Posted in Essai

Bongkar Kebiasaan Lama

Hidup terkadang tak lebih dari sekedar repetisi demi repetisi. Hanya sekedar tanggal di kalender yang berganti. Hanya sekedar sumbu waktu dan umur yang bertambah menuju akhir. Berputar seperti rangkaian yang itu-itu lagi. Untuk itulah dibutuhkan berhenti sejenak. Berkontemplasi. Melihat dengan jarak. Berhitung tentang apa yang direncanakan, apa yang dikerjakan. Mengevaluasikan apa-apa yang terlewat. Menyadari di beberapa titik ada kesalahan yang kerap berulang. Lubang keterjatuhan yang itu-itu lagi. Seperti pasir hisap, kita tahu terhisap, namun seperti tak kuasa untuk bangkit dari keterperosokan.

Jikalau boleh dibilang satu hal yang dapat berepetisi ialah kebiasaan. Kebiasaan seperti mekanisme yang otomatis. Kebiasaan sendiri disusun dari rangkaian activity yang kerap dilakukan. Maka lama-lama mengendap. Lama kelamaan menjadi karakter. Baik kiranya jika kebiasaan yang ada itu positif. Namun alangkah teruk-nya jika kebiasaan yang ada negatif. Dibutuhkan kesadaran untuk melakukan shifting. Terkadang tahu bahwa itu kebiasaan buruk, namun tetap dipelihara, tetap diberikan akses untuk melakukan dan melakukan lagi. Menyadari implikasi dari kebiasaan yang buruk dapat menyadarkan tentang bad habbit. Terkadang implikasi ini butuh visualisasi yang kuat. Inilah kiranya yang membuat bahaya dari rokok perlu untuk meningkatkan derajat peringatan. Tidak sekedar slogan ‘merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan, dan janin’. Diperlukan visualisasi yang lebih kuat dengan memberikan narasi berupa gambar. Maka akan lebih menggigit dan ‘nendang’ lagi betapa destruktifnya kebiasaan buruk dari merokok dengan menggunakan gambar.

Yakinilah bahwa selalu ada pembalasan. Bahkan segala laku yang seberat dzarah. Memupuk dan membiasakan segala kebiasaan buruk pastinya akan menuai badai. Tinggal menunggu waktu – cepat atau lambat. Oleh karena itu sebelum terlambat, berbenahlah. Lakukan paradigm shift dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Menarasikan secara visual buah dari kebiasaan baik juga akan memberikan tenaga lebih untuk membiasakan segala kegiatan positif dalam hidup. Melakukan paradigm shift tentu akan menemui hambatan, bisa dari lingkup pergaulan ataupun dari internal diri. Namun ini hidup kita yang memilih. Ini hidup kita yang memperjuangkan. Maka berjuanglah untuk berada dalam radius kebiasaan yang positif.

Bongkar segala kebiasaan lama yang buruk. Akses kebiasaan-kebiasaan baru yang konstruktif. Resistensi teramat mungkin muncul, terutama dari diri personal. Terlebih jika kebiasaan lama itu telah menahun dan menyarang di diri. Rumus perubahan jika mengutip dari pendapat Abdullah Gymnastiar (AA Gym) dapat dengan menggunakan 3 M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil, Mulai dari sekarang.

Mulai dari diri sendiri, karena terkadang kita lebih banyak mengarahkan telunjuk ke kanan dan kiri ataupun membabibuta ke berbagai arah. Namun lupa bahwa simpul kesalahan berada pada diri pribadi. Kaizen, memperbaiki diri sendiri secara terus menerus akan lebih produktif dan menenangkan dibandingkan mengharapkan unsur atau orang lain untuk berbenah. Kitalah pengendali, termasuk untuk menginjeksikan segala perubahan menuju arah yang lebih baik lagi. Memperbaiki diri sendiri akan menjadikan kita sebagai manusia pembelajar. Manusia yang mengutip istilah Steve Jobs ‘stay hungry’ dan ‘stay foolish’. Tetap merasa lapar dengan ilmu dan pencapaian. Tetap menyadari bahwa di sekujur diri ada lumuran kesalahan. Itulah kiranya yang membuat dalam literatur Islam sebagai muslim untuk bertobat dan melakukan istighfar. Selalu ada ruang untuk kesalahan, dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan ialah yang memperbaiki diri.

Mulai dari hal kecil. Terkadang kita begitu ambisius untuk melakukan perubahan besar. Lalu kelelahan dalam proses perubahan besar itu dan akhirnya menanggalkan upaya perubahan. Itulah kiranya mungkin rahasia bahwa Allah Swt lebih menyukai tindakan yang rutin dilaksanakan dibandingkan sekali melaksanakan lalu terputus. Tindakan perbaikan yang rutin dilaksanakan secara kecil-kecilan, perlahan, lama kelamaan akan menghasilkan bola salju perubahan yang maha. Lihatlah ketelatenan rayap yang menggerogoti, hingga tersadarlah tongkat nabi Sulaiman telah habis tergerus. Lihatlah evolusi-evolusi yang akhirnya membuahkan revolusi. Ubahlah segala habbit buruk perlahan. Berputarlah dengan ritme positif baru secara evolusi. Tingkatkan terus kebiasaan positif seiring waktu dan terkagetkanlah di etape waktu di hari nanti bahwa telah terjadi perpindahan dari bad habbit menjadi good habbit.

Mulai dari sekarang. Mungkin nanti, entar besok, menjadi frasa apologi untuk lari dan berkelit. Ketahuilah saat yang paling sempurna untuk berubah menuju perbaikan ialah sekarang. Terkadang saya pribadi menunggu saat yang sempurna untuk melakukan ini-itu, namun akhirnya saya menyadari bahwa saat sempurna itu bukanlah harus ditunggu, melainkan untuk diperjuangkan. Hidup ini memang sejatinya adalah perjuangan. Bukan sekedar ascribed status ataupun pasif menunggu perubahan dari celah sejarah yang ada. Jangan lagi menunggu dan menunggu saat yang sempurna. Karena saat yang sempurna itu tak pernah tiba. Bongkar kebiasaan lama dalam skala omni present.

Setiap ulang tahun dari seseorang biasanya dimaknai dengan lebih. Sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri. Mengkanvaskan segala kebiasaan lama yang tak elok, bergerak ke pendulum harapan nan cerah. Sayangnya upaya perbaikan diri via ulang tahun ini sering susut bersama waktu dan rutinitas. Akhirnya terjebak dalam rangkaian kebiasaan buruk yang itu lagi dan doa untuk lebih baik lagi pun terjeda hingga fragmen ulang tahun berikutnya. Saya percaya siklus ulang tahun beserta harapan perbaikannya yang memupus dapat diputus dengan mematrikan kebiasaan baik dapat menjadi ritme di setiap pergantian hari. Memupus dan melarungkan kebiasaan buruk dapat terjadi kapan saja. Kita hanya harus memilih dan benar-benar berkomitmen untuk melakukannya. Saya percaya memutus rantai kebiasaan buruk tak semudah mengucapkannya atau menuliskannya. Namun bukan berarti tidak bisa dicoba dan diupayakan. Mari berbenah dan bongkar segala kebiasaan lama. Dan mari bersulang untuk hidup yang lebih baik lagi.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Bongkar Kebiasaan Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s