Posted in Essai, Sosial Budaya

Lady Gaga

Seperti apakah seharusnya seni itu? Rasanya pertanyaan tersebut akan terus menggelayut di aneka ragam potongan waktu. Seni sebagai hasil rasa, cipta, karsa manusia akan terus tertampil dan mengalami dilema-dilema dalam perjalanannya. Belakangan ini publik Indonesia disuguhi pro dan kontra tentang konser Lady Gaga. Pada akhirnya konser dari penyanyi bernama lengkap Stefani Joanne Angelina Germanotta ini batal digelar karena alasan keamanan. Ribut riuh tentang konser Lady Gaga kembali mendaratkan tentang arti dari seni.

Bagi seorang yang berpendirian “seni buat kesenian”, (l’art pour l’art) hendaklah merenungkan apa yang dituturkan oleh Mohammad Natsir. Natsir bependapat: Saudara-saudara lebih maklum, bahwa selain dari pada seni masih ada moral., masih ada ideologi kenegaraan, masih ada i’tikad ketuhanan, masih ada cita-cita keagamaan, masih ada falsafah kehidupan. Dan pada hakikatnya seni yang sebenarnya seni dari salah satu bangsa, ialah bangun lahir (uitingsvorm) dari apa yang seluhur-luhur dan sesuci-sucinya yang ada dalam sanubari bangsa itu (Mohammad Natsir, Capita Selecta 1, hlm. 67-68).

Bagi yang berpandangan “seni buat kesenian”, (l’art pour l’art), seni seolah-olah berada pada medan tabula rasa. Netral, dan diserahkan kepada masyarakat. Dalam sebuah diskusi di facebook saya pernah mendapatkan sebuah pertanyaan haruskah sebuah novel membawa nilai dan pesan? Saya sendiri berpendapat karya seharusnya membawa nilai. Tidak sekedar aksara yang berdesak-desakan tanpa hakikat permaknaan. Pun begitu dengan karya seni dalam berbagai bentuknya, mestilah harus memiliki muatan nilai. Nilai inilah kiranya yang membawa pada sisi positif dan negatif. Maka kita mengenal rating, peringatan pada sejumlah karya, sebuah cluster agar siapa yang laik untuk mengkonsumsinya.

Film Batman The Dark Knight Rises misalnya memiliki rating 13+ yang menunjukkan bahwa selaiknya ditonton oleh mereka yang berusia 13 tahun atau lebih. Ada perlindungan yang dimaksudkan dengan klasifikasi rating. Lalu nyatanya dalam konser Lady Gaga di Indonesia tak ada segmentasi umur dari penontonnya. Padahal Lady Gaga merupakan sosok penyanyi kontroversial yang membawa nilai transeksual, menghina agama, menyajikan pornografi. Transmisi nilai ini jika terus berkembang akan membawa kemudharatan dari bangsa Indonesia ini. Kesukaran ekonomi, kebuntuan politik, akan mendapatkan tambahan beban dengan korosi dari segi budaya.

Indonesia tentu memiliki filter bernama Pancasila untuk menyaring nilai, paham yang tidak paralel dengan bangsa ini. Ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan sila pertama dan utama. Lady Gaga sementara itu menimbulkan resistensi dari kalangan beragama karena lirik-lirik dalam lagunya yang melecehkan agama. Atas nama demokrasi, kemerdekaan berpendapat, kebebasan berkekspresi, sejumlah kalangan mendesakkan agar konser Lady Gaga dapat tampil di Indonesia. Sebelumnya Kepolisian tak kunjung memberikan izin keamanan dikarenakan content dari lagu Lady Gaga yang melecehkan agama dan meresahkan masyarakat. Belakangan Kepolisian terlihat melunak dan agak akomodatif dengan tuntutan dari yang pro dengan konser Lady Gaga.

Demokrasi memang selalu memiliki penumpang berbahaya dalam gerbongnya. Pada awal reformasi, kita mendapati penumpangnya ialah pornografi. Serbuan media berbasis pornografi bermunculan dengan harga yang terjangkau pula. Bahkan hingga kini sekalipun, UU Pornografi telah disahkan, jerat pornografi masih begitu kuat membebat Indonesia. Demokrasi memberikan ruang untuk kontestansi nilai. Dalam hal ini demokrasi tak bisa dibiarkan lepas sendirian. Demokrasi harus bersanding dengan hukum positif. Oleh karena itu dengan adanya aturan hukum di Indonesia, maka nilai-nilai yang sekiranya destruktif dapat dieliminasi dari negeri.

Negeri yang membebaskan sebebas-bebasnya akan menjadi negeri yang berantakan dan compang camping. Jika menyitir Ibnu Khaldun, hancurnya peradaban dapat disebabkan oleh dosa keangkuhan, dosa kemewahan, dosa kerakusan. Bila prinsip moral ini tetap saja dilangkahi dengan semena-mena dan tanpa rasa salah, maka siklus bangun jatuhnya kekuasaan akan berulang tanpa henti karena manusia lebih menuruti naluri hewaniahnya (Ahmad Syafii Maarif, Ibn Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, hlm. 6). Moral yang bejat dapat menyebabkan rusaknya tatanan masyarakat. Padahal dari masyarakat yang merupakan orang per orang, sebuah kehidupan bertumpu. Risalah kenabian memberikan pelajaran tegas dan jelas. Bagaimana kaum Luth yang dihujani batu dikarenakan perilaku homo dan lesbian, lalu termusnahkan. Hal tersebut merupakan suluh bagi bagaimana menjalankan kehidupan yang baik.

Negeri Indonesia memiliki potensi. Terlebih kaum mudanya. Pada tahun 2010-2035, kaum muda Indonesia akan memiliki jumlah signifikan dalam jumlah. Namun hal tersebut dapat menjadi bumerang manakala kaum muda yang ada merupakan bibit-bibit yang rusak. Ahmad Dhani pernah menyitir dalam lagunya:

Yang muda mabok
Yang tua korup

Jika kaum muda yang ada ialah orang-orang yang mabuk dalam banyak hal terutama pemikirannya maka centang perenanglah negeri ini. Yang muda dengan segenap tenaga dan semangatnya malahan membolongi perahu besar Indonesia dengan pemikiran yang nyeleneh serta menyimpang dari dasar negara Indonesia yakni Pancasila dan UUD 1945.

Kehebohan yang dihasilkan oleh konser Lady Gaga merupakan sebuah hal yang kontraproduktif. Pemberitaan media harus diakui turut berperan untuk meng-amplifikasi gaungnya kemana-mana. Yang semula tidak tahu Lady Gaga dengan menggunakan search engine mulai melakukan penelusuran. Dan popularitas pun direngguk oleh Lady Gaga. Pengerekan popularitas ini semoga menimbulkan kesadaran dari anak bangsa untuk melihatnya secara jernih. Tidak terombang-ambing dengan penumpang gelap demokrasi ataupun atas nama kebebasan berekspresi.

Kesenian pada akhirnya bukan hanya untuk kesenian. Hiburan juga bukan untuk hiburan saja. Ada yang dibawa dan efek lanjutan dari kesenian dan hiburan. Jiwa dan pemikiran bangsa Indonesia harus sebisa mungkin dilindungi dari invasi nilai destruktif.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s