Posted in Aku

Menu Harian Membaca

Membaca sudah semestinya menjadi menu wajib bagi saya. Maka melalui esai ini merupakan reminder sekaligus raison d’ etre mengapa saya musti bin kudu untuk membaca banyak-banyak setiap harinya. Membaca merupakan amunisi terbaik untuk menulis. Berhubung profesi formal saya adalah penulis, maka membaca harus ditempatkan dalam maqam premier. Membaca tidak lagi sekedar hobi, ataupun ditempatkan di sela-sela waktu. Melainkan menempatkan membaca menjadi menu wajib yang mesti disantap. Saya percaya habbit lahir dari kebiasaan yang intens dilakukan. Terbentuklah ritme. Begitu ritme terlaksana maka ada semacam alarm internal yang mengingatkan untuk membaca.

Ketika membaca telah menjadi pola hidup keseharian, maka ketika membaca tidak terdapati, ada semacam keganjilan, ketidakenakan pada tubuh. Itulah kiranya yang coba saya lakukan: membuat membaca dalam porsi jam yang kerap menjadi menu hidup harian. Untuk menghasilkan tulisan yang berbobot dan berisi dibutuhkan spektrum pengetahuan yang luas dan mendalam. Dengan demikian saya harus mengalokasikan dan menginvestasikan waktu untuk tenggelam dalam pembacaan. Harus saya akui selama ini boleh dikata kurva pembacaan saya masih bersifat fluktuatif dan belum berada dalam garis disiplin yang rapi. Suatu termin waktu saya bisa seharian puas membaca, di termin waktu yang lain saya bisa hanya minimalis membaca.

Untuk menjaga menu membaca setiap harinya berada dalam standar citarasa yang tinggi maka saya menargetkan untuk membaca beberapa panel berikut. Ada 4 panel dalam menu harian membaca saya. 4 panel itu adalah membaca Al Qur’an, membaca koran Republika, membaca 4 buku, membaca majalah Tempo. Membaca Al Qur’an sebanyak 1 juz setiap harinya merupakan upaya untuk menjaga saya berada dalam radius spiritual. Manusia yang memiliki tendensi khilaf, salah, lupa, harus diupayakan dengan melakukan tindakan aktif. Dalam hal ini ialah dengan tadarus Al Qur’an. Tidak hanya dengan frasa eling, tanpa sebuah activity yang membawa pada eling. Dengan begitu target saya ialah tiap bulan akan mengkhatamkan pembacaan kitab suci.

Panel berikutnya ialah membaca koran. Membaca koran boleh dibilang merupakan habbit yang telah saya lakukan semenjak belia. Namun habbit itu terputus ketika saya mengenyam kuliah di UI. Alasannya karena ulang aling Jakarta-Depok melelahkan saya, serta waktu yang terpangkas begitu singkat, ditambah lagi selepas bapak saya meninggal terjadi penurunan kadar intelektual di keluarga (yang ditunjukkan dengan tidak berlangganan koran lagi). Bauran itu cukup berhasil membuat kebiasaan saya membaca koran terputus. Tentu saja akhirnya saya tersadar untuk kembali menghidupkan budaya membaca koran. Hal tersebut dimulai dengan berlangganan koran Republika. Meski begitu saya masih kerap abai untuk membaca menuntaskan pembacaan koran setiap harinya. Jadilah informasi dari koran berceceran dan terlewat dari radar pengetahuan saya.

Dengan hadirnya informasi dari medium internet, keberadaan dari koran edisi cetak dipertanyakan oleh berbagai kalangan. Mobilitas informasi, serta up date yang diberikan oleh portal media internet menjadi distingsi dengan koran harian. Saya pun sesekali membaca berita dari medium internet. Namun ternyata saya sadari bahwasanya membaca berita via internet jika berkelanjutan dan terus menerus menurut hemat saya dapat mendangkalkan kemampuan menulis. Menurut rekan saya, berita dari portal media internet praktis hanya memenuhi 5 W + 1 H. Praktis kita hanya tahu oh ada kejadian ini. Namun kedalaman penceritaan tidak didapati. Kedalaman penceritaan inilah yang menjadi keunggulan dari koran. Selain itu secara visual mata saya jauh lebih nyaman untuk membaca langsung (tidak terpapar radiasi cahaya komputer).

Panel pembacaan berikutnya ialah membaca buku. Sempat saya menargetkan setiap harinya membaca 6 buku. Pada beberapa kesempatan saya berhasil memenuhi targetan dalam sehari membaca 6 buku yang berbeda, dimana satu buku saya membaca 15 halaman. Namun berhubung saya melakukan diversifikasi pembacaan maka saya melakukan pemotongan dari kuantitas buku dibaca setiap harinya. Target pembacaan buku setiap harinya menjadi: 4 buku, dimana 1 buku minimal 15 halaman. Dari keempat buku ini ada dua tema yang harus saya baca yakni sastra dan politik. Alasannya selain hobi, menopang pekerjaan formal, men-support proyek-proyek penulisan yang saya lakukan. Saya percaya buku memberikan dimensi yang berbeda dalam bacaan dibandingkan dengan koran, majalah, bacaan via internet. Ada nafas yang lebih panjang ketika membaca buku, ada cakupan yang lebih luas untuk digali dan diselami dari membaca buku.

Panel membaca berikutnya ialah membaca majalah Tempo. Belum lama ini saya berlangganan majalah Tempo. Ada alasan romantisme historis, karena dahulu keluarga kami berlangganan majalah yang akrab dengan sosok Goenawan Mohamad ini. Saya dalam usia belia adalah yang dibesarkan dalam kawah intelektual yang dikreasi oleh majalah Tempo. Saya belia membaca dengan dahi berkenyit catatan pinggir Goenawan Mohamad sembari mengagumi keindahan bahasa yang mampu dihasilkannya. Dan kini pertautan saya dengan majalah Tempo terkoneksi kembali bermula dari buku Catatan Pinggir 2 yang saya beli. Memori saya dengan majalah Tempo te-refresh dan akhirnya saya memutuskan untuk berlangganan majalah yang sempat dibredel pada tahun 1994 ini. Dikarenakan ketebalan majalah ini yang mencapai 130-an halaman, maka saya memutuskan untuk mencicil membacanya setiap hari sebanyak 25 halaman.

Demikianlah lingkar pembacaan yang saya targetkan setiap harinya. Semoga disiplin membaca ini dapat berhilir pada mekarnya kreativitas. Saya percaya kemampuan menulis yang ciamik bukan sekedar talenta en sich. Harus ada upaya berkala dan berkesinambungan. Maka ini adalah upaya saya untuk menghadirkan amunisi pengetahuan yang kompleks dan bergizi. Tetap asah pena dengan rajin membaca.

Author:

Suka menulis dan membaca

3 thoughts on “Menu Harian Membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s