Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, sastra

Dewi Lestari

Sebuah nama dapat termaktub dengan berbagai makna. Contohnya adalah Dewi Lestari atau akrab dipanggil Dee. Dewi Lestari mulanya dikenal masyarakat luas sebagai penyanyi dalam grup vokal Rida, Sita, Dewi (RSD). Beberapa tembang hitsnya sempat mewarnai blantika musik Indonesia, sebut saja Antara Kita, Kusadari, Aku Kan Datang. Kanal aktualisasi diri dari Dewi Lestari untuk kemudian mengembang. Pada tahun 2001, ia meluncurkan karya Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Novel tersebut mereguk sukses baik dari segi penjualan maupun dari segi pencapaian prestasi karier penulisan. Melalui novel roman science fiction tersebut Dewi Lestari menjadi nominator Khatulistiwa Award tahun 2001.

Kanal aktualisasi Dee terus menemukan muaranya dengan menjadi pencipta lagu. Lagu Firasat yang dibawakan oleh Marcell meneguhkan posisinya sebagai komposer lagu yang handal. Hibrida aktualisasi antara menyanyi, mencipta lagu, dan membuat cerita, akhirnya berhasil dijembatani oleh perempuan kelahiran 20 Januari 1976 ini melalui proyeknya yang diberi nama Rectoverso. Rectoverso sendiri berarti pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi (Dewi Lestari, Rectoverso, hlm. VIII).

Proyek Rectoverso seperti diakui Dewi Lestari merupakan salah satu proyek paling ‘gila’ sekaligus paling menantang yang pernah dikerjakannya. Berawal dari eksperimen “Hanya Isyarat”, Dee tersadarkan mengenai contoh sempurna dari hibrida buku dan musik. Dua dunia yang selama ini menjadi saluran utama dari kreativitasnya. Dewi Lestari mulai menggali lagu-lagu gubahannya yang lain, yang liriknya memiliki kekuatan naratif hingga bisa dibentuk menjadi cerita pendek. Satu demi satu mulai mewujud, mendapatkan bentuk lainnya dalam format prosa (Dewi Lestari, Rectoverso, hlm. VIII).

Untuk merampungkan Rectoverso, Dee menggandeng Ruzie Firuzie dan Tommy P.Utomo sebagai produser. Adapun dari segi musikal ia dibantu oleh Andi Rianto dan Ricky Lionardi. Kesan grande dalam album Rectoverso begitu terasa dengan kolaborasi yang dilakukan dengan Magenta Orchestra. Yang hebatnya lagi rekaman dilakukan secara live.

Jika menilik rekam jejak karya dari Dewi Lestari maka akan terdapati kreatifitas yang beragam. Karya-karya yang dihasilkannya mampu tampil segar dan tampil dalam berbagai warna. Ibarat keindahan, karyanya adalah keindahan yang tidak monokrom. Ambil contoh dalam serial Supernova yang rencananya akan tampil heksalogi. Sejauh ini telah terbit novel Supernova sebanyak empat edisi. Rentang waktu terbitnya pun beraneka ragam. Supernova 1:Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh hadir tahun 2001, lalu Supernova 2: Akar di tahun 2002, Supernova 3: Petir di tahun 2004, Supernova 4: Partikel di tahun 2012.

Dari keempat episode Supernova yang telah mekar tersebut terlihat perbedaan dalam gaya penceritaan. Pada Supernova 1, terdapati science fiction; pada Supernova 2, gaya penceritaannya lebih ringan dan mengangkat punk; pada Supernova 3, gaya penuturannya renyah lagi lucu; pada Supernova 4, kembali tema ilmiah menyambangi dengan rangkaian pertanyaan tentang UFO. Dari keempat novel tersebut dapat terdeteksi bagaimana Dee tidak melakukan pendekatan yang sama dalam setiap karya. Ia mampu dengan cerdas melakukan perubahan dengan benang merah karakter yang masih terasa.

Serial Supernova sendiri ibarat mozaik. Dimana ternyata ada jembatan penghubung antara kisah-kisah tersebut. Contohnya ialah Diva yang hilang di Tambopata (Supernova 2), Bong yang ternyata sepupu dari Mpret (Bong ada di Supernova 2, sedangkan Mpret merupakan tokoh di Supernova 3), Elektra yang bertemu dengan Bodhi (Supernova 4). Dengan demikian kita dihadapkan pada keterpisahan yang utuh. Pada tiap episodenya, Supernova menjanjikan keindahan personal. Disamping itu ada keterkaitan antar episodenya yang membuat jalinan ketakjuban tersebut tidak terputus.

Melalui Supernova, Dewi Lestari mengusung nilai-nilai yang dipercayainya. Dia menggugat dan mendobrak melalui karakter homo, pelacur, istri yang selingkuh pada Supernova 1. Dia melakukan perjalanan di Asia Tenggara dan mengeksplorasi budaya punk, seni tato pada Supernova 2. Dia berhasil menampilkan sisi humoris dan penceritaan yang mengalir dalam Supernova 3. Dia mempertanyakan tentang agama, ilmu pengetahuan pada Supernova 4. Medan spektrum yang luas ditelusuri oleh Sarjana Ilmu Politik dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan ini. Dari keempat buah Supernova terdapat benang merah bahwa Dee bicara cinta, tapi cinta dengan latar sosial dan narasi nilai yang kuat.

Melalui karya sastranya, Dewi Lestari menelusuri banyak jalan penceritaan dan berbagai pilihan penyampaian. Dalam Madre (kumpulan cerita), saya terpesona dengan cerita pembuka (Madre) dan cerita pendek penutup (Menunggu Layang-layang). Cerpen berjudul Madre mengisahkan tentang bagaimana dari roti dapat merangkum pencarian makna dan pertanyaan hidup. Dee dengan cerkas mengolah adonan nilai dalam sisipan kuliner roti yang memikat. Pembacanya dibawa menelusuri sejarah masa lalu dan bagaimana roti yang turun temurun memberikan kehangatan nilai-nilai kekeluargaan. Sedangkan pada cerpen Menunggu Layang-layang, disuguhkan bagaimana cinta, persahabatan, dan melawan kesepian. Pada akhirnya cinta dapat meluluhkan dan menghentikan pencarian dan penungguan terhadap sesuatu.

Pada Rectoverso, Dewi Lestari melakukan fusion antara musik dengan cerpen. Tagline yang dinarasikan ialah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Cerpen-cerpen yang dihadirkan oleh Dee mampu memikat. Saya sendiri menjagokan kisah Malaikat Juga Tahu, Aku Ada, Cicak di Dinding, Tidur sebagai kisah favorit dalam Rectoverso. Puas membaca cerpennya, keindahan tidak berhenti. Kita dapat mendengarkan lagu oke seperti Malaikat Juga Tahu, Aku Ada. Pada lagu Firasat, aransemen ulang dilakukan pada lagu yang pernah dipopulerkan oleh Marcell ini. Pada aransemen baru, lagu Firasat dibawa lebih slow dan mendapatkan tambahan kata Aku pun sadari/ Kau tak kan kembali lagi.

Diantara kepungan karya Dewi Lestari saya memiliki beberapa favorit dengan karakter kuatnya masing-masing. Pada Supernova, edisi pertama dan ketiga menjadi unggulan saya. Pada Supernova edisi ketiga, terus terang saya mendapatkan paralel keindahan dengan novel Perahu Kertas. Sukar bagi saya untuk berhenti membaca halaman demi halamannya. Ada humor, keceriaan, filosofi nilai yang tertampil. Boleh dibilang Supernova 3: Petir dan Perahu Kertas menghadirkan wajah berbeda dari Dee. Intelektualitasnya tetap terlihat, namun sisi komedi dan penyampaian yang lebih ringan berhasil direngkuhnya.

Tak syak lagi Dewi Lestari merupakan pengarang yang karyanya memiliki kedalaman dan menawarkan ‘virus’. Pada beberapa hal saya bersebrangan pemikiran dengan pendapat Dee. Meski begitu itu tidak menyurutkan saya untuk berkata bahwa karya-karya Dewi Lestari impresif dan layak direkomendasikan.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s