Posted in puisi, sastra

Di Sudut Perpustakaan

Di sudut perpustakaan
Diantara jajaran buku
Kamu dan buku di tangan
Dan kau nyalakan laptopmu
Tenggelam sesaat dirimu bersama kata

Memberikan jiwa kata-kata
Aku selalu suka momentum itu:
Ketika kau membetulkan letak kacamatamu
Saat kau membolak-balik buku, mencari pendaman makna yang tersembunyi
Kala kau mengetuk-ngetukkan penamu di meja, tandanya kau sedang berpikir liat

Lalu, kau terjun di lautan esensi
Menyadap pemikiran-pemikiran buah tangan lampau dan kontemporer
Kamu sedang meracik kata-kata

Dan ketika senja datang
Kau rapikan segala perangkat, termasuk tumpukan buku
Kau tutup laptopmu
Racikan kata-katamu usai hari ini
Dan kau tersenyum tipis tanda puas akan segala peluh dayamu

Dan aku pun tersenyum tipis
Tanda mata gembira dari si pengagum dari kejauhan

Advertisements
Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Komik

Sebelum Saya Menonton The Dark Knight Rises

Akhirnya berakhir. Begitulah kira-kira kalimat yang dapat menggambarkan korelasi antara Christopher Nolan dengan serial Batman. Film The Dark Knight Rises yang ditayangkan pada bulan Juli 2012 akan menjadi layar terakhir bagi Nolan dalam menyutradarai si manusia kekelawar. Sejak menggawangi film bioskop Batman pada tahun 2005 boleh dibilang, sutradara kelahiran Inggris tersebut sukses menghadirkan cerita yang memiliki kedalaman filosofis dan memadukannya dengan penjualan tiket yang sukses besar. Boleh dikata setelah mengalami ‘masa kegelapan’ dengan Batman (1989)-Batman Returns (1992)-Batman Forever (1995)-Batman&Robin (1997), Nolan berhasil membawa film bioskop Batman ke masa pencerahan.

Dalam sentuhan pertamanya Batman Begins (2005), Nolan mengamit sejumlah nama yang telah memiliki rekam jejak acting mumpuni sebut saja Gary Oldman, Morgan Freeman, Ken Watanabe, Michael Caine. Lawan yang dipilih dalam edisi awal ini juga relatif keluar dari pakem yang dikenal luas. Bukan Joker, Pinguin, Two-Face, ataupun Riddler, melainkan yang dipilih ialah Ra’s Al Ghul dan The Scarecrow. Ra’s Al Ghul dalam film Batman Begins merupakan mentor dari Bruce Wayne yang nelangsa dan dalam proses pencarian jatidiri. Ilusi tentang tokoh sebenarnya Ra’s Al Ghul disajikan di film Batman Begins ini.

Adapun The Scarecrow/Dr.Crane yang diperankan oleh Cillian Murphy memainkan psikologi ketakutan. Bagaimana ketakutan terdalam dari tiap orang mampu menghadirkan monster. Dari pilihan lawan yang tampil di panggung, dapat dilihat bagaimana Nolan memakai musuh ideologis. Musuh yang memiliki kecerdasan, ide, pemikiran, dan kegilaan. Nolan tidak mengkreasi musuh dari Batman sebagai musuh yang sekadar ber-fashion ganjil, nerd, ataupun memiliki kekuatan tertentu. Pilihan ini menjadikan film Batman bernas, tidak sekadar tokoh dengan busana tak lazim saling bertarung.

Pada film The Dark Knight (2008), pilihan musuh dari Nolan juga menarik untuk ditelusuri. Joker si musuh bebuyutan dan utama sudah pasti masuk disini. Terlebih di ending Batman Begins telah terdapat sinyal siapa rival berikutnya yang akan dihadapi. Angle yang digunakan dalam menghadirkan musuh berikutnya yakni Two-Face terasa benar-benar blend. Two-Face awalnya ialah Harvey Dent seorang jaksa penuntut yang berjuang gigih untuk menaklukkan kejahatan dan membawa para penjahat menuju penghukuman. Harvey Dent si ksatria putih ini lalu mengalami percabangan peran secara dramatis. Joker dengan jenius, cerkas, berhasil memprovokasi sisi kelam dari Harvey Dent. Ia menculik Rachel, si tunangan Harvey. Batman dan kepolisian Gotham dihadapkan pada pilihan untuk menyelamatkan Harvey dan Rachel. Strategi pertukaran alamat yang dilakukan oleh Joker berbuah pada selamatnya Harvey dan meninggalnya Rachel. Bagaimana Joker mampu mensubtitusi informasi antara 250 52nd street dan Avenue X at Cicero. Namun Harvey yang selamat, adalah Harvey yang terluka dan terbelah. Secara fisik, wajahnya terbakar dan menimbulkan kengerian dengan daging yang terlihat.

Harvey pun mencari hulu dari pengkhianatan. Ia menjadi seorang vigilante. Ia melupakan supremasi hukum yang dahulu diperjuangkannya. Harvey melakukan pengadilan jalanan dan membasmi penegak hukum yang membantu Joker dalam menculik Rachel. Harvey berubah menjadi Two-Face yang mempercayakan keadilan pada lemparan koinnya. Sang ksatria putih telah jatuh menjadi penjahat. Hal yang tak dapat dilepaskan dari provokasi Joker. Proses menjadi Two-Face merupakan pilihan cerdas yang dipilih dalam cerita The Dark Knight. Bagaimana dua penjahat mampu tertampil dengan unsur drama yang kuat. Anda bisa komparasikan dengan film Batman Forever di era terdahulu bagaimana Riddler dan Two-Face yang relatif tanpa sentuhan drama dan sekadar orang sinting dengan busana tampilan freak.

Siapa rival dari Batman dalam The Dark Knight Rises merupakan hal yang menjadi enigma selepas tayangnya The Dark Knight. Begitu diumumkan bahwa Batman akan menghadapi Bane dan Catwoman, saya ingat ketika waktu lampau tersebut, langsunglah saya lurking siapa itu Bane. Bane memenuhi unsur musuh ideologis yang menjadi karakter dari dua film sebelumnya. Mengutip dari wikipedia:

Bane is highly intelligent; in Bane of the Demon, Ra’s al Ghul says that Bane “has a mind equal to the greatest he has known (Although Talia dismisses Bane’s intellect as the cunning of an animal rather than the cultured, trained intellect of Batman).” In prison, he taught himself various scientific disciplines equal to the level of understanding of leading experts in those fields. He knows six active languages and at least two additional arcane and dead ones. Among these are Spanish, English, Urdu, Persian, and Latin. The Bane of the Demon storyline reveals that he has an eidetic memory. Within one year, he is able to deduce Batman’s secret identity.

Pencarian saya di dunia internet terhadap sosok Bane ini sekaligus meluruhkan konsep tukang jagal bodoh yang sempat singgah di pikiran saya. Basis alasannya tentu saja film Batman&Robin. Di film Batman&Robin, Bane berperan sebagai algojo di bawah asuhan Poison Ivy.

Bane dalam film The Dark Knight Rises diperankan oleh Tom Hardy. Sebelumnya Tom Hardy berperan sebagai Eames di film Inception. Buat Anda yang penggemar film Inception (2010) bolehlah dikatakan terjadi bedol desa dari para pemeran film Inception ke film The Dark Knight Rises. Marion Cottilard, Tom Hardy, Joseph Gordon-Levitt juga ikut urun dalam film The Dark Knight Rises. Marion Cottilard berperan sebagai Miranda/Talia Al Ghul, sedangkan Joseph Gordon-Levitt sebagai Blake. Boleh dikatakan Christopher Nolan merupakan sosok yang setia terhadap bintang yang dipilihnya. Lihat saja bagaimana Ken Watanabe yang berperan sebagai Ra’s Al Ghul palsu (Batman Begins), Saito (Inception).

Adapun plot cerita dari The Dark Knight Rises bersetting 8 tahun setelah kematian Harvey Dent. Batman dari pahlawan yang dipuja menjadi pesakitan yang diburu. Adapun roman dalam kisah ini dimungkinkan dengan adanya Catwoman (Anne Hathaway) dan Talia Al Ghul (Marrion Cottilard). Talia Al Ghul sendiri dalam versi komik memiliki anak laki-laki dimana ayah biologisnya adalah Bruce Wayne. Sisi romantisme yang kecut boleh dibilang menjadi magnet kekuatan dari narasi dari film yang disutradarai oleh Nolan. Lihat saja bagaimana kisah pilu antara Cobb dengan Mal di film Inception. Bagaimana Cobb yang terus dihantui rasa bersalah dikarenakan menanamkan ide kepada Mal yang berujung kepada kematian sang istri.

Kisah romansa Bruce Wayne di film Batman besutan Christopher Nolan merupakan cerita cinta yang tragis. Dalam film Batman Begins, relasi Bruce-Rachel tergerus dikarenakan pencarian jati diri dari sang protagonis selama 7 tahun. Di film The Dark Knight, kisahnya lebih miris lagi. Rachel bertunangan dengan Harvey Dent, untuk kemudian menemui kulminasi kekecewaan dengan tak terselamatkannya Rachel dari ledakan. Lalu bagaimanakah ujung dari cerita romansa Bruce Wayne pada serial penutup yang disutradarai oleh Nolan ini?

Nolan sendiri akan menjadi produser di film Superman Man of Steel yang akan tayang pada tahun 2013. Memang sempat beredar isu bahwa Nolan akan memegang nakhoda film Justice League yang akan dibuat sebagai tandingan dari The Avengers yang sukses secara finansial. Namun Nolan telah menampik untuk ikut ambil bagian dalam Justice League. Ia menyatakan keterlibatannya dengan Batman sudah berakhir dengan selesainya The Dark Knight Rises. “Sudah selesai apa yang kami kerjakan dengan ‘Batman’. Ini bagian terakhir keterlibatan saya dengan karakter ini,” ucapnya. Nolan percaya bahwa karakter Batman besutannya akan hidup lebih lama dari film-film yang sudah dibuat. “Meski kita berhenti membuat versi baru, yang hebat dari ‘Batman’ adalah ia tetap hidup untuk generasi mendatang yang bebas untuk menginterpretasikannya,” ucap Christopher Nolan (Republika, Sabtu 14 Juli 2012).

Menarik ditunggu film The Dark Knight Rises. Sebuah konklusi yang epik, semoga.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Politik

Sisi Politik Voldemort

Membaca kisah Harry Potter yang termasyhur sebagai novel fiksi fantasi best seller selayaknya perlu dicermati secara kerangka keilmuan. Sebagai kisah fantasi yang memiliki basis mitologi, novel Harry Potter mungkin telah dimafhumi bersama. Dalam kesempatan ini saya akan mencoba mengurai sisi politik dari kisah yang digagas oleh Joanne Kathleen Rowling ini. Adapun unit analisanya ialah sang antagonis utama: Voldemort. Menurut Aristoteles setiap manusia adalah zoon politikon (makhluk yang berpolitik). Pun begitu dengan Voldemort yang melakukan movement-movement politik dalam mencengkramkan terornya.

Nama

Sebuah nama adalah cerita. Voldemort bukan sekedar nama tunggal. Jika dikomparasikan dengan beberapa penguasa di dunia nyata, mereka memiliki beberapa nama. Soekarno memiliki sejumlah nama lainnya yakni: Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi dari angkatan bersenjata, doktor honoris causa dalam bidang tauhid, wali al-amri dharuri bi al-syaukah, Paduka Yang Mulia Presiden (Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hlm. 373-435). Soeharto dengan Bapak Pembangunan. Sedangkan di belahan dunia lainnya, kultus individu dapat berupa sebagai berikut (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir Tempo Edisi 21 Juni 2010):

Tentang Stalin, seorang penyair menulis, dengan hiperbol lain:

Wahai, Stalin yang agung
Tuan-lah yang menyuburkan tanah
Tuan-lah yang memulihkan abad
Tuan-lah yang mengembangkan bunga di Musim Semi

Tentang Mao, seorang prajurit yang diangkat jadi manusia tauladan oleh Partai, Li Feng, menulis catatan hariannya yang terdiri atas 200.000 kata. Hampir semuanya penuh pujaan:

”Bagiku, karya Ketua Mao ibarat makanan, senjata, dan kemudi. Kita harus makan dan dalam berperang kita harus bersenjata. Tanpa kemudi, kita tak dapat mengendarai mobil, dan tanpa mempelajari karya Mao Zedong orang tak dapat menempuh karier revolusioner.”

Nama lain yang melekat pada diri penguasa dirasakan perlu untuk mendefinisikan dan mengukuhkan pengaruhnya di tengah massa. Nama lain juga merupakan sebuah bentuk kultus individu yang memungkinkannya dipuja dan dielu-elukan oleh massa pendukungnya.

Voldemort memiliki beberapa nama lain yang menambah bobot keangkerannya. Kau Tahu Siapa, Dia yang namanya tak boleh disebut, menjadi labelling yang membiakkan teror di masyarakat. Lihat saja bagaimana bahkan untuk sekadar menyebutkan namanya saja ada getaran ketakutan dan ancaman yang senantiasa. Di seri terakhirnya nama Voldemort ditandai (melalui Mantra Caterwauling- Lihat Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm. 736), bahwa siapapun yang mengucapkannya akan segera terdeteksi dan bersiaplah dengan sekompi pelahap maut. Dengan demikian nama Voldemort menjadi barometer siapa yang berani memberontak dan melawan kuasanya.

Tom Marvollo Riddle merupakan nama asli dari Voldemort. Lalu ketika ia mengenyam pendidikan di Hogwarts, ia mengkreasi namanya menjadi Voldemort. Voldemort merupakan nama baru untuk Tom Marvollo Riddle, dimana ia memiliki angan suatu waktu semua penyihir di manapun tak akan berani menyebutnya. Dalam edisi Harry Potter dan Kamar Rahasia hal ini terkonfirmasi bagaimana sebuah anagram tersembunyi yang cerdas. Anagram itu adalah (J.K.Rowling, Harry Potter dan Kamar Rahasia, hlm. 390): Tom Marvollo Riddle menjadi I Am Lord Voldemort.

Clusterisasi

Penguasa yang otoriter menciptakan clusterisasi dimana mereka yang teridentifikasi di cerukan tertentu merupakan pihak musuh. Contohnya dalam Orde Baru terdapat istilah ekstrem kiri (komunisme, marxisme, leninisme) dan ekstrem kanan (Islam garis keras). Pada era demokrasi terpimpin terdapat istilah kontra revolusioner, antek neo imperialisme, subversif. Maka pada sekelumit era tersebut beberapa idiom berdesakan: ganyang, berangus. Clusterisasi yang dilakukan penguasa otoriter tentunya layak dipertanyakan dan diperdebatkan. Belum lagi dengan sapuan imbas yang dapat meringkus korban rakyat kebanyakan yang lugu. Mengutip pendapat Goenawan Mohamad, ‘Untuk itulah ikhitair dikerahkan, agar sikap dan pikiran bisa dipermak. Propaganda dibikin, penataran diselenggarakan, indoktrinasi didesak-desakkan, kadang dengan rayuan, kadang dengan teror. Kontrol dan pengawasan diperketat, dan apa yang disebut “totaliterisme” lahir. Ambisinya: mengontrol pikiran, ingatan, bahkan perasaan, orang-orang di suatu masyarakat secara penuh (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 81-82).

Voldemort dengan jelas menarik garis demarkasi siapa musuhnya. Melalui Komisi Registrasi Kelahiran-Muggle, maka mereka yang berdarah lumpur dan tidak murni dapat terseret menjadi pesakitan. Eksesnya ialah cekaman ketakutan massal dan pelarian dari mereka yang berdarah lumpur. Para penyihir harus menunjukkan bahwa dirinya benar-benar memiliki darah keturunan penyihir. Akibatnya orang seperti Hermione Granger menjadi diburu. Hermione sendiri kedua orangtuanya merupakan Muggle.

Tengoklah propaganda yang dilakukan melalui pamflet (J.K.Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm. 332):

DARAH-LUMPUR

Dan Bahaya yang Mereka Paparkan bagi
Masyarakat Darah-Murni yang Damai

Di bawah judul itu ada gambar sekuntum mawar merah, dengan wajah tersenyum simpul di tengah-tengah kelopak bunganya, sedang dicekik oleh rumput liar hijau yang bertaring dan pandangannya galak.

Memetakan musuh dari negara serta membiakkan ketakutan di massa merupakan tujuan dari clusterisasi. Dan Voldemort berhasil melakukannya dengan apik. Pembersihan dilakukan di segala lini. Hogwarts yang memiliki basis filosofis terbuka bagi penyihir tanpa memandang darah murni atau campuran terkena imbasnya. Hal yang merupakan perpanjangan ekspektasi dari Salazar Slytherin dahulu kala bahwa Hogwarts selayaknya diisi oleh para penyihir berdarah murni.

Media

Alvin Toeffler membagi tiga gelombang peradaban yakni pertanian, industri, dan informasi. Informasi dirasa penting karena dapat mempengaruhi persepsi dan penilaian. Jika mengutip quotes dari Menteri Propaganda Nazi Jerman Dr.Josef Goebels, “Jika sebuah kebohongan terus menerus diceritakan hingga terdengar luas di masyarakat, lama kelamaan masyarakat akan menyakini kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran”. Dengan demikian intensitas dan massifikasi informasi dapat menjadi seolah-olah itu adalah kebenaran. Media sendiri pada prakteknya dapat digunakan sebagai perangkat melanggengkan kekuasaan. Pada masa Orde Baru misalnya dengan budaya telepon, dimana media harus mengikuti arahan dari pemerintah berkuasa. Jika menurunkan berita yang membahayakan maka pemerintah akan mengeluarkan ancaman. Ekses langsungnya ialah arus informasi menjadi begitu dikendalikan oleh pemerintah.

Pemerintah pada era Orde Baru memiliki kanal melalui TVRI yang menjangkau nusantara. Dengan demikian seperti diistilahkan oleh sejarawan Asvi Warman Adam terjadi hegemoni makna dan wacana. Pada serial Harry Potter, harian daily prophet merupakan corong yang digunakan oleh pemerintah berkuasa untuk menyuarakan gagasannya. Ketika pemerintahan telah dikudeta di bawah pemerintahan yang sejatinya dipimpin Voldemort terjadi hegemoni makna dan wacana. Harry Potter menjadi Yang Tak Diinginkan No.1. Alasan yang dikemukakan ialah untuk dimintai keterangannya tentang kematian Albus Dumbledore.

Dengan massifikasi informasi tersebut, kalangan penyihir juga mengalami keraguan terhadap Harry Potter. Ada yang percaya Potter bersalah dalam kematian Dumbledore, ada yang mempertanyakan jika dirinya tidak bersalah mengapa harus lari dan menghilang dari peredaran. Melalui penguasaan informasi inilah Voldemort ingin mematikan bibit perlawanan mulai dari tingkat wacana. Kudeta yang dilakukan Voldemort sendiri berhasil dibahasakan dengan halus bahwa Rufus Scrimgeour mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada Pius Thicknesse.

Hal tersebut dinarasikan oleh J.K.Rowling sebagai berikut (J.K.Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm. 278-279):

“Kudeta ini lancar dan benar-benar diam-diam,” kata Lupin. “Versi resmi tentang pembunuhan Scrimgeour adalah bahwa dia mengundurkan diri. Dia digantikan oleh Pius Thicknesse, yang di bawah Kutukan Imperius.”

…”Ya, Voldemort memainkan permainan yang sangat cerdik. Menyatakan diri barangkali akan memprovokasi pemberontakan terbuka. Tetapi tersembunyi telah menciptakan kebingungan, ketidakpastian, dan ketakutan.”

…”Sekarang setelah Dumbledore meninggal, kau-Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup-pasti menjadi simbol dan pusat bagi semua perlawanan terhadap Voldemort. Tapi dengan memberi kesan kau punya andil dalam kematian si pahlawan tua, Voldemort tidak hanya memasang harga di atas kepalamu, tetapi juga menyebar bibit keraguan dan ketakutan diantara banyak orang yang semula akan membelamu.

Voldemort boleh dibilang memainkan kartu politiknya dengan baik. Sekurangnya Voldemort memainkan kartu politiknya melalui lini nama, clusterisasi, dan media. Voldemort nyatanya tidak sekadar pandai merapalkan mantra, melainkan juga piawai melakukan purna rupa tindakan politik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

EYD

Neil Gaiman pernah bertutur dengan mengutip pepatah lama bahwa novel paling baik didefinisikan sebagai prosa panjang dengan sesuatu yang salah di dalamnya (Neil Gaiman, Dewa-Dewa Amerika, hlm. 9-10). Sementara itu orang bijak pernah berkata bahwa buku yang sempurna adalah buku yang tak pernah ditulis. Apa gerangan yang membuat saya mengutipkan kedua ide di atas? Melegalisasi kesalahan? Saya hanya ingin untuk menawarkan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang wajar dan lumrah, termasuk dalam dunia penulisan. Kesalahan dalam dunia penulisan sendiri banyak ragamnya. Bisa dari kealpaan penulis, ketidaktahuan penulis, kesalahan pengetikan, penggunaan kata atau kalimat yang tidak sesuai dengan EYD, dan sebagainya.

Suatu waktu saya membuat sebuah cerpen berjudul Karnaval Sunyi. Dalam cerpen tersebut saya memakai frasa ‘sombongisme’ dan menggunakan beberapa istilah asing. Frasa ‘sombongisme’ dan istilah asing yang saya gunakan mendapatkan cabe dari beberapa orang. Para pengkritik menganggap penggunaan kata ‘sombongisme’ dan istilah asing tidak tepat digunakan dalam cerpen yang saya buat. Baiklah kiranya di kesempatan ini saya gunakan untuk mengulas sekilasan terkait frasa yang saya pakai dan istilah asing dalam tulisan.

Ada berapa banyak kosakata dalam bahasa Indonesia? Jika mengutip dari majalah Tempo, maka akan terdapat komparasi data sebagai berikut: dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia baru tercatat 90 ribu kata Indonesia. Bandingkanlah dengan Jerman atau Inggris, yang memiliki satu juta kata (Tempo, Edisi Lukisan Palsu Sang Maestro, hlm. 60). Mengutip pendapat dari Redaktur Senior Tempo Leila S.Chudori,”Kami menyadari, dalam bahasa, selalu ada ‘penyimpangan’, penjelajahan, eksperimen, dan permainan kata atau kalimat.” Tak mengherankan dengan basis pemikiran tersebut, dari rahim majalah Tempo bermunculanlah kata-kata berikut:”berkelindan”, “aduhai”, “santai”, “konon”, “gebrakan”, “menggebrak”, “menonjok”, “menggojlok”, “dangdut”, “melejit”, “tumben”, “kinclong”, “didapuk”, “digadang-gadang”, “cowok”, “cewek”, “cuek” (Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo 40 Tahun (1971-2011), hlm. 100-102). Majalah Tempo berpandangan kata-kata atau istilah yang meluncur dari kawasan kantor kami adalah kata-kata temuan baru yang bisa memperkaya bahasa Indonesia. Kita bisa memetiknya dari bahasa daerah, bahasa sehari-hari, atau bahkan serapan bahasa asing. Selama kata-kata itu memang terasa tepat dan pas dengan maknanya (Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo 40 Tahun (1971-2011), hlm. 103).

Ide dan alasan yang dikemukakan oleh majalah Tempo itulah kiranya yang menjadi basis serta referensi mengapa saya menggunakan frasa “sombongisme”. “Isme” sendiri berarti ajaran. “Isme” telah digunakan pada beberapa kata seperti “nasionalisme”, “materialisme”, “konsumerisme”. Jadi “sombongisme” ini sekadar melakukan paralelisme dengan konsep yang telah terbakukan tersebut. Adapun arti dari “sombongisme” ialah sombong yang telah menjadi nilai hidup dari seseorang. Sifat sombong telah menadi dan mendaging dalam orang tersebut. Begitulah kira-kira permaknaan dari “sombongisme” yang saya gunakan dalam cerpen Karnaval Sunyi.

Adapun beberapa istilah asing yang saya gunakan dalam cerpen memiliki basis historis. Cobalah tengok bagaimana buah pena dari para founding fathers Indonesia. Soekarno menulis sebagai berikut: …Pun makin lama makin tipislah kepertjajaan rakjat-rakjat itu, bahwa rakjat-rakjat jang memepertuankannja itu, adalah sebagai “voogd” jang kelak kemudian hari akan “ontvoogden” mereka; makin lama makin tipislah kepertjajaannja, bahwa rakjat-rakjat jang mempertuankannja itu ada sebagai “saudara-tua”, jang dengan kemauan sendiri akan melepaskan mereka, bilamana mereka sudah “dewasa”, “akil-balig”, atau “masak” (Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, hlm. 1). Adapun Mohammad Hatta menulis sebagai berikut: …Ucapan struggle for life tidak saja menyatakan adanya perjuangan, tetapi juga menunjukkan pertentangan-dengan meminjam kata Sombart-antara bedarf (keperluan hidup) dan deckung (pemuasannya) (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, hlm. 252). Sedangkan Mohammad Natsir menulis sebagai berikut: Bahasa Arab itu, bukanlah bahasa Agama semata-mata, bukan satu dialek, bukan bahasa salah satu propinsi. Akan tetapi, satu bahasa dunia, satu bahasa kebudayaan, satu bahasa pemangku kecerdasan, kunci dari bermacam pengetahuan dan kaya raya untuk mengutarakan sesuatu paham atau pengertian, dari yang mudah sampai kepada yang sesulit-sulitnya, dari yang bersifat maddah (konkrit) sampai kepada yang bersifat ma’nawi (abstrak) (Mohammad Natsir, Capita Selecta 1, hlm. 151). Penggunaan istilah asing sendiri dapat digunakan manakala belum ditemui padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Dengan keterbatasan kosa kata dari bahasa Indonesia, disamping itu dibutuhkan istilah yang dapat menarasikan suatu kalimat dengan tepat, saya pikir menggunakan istilah asing sah-sah saja. Jangan lupakan bahwa bahasa Indonesia sendiri memiliki akar dari bahasa bangsa lainnya.

W.J.S.Poerwadarminta

Berbicara tentang Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sosok yang lekat dan menjadi referensi utama ialah W.J.S.Poerwadarminta. Beliau adalah penulis dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) yang menjadi dasar pengembangan kamus bahasa Indonesia kontemporer. W.J.S.Poerwadarminta merupakan ilmuwan swadidik bersahaja yang berperan besar dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Ia tercatat pernah mengambil kursus pelbagai bahasa, seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Sanskerta, Jerman, Jawa Kuno, Melayu, dan Jepang, sampai ia menguasai semua bahasa itu. Tercatat ia sudah menghasilkan sedikitnya 25 buku-sebagian besar berupa kamus-lima diktat kuliah bahasa, serta sejumlah tulisan yang tersebar di beberapa media cetak.

W.J.S.Poerwadarminta menyatakan kamusnya bukanlah kamus standar atau baku, melainkan kamus deksriptif yang mencatat sambil merumuskan arti dan penggunaan tiap kata sebagaimana kata itu hidup di tengah pemakainya. W.J.S.Poerwadarminta berharap kamusnya “dapat memenuhi keperluan-keperluan jang praktis dalam batja-membatja segala matjam bacaan”. Sedari awal ia pun sudah membayangkan keperluan memperbaiki dan memperbaruinya setiap sepuluh atau 15 tahun. Baginya, kamus tak mungkin kekal.

Pilihan pendekatannya tersebut secara tak terelakkan memang mengakibatkan ada tuntutan penyempurnaan terus-menerus. Namun sayang, sejarah berkata lain. Sampai meninggalnya, ia tidak pernah berkesempatan melakukan penyempurnaan tersebut. Sejak pertama terbit pada 1952, baru pada 1976-di cetakan kelima- Kamus Poerwadarminta “diolah kembali” oleh Pusat Bahasa. Penyempurnaan kedua kita lihat pada cetakan ke-13 pada 2003 (Tempo, Edisi Indonesia yang Kuimpikan- 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri, hlm. 138-139).

Dari relasi saya dengan sejumlah kalangan, saya menemui ada beberapa orang yang terlampau meninggikan peran dari Kamus Umum Bahasa Indonesia. Referensi dan rujukan boleh saja, namun terlalu strict berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia saya pikir kurang pada tempatnya. W.J.S. Poerwadarminta telah menerangkan bahwa karyanya merupakan kamus deksriptif yang mencatat sambil merumuskan arti dan penggunaan tiap kata sebagaimana kata itu hidup di tengah pemakainya. Ia pun sudah membayangkan keperluan memperbaiki dan memperbarui kamusnya setiap sepuluh atau 15 tahun.

Bahasa sendiri sesungguhnya merupakan elemen yang hidup, tumbuh dan berkembang. Ada kata-kata baru yang tumbuh, entah itu dari serapan bahasa asing, eksplorasi bahasa daerah, ataupun kreasi para sastrawan. Menjadikan bahasa beku dengan terkekang pada aturan Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti menyalahi kodrat dari bahasa. Bahasa menjadi sekadar aksara yang beku dan itu-itu saja. Saya tidak menyalahkan betul pihak yang kukuh strict dengan kamus. Saya pikir akar kekukuhan mereka dikarenakan musababnya ialah pelajaran bahasa Indonesia yang benar-salah. Pelajar Indonesia mendapatkan durasi pembelajaran tentang mana kalimat yang baku dan tidak baku. Mana yang sesuai EYD dan tidak sesuai EYD. Lalu pola baku-tidak baku ini diujikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Eksesnya ialah terbentuk cetak pola bahwa bahasa itu seperti pilihan benar-salah. Maka terlupalah dengan intisari dari bahasa dan guna dari bahasa yang sebenarnya sebagai media komunikasi. Terlampau paten memusingkan tentang EYD menurut hemat saya dapat melucuti kemampuan menulis. Bukan berarti saya menyarankan Anda untuk melabrak dan semena-mena terhadap EYD. Namun ingatlah raison d’etre dari berbahasa. Dari pengalaman personal saya ketika dulu mengenyam studi bahasa Indonesia di bangku sekolah, materi membuat kalimat yang sesuai dengan EYD malahan menjadi momok dan menjadi hantu bagi lahirnya kelincahan bernarasi lewat kata. Ada ketakutan untuk menulis, karena jangan-jangan tulisan yang dihasilkan tidak sesuai dengan EYD. Fungsi turunannya ialah karya tulis dari anak bangsa ini yang dalam istilah satire Taufiq Ismail sebagai pincang menulis.

Pengajaran materi sesuai EYD juga membuat pelajaran bahasa Indonesia menjadi tidak mengasyikkan. Bagaimana teror dalam berbahasa dan mengekspresikan perasaan terjadi di ruang kelas, lalu dilanjutkan dengan ujian baik skala sekolah ataupun nasional. Bahasa seharusnya menjadi sesuatu yang kenyal dan hidup. Medium menulis menjadi kanal yang ekspresif untuk mengungkap ide dan pikiran. Bahasa sudah semestinya menjadi mengasyikkan dan mampu mengungkap panorama perasaan dan pikiran yang dimiliki. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) memang penting, namun lebih penting lagi ialah lahirnya generasi yang mampu untuk menuliskan secara nyaman dan aman tentang pergolakan pemikirannya. Selamat menulis wahai jiwa.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Edukasi, Ekonomi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Karya dan Konsumsi

Darimana asalnya karya? Bagaimana kiranya seorang kreator berkarya? Saya percaya seorang kreator kreativitas merupakan mereka yang menyerap dari sumber yang berkualitas. Berarti ada konsumsi disini. Konsumsi yang untuk kemudian berbuah menjadi produksi. Indonesia merupakan negara yang mencatatkan dirinya pada pertumbuhan ekonomi di atas 6% di saat krisis keuangan melanda sejumlah negara Eropa. Apa pasal? Ternyata hal tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang lahap dari sekitar 240 juta penduduk negeri ini. Lalu kemana kiranya konsumsi itu? Apakah lantas menjadi hilang saja? Apakah tidak lantas menjadi rangkaian produksi dan karya yang terhadirkan. Inilah pertanyaan besarnya, konsumsi oke, namun apakah produksinya oke?

Menurut hemat saya perlu kiranya bagi setiap dari kita untuk mengarahkan pandangan pada output, karya, produksi yang bisa terjadi dari diri kita. Seberapa banyak dari ramainya penonton di bioskop yang lalu berbuah menjadi karya sineas Indonesia? Seberapa banyak dari ribuan buku yang terjual lalu berbuah menjadi karya buku dari si pembaca? Seberapa banyak dari musikalitas lagu yang didengarkan lalu berbuah menjadi satu buah lagu? Bagi saya sebuah negeri yang sekedar menyerap, melahap, sekadar akan menjadi bangsa konsumen. Bangsa yang akan dibanjiri dengan varian produk yang teramat mungkin tidak dibutuhkannya.

Berkaryalah, maka tunjukkan kepada dunia warnamu. Saya percaya individu, entitas, ataupun negara yang menghasilkan dari rahim internalnya sejumlah karya merupakan pihak yang berkarakter. Karakter itu akan terlihat dari portofolio karya yang dihasilkan. Maka kita mengenal Amerika dengan serbuan film hollywood-nya. Kita mengenal Jepang dengan kreativitasnya melalui jalur anime ataupun komiknya. Kita mengenal India melalui film Bollywood-nya yang bahkan menjadikan negara tersebut sebagai negeri yang paling produktif dalam menghasilkan film setiap tahunnya. Berkaryalah negeri ini, jangan sekadar menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa gubahan Ismail Marzuki ataupun Kolam Susu dari Koes Ploes.

Apa pasal karya dan produksi dari negeri ini masih mandeg di tengah angkatan kerja yang begitu besar? Jika boleh mencari hulu alasan, menurut hemat saya tak dapat dilepaskan dari pola pendidikan yang ada. Negeri ini telah melatih dan membentuk pola konsumtif. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) malahan dalam prakteknya menjadi Catat Buku Sampai Abis (CBSA). Sekadar mencatat, membeo dari ilmu yang telah terkodifikasi. Mengapat tidak ditumbuhkan semangat berkarya semenjak belia. Berkarya dalam berbagai varian ditumbuhkan dan dikembangkan. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, misalnya dibandingkan durasi mata pelajaran habis untuk menerangkan EYD, periodisasi novel serta puisi beserta angkatannya, lebih baik jika diisi dengan pelajaran mengarang. Pelajaran mengarang akan membuat siswa aktif. Bekerja di ranah tulisan. Membuat siswa tidak pincang dalam menulis, jika boleh meminjam frasa dari Taufiq Ismail. Dengan mengarang, maka siswa akan aktif mencari tentang mana kata dan kalimat yang telah sesuai dengan EYD dan akan menjadikan referensi dari novel terdahulu sebagai rujukan.

Melakukan shifting paradigm penting dilakukan oleh negeri ini jika ingin menaikkan level kemampuannya. Shifitng paradigm itu adalah dari bangsa konsumsi menjadi bangsa produksi. Konsumsi memang dapat memutar roda perekonomian nasional, menghasilkan pertumbuhan ekonomi, namun jika mampu menjadi bangsa produsen maka negeri ini akan memiliki daya yang luar biasa dalam konstelasi dunia. Kemampuan untuk mengolah dari konsumsi menjadi produksi misalnya diperlihatkan oleh seorang Ridwan Kamil yang merupakan seorang arsitek. Inspirasi dari desainnya menurutnya berasal dari film kartun dan perjalanan yang dilakukannya. Ini berarti konsumsi (menonton film kartun dan perjalanan) mampu diolah menjadi elemen kreativitas dalam menghasilkan desain tata ruang.

Dari konsumsi menjadi produksi juga diperlihatkan oleh penulis. Penulis melakukan konsumsi terhadap bacaan, perjalanan, menonton film; lalu dari konsumsi multi rupa tersebut terkreasilah tulisan. Anda dapat melihat misalnya pada karya tulis dari esais Goenawan Mohamad yang mampu memadukan antara kuatnya daya bacanya, muhibah di berbagai tempat yang dikunjunginya, dan film yang ditontonnya. Dengan demikian konsumsi merupakan amunisi untuk berkarya. Konsumsi bukan untuk konsumsi en sich, melainkan sebagai bahan untuk melakukan produksi. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang teramat berbeda. Mereka yang memproduksi akan mampu menyerap dari berbagai unsur, mendialogkan di internal dirinya, lalu menghasilkan buah karya. Mereka yang sekadar mengkonsumsi akan berhenti pada tingkat kenikmatan konsumsi.

Berkaryalah dan tunjukkan kepada dunia siapa dirimu. Benar kiranya ada mekanisme industri dan uang ketika bertalian dengan karya. Namun bagi mereka yang memiliki mental penghasil, saya percaya akan terus berkarya dan menghasilkan. Indie merupakan salah satu opsi. Maka bertebaranlah musik indie, film indie, novel indie. Saya sendiri mengapresiasi mereka yang konsisten berkarya melalui jalur indie. Amat mungkin secara finansial lewat jalur indie tidak tercapai break event point, malahan bisa tekor. Namun ada karya yang tercipta, ada produk yang terhasilkan. Contohnya ada sahabat saya yang membuat serial novel indie. Dia lalu menggratiskan novel indienya seri yang ketiga jikalau pembeli memiliki novel indienya yang seri kedua. Secara hitung-hitungan ekonomi, ada uang yang luput dari radar kantongnya. Namun saya mendapati bahwa melalui novel indienya dia menemukan kepuasan untuk berkarya, kepuasan untuk berbagi cerita, kebahagiaan untuk berdiskusi tentang buah penanya sekalipun hanya berada dalam radius lingkar persahabatannya. Menurut hemat saya, rekan saya ini jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang sekadar berangan-angan kosong dan stuck dalam upaya menembus penerbit besar.

Berkaryalah karena dengan buah cipta, karsa itu sesungguhnya Anda telah memberi. Dengan berkarya maka terbiasalah untuk memiliki abundance mentality bukan mental pengemis. Berkarya juga akan menguatkan keahlian dan memperpanjang portofolio yang dimiliki. Berkarya juga akan membuat Anda dikenal. Oh si A yang rajin menulis, oh si B yang jago menggambar, oh si C yang piawai menggubah lagu, dan sebagainya. Jangan sekadar menjadi manusia netral, nir, dan selintasan lewat di bumi tanpa meninggalkan jejak. Jejak manusia adalah karya. Di penghujung kata, mari bermenung sejenak, jadi ketika kini Anda sedang mengkonsumsi suatu produk, telahkah terpikir tentang apa yang bisa Anda kreasi dari konsumsi tersebut? Baiklah kiranya saya lepas Anda di gerbang dengan permenungan penutup tersebut.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in puisi, sastra

Lompatan Skeptis

Kita adalah puing-puing sepi di julangan tebing-tebing kaca
Kita adalah jiwa-jiwa sunyi di kegaduhan karnaval kota
Kita adalah suara-suara tertindas di resonansi dunia
Kita adalah jarak antara das sein dengan das sollen

Kita adalah lompatan skeptis di deret ukur pertanyaan
Kita adalah jarum detak yang berjalan di belakang
Kita adalah gugusan letup amarah yang terbungkam pagi dinihari
Kita adalah garis pelangi yang termuramkan

Kita adalah selongsong cahaya yang terkurung tembok tinggi
Kita adalah cecunguk yang ditikam para kolega yang terhormat
Kita adalah tidur panjang di rangkaian amnesia negeri
Kita adalah jejak masa lalu yang tertelan diam-diam di terowongan tanpa cahaya

Kita adalah tanda tanya, di saat yang lainnya menyerukan titik
Kita adalah secangkir kopi di pagi hari, di kala yang lainnya menggaduhkan turbulensi hari
Kita adalah para filsuf, saat wabah pragmatisme menggedor-gedor jiwa
Kita adalah sebait puisi, sewaktu dunia mengalami kerontang jiwa kata

Kita adalah perlawanan di ketertundukan massal
Kita adalah jejak imajinasi di kepungan pikiran cetakan pabrik
Kita adalah kesatuan meski saling berbeda dan unik
Kita adalah bintang jatuh di langit terkelam
Mengintimidasi kemunafikan dengan pesona dan keteguhan hati

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Jalan-Jalan, Sosial Budaya

Padat Merayap di Gelar Jepang UI

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata Jepang? Jika pertanyaan tersebut diujarkan pada orang Indonesia yang mengalami perlintasan waktu dengan pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942-1945 maka kata Jepang akan dapat terkoneksi dengan romusha, kempeitai, katana, atau kekejaman yang dilakukan tentaranya. Namun bila pertanyaan tersebut didaratkan pada generasi sekarang ini, rasa-rasanya jawaban positif akan keluar terkait dengan Jepang. Shifting pandangan tersebut tak terlepas dengan kebijakan dari Kaisar Showa. Pada periode 1945 hingga 1980-an atau zaman Showa, Jepang telah membangun kembali negaranya dan berkembang pesat menjadi salah satu negara yang maju di dunia baik secara ekonomi maupun teknologi. Kaisar Showa saat itu memutuskan untuk mengadopsi penuh budaya konsumsi sebagaimana yang ada di Amerika. Jepang pun mengalami kemajuan yang pesat pada periode tersebut. Mereka mampu mengekspor produk-produk teknologi seperti alat elektronik dan kendaraan ke berbagai pelosok dunia. Bersamaan dengan itulah kemudian budaya visual Jepang merembes masuk bersama dengan produk-produk yang diekspor (Concept, Edisi September 2011, hlm. 78).

Bukti nyata dari budaya visual Jepang yang telah menyebar ke berbagai penjuru dunia ialah dengan sejumlah event yang memberikan ruang bagi ranah fantasi dari Jepang. Salah satunya adalah Gelar Jepang UI. Gelar Jepang UI sendiri boleh dibilang termasuk event yang mewadahi kegemaran terhadap segala hal yang terkait dengan produk fantasi Jepang. Gelar Jepang UI pertama kali digelar pada tahun 1994. Gelar Jepang UI merupakan upaya untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang kepada masyarakat umum. Sudah delapan belas tahun acara ini mewadahi kegiatan apresiasi kebudayaan Jepang serta aktualisasi diri bagi komunitas peminat kebudayaan Jepang melalui berbagai bentuk kreativitas. Pada Gelar Jepang 2012 mengangkat ‘Teknologi Ramah Lingkungan’ sebagai tema tahun ini. Untuk itu kali ini diusung tagline “Embrace The Future, Embrace The Nature” (menyongsong masa depan ramah lingkungan). Pada gelaran kali ini sekaligus mengajak pengunjung untuk terlibat secara interaktif dalam acara Gelar Jepang UI dan belajar pada semangat orang Jepang untuk membuat teknologi ramah lingkungan yang tercermin dalam acara-acara yang diadakan.

Tag line yang diusung pada Gelar Jepang UI tahun 2012 ini tidak sekedar slogan bisu, melainkan terlihat dalam etalase produk inovasi yang dipamerkan. Terdapat sejumlah karya dari hasil daur ulang ketika awal memasuki area Pusat Studi Jepang yang menjadi tempat perhelatan. Disamping itu panitia juga melakukan operasi semut untuk meringkus segala bentuk sampah yang dengan sembarangan ditelantarkan oleh sejumlah pengunjung. Tempat sampah organik pun ditempatkan di sejumlah titik.

Gelar Jepang UI 2012 sendiri ramai meriah. Terdapat beragam stand dan spot yang menarik. Mulai dari merchandise cosplayer, stand kizaru (kaus bergenre anime), stand makanan-makanan Jepang, spot menangkap ikan dengan menggunakan saringan kertas, stand kaligrafi nama, dan sebagainya. Purna rupa stand ini memberikan pilihan dan menggambarkan bagaimana kebudayaan yang terejawantahkan. Mulai dari fashion, makanan, permainan, seni, terimplementasikan dari jejeran stand yang berada di Gelar Jepang UI 2012. Jika Anda penasaran dengan rasa dorayaki yang pastinya telah amat massif dipromosikan oleh Doraemon, maka Anda akan dapat menemuinya. Sedangkan bagi yang ingin mencicipi aneka ragam olahan sea food dapat mencoba takoichi. Saya sendiri telah mencoba dorayaki di paruh kesempatan acara PopCon Asia, maka pada kesempatan Gelar Jepang UI, saya mencoba olahan sea food yang disajikan takoichi.

Gelar Jepang UI 2012 menyajikan narasi cosplay. Sepanjang mata memandang Anda akan menemui orang-orang yang menggunakan kostum cosplay. Tentunya event Gelar Jepang merupakan momentum yang tepat untuk ber-cosplay-cosplay ria. Ada yang memerankan karakter di anime Naruto, Bleach, dan sebagainya. Cosplay sendiri merupakan magnet yang memberikan gimmick pada perhelatan acara fantasi. Seperti acara PopCon Asia yang saya ikuti pada hari Sabtu dan Ahad tanggal 30 Juni dan 1 Juli 2012. Pada hari Ahad 1 Juli 2012 relatif sepi mereka yang berperan sebagai cosplayer. Jauh menurun dibandingkan hari Sabtunya. Hal tersebut menyebabkan atmosfer fantasi mengalami penyusutan yang tajam.

Gelar Jepang UI 2012 pada hari Sabtu 14 Juli 2012 memperlombakan lomba karaoke. Bertempat di auditorium PSJ, lomba ini padat oleh pengunjung. Peserta lomba membawakan satu lagu untuk kemudian dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari 3 orang. Adapun di layar terdapat lirik dari lagu yang dinyanyikan. Layar tersebut hanya bisa dilihat oleh penonton. Sedangkan peserta lomba tentu saja harus menyanyikannya dengan baik dan benar seperti kontestan adu suara.

Gelar Jepang UI 2012 yang bertempat di Pusat Studi Jepang UI dipadati oleh pengunjung. Luasnya PSJ dipadati oleh manusia sehingga untuk berlalu lalang kerap terjadi padat merayap. Area PSJ sendiri merupakan teritori yang eye catching dan menarik bagi yang suka dengan fotografi. Tak mengherankan PSJ kerap menjadi tempat shooting dari sejumlah FTV. Untuk perhelatan Gelar Jepang UI, PSJ telah dipercantik dengan nuansa Jepang. Mulai dari lampion warna-warni yang saling terhubung, bunga sakura yang terdapat di jembatan (dibuat dari bahan kertas). Bunga sakura yang terdapat di jembatan merupakan area favorit yang menjadi tempat pemotretan dari pengunjung. Sakura di kanan-kiri jembatan memberikan cita rasa Jepang yang kental.

Berangkat dari akar budaya visual yang kuat, Jepang mampu bangkit dari keterpurukan akibat kalah di Perang Dunia ke II. Dari pesakitan, Jepang mampu bangkit dan bersinar. Lewat komik dan animasi, Jepang kembali menguasai dunia lewat karakter hero dan kawaii (karakter dan desain imut asal Jepang). Indonesia yang tengah berada dalam G-20 sudah semestinya memikirkan ulang keunggulan apa yang dapat membuat bangsa ini dapat bersaing dalam kontestasi dunia. Kreativitas dan imajinasi menurut hemat saya dapat menjadi opsi yang dipilih untuk menggemilangkan Indonesia.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa