Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis dan Ritme Hidup Itu

Setiap orang memiliki jam biologis tersendiri. Manakala jam biologisnya terganggu dari jalur utamanya maka akan muncul resistensi. Itulah kiranya yang menyebabkan terkadang sulit untuk merubah kebiasaan. Dikarenakan akan muncul dorongan internal dari diri untuk berada pada zona nyaman jam biologis yang dimiliki. Bagaimana dengan Anda, sudahkah memasukkan panel menulis dalam jam biologis Anda? Pada liburan lebaran kemarin, teman saya menanyakan mengapa saya terus menulis? Ketika itu saya memang sedang berobsesi untuk menonton dorama di kantornya yang memiliki lumbung tayangan ragam cerita, namun saya justru tetap menggulirkan kata dalam bentuk tulisan. Saya tersadar satu hal, bahwasanya menulis telah menjadi jam biologis saya. Sebuah kebiasaan yang telah menadi dalam waktu keseharian. Paling tidak semalas-malasnya dan selibur-liburnya saya mesti ada minimal satu halaman yang tertuliskan.

Membaca majalah Tempo edisi 16 Agustus-22 Agustus 2012, saya mendapatkan arti dari praja muda karana yakni orang muda yang berkarya. Bagaimana kiranya dengan daya karya yang dimiliki oleh masing-masing dari diri? Saya percaya banyak komentator dalam hidup ini. Namun berapa banyaknya yang turun ke medan. Sampel komentator ialah seperti ada seorang rekanan yang dengan sinis bertanya mana kelanjutan dari serangkaian tulisan saya yang bersambung dan hingga kini sambungannya belum juga tertulis. Saya berkeyakinan bahwa dalam karya tulis, saya jauh lebih baik dari si komentator tersebut. Saya selalu berupaya untuk menelurkan tulisan dengan ragam keadaan. Blog personal yang saya kelola juga memiliki ragam tema serta kerap saya update. Tanya saya mengembang bahwasanya bisa jadi di negeri ini lebih banyak para komentator, pengeluh, konsumen. Seberapa banyak yang mampu menjadi produsen?

Inilah permasalahannya, ada distingsi yang jauh antara domain komentator, pengeluh, konsumen dengan domain produsen. Untuk menghasilkan suatu karya yang layak tampil membutuhkan kesungguhan tekad, alokasi waktu, serta verifikasi. Saya sendiri dalam menurunkan tulisan di blog yang berada pada kisaran 3 halaman berusaha sekuat daya untuk menghasilkan sesempurna mungkin. Sifat perfectionis ini jelas membutuhkan tenaga, waktu. Menulis dengan serampangan tiada bisa, dikarenakan informasi merupakan kekuatan. Informasi merupakan warta yang harus dipertanggung jawabkan pula. Maka untuk menghasilkan ragam tulisan saya memutar otak dan melakukan pengecekan data. Tulisan bukan sebuah tombol sim salabim yang akan menghasilkan dari ruang hampa menjadi sesuatu. Tulisan merupakan daya sungguh-sungguh.

Menulis nyatanya merupakan ketrampilan yang harus terus dilatih. Djenar Maesa Ayu dalam acara Idenesia yang pernah saya tonton menyatakan bahwa rahasia dapat menulis dengan baik adalah dengan menulis. Yap latihan terus menerus dengan terjun langsung ke medan penulisan. Hal serupa pernah diungkap oleh Helvy Tiana Rosa yang menyatakan bahwa jika hanya menonton film kungfu tanpa mempraktekkannya, maka tidak akan mampu untuk menerapkan jurus-jurus kungfu yang ada.

Ada begitu banyak tips dan teknik dalam penulisan. Mengetahuinya tentunya menguntungkan untuk memperluas spektrum pengetahuan serta memberikan kombinasi dalam penulisan. Namun begitu menulis bukanlah pelajaran yang dapat dicangkokkan dan sekadar menampung ilmu. Menulis merupakan area yang harus bertindak dan menuangkan ilmu pula. Seberapa banyakpun teknik menulis yang dipelajari jika tiada diterapkan dan dicoba dalam menyusun tulisan akan menjadi tersiakan. Sayangnya itulah yang terjadi pada beberapa segmen mata pelajaran bahasa Indonesia di negeri ini. Murid seperti disuapi dengan ragam penulisan yang baik dan benar. Yang terjadi ialah pelajaran bahasa Indonesia menjadi membosankan, dikarenakan penuh dengan kaidah dan aturan yang membelenggu.

Urusan menulis rupanya bisa dikreasi menjadi ritme hidup. Sampelnya ialah dengan keponakan saya yang bersekolah di Amerika Serikat. Ia mengaku bahwa ragam mata pelajaran mengharuskan siswanya untuk membuat essai. Dengan demikian siswa dirangsang untuk menulis dan menghasilkan karya. Pelatihan terus menerus ini lama kelamaan akan membentuk kebiasaan menulis. Menulis sendiri saya percaya akan menjadikan seseorang menjadi pembaca, peneliti. Menulis akan mengharuskan seseorang membaca, dikarenakan bacaan merupakan amunisi, bahan untuk menulis. Menulis akan menjadikan peneliti, dikarenakan ada proses cross check, verifikasi, mengeksplorasi dari bahan yang ada.

Dalam istilah Yunani terdapat frasa scripta manent vorba volant, yang berarti: kata-kata itu menguap, sementara tulisan itu tetap. Dalam Al Qur’an sendiri dalam perjanjian jual beli diperintahkan untuk menuliskan akadnya. Hal ini memungkinkan kuatnya ikatan, serta jika ada masalah di kemudian hari maka ada patokan yang telah dibuat.

Daya menulis di negeri ini yang masih rendah, menurut hemat saya salah satu akar penyebabnya ialah milleu yang kurang akrab dengan penulisan. Baca dan tulis memang bagaikan kata yang saling berkait. Daya baca yang rendah berpengaruh terhadap daya tulis yang seret. Dalam istilah miris Taufiq Ismail bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis.

Daya menulis yang tinggi layaklah dicontoh Jules Verne yang selalu menulis sehabis Subuh. Dalam skala kontemporer, penulis muda Raditya Dika juga mengaku memiliki jam menulis setiap harinya. Raditya mengaku bahwa menulis saja, sekalipun mood dan hasilnya tiada terlampau baik. Saya pikir itu benar adanya. Bahwa menulis dengan siklus yang teratur akan membuat ritme penulisan menjadi menu keseharian. Dengan berlatih terus menerus setiap harinya maka akan semakin ahli dalam menulis. Membaca dan melihat dunia pun akan menjadi berbeda bagi seorang penulis. Seorang penulis adalah seorang kreator. Penulis akan menyerap apa-apa yang didapatinya. Baik dari apa yang dibaca, menonton film, pengalaman hidup, menjadi bahan bagi penulisan. Ada pandangan yang berbeda, karena tiada hanya konsumsi, melainkan juga bagaimana kiranya memproduksi. Leonardo Da Vinci konon memliki notes dimana sepanjang perjalanan yang ditempuhnya, ia mencatatkan tulisan atau menggambar. Saya percaya ada begitu banyak ragam tulisan yang dapat diturunkan. Masing-masing orang tumbuh dan menjalani orbit yang unik. Dengan menulis, maka memungkinkan untuk berbagi dunia yang dialami.

Jika diibaratkan bagai otot, maka dengan ritme menulis harian, maka kemampuan menulis akan semakin terlatih dan tergunakan. Para penonton yang bertepuk tangan, terinspirasi akan segala prestasi dari mereka yang berada di atas panggung, mungkin perlu mengingat bahwa segala keberhasilan diperoleh melalui peluh dan upaya terus menerus. Sudah saatnya untuk tiada lagi sekadar terinspirasi, bertepuk tangan. Mari menuliskan sejarah sendiri dengan karya nyata.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku, sastra

Membaca Perahu Kertas

Berbilang waktu yang lampau di toko buku Gramedia Pondok Indah Mall. Saya masih mengingat memori itu dengan terang. Bagaimana saya urung untuk membeli novel Perahu Kertas saat itu. Membaca sekilasan halaman awal dari novel Perahu Kertas ketika itu, saya merasa asing dan aneh dengan pendekatan cara yang dipakai oleh Dewi Lestari (Dee) untuk mengungkap makna. Terasa begitu ringan, cepat, dan keluar dari pakem Dee yang saya kenal – pikir saya di toko buku waktu dulu. Sebelum akhirnya membaca novel Perahu Kertas, saya telah membaca Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dan Supernova 2: Akar. Sebuah bekal referensi yang saya pikir cukup untuk menerka dan menakar Dewi Lestari. Dan ternyata saya keliru.

Berbilang waktu dari urungnya saya membeli novel tersebut, teman saya mengirim sms menanyakan, maukah kiranya saya membeli novel Perahu Kertas? Teman saya yang satu ini merupakan seeker personal dari saya untuk mencari aneka ragam buku. Kebetulan ketika itu saya membeli buku dalam kuantitas borongan, serta teman saya menawarkan dengan harga yang lebih bersahabat bagi kantong dibandingkan di toko buku besar. Saya pun mengiyakan tawaran dari teman saya tersebut. Halaman demi halaman dari novel Perahu Kertas pun akhirnya saya baca. Agak asing awalnya. Dikarenakan telah ter-branding di otak saya bahwa gaya tulisan Dee intelektual, rumit, serta memiliki filosofi mendalam. Sedangkan dalam novel Perahu Kertas pendekatan yang digunakan agak beririsan dengan teenlit.

Rupanya novel Perahu Kertas mampu memikat saya dengan kesederhanaan dan gaya tuturnya yang ringan. Dengan lahap halaman demi halaman saya baca habis. Bahkan saya memundurkan jadwal pekerjaan saya demi membaca novel dimana tokoh utamanya adalah Keenan dan Kugy ini. Novel yang membuat Dee harus kost di daerah Tubagus Ismail ini nyatanya setelah saya selami tetap berkarakter Dee. Tetap ada filosofi, makna, kekuatan bercerita. Hanya racikan bumbu pendekatan dalam menulis yang digunakan berbeda.

Melalui novel Perahu Kertas ini saya mendapatkan bagaimana Dee mampu untuk memakai pendekatan dan racikan yang berbeda. Ini juga sekaligus menjadi pembelajaran untuk tiada terpaku pada satu jenis gaya penceritaan. Dee mengungkapnya sebagai berikut (Dewi Lestari, Perahu Kertas, hlm. 440):

Namun, bagi saya pribadi, prestasi yang lebih besar lagi adalah: inilah salah satu tapak langkah saya untuk menjadi penulis lintas usia, lintas segmen. Saya sadar, genre maupun karakteristik novel ini barangkali akan menjadi kejutan bagi banyak pembaca saya, tapi saya memang tidak pernah berminat untuk terperangkap dalam satu lintasan tertentu saja. Di mata saya, setapak ini masih panjang dan berwarna-warni.

Dengan gaya penceritaan yang berbeda, memungkinkan terserapnya pasar baru dan terjadi ekstensifikasi dari pembaca karya. Disamping itu bagi penulis, merupakan wahana untuk mengembangkan kemampuannya dan tidak terpasung di satu koordinat gaya penulisan.

Ketrampilan dengan ragam gaya penulisan ini mengingatkan saya pada pertanyaan seorang sobat tentang gaya penulisannya. Ia bertanya kepada saya tentang gaya penulisannya? Saya menjawab bahwa gaya penulisannya memiliki cita rasa Fisip (teman saya ini kuliah di Fisip UI sebagai informasi). Saya pun menyarankan agar dia membaca ragam karya dari Dewi Lestari. Alasannya sederhana: ada benang merah karakter yang kuat serta ragam racikan yang berbeda. Cobalah baca Supernova 1-4 (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh- Akar- Petir- Partikel), Filosofi Kopi, Madre, Perahu Kertas, Rectoverso, maka Anda akan mendapati dinamika teknik penceritaan dari alumnus Universitas Parahyangan ini.

Novel Perahu Kertas sendiri menurut hemat saya dengan presisi diungkap oleh Emaknya Farah yang testimoninya termuat dalam novel ini. Lebih “ringan” dari Supernova dan lebih “berat” dibanding chicklit or teenlit – begitu bunyi pendapatnya. Ringan, bahasa yang akrab dengan pergaulan, kekitaan dan cita rasa muda yang dipilih oleh Dee dalam ramuan, mampu dipadukan dengan pesan yang kuat serta filosofi yang mendalam. Bahkan harus saya akui jika dibedah, pesan demi pesan dari kisah ini teramat mendalam dan mampu mengurai ragam permasalahan hidup. Bagaimana perjalanan meraih impian yang harus berputar-putar dengan menjadi ‘orang lain’ terlebih dahulu, bagaimana apresiasi finansial terhadap juru dongeng, bagaimana cinta keluarga-teman-kekasih mampu berkelindan dengan suguhan dinamikanya, bagaimana nasib dari kaum marginal yang teralienasi dari dongeng dan terhempas oleh pembangunan, dan sebagainya.

Ada telaah kritis terhadap kondisi yang melingkupi diri dan lingkungan dengan narasi yang dekat baik secara bahasa maupun kisah. Pembaca seakan dibawa untuk terlibat dalam setiap fragmen yang ada dalam cerita yang terinspirasi komik Popcorn ini. Melalui Perahu Kertas, kita diajak tertawa, berlinangan air mata, terhanyut dalam drama- Kombinasi yang komplet. Melalui Perahu Kertas, sisi komedi dari Dee benar-benar mampu terekspose dengan sukses. Karakter-karakter yang mengisi layar mampu menampilkan komedi yang membuat terpingkal-pingkal. Simak saja bagaimana Kugy, Eko, mampu menjadi tokoh yang pol-polan dalam memancing senyum. Kugy yang berantakan, seenaknya, tampil jujur, mampu menjadi karakter yang benar-benar hidup dan memorable.

Roman yang disajikan dalam novel Perahu Kertas mampu digubah dengan apik. Bagaimana kisah cinta Keenan-Kugy terbentur dengan realitas-realitas yang tak terhindarkan serta konstruksi sosial. Bagaimana hati yang sempat berlayar baik bagi Keenan dan Kugy, untuk kemudian menemui konklusi pada hati yang dipilih. Bagaimana narasi cinta yang mampu bertalian dengan banyak nama. Mulai dari keluarga, realitas faktual, pilihan hidup, mimpi, persahabatan, dan sebagainya. Cinta yang memberikan kebesaran hati untuk melepaskan. Cinta yang memberikan tenaga pada karya. Simaklah bagaimana pendapat Luhde terhadap lukisan dari Keenan. “Keenan melukis karena cinta dengan seni lukis. Tapi ada sesuatu yang Keenan buat dengan cinta yang lebih dalam.”

Cinta Keenan-Kugy amat klop dinarasikan dalam cover belakang novelnya:
Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan
Akankah dongeng dan lukisan itu bersatu?
Akankah hati dan impian mereka bertemu?

Cinta memang saling melengkapi. Di diri pasangan itulah diri menjadi utuh, terlengkapi. Khayalan, untaian dongeng indah dari Kugy yang bertemu dengan lukisan-lukisan magis, artistik dari Keenan menghasilkan karya yang unik, inspiratif, mandiri dalam keindahan, serta saling melengkapi sebagai ketakjuban yang utuh.

Novel Perahu Kertas yang sempat mati suri selama 11 tahun juga mengajarkan bagaimana setiap karya memiliki makna. Jangan mudah melemparkan handuk, mengubur karya, melupakan karya yang pernah digagas. Anda dapat mengecek perjalanan novel Perahu Kertas di situs http://www.dee-55days.blogspot.com . Sebuah dapur dari karya yang menarik kiranya untuk ditelisik dan ditelusuri. Selamat berlayar wahai perahu kertas. Melajulah terus.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Anak

Mengutip gubahan puisi Kahlil Gibran dari Sang Nabi perihal anak keturunan (Ariel-Uki-Lukman-Reza-David, Kisah Lainnya, hlm. 39-40):

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka adalah putra putri kehidupan terhadap dirinya sendiri
Mereka terlahir lewat dirimu namun tidak berasal dari dirimu
Dan meskipun mereka bersamamu mereka bukan milikmu
Kau boleh memberi mereka cintamu tetapi bukan pikiranmu
Sebab mereka memiliki pikiran sendiri
Kau bisa memelihara tubuh mereka namun bukan jiwa mereka
Sebab jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang tak ‘kan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu
Kau boleh berusaha menjadi seperti mereka, namun jangan menjadikan mereka seperti kamu.
Sebab kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin.

Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup
Pemanah mengetahui sasaran di jalan yang tidak terhingga
Ia melengkungkanmu sekuat tenaga-Nya agar anak panah melesat
Biarlah tubuhmu yang melengkung di tangannya merupakan kegembiraan
Sebab seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat
Ia pun mencintai busur yang kuat.

Apa yang Anda lihat ketika melihat sosok anak? Keluguan, innocent, ataukah upaya sekuat upaya dari orang tua untuk cetak biru mimpi mereka? Cetak biru mimpi orang tua? Ya, anak pada beberapa kenyataan merupakan pion yang diharapkan orang tua untuk memenuhi mimpi mereka sewaktu muda yang tiada tercapai. Parameternya dapat terlihat dari fasilitas, pengarahan, dan upaya terus menerus dari orang tua untuk mendikte anaknya menuju jalur mimpi tersebut. Orang tua lupa mungkin. Bahwa anak bukanlah permainan. Mereka bukanlah boneka yang dapat dikuasai jiwa dan jalan pikirannya. Mereka merdeka dan layak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Orang tua pada beberapa kenyataan mentransformasikan kegagalannya untuk ditebus oleh anaknya. Dulu ayah, dulu bunda, gagal di titik ini dan ini. Lalu anak yang menjadi sosok yang diharapkan untuk menuntaskan mimpi orang tuanya. Orang tua harus belajar melepaskan dan merelakan mimpi yang tidak tergapai. Jangan paksakan anak untuk menempuh lajur mimpi orang tua apabila anak tiada memiliki minat untuk menempuh jalan tersebut.

Pemaksaan lajur mimpi inilah yang dapat menyebabkan konflik antara orang tua dan anak. Hal yang dapat terekam misalnya dalam novel Perahu Kertas. Dimana Adri sang ayah mendiktekan jalan agar Keenan sang anak untuk menjadi pengusaha. Keenan diharapkan dapat meneruskan perusahaan trading yang dikelola oleh Adri. Sementara Keenan memiliki mimpi untuk menjadi pelukis. Konflik pun terjadi, mulai dari Keenan yang mengundurkan diri dari kuliahnya di Manajemen, Keenan yang cabut dari rumah serta tiada mendapat subsidi lagi dari orang tuanya, hingga Adri yang terserang stroke akibat stres memikirkan nasib Keenan.

Anak memang merupakan titipan dari Tuhan. Namun bukan untuk dipaksakan dikaryakan sesuai cetak biru dari orang tuanya. Anak memiliki takdirnya sendiri. Anak memiliki jalan rezekinya sendiri. Anak memiliki jiwa dan jalan pikirannya sendiri.

Anak-Sajak Tagore (Tempo, Sjahrir-Peran Besar Bung Kecil, hlm. XV):

“Mereka bangun rumah dari pasir, mereka rajut kapal dengan daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam…

“Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Belajarlah dari anak-anak. Umur, terkadang menaifkan dan men-sok tahukan diri tentang segala. Merasa telah mengetahui tentang rupa persoalan. Merasa telah mengetahui tentang seluk beluk kehidupan. Belajarlah dari anak-anak, seperti Hatta dan Sjahrir yang belajar dari anak-anak di Banda Neira. Hatta dan Sjahrir memiliki anak angkat di tempat pembuangan tahanan politik tersebut. Mereka mengajarkan anak angkat mereka (Does, Des, Lily dan Mimi), mulai dari menulis, matematika, sejarah, cara makan yang sopan, dan sebagainya (Tempo, Sjahrir-Peran Besar Bung Kecil, hlm. XIV-XV). Disamping itu mereka juga belajar dari anak-anak tersebut, mulai dari berenang, berlayar, mendaki gunung, menelusuri keindahan alam Banda Neira. Melalui mata anak-anak tersebut, mimpi para founding fathers ini terteguhkan untuk memperjuangkan Indonesia yang lebih baik di kemudian hari.

Dalam novel Perahu Kertas, Kugy juga belajar dari anak-anak di sakola alit. Bagaimana dari mereka, ia mendapatkan energi, inspirasi, dan kekuatan untuk kembali menuliskan dongeng. Anak-anak di sakola alit menjadi raison d’etre untuk menuliskan kembali dongeng yang sempat mengalami titik henti. Melalui Pilik dan kawan-kawannya, Kugy menyerap inspirasi dan memperoleh kanal untuk berbagi, mendongeng, dan berimajinasi.

Belajarlah dari anak-anak. Bagaimana imajinasi mereka begitu hidup. Bagaimana tanpa beban mereka mengarungi hidup. Bagaimana dengan ringan tangan mereka berbagi. Bagaimana mereka hidup tanpa kalkulasi yang rumit. Bagaimana kegembiraan puritan yang mereka miliki. Bagaimana dahaga rasa ingin tahu yang mereka miliki. Bagaimana semangat eksplorasi yang ada dalam jiwa mereka. Bagaimana keberanian mereka untuk gagal, terjatuh, dan terhempas.

Umur yang menua dan mengusam belum berarti paralel dengan kedewasaan. Bisa jadi hanya sekadar angka yang gagal bertalian dengan makna. Lalu yang muncul ialah sosok dengan fisik yang dewasa, namun tanpa kematangan dan kedewasaan berpikir. Kematangan itu kiranya termasuk dengan mengambil pelajaran dari anak-anak. Lihatlah bagaimana dalam Islam yang memberikan achieved status tanpa memandang kemudaan dari seseorang. Sampelnya dapat dilihat pada shalat berjamaah, anak-anak dapat mengisi shaf terdepan apabila datang terlebih dahulu ketika shalat berjamaah. Sampel lainnya ialah Imam Syafi’i yang semenjak usia belia telah mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat luas.

Anak-anak adalah sampel terbaik untuk imajinasi yang belum selesai. Seiring waktu dan umur, seakan imajinasi terselaput awan. Menghilang. Maka hidup seperti mekanik yang membosankan. Hidup dalam rutinitas yang itu-itu lagi. Hidup menjadi membosankan. Belajarlah dari imajinasi yang belum selesai. Bahwa ada begitu banyak kesempatan dan percabangan waktu. Kita hanya harus percaya dan berani bermimpi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Kembali Berlayar

Vakansi telah menyusutkan waktu dengan berbagai cara. Libur lebaran telah memberikan berbagai perspektif yang berbeda bagi saya. Ada rangkaian aksi yang tiada tertemui pada ordinary hari. Mulai dari libur internet yang lebih lama, Jakarta yang melenggang, sejenak jeda dari ragam target bacaan dan tulisan, dan sebagainya. Libur memang memberikan alternatif kacamata dalam memaknai waktu. Dan disinilah hari berada, dengan sumbu waktu liburan yang semakin menipis. Praktis tinggal ada waktu Sabtu dan Ahad dalam waktu resmi libur lebaran. Mulai hari Senin 27 Agustus 2012, kembalilah bergulat dengan pekerjaan kantor dan Jakarta yang menyesak.

Komunitas Kaldera Fantasi yang saya kelola juga praktis relatif menyepi. Saya sendiri agak enggan untuk menekan pedal gas, dikarenakan siklus lebaran. Biarkanlah komunitas fantasi tersebut berjalan dalam ritme natural dan cenderung melambat di durasi liburan ini. Tak baik kiranya jika terus berada dalam tensi tinggi. Libur lebaran juga memberi saya jeda untuk berpisah dengan internet. Rupanya internet dengan berbagai cara telah menjadi denyut dalam kehidupan saya. Facebook, yahoo messenger, youtube, merupakan magnet tersendiri. Terhitung dari hari Jumat tanggal 17 Agustus 2012 hingga hari Senin tanggal 20 Agustus 2012, saya libur total dari internet. Cukup lumayan untuk memberikan dimensi berbeda dan merenungkan beberapa. Salah satunya adalah tentang kerinduan.

Bagaimana manusia yang hidup di terminologi dahulu menyikapi kerinduan. Tanpa internet dahulu kala, kerinduan memiliki narasi yang berbeda. Manusia era sekarang dapat dengan lekas mengetahui apa kabar orang yang dikasihinya, baik lewat facebook, twitter, yahoo messenger, blackberry messenger. Namun manusia yang mengalami hidup di kala teknologi belum mencapai kata internet, ada surat yang dapat menjadi kanal kerinduan. Pada beberapa hal, saya merasa ada filosofi lebih, kekuatan dalam kata menunggu. Coba bayangkan kerinduan yang bertautan dengan melamun. Bagaimana kabarnya gerangan dia? Tanpa bisa mengetahui secara presisi apa yang dipikirkan dan dikerjakannya.

Baiklah kiranya saya kutipkan buah karya dari Dewi Lestari (Dewi Lestari, Filosofi Kopi, hlm. 98-99):

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

….

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Teknologi memungkinkan untuk mengetahui segala informasi secara real time, cepat. Tak terkecuali dengan korelasi antara individu. Nyatanya ada efek dari teknologi yang semestinya ‘mendekatkan’ ini. Bisa jadi ada kebosanan karena terus menerus bersinggungan melalui lini teknologi. Mulai dari sedang makan dimana, berkegiatan apa, kini dapat terpantau dengan teknologi. Bisa jadi hilanglah kata: penasaran, misteri, tanya. Padahal deretan kata tersebut merupakan bumbu, gimmick, bahkan menjadi nyawa dari korelasi. Itulah kiranya yang membuat relevan apa yang ditulis oleh Dewi Lestari diatas dengan ‘jadi ulurlah tali itu’, ‘karena aku ingin seiring bukan digiring’. Dalam korelasi dibutuhkan spasi, jeda, jarak, yang memungkinkan masing-masing dapat bernafas, mengembangkan diri, mengembangkan personality-nya.

Momentum lebaran ini menyandarkan saya pada ingatan tentang lagu Dewa 19 yang berjudul Kangen dan novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Ada kerinduan yang tertuang dalam surat. Baiklah kiranya saya kutipkan lirik dari lagu Kangen:

Kuterima suratmu telah kubaca/ dan aku mengerti/ betapa merindunya dirimu/ akan hadirnya diriku/ di dalam hari-harimu/ bersama lagi/ kau bertanya padaku/ kapan aku akan kembali lagi/ katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada/ yang membara menahan rasa/ pertemuan kita nanti/ saat kau ada di sisiku

Simak juga petikan dari novel Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah, hlm. 57-58):

Akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaimana wajah Hamid ketika membaca surat itu. Dapatkah, mungkinkah dikira-kirakan bagaimana perasaannya waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini, buah mimpinya. Memikirkan kerendahan derajatnya, tiadalah disangka-sangkanya, bahwa ia akan seberuntung itu, menerima surat Zainab. Belumlah besar kegembiraan seorang budak jika ia diajak tersenyum oleh penghulunya; belumlah besar sukacita seorang pelayan istana jika ia dianugerahi sebentuk cincin oleh rajanya. Surat tanda cinta dari seorang perempuan, perempuan yang mula-mula dikenal dalam kehidupan seorang muda, adalah lebih berharga daripada senyuman seorang penghulu kepada budaknya, lebih mulia daripada sebentuk cincin yang dianugerahkan raja kepada pelayannya. Satu hati lebih mahal daripada senyuman, satu jiwa lebih berharga daripada sebentuk cincin.

Benar kiranya teknologi dapat memajukan kehidupan manusia. Namun jangan lupakan sisi gelap dari teknologi yang mampu pula untuk mendegradasi kehidupan manusia. Saya sendiri percaya pada beberapa titik, teknologi telah menurunkan secara serius kemampuan dalam bersastra. Teknologi telah turut membentuk budaya instan, pragmatis. Teknologi pula yang meluruhkan imajinasi, melamunkan, menerka-nerka, mengendapkan kecamuk perasaan. Jika menarik kata ‘kerinduan’ maka dapatlah kita mengkomparasikan generasi internet dan generasi yang belum tersentuh internet. Rupanya generasi yang belum tersentuh internet, mampu mengalunkan kerinduannya dalam bentuk surat, lagu, karya sastra. Bulir-bulir kerinduan menjadi gubahan karya yang memiliki kedalaman makna serta filosofi yang mengena.

86.400 detik dalam sehari dan 31.536.000 detik dalam setahun, hitung-hitungan tersebut saya dapatkan selepas menonton Shinzanmono. Bagaimana sesungguhnya kita berlomba dengan waktu. Waktu sendiri merupakan pergulatan antara daya hidup dan daya mati. Saya sendiri memandang sudah selayaknya liburan tiada menjadi daya mati. Mengendurkan urat syaraf saya setuju pada waktu vakansi, namun bukan berarti memadamkan daya hidup. Daya hidup yang teredupkan dapat berupa tidur siam yang berkepanjangan, leha-leha yang berlebihan.

Liburan juga selayaknya dimaknai dengan pemikiran dan permenungan. Di bulan Syawal ini sudah selayaknya terjadi peningkatan. Meningkatkan segala kebiasaan baik yang terlaksana di bulan Ramadhan. Rangkaian waktu dan perspektif yang didapatkan selama vakansi lebaran ini semoga dapat menjadi amunisi untuk pelayaran berikutnya. Kembali berlayar dengan jiwa yang lebih kaya dan lebih berdaya.

Posted in Fiksi Fantasi, puisi, sastra

Dia Adalah Mitologiku

Mungkin cintaku yang salah
Harusnya aku tak inginkanmu
Sesosok ketakjuban dari tabir masa lalu
Yang menjadi dongeng menjelang tidur
Fragmen cerita di sela waktu senja

Dia adalah mitologiku
Disusun dari ramuan memori sejarah
Disusun dari waktu yang terseruput habis
Disusun dari titik sesal waktu
Disusun dari harapan menjurus imajinasi

Maka batas nyata dan ilusi mengabur
Aku yang beranjak ke perbatasan antara ada dan tiada
Rangkaian awan yang membisu

Kau hadir dalam noktah sejenak
Membajak kesadaranku
Lalu aku terhanyut di kuilmu
Mengagumi tiap jengkal presisi
Begitu elok kau ternyata

Singgahlah ke taman personalku
Ada aku dan kamu bersandingan
Kami berbagi tawa
Kami berbagi canda
Kami bertukar hikayat cerita
Sempurnanya hidup

“Bangunlah dari lelap khayalmu”
Janus menginterupsi
Taman personalku bukanlah masa lalu dan masa depanku

Ada gelembung-gelembung ekspektasi yang terkristalisasi tak terjamah
Ada butir-butir angan yang mengendap dan menjerat
Ada pulau utopis di sudut pikiranku
Tuhan, biarkan aku hidup di sengkarut mitologi ini
Bersamanya yang nyata dan ilusif

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Anime, Essai, Fiksi Fantasi

A Reason to Fight (Gundam 00)

Takdir menemukan kami di persimpangan jalur kehidupan. Satu demi satu kami bergabung. Membentuk ikatan, kekuatan, rasa kekeluargaan. Begitulah kiranya narasi yang dapat menggambarkan Celestial Being.

Marilah kita simak penjelasan yang diungkapkan oleh Ian Vashti:

I had seen so many battle fields it made me sick…Some served on the front lines of a battlefield. Some had their bodies rebuilt by the military. Some lost their families to terrorism. Some were made into guerrilla fighters. We’ve all lost something precious because of war. That’s the reality of the world we live in now.

Gundam 00 bukanlah sekadar anime yang bercerita tentang dunia perrobotan. Gundam 00 menyajikan kedalaman bercerita, keluasan tema, serta filosofi yang mendalam. Dikisahkan Celestial Being yang merupakan kelompok kecil berhasil melakukan perubahan signifikan dengan kehadiran mobile suit gundam. Sejumlah intervensi militer yang dilakukan oleh Celestial Being meredakan sejumlah perang saudara yang meletup di berbagai penjuru bumi. Bagaimana sikap masyarakat dunia terhadap Celestial Being? Rupanya sikap masyarakat terbelah. Ada yang menganggap Celestial Being sebagai kelompok teroris baru, dan ada yang menganggap Celestial Being sebagai harapan.

Celestial Being dihuni oleh sejumlah nama. Sebut saja Setsuna F.Seiei, Lockon Stratos, Sumeragi, Allelujah, Tieria, Ian Vashti, yang tergabung dalam Celestial Being. Masing-masing personal di Celestial Being, seperti disebutkan dalam awal artikel, dipertemukan oleh takdir di persimpangan jalan kehidupan. Masing-masing dari personel Celestial Being memiliki alasan personal yang menjelaskan ketergabungan.

Setsuna sebagai gundam master termuda, mengalami masa kelam berupa perang saudara di negeri asalnya dulu. Some were made into guerrilla fighters, itulah kiranya background dari sosok yang memiliki nama asli Soran Ibrahim ini. Setsuna muda merupakan sosok yang diperalat oleh Ali Al-Saachez si maniak perang yang gemar menghabisi nyawa manusia dan mengobarkan perang. Setsuna bergelimang dengan pertanyaan. Seperti tergambarkan dalam episode ke 25 Gundam 00 season 1. Why was the world so twisted? Where did this twistedness come from? Why are there things that bring chaos to so many lives? And why do they hurt each other? And why, despite that, do people still want to live their lives?

Lockon merupakan sosok yang kehilangan anggota keluarganya dari aksi terorisme. Aksi bom yang meluluhlantahkan bangunan, juga merenggut nyawa secara massal. KPSA besutan war junkie Ali al-Saachez menjadi kelompok teroris yang menyelimutkan luka bagi Lockon dengan meninggalnya orang tua serta saudara perempuan yang dimilikinya. Lockon Lyle Dylandy sendiri merupakan personel yang baru bergabung belakangan ke Celestial Being. Lyle Dylandy memiliki luka tambahan dengan meninggalnya kakaknya Neil Dylandy dalam perjuangan mewujudkan dunia yang baru bersama Gundam. Neil sendiri secara dramatik digambarkan kematiannya ketika melayang di luar angkasa dengan sebuah pertanyaan yang dipertanyakannya sebagai berikut:”Hey, you people down there. Are you satisfied with the way the world is?”

Ernest Renan berpendapat bahwa bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup bersama (hasrat bersatu) dengan perasaan setia kawan yang agung (Budiyanto, Dasar-Dasar Ilmu Tata Negara, hlm. 20). Perasaan setia kawan yang agung tersebut ditopang oleh perasaan senasib dan sepenanggungan. Itulah kiranya yang dapat menjelaskan cita rasa luka yang mampu menyatukan tiap-tiap sosok untuk bergabung di bawah panji Celestial Being. Ada luka di masa lalu yang mereka miliki. Dan mereka tidak diam, mengeluh, serta menyerah pada keadaan. Mereka bahu membahu untuk mewujudkan dunia baru yang lebih baik.

Jalan upaya yang mereka tempuh bukan tanpa hambatan mental. Sebut saja Setsuna yang mendapatkan tawaran untuk berhenti menjadi gundam master. Marina Ismail putri dari Azadistan mempersuasi Setsuna agar menghentikan aksi tarungnya. Perang tak lebih dari jalan penghancuran, begitulah kira-kiranya alasannya. Hal yang dijawab oleh Setsuna dengan “I’m good for…is fighting”. Kiranya ajakan dari Marina Ismail sempat membuat Setsuna meragu dalam pertempuran. Ada titik henti sejenak, sebelum Setsuna kembali menunjukkan kemampuan daya tempurnya dalam pertarungan di bawah laut. Jangan lupakan korelasi yang tercipta antara Marina dan Setsuna. Meski sebuah tanya “are you two lovers?” langsung disanggah dalam waktu bersamaan oleh Marina dan Setsuna dengan “No” dan “We’re not” (episode 4 Gundam 00 season 2). Korelasi mereka seperti tergambarkan di episode 25 season 1, bagaimana diantara rangkaian tanya yang masih menggulanakan pikirannya, Setsuna melontarkan hal berikut: “I was just looking for answers. I thought that if i met with you, you would find these answers for me.”

Perang dengan segala lukanya dapat menyebabkan trauma. Lihatlah John Lennon pentolan The Beatles. Ia lahir di tengah puing perang dunia pertama, kedua, dan perang Vietnam. Legenda pop tahun 60-an itu tiba-tiba menemukan bumi ini seperti sepenggal neraka. Maka lahirlah Flower Generation dengan semangat anti perang dan fenomena hyppies. Bahkan ketika Tuhan disebut dalam perang, Bob Dylan justru mengatakan:”If God in our side, Hell stop the next war.”

Baiklah kiranya saya kutipkan buah pemikiran dari Anis Matta dalam essainya yang berjudul Perang dan Cinta sebagai berikut (Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 22-24):

Tapi perang tidak hanya punya satu wajah. Perang punya wajah lain yang lebih agung, etis dan manusiawi. Perang adalah takdir manusia. Kamu suka atau tidak suka. Perang itu niscaya. Bedanya hanya pada dua hal:siapa musuhmu, dan dengan cara apa kamu melawannya. Siapa musuhmu menentukan atas nama apa kamu berperang. Caramu melawan menggambarkan watak perang yang kamu lakoni. Di dasar batinmu yang terdalam sebenarnya kamu tahu atas nama siapa kamu berperang: kebenaran atau kebatilan.

Jika kamu berperang di bawah bendera kebenaran, cinta mengendalikan motifmu dan caramu berperang. Tetap ada kekerasan. Darah. Tapi cinta membuatnya jadi agung. Etis. Manusiawi. Perang atau revolusi adalah drama kemanusiaan. Di sana kita menyabung nyawa, karena ada yang kita cintai di sini: Tuhan, hidup, tanah air, bangsa, keluarga, diri sendiri.

Perang semacam ini menciptakan kehidupan dari kematian. Hanya perang semacam ini yang dapat menghentikan perang dengan perang.

Alasan untuk berperang, bukan sekadar sumbu semangat, namun juga arah dan distingsi. Akan dibawa kemana perang ini, bagaimana caramu berperang, ditentukan oleh alasan berperang. Seperti sajak Chairil Anwar yang berjudul Krawang-Bekasi (Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang, hlm. 108):

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in puisi, sastra

Cermin Jiwa

Apakah kau percaya pada keajaiban?
Ketika kata telah berkelana
Ketika jiwa telah mencari
Pada akhirnya kau kembali
Pada akhirnya kau tersenyum di sisi

Aku melukis senja yang sepi
Tanpamu
Pelangi yang terbentuk muram
Suram menyiram kata
Kelam berbisik pasti

Layang-layang yang dulu terbang
Menghilang dari pandangan
Jauh mengangkasa
Terputus ikatannya
Terbawa arah

Kini kembali menikmati kopi di beranda
Bercerita tentang ujung senja
Berbincang rupa-rupa
Ah..hal-hal yang tak penting untuk diketahui dunia
Cukuplah dalam radius personal kita
Kita bertukar tawa
Tentang domain dunia masing-masing
Perihal kebodohan-kebodohan sepanjang jalur kerikil kehidupan
Warna mimpi yang masing-masing kita coba genapi

Pada akhirnya kau kembali
Pada akhirnya kau tersenyum di sisi
Setelah jauh waktu hatimu berlayar
Selepas persilangan-persilangan kesempatan yang kau temui
Selamat datang kembali wahai cermin jiwa
Bukankah di diriku kau menemukan dirimu?
Bukankah di dirimu ku menemukan diriku?