Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Kembali Berlayar

Vakansi telah menyusutkan waktu dengan berbagai cara. Libur lebaran telah memberikan berbagai perspektif yang berbeda bagi saya. Ada rangkaian aksi yang tiada tertemui pada ordinary hari. Mulai dari libur internet yang lebih lama, Jakarta yang melenggang, sejenak jeda dari ragam target bacaan dan tulisan, dan sebagainya. Libur memang memberikan alternatif kacamata dalam memaknai waktu. Dan disinilah hari berada, dengan sumbu waktu liburan yang semakin menipis. Praktis tinggal ada waktu Sabtu dan Ahad dalam waktu resmi libur lebaran. Mulai hari Senin 27 Agustus 2012, kembalilah bergulat dengan pekerjaan kantor dan Jakarta yang menyesak.

Komunitas Kaldera Fantasi yang saya kelola juga praktis relatif menyepi. Saya sendiri agak enggan untuk menekan pedal gas, dikarenakan siklus lebaran. Biarkanlah komunitas fantasi tersebut berjalan dalam ritme natural dan cenderung melambat di durasi liburan ini. Tak baik kiranya jika terus berada dalam tensi tinggi. Libur lebaran juga memberi saya jeda untuk berpisah dengan internet. Rupanya internet dengan berbagai cara telah menjadi denyut dalam kehidupan saya. Facebook, yahoo messenger, youtube, merupakan magnet tersendiri. Terhitung dari hari Jumat tanggal 17 Agustus 2012 hingga hari Senin tanggal 20 Agustus 2012, saya libur total dari internet. Cukup lumayan untuk memberikan dimensi berbeda dan merenungkan beberapa. Salah satunya adalah tentang kerinduan.

Bagaimana manusia yang hidup di terminologi dahulu menyikapi kerinduan. Tanpa internet dahulu kala, kerinduan memiliki narasi yang berbeda. Manusia era sekarang dapat dengan lekas mengetahui apa kabar orang yang dikasihinya, baik lewat facebook, twitter, yahoo messenger, blackberry messenger. Namun manusia yang mengalami hidup di kala teknologi belum mencapai kata internet, ada surat yang dapat menjadi kanal kerinduan. Pada beberapa hal, saya merasa ada filosofi lebih, kekuatan dalam kata menunggu. Coba bayangkan kerinduan yang bertautan dengan melamun. Bagaimana kabarnya gerangan dia? Tanpa bisa mengetahui secara presisi apa yang dipikirkan dan dikerjakannya.

Baiklah kiranya saya kutipkan buah karya dari Dewi Lestari (Dewi Lestari, Filosofi Kopi, hlm. 98-99):

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

….

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Teknologi memungkinkan untuk mengetahui segala informasi secara real time, cepat. Tak terkecuali dengan korelasi antara individu. Nyatanya ada efek dari teknologi yang semestinya ‘mendekatkan’ ini. Bisa jadi ada kebosanan karena terus menerus bersinggungan melalui lini teknologi. Mulai dari sedang makan dimana, berkegiatan apa, kini dapat terpantau dengan teknologi. Bisa jadi hilanglah kata: penasaran, misteri, tanya. Padahal deretan kata tersebut merupakan bumbu, gimmick, bahkan menjadi nyawa dari korelasi. Itulah kiranya yang membuat relevan apa yang ditulis oleh Dewi Lestari diatas dengan ‘jadi ulurlah tali itu’, ‘karena aku ingin seiring bukan digiring’. Dalam korelasi dibutuhkan spasi, jeda, jarak, yang memungkinkan masing-masing dapat bernafas, mengembangkan diri, mengembangkan personality-nya.

Momentum lebaran ini menyandarkan saya pada ingatan tentang lagu Dewa 19 yang berjudul Kangen dan novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Ada kerinduan yang tertuang dalam surat. Baiklah kiranya saya kutipkan lirik dari lagu Kangen:

Kuterima suratmu telah kubaca/ dan aku mengerti/ betapa merindunya dirimu/ akan hadirnya diriku/ di dalam hari-harimu/ bersama lagi/ kau bertanya padaku/ kapan aku akan kembali lagi/ katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada/ yang membara menahan rasa/ pertemuan kita nanti/ saat kau ada di sisiku

Simak juga petikan dari novel Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah, hlm. 57-58):

Akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaimana wajah Hamid ketika membaca surat itu. Dapatkah, mungkinkah dikira-kirakan bagaimana perasaannya waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini, buah mimpinya. Memikirkan kerendahan derajatnya, tiadalah disangka-sangkanya, bahwa ia akan seberuntung itu, menerima surat Zainab. Belumlah besar kegembiraan seorang budak jika ia diajak tersenyum oleh penghulunya; belumlah besar sukacita seorang pelayan istana jika ia dianugerahi sebentuk cincin oleh rajanya. Surat tanda cinta dari seorang perempuan, perempuan yang mula-mula dikenal dalam kehidupan seorang muda, adalah lebih berharga daripada senyuman seorang penghulu kepada budaknya, lebih mulia daripada sebentuk cincin yang dianugerahkan raja kepada pelayannya. Satu hati lebih mahal daripada senyuman, satu jiwa lebih berharga daripada sebentuk cincin.

Benar kiranya teknologi dapat memajukan kehidupan manusia. Namun jangan lupakan sisi gelap dari teknologi yang mampu pula untuk mendegradasi kehidupan manusia. Saya sendiri percaya pada beberapa titik, teknologi telah menurunkan secara serius kemampuan dalam bersastra. Teknologi telah turut membentuk budaya instan, pragmatis. Teknologi pula yang meluruhkan imajinasi, melamunkan, menerka-nerka, mengendapkan kecamuk perasaan. Jika menarik kata ‘kerinduan’ maka dapatlah kita mengkomparasikan generasi internet dan generasi yang belum tersentuh internet. Rupanya generasi yang belum tersentuh internet, mampu mengalunkan kerinduannya dalam bentuk surat, lagu, karya sastra. Bulir-bulir kerinduan menjadi gubahan karya yang memiliki kedalaman makna serta filosofi yang mengena.

86.400 detik dalam sehari dan 31.536.000 detik dalam setahun, hitung-hitungan tersebut saya dapatkan selepas menonton Shinzanmono. Bagaimana sesungguhnya kita berlomba dengan waktu. Waktu sendiri merupakan pergulatan antara daya hidup dan daya mati. Saya sendiri memandang sudah selayaknya liburan tiada menjadi daya mati. Mengendurkan urat syaraf saya setuju pada waktu vakansi, namun bukan berarti memadamkan daya hidup. Daya hidup yang teredupkan dapat berupa tidur siam yang berkepanjangan, leha-leha yang berlebihan.

Liburan juga selayaknya dimaknai dengan pemikiran dan permenungan. Di bulan Syawal ini sudah selayaknya terjadi peningkatan. Meningkatkan segala kebiasaan baik yang terlaksana di bulan Ramadhan. Rangkaian waktu dan perspektif yang didapatkan selama vakansi lebaran ini semoga dapat menjadi amunisi untuk pelayaran berikutnya. Kembali berlayar dengan jiwa yang lebih kaya dan lebih berdaya.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s