Posted in Edukasi, Ekonomi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Karya dan Konsumsi

Darimana asalnya karya? Bagaimana kiranya seorang kreator berkarya? Saya percaya seorang kreator kreativitas merupakan mereka yang menyerap dari sumber yang berkualitas. Berarti ada konsumsi disini. Konsumsi yang untuk kemudian berbuah menjadi produksi. Indonesia merupakan negara yang mencatatkan dirinya pada pertumbuhan ekonomi di atas 6% di saat krisis keuangan melanda sejumlah negara Eropa. Apa pasal? Ternyata hal tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang lahap dari sekitar 240 juta penduduk negeri ini. Lalu kemana kiranya konsumsi itu? Apakah lantas menjadi hilang saja? Apakah tidak lantas menjadi rangkaian produksi dan karya yang terhadirkan. Inilah pertanyaan besarnya, konsumsi oke, namun apakah produksinya oke?

Menurut hemat saya perlu kiranya bagi setiap dari kita untuk mengarahkan pandangan pada output, karya, produksi yang bisa terjadi dari diri kita. Seberapa banyak dari ramainya penonton di bioskop yang lalu berbuah menjadi karya sineas Indonesia? Seberapa banyak dari ribuan buku yang terjual lalu berbuah menjadi karya buku dari si pembaca? Seberapa banyak dari musikalitas lagu yang didengarkan lalu berbuah menjadi satu buah lagu? Bagi saya sebuah negeri yang sekedar menyerap, melahap, sekadar akan menjadi bangsa konsumen. Bangsa yang akan dibanjiri dengan varian produk yang teramat mungkin tidak dibutuhkannya.

Berkaryalah, maka tunjukkan kepada dunia warnamu. Saya percaya individu, entitas, ataupun negara yang menghasilkan dari rahim internalnya sejumlah karya merupakan pihak yang berkarakter. Karakter itu akan terlihat dari portofolio karya yang dihasilkan. Maka kita mengenal Amerika dengan serbuan film hollywood-nya. Kita mengenal Jepang dengan kreativitasnya melalui jalur anime ataupun komiknya. Kita mengenal India melalui film Bollywood-nya yang bahkan menjadikan negara tersebut sebagai negeri yang paling produktif dalam menghasilkan film setiap tahunnya. Berkaryalah negeri ini, jangan sekadar menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa gubahan Ismail Marzuki ataupun Kolam Susu dari Koes Ploes.

Apa pasal karya dan produksi dari negeri ini masih mandeg di tengah angkatan kerja yang begitu besar? Jika boleh mencari hulu alasan, menurut hemat saya tak dapat dilepaskan dari pola pendidikan yang ada. Negeri ini telah melatih dan membentuk pola konsumtif. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) malahan dalam prakteknya menjadi Catat Buku Sampai Abis (CBSA). Sekadar mencatat, membeo dari ilmu yang telah terkodifikasi. Mengapat tidak ditumbuhkan semangat berkarya semenjak belia. Berkarya dalam berbagai varian ditumbuhkan dan dikembangkan. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, misalnya dibandingkan durasi mata pelajaran habis untuk menerangkan EYD, periodisasi novel serta puisi beserta angkatannya, lebih baik jika diisi dengan pelajaran mengarang. Pelajaran mengarang akan membuat siswa aktif. Bekerja di ranah tulisan. Membuat siswa tidak pincang dalam menulis, jika boleh meminjam frasa dari Taufiq Ismail. Dengan mengarang, maka siswa akan aktif mencari tentang mana kata dan kalimat yang telah sesuai dengan EYD dan akan menjadikan referensi dari novel terdahulu sebagai rujukan.

Melakukan shifting paradigm penting dilakukan oleh negeri ini jika ingin menaikkan level kemampuannya. Shifitng paradigm itu adalah dari bangsa konsumsi menjadi bangsa produksi. Konsumsi memang dapat memutar roda perekonomian nasional, menghasilkan pertumbuhan ekonomi, namun jika mampu menjadi bangsa produsen maka negeri ini akan memiliki daya yang luar biasa dalam konstelasi dunia. Kemampuan untuk mengolah dari konsumsi menjadi produksi misalnya diperlihatkan oleh seorang Ridwan Kamil yang merupakan seorang arsitek. Inspirasi dari desainnya menurutnya berasal dari film kartun dan perjalanan yang dilakukannya. Ini berarti konsumsi (menonton film kartun dan perjalanan) mampu diolah menjadi elemen kreativitas dalam menghasilkan desain tata ruang.

Dari konsumsi menjadi produksi juga diperlihatkan oleh penulis. Penulis melakukan konsumsi terhadap bacaan, perjalanan, menonton film; lalu dari konsumsi multi rupa tersebut terkreasilah tulisan. Anda dapat melihat misalnya pada karya tulis dari esais Goenawan Mohamad yang mampu memadukan antara kuatnya daya bacanya, muhibah di berbagai tempat yang dikunjunginya, dan film yang ditontonnya. Dengan demikian konsumsi merupakan amunisi untuk berkarya. Konsumsi bukan untuk konsumsi en sich, melainkan sebagai bahan untuk melakukan produksi. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang teramat berbeda. Mereka yang memproduksi akan mampu menyerap dari berbagai unsur, mendialogkan di internal dirinya, lalu menghasilkan buah karya. Mereka yang sekadar mengkonsumsi akan berhenti pada tingkat kenikmatan konsumsi.

Berkaryalah dan tunjukkan kepada dunia siapa dirimu. Benar kiranya ada mekanisme industri dan uang ketika bertalian dengan karya. Namun bagi mereka yang memiliki mental penghasil, saya percaya akan terus berkarya dan menghasilkan. Indie merupakan salah satu opsi. Maka bertebaranlah musik indie, film indie, novel indie. Saya sendiri mengapresiasi mereka yang konsisten berkarya melalui jalur indie. Amat mungkin secara finansial lewat jalur indie tidak tercapai break event point, malahan bisa tekor. Namun ada karya yang tercipta, ada produk yang terhasilkan. Contohnya ada sahabat saya yang membuat serial novel indie. Dia lalu menggratiskan novel indienya seri yang ketiga jikalau pembeli memiliki novel indienya yang seri kedua. Secara hitung-hitungan ekonomi, ada uang yang luput dari radar kantongnya. Namun saya mendapati bahwa melalui novel indienya dia menemukan kepuasan untuk berkarya, kepuasan untuk berbagi cerita, kebahagiaan untuk berdiskusi tentang buah penanya sekalipun hanya berada dalam radius lingkar persahabatannya. Menurut hemat saya, rekan saya ini jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang sekadar berangan-angan kosong dan stuck dalam upaya menembus penerbit besar.

Berkaryalah karena dengan buah cipta, karsa itu sesungguhnya Anda telah memberi. Dengan berkarya maka terbiasalah untuk memiliki abundance mentality bukan mental pengemis. Berkarya juga akan menguatkan keahlian dan memperpanjang portofolio yang dimiliki. Berkarya juga akan membuat Anda dikenal. Oh si A yang rajin menulis, oh si B yang jago menggambar, oh si C yang piawai menggubah lagu, dan sebagainya. Jangan sekadar menjadi manusia netral, nir, dan selintasan lewat di bumi tanpa meninggalkan jejak. Jejak manusia adalah karya. Di penghujung kata, mari bermenung sejenak, jadi ketika kini Anda sedang mengkonsumsi suatu produk, telahkah terpikir tentang apa yang bisa Anda kreasi dari konsumsi tersebut? Baiklah kiranya saya lepas Anda di gerbang dengan permenungan penutup tersebut.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s