertuju kepada Soeharto. Jenderal Sudirman dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX hanya disoroti sekilas. Dalam film ini divisualkan (Budi Irawanto: 1999), Latief membawa berita bahwa Belanda menyerbu Yogyakarta tanggal 19 Desember 1948. Pertanyaan Sudirman yang pertama-tama adalah “Bagaimana Soeharto?” (Essai Asvi Warman Adam, 1000 Tahun Nusantara, hlm. 215-216).

Sejarah Orde Baru menurut Asvi Warman Adam merupakan hikayat yang disusun oleh militer. Fungsi turunannya ialah diagungkannya persatuan dan kesatuan. Segala upaya daerah yang mengusik sebagai lalat pengganggu dilabeli pemberontakan, upaya untuk memecah belah. PRRI/Permesta menjadi salah satu yang dilabeli sebagai gerak pemberontakan. Padahal jika mau jernih melihat seperti dikatakan RZ Leirissa gerakan PRRI merupakan upaya untuk menangkal gerakan komunisme yang semakin mencengkram Republik Indonesia. PRRI juga harus dilihat sebagai protes daerah terhadap pusat. Bahwa praktek politik yang timpang menyebabkan daerah meradang. Dari segi tokoh di PRRI seperti Mohammad Natsir, Boerhanuddin Harahap, mengalami ‘antagonisme peran’. ‘Antagonisme peran’ dikarenakan mereka dianggap sebagai tokoh-tokoh pemberontak yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Antagonisme ini bahkan berlanjut lebih mendalam dan bersifat budaya seperti anak-anak Sumatera Barat kelahiran pasca PRRI/Permesta yang banyak menggunakan nama barat. Hal ini untuk menghindari stigma pemberontak yang diproduksi oleh pihak penguasa. Mohammad Natsir sendiri sesungguhnya merupakan tokoh yang amat berperan dalam padunya Indonesia. Ia ketika menjadi Ketua Fraksi Masyumi mengajukan Mosi Integral di parlemen pada tanggal 3 April 1950. Mosi Integral ini bahkan dikenal sebagai proklamasi kedua. Dengan adanya Mosi Integral ini maka wilayah-wilayah Indonesia kembali utuh setelah politik negara boneka yang dijalankan oleh Van Mook.

Dengan demikian sejarah politik dapat begitu hegemonik dan perkasa. Sejarah politik menyerang pemikiran. Memberikan definisi miring terhadap upaya oposan. Celakanya limbah dari sejarah politik yang keliru ini tidak serta merta berakhir ketika tumbangnya rezim otoriter. Buktinya ialah dengan adanya arus balik pemikiran ‘lebih baik zaman Orde Baru’. Orde Baru dengan segala prestasinya disandingkan dengan era reformasi yang masih tertatih ini. Segala tindakan keras, menafikan HAM, dikompromikan sebagai langkah yang harus ditempuh untuk jayanya negeri. Sejarah politik rupanya telah mencengkramkan idenya ke sumsum yang mendalam.

Seperti film Inception, bagaimana Cobb dapat menanamkan ide berikut: You’re waiting for a train, a train that will take you far away. You know where you hope this train will take you, but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. How can it not matter to you where the train will take you? Konsep kata-kata tersebut dihidupkan melalui narasi dan dialog intensif antara Cobb dan Mal di dunia mimpi. Hingga akhirnya ketika kembali ke dunia nyata, Mal masih begitu kukuh memegang ide yang ditanamkan oleh Cobb tersebut. Ia sebegitu percayanya dan itu wajar, mengingat bagaimana pesan itu dulu menemui banyak pintu ketika diinjeksikan di dunia mimpi. Mal akhirnya bunuh diri, lompat dari apartemennya. Meninggal dengan konsep yang ditanamkan tersebut.

Jika dikomparasikan dengan sejarah politik, maka banyak kiranya tipikal Mal yang tumbuh akibat corong dari hegemoni makna dan wacana tersebut. Kebenaran sejarah telah terkonsep, hadir dalam bentuk yang utuh. Maka diperlukan sikap yang benar untuk meluruskan sejarah yang keliru dimana-mana. Masyarakat harus bersiap menerima bahwa apa yang selama ini dipercayainya ialah salah. Dan ini tidak mudah. Pengetahuan tersebut telah berlapis dan membentuk corak berpikir. Meluruskan sejarah berarti menghadirkan jalan-jalan baru, menyanggah pendapat di masa lalu yang telah tertanam. Sedangkan bagi kalangan cendekiawan, diperlukan ketelatenan untuk mereka ulang sejarah. Cendekiawan juga jangan sampai serta merta emosional membabat semua sejarah yang sumbernya dari pemerintah. Informasi-informasi dari penelusuran sejarah politik para cendekiawan inilah kiranya akan menempatkan domain ilmu ini menjadi ‘selalu koma’.

Sejarah politik akan terbuka untuk ditafsirkan, diproduksi dengan membuka lembar-lembar historis baru. Contoh nyatanya ialah perihal penempatan pasukan di istana yang mengalami ragam permaknaan dari B.J.Habibie, Wiranto, Prabowo. Sejarah yang terbuka inilah kiranya yang mencegah dari dogma, final, dan sempurna. Karena dalam sejarah politik tidak berlaku “Pada hari ini telah kusempurnakan risalah sejarah politik”. Sejarah politik yang ‘selalu koma’ inilah yang menandakan adanya proses intelektual dan dapat menjadi medan terbuka untuk dikaji.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s