Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Menulis dan Kegelisahan Itu

Para penulis adalah penggerutu. Maka mungkin kecepatan dan kemampuan dalam menulis akan tertemui pada penulisan jurnal pribadi. Karena dalam jurnal pribadilah kegelisahan itu dapat utuh tertumpah. Sang penulis jurnal pribadi dapat aman menuangkan kegelisahan. Tak perlu gelisah bahwa tulisan dalam jurnal pribadi akan menimbulkan kegelisahan baru. Kegelisahan baru karena tulisan dapat menimbulkan multi implikasi. Jurnal pribadi mampu memberikan ruang yang aman dan nyaman.

Menulis adalah kegelisahan. Maka ada disparitas antara ekspektasi dan yang terjadi. Contohnya ialah Multatuli dengan karyanya Max Havelaar, Natsir dengan kajiannya tentang pabrik gula di Jawa. Ada jurang yang menganga lebar antara das sein dan das sollen. Melalui buah pena mereka tertumpahkan segala gelisah dan semangat perlawanan.

Ada banyak ragam tulisan yang menjumpai kita di era informasi ini. Sebuah gelombang ketiga menurut Alvin Toefler setelah gelombang pertanian dan industri mengalami masa kejayaannya. Informasi kini tersebar luas dan bahkan terjadi luberan informasi. Kanalnya bisa rupa-rupa. Belum lagi dengan citizen journalism ataupun jagat dunia per-blog-an. Dari ledakan informasi dan tulisan itu akan terdapat pilihan. Siapapun dapat menulis dan menuangkan resahnya. Ada yang menjadikan lembar blog-nya menjadi diary kegalauan. Ada yang menjadikan media sosial sebagai amplifikasi dari tulisannya. Dalam Kompasiana yang saya ikuti misalnya, ada tulisan-tulisan yang berjudul bombastik, bahkan menjurus. Namun ketika ditelusuri ternyata sekedar tulisan yang kerontang makna.

Sebaran siapa saja dapat menulis memang membuka kesempatan untuk lebih menyuarakan apa yang ada. Meski begitu menurut hemat saya, selektif tetap diperlukan. Bacaan yang buruk dapat berpengaruh pada daya intelektualitas. Syahdan kita temui keresahan yang tipikal antara orang A dan orang B. Namun bagaimana artikulasi keresahan antara orang A dan orang B dapat menjadi distingsi. Artikulasi yang buruk dapat menjadikan pesan tidak tersampaikan dan mampu menggugah. Dengan demikian dalam pandangan saya, untuk menghasilkan tulisan yang baik, diperlukan keresahan dan kemampuan menulis yang mumpuni.

Sekedar menuliskan kegelisahan, tanpa dibarengi dengan kemampuan menulis yang baik, akan menjadi inti dari pesan kegelisahan gagal tersampaikan. Kegelisahan yang ditopang dengan data juga menjadikan kegelisahan tersebut valid. Contohnya ialah buah pena dari Mohammad Natsir tentang pabrik gula di Jawa. Natsir dalam kajiannya di AMS berhasil mengungkapkan keburukan sistem kerja dalam pabrik gula di Jawa. Natsir melakukan research selama 15 hari dengan membaca buku-buku yang ada di bibliotik Gedung Sate, juga membaca majalah-majalah yang diterbitkan kaum pergerakan. Natsir juga mempelajari perdebatan dalam Volksraad (semacam Dewan Perwakilan Rakyat), untuk kemudian membuat satu karangan, satu analisis dengan data-data statistik (Tarbawi, Edisi Keajaiban Surat Cinta). Natsir, dengan bukti-bukti akurat menyangkal pandangan gurunya yang beranggapan bahwa sistem kerja kolonial di pabrik-pabrik gula di Jawa telah memberikan keuntungan kepada petani. Yang memperoleh keuntungan ialah para pemilik modal dan bupati yang memaksa rakyat supaya menyewakan tanahnya kepada pabrik dengan sewa rendah. Sistem kerja kolonial itu menjadikan rakyat tani yang miskin menjadi semakin miskin dan menderita karena tidak pernah bebas dari beban-beban hutang yang berat. Terlihat jelas melalui buah selidik otak, hasil buah pena dari Natsir bukan sekedar curhat hampa. Melainkan curhat yang bernas, berbasiskan data, dan mampu menggerakkan.

Kegelisahan adalah amunisi bagi penulis. Tengoklah kegelisahan Multatuli berikut (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1, hlm. 31):

“Katakan kepada saya, bukankah si petani miskin? Bukankah padi menguning seringkali untuk memberi makan orang yang tidak menanamnya?”

Kegelisahan seperti gelora yang menyalakan api semangat. Seperti alasan yang membuat mengarungi waktu dalam upaya untuk menghasilkan tulisan yang kokoh. Itulah kiranya yang memberi jiwa pada tulisan. Dari pengalaman saya membaca berbagai bahan bacaan, saya dapati ada tulisan yang mampu membawa emosi, ada yang sekedar hambar. Tulisan yang hambar menurut hemat saya penyebabnya ialah sang penulis tidak mentransformasikan kegelisahan dalam buah penanya. Sekedar menulis, dan tintanya mendingin tanpa makna jiwa yang ingin disampaikan.

Ilmu sendiri hakikatnya luas dan beragam. Maka bagi yang menghayati dunia penulisan, menulis merupakan upaya untuk merawat dan mentranformasi ilmu. Dengan menulis, saya percaya ilmunya akan bertambah. Dikarenakan menulis yang baik memerlukan referensi, verifikasi. Hal ini membuat si penulis akan senantiasa belajar. Berbeda kiranya dengan sekedar membaca dan membaca tanpa menuliskannya. Saya percaya dari bahan bacaan yang setiap hari dibaca akan terjadi penyusutan pemahaman seiring waktu. Membaca kemudian menuliskannya akan merawat ingatan terhadap bahan bacaan. Bahkan terjadi pengayaan dan penelitian lebih mendalam dari bahan bacaan yang telah digeluti.

Dunia pendidikan Indonesia dengan tradisi menulis harusnya lebih erat. Dengan menulis maka siswa tidak sekedar membeo jawaban yang telah tertera dalam buku. Dengan keharusan menulis, maka akan tumbuh semangat membaca dan mengeksplorasi. Menulis essai tentang satu tema mata pelajaran akan membuat siswa aktif. Tidak sekedar duduk manis, dicekoki teori dan jawaban yang kira-kira akan keluar pada soal ujian. Menulis akan menjadi jembatan bagi artikulasi ilmu yang telah diserap selama durasi pembelajaran. Akan ada jejak serta bukti nyata bahwa si siswa telah mengeksplorasi suatu tema pelajaran.

Kealpaan menulis akan terlihat dalam kelemahan diksi dan kesulitan untuk menerjemahkan ide dalam kalimat. Seperti yang disinyalir oleh Taufiq Ismail bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis. Jika Anda saat ini belum menjadikan menulis menjadi ritme kehidupan, saran saya ialah mulai menulislah. Saya percaya dengan menulis akan memungkinkan Anda untuk lebih sehat, dan mengembangkan ilmu yang Anda miliki. Sehat? Karena dengan menulis maka kegelisahan, gulana, cerita yang mendekam di hati dapat tersalurkan. Contoh nyatanya ialah BJ Habibie sepeninggal kematian istrinya Ainun. Seperti dituliskan oleh BJ Habibie dalam pengantar penulis (Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie & Ainun, hlm. IX):

Bagi saya pribadi, hikmah menulis buku ini, telah menjadi terapi untuk mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan oleh seseorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya, dalam berbagi derita dan bahagia, karena antara saya dan Ainun adalah dua raga tetapi hanya satu jiwa. Selain itu, saya mencoba memenuhi anjuran dokter, baik di Hamburg, Muenchen dan di Indonesia, bahwa saya harus terhindar dari gangguan psikosomatik, sebuah gejala penyakit yang sangat erat hubungannya antara faktor fisik, psikologis, dan sosial.

Saya percaya setiap dari kita memiliki kedongkolan, gelisah, gulana, kalimat yang tak tersampaikan dalam lisan. Maka menulislah dan alirkan kegelisahan itu dalam karya.

Jikalau ada yang bertanya, mengapa saya terus menulis dan menulis? Bahkan sekalipun buah tulisan saya itu tidak dibayar secara finansial. Maka saya menemukan raison d’ etre bahwa saya menolak untuk termusnahkan. Kematian pasti menemui saya. Dengan menuliskan banyak-banyak saya berharap tulisan saya tersebut dapat bermakna, menggugah, menginspirasi, untuk kemudian menjadi tambahan amal saya di negeri akhirat. Dengan menulis, nama saya juga memungkinkan untuk tetap bergaung walaupun jasad telah terkubur di tanah. Kegelisahan termusnahkan itulah kiranya yang menjadi salah satu sumbu semangat saya dalam menulis. Bagaimana dengan Anda?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s