Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Sejarah

Satu Tahun, Mungkin Lebih

Apa yang bisa diberikan oleh waktu? Kenangan, pengalaman, sejarah, perjalanan, menjenguk mimpi-mimpi yang belum sempurna? Maka biarkan sang waktu mendeklamasikan makna. Tentang arti dan pertanyaan yang mungkin harus terus dipertanyakan. Milan Kundera pernah berkata bahwa perjuangan kita adalah melawan lupa. Sebenarnya secara personal saya tidak terlampau suka dengan segala bentuk perayaan, selebrasi, dan segala ngak, ngek, ngok-nya. Namun baiklah melalui rubrik kata ini, marilah kita coba mengingat segala waktu yang telah terhampar di belakang, sembari menatap kekinian, serta mencetak format hari esok yang lebih baik.

Sejarah selalu punya cerita. Dan tiap orang memiliki sejarah yang berbeda. Maka izinkan saya menguraikan Kaldera Fantasi (Kalfa) dalam versi sejarah yang saya guguskan. Awalnya adalah ide dan imajinasi untuk membentuk komunitas yang berbincang-bincang dan saling sharing tentang segala hal yang terkait dengan fiksi fantasi. Embrio ide awal tersebut, lalu harus menemui jiwa-jiwa yang memutar rodanya. Ada banyak percabangan dari fiksi fantasi yang saya gemari, namun di kepingan sisi lainnya, saya mafhum pengetahuan saya tidak cukup mumpuni untuk men-cover area fiksi fantasi yang terlampau luas.

Saya pun bergerilya mengajak rangkaian sobat yang memiliki pengetahuan lebih soal fiksi fantasi. Jika boleh menganalogikan dengan The A-Team, saya pun mencari personel yang sekiranya memiliki kelebihan di masing-masing ceruk yang Kaldera Fantasi ujarkan. Ada spot film, anime/Japan, komik, novel, games dalam titik rancang bangun awal. Saya pun melakukan lobi dengan berbagai lini cara kepada 4 orang yang nantinya akan menjadi para pendiri Kaldera Fantasi. Lobi yang saya lakukan berhasil menyakinkan keempat sobat saya untuk bersedia menjadi admin di Kaldera Fantasi. Para pendiri ini tentunya akan mengelola dan memberikan sejumlah ‘provokasi’ agar Kaldera Fantasi (Kalfa) dapat sustainable dan terus berkembang.

Baiklah kiranya saya perkenalkan para pendiri Kaldera Fantasi. Mereka adalah Yusuf, Rendi, Viko, dan Andika. Perkenalan saya dengan keempat orang ini bermula dari persahabatan di dunia nyata. Yusuf merupakan teman SD sekaligus SMP saya, disamping itu teritori rumah kami tidak begitu jauh. Berbicara tentang Yusuf adalah fantasi yang bertebaran. Anime, games, novel, komik, film, dengan beragam derajat keunggulan dimiliki oleh pria berkacamata ini. Sosok berikutnya ialah Rendi. Saya mengenalnya pertama kali ketika masih berseragam putih abu-abu. Saya mengenalnya sebagai seorang penggambar yang baik. Lalu ketika menjalani kuliah di Fisip UI, saya kembali satu almamater dengan Rendi. Kami pun bekerjasama di Salam UI Departemen Seni, Kreasi, dan Budaya Islam (Serbi) dimana saya mendapatkan amanah sebagai kepala geng. By the way, Salam UI 08 Departemen Serbi boleh dibilang merupakan departemen yang paling rock, nyeni, dan berbeda. Serbi sendiri pernah mengadakan workshop fotografi dan workshop komik dimana pengisinya datang dari mahasiswa UI sendiri. Kami ingin memberdayakan dan menyakinkan bahwa yang muda dapat berkarya dan bicara.

Berbekal rekam jejak perkenalan tersebut, saya pun tak ragu untuk mengamit Rendi di jajaran pendiri. Yang ternyata saya terkagetkan sendiri samudera pengetahuannya tentang fantasi lebih luas dari taksiran awal yang saya perkirakan. Rekan berikutnya ialah Viko. Kami kerap berbincang tentang film ataupun novel fantasi apa sih yang seru. Bahkan sampai saat ini novel Ranger’s Apprentice-Reruntuhan Gorlan punya Viko masih anteng di deretan buku di rumah saya (hoho..). Rekan berikutnya ialah Andika. Andika terdeteksi menyukai fantasi ketika saya pernah membuat status di Facebook terkait Percy Jackson. Ia menanggapi. Dan ternyata pengetahuan fantasinya terkait dengan literatur fantasi kontemporer cukup mumpuni. Demikianlah sobat-sobat personal saya yang berdiri berdampingan menjadi para pendiri.

Kalfa berdiri pada tanggal 13 Juli 2011 pukul 13. Wahana yang digunakan ialah buah kreasi dari Mark Zuckerberg. Alasannya dikarenakan Facebook mampu memberikan paket komplit yang memungkinkan terjadinya simbiosis yang dinamis. Gambar, artikel, chatting, saling berbalas komentar, dimungkinkan melalui Facebook. Mengutip Enda Nasution (praktisi multi media) bahwasanya Facebook lebih digunakan untuk teman dan keluarga, maka kami para pendiri Kalfa menyadari diperlukan vehicle lainnya untuk memperluas pangsa pasar yang tergabung di komunitas. Kami pun membuat akun Kompasiana yang memungkinkan artikel terkait fantasi dari Kalfa dibaca oleh orang-orang yang tidak dikenal secara personal oleh para pendiri.

Kalfa di masa awal pendiriannya menarik anggota dari relasi persahabatan para pendirinya. Teman-teman di Facebook yang sekiranya memiliki kegemaran terhadap fantasi, kami cemplungkan ke dalam komunitas ini. Tentunya pertanyaan awal yang kerap terjadi ialah ‘Kalfa itu apa sih?’ Maka untuk memberikan jawaban itu rangkaian aksi aktif dilakukan, mulai dari membuat artikel terkait fantasi, saling berbalas komentar, dan sebagainya. Beberapa teman yang kami cemplungkan secara empirik beberapa orang angkat kaki. Kami pun menyadari bahwa konsep dan branding dari Kalfa masih belum cukup kuat dan melekat. Kami pun sebagai pendiri masih belajar untuk mengimplementasikan dan mendialogkan ide-ide yang ada di kepala.

Saya personal sebagai pendiri dan provokator berkeyakinan bahwasanya segala liputan pertanyaan dan branding Kalfa dapat terbentuk dengan sejumlah ‘serangan’ dan pertanyaan. ‘Serangan’ yang dimaksud ialah rangkaian tulisan. Jadilah saya beserta pendiri Kalfa lainnya mengelontorkan tulisan. Rupa-rupa tulisan yang kami hidangkan. Dengan tulisan tersebut diharapkan dapat memberi definisi lebih kentara tentang apa itu Kalfa. Disamping itu menggalakkan penulisan merupakan upaya untuk menumbuhkan tradisi intelektual dan tradisi menulis. Kami berharap ‘serangan’ ini akan memicu multiplier effect bagi lahirnya karya yang variatif.

Sedangkan pertanyaan digunakan sebagai metode simbiosis. Bagaimana saling terjadi tukar menukar pengetahuan dan kegemaran. Rangkaian pertanyaan yang kerap dilontarkan membawa pada sejumlah pertanyaan baru dan eksplorasi lebih mendalam. Dengan pertanyaan, suara dari Anda-Anda juga akan terdengar. Saya sendiri merasa bergelora ketika pertanyaan diluncurkan lalu diberikan tanggapan dari sudut pandang masing-masing. Nyatanya radius dari fiksi fantasi benar-benar luas eksponensial. Saya hanya orang yang senantiasa meminjam istilah Steve Jobs sebagai stay hungry dan stay foolish terhadap fantasi.

Secara sumbu waktu, satu tahun sudah Kalfa berdiri. Saya selaku pendiri mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi untuk sobat-sobat yang telah memberikan kelir beragam pada komunitas ini. Andalah yang sesungguhnya menjadi bintang-bintang utara yang menyinari horizon komunitas ini. Tanpa Anda semua komunitas ini hanya sekadar nama tanpa jiwa. Dengan segenap kerendahan hati, saya ucapkan terima kasih. Saya juga menghaturkan permohonan maaf apabila selama perjalanan waktu terjadi pergesekan kata dan ketersinggungan. Semoga kehadiran komunitas Kalfa ini di ruang personal jiwa Anda dapat memberikan energi positif, menginspirasi, dan meletupkan kreativitas. Terima kasih dan terima kasih untuk segalanya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s