Posted in Anime, Essai, Fiksi Fantasi

A Reason to Fight (Gundam 00)

Takdir menemukan kami di persimpangan jalur kehidupan. Satu demi satu kami bergabung. Membentuk ikatan, kekuatan, rasa kekeluargaan. Begitulah kiranya narasi yang dapat menggambarkan Celestial Being.

Marilah kita simak penjelasan yang diungkapkan oleh Ian Vashti:

I had seen so many battle fields it made me sick…Some served on the front lines of a battlefield. Some had their bodies rebuilt by the military. Some lost their families to terrorism. Some were made into guerrilla fighters. We’ve all lost something precious because of war. That’s the reality of the world we live in now.

Gundam 00 bukanlah sekadar anime yang bercerita tentang dunia perrobotan. Gundam 00 menyajikan kedalaman bercerita, keluasan tema, serta filosofi yang mendalam. Dikisahkan Celestial Being yang merupakan kelompok kecil berhasil melakukan perubahan signifikan dengan kehadiran mobile suit gundam. Sejumlah intervensi militer yang dilakukan oleh Celestial Being meredakan sejumlah perang saudara yang meletup di berbagai penjuru bumi. Bagaimana sikap masyarakat dunia terhadap Celestial Being? Rupanya sikap masyarakat terbelah. Ada yang menganggap Celestial Being sebagai kelompok teroris baru, dan ada yang menganggap Celestial Being sebagai harapan.

Celestial Being dihuni oleh sejumlah nama. Sebut saja Setsuna F.Seiei, Lockon Stratos, Sumeragi, Allelujah, Tieria, Ian Vashti, yang tergabung dalam Celestial Being. Masing-masing personal di Celestial Being, seperti disebutkan dalam awal artikel, dipertemukan oleh takdir di persimpangan jalan kehidupan. Masing-masing dari personel Celestial Being memiliki alasan personal yang menjelaskan ketergabungan.

Setsuna sebagai gundam master termuda, mengalami masa kelam berupa perang saudara di negeri asalnya dulu. Some were made into guerrilla fighters, itulah kiranya background dari sosok yang memiliki nama asli Soran Ibrahim ini. Setsuna muda merupakan sosok yang diperalat oleh Ali Al-Saachez si maniak perang yang gemar menghabisi nyawa manusia dan mengobarkan perang. Setsuna bergelimang dengan pertanyaan. Seperti tergambarkan dalam episode ke 25 Gundam 00 season 1. Why was the world so twisted? Where did this twistedness come from? Why are there things that bring chaos to so many lives? And why do they hurt each other? And why, despite that, do people still want to live their lives?

Lockon merupakan sosok yang kehilangan anggota keluarganya dari aksi terorisme. Aksi bom yang meluluhlantahkan bangunan, juga merenggut nyawa secara massal. KPSA besutan war junkie Ali al-Saachez menjadi kelompok teroris yang menyelimutkan luka bagi Lockon dengan meninggalnya orang tua serta saudara perempuan yang dimilikinya. Lockon Lyle Dylandy sendiri merupakan personel yang baru bergabung belakangan ke Celestial Being. Lyle Dylandy memiliki luka tambahan dengan meninggalnya kakaknya Neil Dylandy dalam perjuangan mewujudkan dunia yang baru bersama Gundam. Neil sendiri secara dramatik digambarkan kematiannya ketika melayang di luar angkasa dengan sebuah pertanyaan yang dipertanyakannya sebagai berikut:”Hey, you people down there. Are you satisfied with the way the world is?”

Ernest Renan berpendapat bahwa bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup bersama (hasrat bersatu) dengan perasaan setia kawan yang agung (Budiyanto, Dasar-Dasar Ilmu Tata Negara, hlm. 20). Perasaan setia kawan yang agung tersebut ditopang oleh perasaan senasib dan sepenanggungan. Itulah kiranya yang dapat menjelaskan cita rasa luka yang mampu menyatukan tiap-tiap sosok untuk bergabung di bawah panji Celestial Being. Ada luka di masa lalu yang mereka miliki. Dan mereka tidak diam, mengeluh, serta menyerah pada keadaan. Mereka bahu membahu untuk mewujudkan dunia baru yang lebih baik.

Jalan upaya yang mereka tempuh bukan tanpa hambatan mental. Sebut saja Setsuna yang mendapatkan tawaran untuk berhenti menjadi gundam master. Marina Ismail putri dari Azadistan mempersuasi Setsuna agar menghentikan aksi tarungnya. Perang tak lebih dari jalan penghancuran, begitulah kira-kiranya alasannya. Hal yang dijawab oleh Setsuna dengan “I’m good for…is fighting”. Kiranya ajakan dari Marina Ismail sempat membuat Setsuna meragu dalam pertempuran. Ada titik henti sejenak, sebelum Setsuna kembali menunjukkan kemampuan daya tempurnya dalam pertarungan di bawah laut. Jangan lupakan korelasi yang tercipta antara Marina dan Setsuna. Meski sebuah tanya “are you two lovers?” langsung disanggah dalam waktu bersamaan oleh Marina dan Setsuna dengan “No” dan “We’re not” (episode 4 Gundam 00 season 2). Korelasi mereka seperti tergambarkan di episode 25 season 1, bagaimana diantara rangkaian tanya yang masih menggulanakan pikirannya, Setsuna melontarkan hal berikut: “I was just looking for answers. I thought that if i met with you, you would find these answers for me.”

Perang dengan segala lukanya dapat menyebabkan trauma. Lihatlah John Lennon pentolan The Beatles. Ia lahir di tengah puing perang dunia pertama, kedua, dan perang Vietnam. Legenda pop tahun 60-an itu tiba-tiba menemukan bumi ini seperti sepenggal neraka. Maka lahirlah Flower Generation dengan semangat anti perang dan fenomena hyppies. Bahkan ketika Tuhan disebut dalam perang, Bob Dylan justru mengatakan:”If God in our side, Hell stop the next war.”

Baiklah kiranya saya kutipkan buah pemikiran dari Anis Matta dalam essainya yang berjudul Perang dan Cinta sebagai berikut (Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 22-24):

Tapi perang tidak hanya punya satu wajah. Perang punya wajah lain yang lebih agung, etis dan manusiawi. Perang adalah takdir manusia. Kamu suka atau tidak suka. Perang itu niscaya. Bedanya hanya pada dua hal:siapa musuhmu, dan dengan cara apa kamu melawannya. Siapa musuhmu menentukan atas nama apa kamu berperang. Caramu melawan menggambarkan watak perang yang kamu lakoni. Di dasar batinmu yang terdalam sebenarnya kamu tahu atas nama siapa kamu berperang: kebenaran atau kebatilan.

Jika kamu berperang di bawah bendera kebenaran, cinta mengendalikan motifmu dan caramu berperang. Tetap ada kekerasan. Darah. Tapi cinta membuatnya jadi agung. Etis. Manusiawi. Perang atau revolusi adalah drama kemanusiaan. Di sana kita menyabung nyawa, karena ada yang kita cintai di sini: Tuhan, hidup, tanah air, bangsa, keluarga, diri sendiri.

Perang semacam ini menciptakan kehidupan dari kematian. Hanya perang semacam ini yang dapat menghentikan perang dengan perang.

Alasan untuk berperang, bukan sekadar sumbu semangat, namun juga arah dan distingsi. Akan dibawa kemana perang ini, bagaimana caramu berperang, ditentukan oleh alasan berperang. Seperti sajak Chairil Anwar yang berjudul Krawang-Bekasi (Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang, hlm. 108):

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s